Mendidik Jasad, Jiwa dan Roh: Pesantren Raudhatul Mutaallimin Lamongan

Adakah yang lebih hebat dari pendidikan pesantren? Saya rasa tidak. Pesantren merupakan pendidikan yang tidak hanya mengasah jasad, akan tetapi mengasah jiwa dan roh agar selaras dengan ajaran agama Islam yang sangat adiluhung. Pesantren bukan hanya mendidik agar santri menjadi insan yang sehat lahiriyah, akan tetapi juga sehat batiniah. Tidak hanya sehat batiniah atau jiwa tetapi juga sehat rohnya.
Pernyataan menarik ini saya sampaikan dalam acara “Haflah Akhirus Sanah” yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Raudhatul Mutaallimin di Babat Lamongan Jawa Timur, 14 Juni 2026 atau bertepatan dengan tanggal 28 Dzulhijjah 1447 H. Acara ini dihadiri oleh KH. Dr. Ghazi M. Ikhsan, Lc, M.Fil. I., Dr. Mohammad Muhlisin Mufa, Kankemenag Lamongan, KH. Miftahul Falah, KH. Husnul Ibad, KH. Rofi’i, para Kepala Madrasah dan Sekolah, Para pejabat Koramil dan Posek Babat, para guru, para orang tua dan santri atau siswa Madrasah dan sekolah serta masyarakat yang menjadi undangan pondok pesantren. Acara yang berlangsung selama lebih dari empat jam. Mulai dari penghargaan pemenang lomba dan tahfid, penampilan lulusan Madrasah dan Sekolah hingga pidato dalam Bahasa Inggris, Arab, China, Indonesia dan Jawa. Sebuah acara yang menggambarkan atas dinamika pesantren di tengah perubahan sosial.
Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam pidato Haflah Akhirus Sanah ini, yaitu:
Pertama, pesantren menjadi penting sebab pada pesantrenlah pendidikan yang sempurna itu dilakukan. Di dalam pesantren didapatkan pendidikan berbasis kecerdasan akal atau intellectual intelligent. Akal dilatih untuk memahami agama, sebab agama dapat dinalar dengan akal. Tafakkaru fi khalqillah. Berpikirlah atas ciptaan Allah. “Addinu huwal aqlu. La dina liman la aqla lahu”. Artinya: “agama adalah akal. Tidak ada agama bagi yang tidak berakal”. Melalui pesantren pendidikan berbasis kecerdasan hati atau emotional intelligent, sebuah tempat untuk mendidik rasa kemanusiaan. Melalui kecerdasan rasa, maka manusia akan menyayangi manusia lainnya. Melalui pesantren dididik para siswa dengan kecerdasan kemanusiaan atau kecerdasan sosial atau social intelligent, yaitu memiliki kecerdasan kemanusiaan atau kemampuan membangun relasi sosial yang bermartabat, dan yang sangat mendasar adalah memiliki spiritual intelligent atau kecerdasan keberagamaan. Tahu mana yang benar dan mana yang salah, tahu mana yang haq dan yang bathil.
Pendidikan dengan ciri khas seperti ini, hanya dimiliki oleh pendidikan pesantren. Tadi di dalam ikrar saya dengarkan ada lima setia atau panca setia. Saya meringkasnya menjadi tri setia. Yaitu setia untuk mengabdi kepada Allah dan Rasulnya. Cinta kepada Allah dan rasulnya itu tidak bisa dipisahkan. Merupakan satu kesatuan. Jangan dipisahkan cinta kita kepada Allah dan rasulnya. Di dalam cinta kepada Allah ada cinta kepada Muhammad SAW dan di dalam cinta kepada Muhammad SAW ada cinta kepada Allah SWT. Lalu, setia kepada Islam ala ahli sunnah wal jamaah. Jangan cinta kepada lainnya. Yang kita yakini sebagai kebenaran sesuai dengan jumhur ulama adalah Islam ahli sunnah wal jamaah. Islam hasil penafsiran ulama masa lalu untuk kepentingan beragama Islam. Jangan pernah kaki kita itu keluar dari garis Islam Ahli Sunnah wal jamaah. Jangan menjadi ahlu sunnah saja. Di manapun dan kapanpun harus menjadi umat Islam sesuai dengan penafsiran ulama yang tetap di dalam Islam ahlu sunnah wal jamaah.
Tadi saya senang, sebab ada pidato dalam berbagai bahasa. Arab, Inggris. Mandarin dan Bahasa Indonesia serta Jawa. Ini baru namanya lengkap. Boleh orang berpikir internasionalitas, serba internasional, akan tetapi jangan melupakan jati diri kita sebagai orang Indonesia bahkan sebagai orang Jawa. Boleh kita hidup di Eropa, di Amerika, di Arab, di Mesir, di Australia dan sebagainya, akan tetapi jangan lupa bahwa jati diri anak-anak atau adik-adik adalah orang Indonesia, orang Jawa. Makanya, jangan lupa tahlilan, yasinan, selamatan dan lainnya yang merupakan kekayaan budaya Nusantara.
Kedua, pesantren merupakan lembaga yang paling tepat untuk belajar. Ada sebuah hadits atau qaul Imam Syafi’i yang menyatakan: man aradad dunya fa’alaihi bil ilmi, wa man aradal akhirata fa’alaihi bil ilmi, wa man aradahuma fa’alaihi bil ilmi”. Yang artinya: “barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia, maka dengan ilmu, barang siapa menginginkan kehidupan akherat maka dengan ilmu, dan barangsiapa ingin keduanya maka dengan ilmu”. Betapa hebatnya ungkapan ini. Ilmu dunia dan akherat dipelajari di pondok pesantren sekaligus. Santri akan mendapatkan dua ilmu sekaligus untuk bekal kehidupan di dunia dan bekal untuk kehidupan di akherat. Ilmu agama dipelajari dan ilmu umum juga dipelajari. Sebuah pemaduan ilmu pengetahuan yang sangat baik. Makanya, saya menganjurkan kepada hadirin. Sekolahkan anak-anaknya, cucu-cucunya, keponakannya dan juga kerabat serta tetangganya untuk belajar di pesantren. Pasti tidak salah pilih.
Ketiga, ada tiga kata utama untuk direnungkan, saya sebut sebagai tri pesan atau tri message, yaitu terus melangkah, jangan berhenti dan percaya diri. Ketiganya adalah modal untuk terus belajar di tengah kehidupan yang terus berubah. Terus melangkah jangan berhenti. Ada seorang ahli, namanya Mohammad Iqbal, penyair sufi dari Pakistan dia menyatakan: “jangan berhenti di jalan ini, siapa yang berhenti pasti terlindas”. Kalau kita tidak ingin terlindas, tertinggal dan terpinggirkan di dalam jalan ilmu dan jalan kehidupan, maka kita harus terus berjalan, kita terus berusaha. Waktu akan melindas dan meninggalkan kita jika kita berhenti. Kita juga harus percaya diri. Jangan menjadi orang yang gampang putus asa, jangan menjadi cengeng, jangan menjadi orang yang mudah mengeluh. Percaya diri. “Hum rijal wa nahnu rijal” atau mereka lelaki, kami lelaki, mereka perempuan kami perempuan.
Kita memiliki kapasitas kecerdasan yang sama, kita memiliki perasaan yang sama, kita memiliki kemampuan yang sama. Marilah berkompetisi di dalam kebaikan. Kita ditakdirkan untuk menjadi yang terbaik, dan indikasi orang yang terbaik adalah khairun nas anfa’uhum lin nas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik manfaatnya. Jika kamu semua, anak-anakku, ingin menjadi orang yang bermanfaat pada level apapun, maka kalian harus menjadi yang terbaik.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like



