Pendidikan Tinggi Pesantren Di Tengah Perubahan Sosial: STAIDA Bangkalan
Saya tidak pernah lelah untuk berbicara pendidikan, apalagi hal tersebut terkait dengan pendidikan Islam. Selama ada kesempatan saya membicarakan tentang pendidikan Islam, khususnya pendidikan tinggi Islam di pesantren, pasti saya akan membicarakannya, apakah dalam bentuk sarasehan, diskusi ataupun orasi di dalam kegiatan-kegiatan terstruktur di pesantren.
Pada Hari Selasa, 14 Juli 2026, saya diundang oleh Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darus Salam (STAIDA) Pakong Bangkalan, Dr. H. Umar Zakka, SS., M.THI dalam acara Wisuda Sarjana IV, yang dilaksanakan di Islamic Centre Surabaya. Acara ini diikuti oleh segenap pimpinan STAIDA, para wisudawan, orang tua, santri dan undangan kehormatan. Hadir juga pemangku pondok, Kyai Shinwani, Kyai Amir, dan segenap alumni pondok pesantren dan alumni STAIDA. STAIDA akan berubah bentuk menjadi Institut Agama Islam Darus Salam, dalam waktu dekat.
Di dalam acara ini, saya sampaikan tiga hal mendasar, yaitu: Pertama, ucapan selamat kepada pimpinan STAIDA, yang sudah terlibat untuk mendidik dan menghasilkan sarjana strata I, yang hari ini diwisuda. Sebagaimana dipahami, bahwa pendidikan merupakan instrumen terbaik dalam pengembangan SDM andal. Tanpa pendidikan, maka SDM Indonesia akan terus terpuruk. Saya ucapkan selamat kepada orang tua yang sudah mempercayakan pendidikan putra-putrinya di lembaga pendidikan tinggi ini. Saya yakin bahwa institusi pendidikan pesantren akan dapat menghasilkan alumni yang matang ilmu yang dikajinya dan juga akhlaknya. Tidak perlu diragukan. Jika selama ini ada keraguan tentang pesantren karena tindakan menyimpang yang dilakukan oleh pengelolanya, maka saya yakin bahwa PTKI ini akan menghasilkan insan yang baik dan berkualitas. Tidak diragukan kualitas ilmu agamanya, ahli tafaqquh fiddin, dan juga menyandang sarjana yang mumpuni dalam bidang keilmuannya. Selamat juga kepada para wisudawan dan wisudawati yang hari ini sudah bergelar sarjana. Yang diwisuda hari ini adalah orang Indonesia yang tergolong well educated. Dan jumlahnya menurut BPS, sebanyak 10,20% atau kira-kira 26,7 juta orang. Jadi para wisudawan termasuk orang Indonesia yang tergolong elit dalam pendidikan.
Kedua, penduduk dunia yang beragama Islam akan tumbuh dengan pesat. Pada 10 tahun terakhir tumbuh sebanyak 347 Jt., Proyeksi 2050 sebanyak 2,8 milyar. Ini berarti bahwa peningkatan jumlah umat Islam akan semakin besar dan akan berimplikasi atas kebutuhan pendidikan Islam dan juga profesi dalam keahlian ilmu agama. Kebutuhan terhadap ahli-ahli agama di dunia akan semakin banyak. Hal ini merupakan potensi bagi lulusan pendidikan tinggi Islam berbasis pesantren. Lulusan PTKI yang memiliki basis keilmuan pesantren sungguh merupakan pilihan yang tepat dalam menyongsong pertumbuhan penduduk dunia yang beragama Islam
Namun demikian, hal ini akan menjadi tantangan tersendiri. PTKI harus dapat beradaptasi dengan kenyataan empiris, yaitu kapasitas keilmuan yang tepat dan kemampuan untuk penguasaan bahasa yang dibutuhkan para user pendidikan Islam. Sekarang kita masih berpeluang untuk mengisi kebutuhan di dalam negeri, tetapi 10 tahun ke depan, kita harus mengisi kebutuhan internasional. Kelas khusus Bahasa Arab atau Kelas khusus Bahasa lainnya sungguh sangat diperlukan. PTKI harus menjadi institusi pendidikan yang bermutu dan untuk mencapai mutu itu harus melalui proses yang benar. Tidak ada mutu yang diperoleh secara instan. Setiap out come yang berkualitas, pastilah melalui proses yang berkualitas. Jangan menggunakan pencitraan untuk memperoleh mutu pendidikan.
Saya memiliki keyakinan besar bahwa pendidikan yang diselenggarakan di pesantren itu untuk meraih dua hal mendasar, yaitu kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akherat. Di salam salah satu ungkapan Imam Syafi’i, dan bahkan ada yang mengaitkannya dengan hadits Nabi Muhammad SAW. tentang hal ini tidak perlu diperdebatkan, yang penting terdapat makna mendalam dalam konteks pendidikan, yaitu: “man aradad dunya fa’alaihi bil ‘ilmi. Wa man aradal akhirata fa’alaihi bil ‘ilmi. Wa man aradahuma fa ‘alaihi bil ‘ilmi”. Terjemahan bebasnya adalah: “barang siapa menginginkan kehidupan dunia, maka baginya dengan ilmu, barang siapa menginginkan kehidupan akhirat baginya dengan ilmu. Dan barang siapa menginginkan keduanya baginya dengan ilmu.” Clear sudah tentang makna pendidikan. Di sinilah pesantren memainkan peran penting di dalam dunia pendidikan.
Ketiga, jangan pernah ragu untuk belajar ilmu agama. Memang masih ada anggapan bahwa ada ilmu langka di dalam studi Islam. Ilmu yang tidak memiliki masa depan. Orang hanya mengira bahwa kehidupan di dunia itu hanya didominasi oleh ilmu umum. Orang merasa bahwa dengan ilmu umum, maka dunia dianggap sudah selesai. Ini merupakan pemikiran yang tidak sepenuhnya benar. Kelemahan cara berpikir “Barat” ini didasari bahwa hanya ilmu Barat saja yang akan dapat berguna, sebaliknya ilmu yang bukan “Barat” tidak ada gunanya.
Kita harus yakin bahwa Allah itu sudah mendesain kehidupan ini bagi manusia yang meyakini keberadaannya. Ilmu umum dan ilmu agama keduanya memiliki manfaat bagi kehidupan manusia. Ada anggapan ilmu hadits itu langka, ilmu tafsir itu langka, ilmu waris itu langka, ilmu perbandingan madzhab itu langka. Tetapi orang melupakan bahwa Allah itu menjamin bahwa setiap manusia memiliki takdir rezekinya masing-masing. Manusia harus menjemput takdirnya. Jangan pasrah, jangan menyerah. Untuk bisa merengkuh takdir baik bagi manusia, maka orang harus melakukan upaya optimal dengan membangun peluang yang bisa didapatkan lalu berdoa dan bertawakkal. Pernyataan ini sepertinya normatif, akan tetapi banyak orang yang berhasil dengan upayanya ini.
Oleh karena itu, ajaran Islam yang diajarkan oleh ustadz, kyai dan para guru marilah kita lakukan, yaitu menyeimbangkan antara usaha dan doa, menyeimbangkan antara peluang dan harapan, menyeimbangkan antara kerja keras dan tawakkal. Kita semua bisa.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like



