Salat dalam Islam: Pujian dan Doa
Saya mendapatkan pesan melalui whatsApp yang dikirimkan oleh Habib Zaki Abdurahman Solo. Pesan melalui WA tersebut terkait dengan makna doa di antara dua sujud. Doa ini lalu saya jadikan sebagai bahan ceramah pada Hari Selasa, 7/7/26, pada Komunitas Ngaji Bahagia (KNB), yang setiap selasa menyelenggarakan acara ceramah dan diskusi dengan berbagai tema keagamaan. Saya sampaikan bahwa saya mendapatkan pesan melalui WA Habib Zaki Abdurahman, Solo. Saya bertemu dengan Beliau terakhir di Thailand Selatan, pada tahun 2013. Tetapi kami masih saling berkirim pesan melalui WA tentang hal-hal mendasar ajaran Islam. Berikut adalah pesan dalam WA yang disampaikan kepada saya, yaitu:
“Kenapa doa duduk di antara dua sujud dibaca perlahan? Karena pada momen itu, kita sedang memohon banyak hal secara langsung kepada Allah, satu per satu, dengan penuh kerendahan hati. Rabbighfirli (رَبِّ اغْفِرْ لِي) : Ya Tuhanku, ampunilah aku. Warhamni (وَارْحَمْنِي) : Sayangilah aku, rahmatilah aku. Wajburni (وَاجْبُرْنِي) : Perbaikilah keadaanku dan tutupilah kekuranganku. Warfa’ni (وَارْفَعْنِي) : Angkatlah derajatku. Warzuqni (وَارْزُقْنِي) : Berilah aku rezeki. Wahdini (وَاهْدِنِي) : Berilah aku petunjuk. Wa ‘afini (وَعَافِنِي) : Berilah aku kesehatan dan keselamatan. Wa’fu ‘anni (وَاعْفُ عَنِّي) : Maafkanlah aku dan hapuskan kesalahanku.
Betapa indahnya doa singkat ini. Dalam beberapa kalimat saja, kita meminta ampunan, kasih sayang, perlindungan, derajat yang baik, rezeki, petunjuk, kesehatan, dan maaf dari Allah. Maka, bacalah dengan tenang, pahami maknanya, dan hayati setiap permohonannya”.
Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam acara ngaji bareng ini, yaitu:
Pertama, shalat itu sebagai sarana untuk berdoa kepada Allah. Mari kita analisis tentang doa dimaksud. Di dalam Surat Alfatihah, yang wajib dibaca di dalam shalat terdapat doa agar kita mendapatkan pertolongan Allah. Ada banyak doa yang kita lantunkan dan kita hadapkan kepada Allah SWT, dan terutama adalah doa di antara dua sujud. Doa yang sedemikian hebat, mohon ampunan, mohon rahmat, mohon menutup kekurangan, mohon mengangkat derajat, mohon mendapatkan petunjuk, mohon mendapatkan kesehatan, mohon memperoleh ampunan dan menghapus kesalahan. Di sinilah makna doa terbaik yang bisa dilantunkan yang perlu dihayati dengan sepenuh makna.
Al-Qur’an banyak sekali mengajarkan doa kepada umat Islam, baik di dalam shalat maupun di luar shalat, baik sendirian atau bersamaan. Doa untuk kebaikan diri, keluarga dan masyarakat. Doa untuk kehidupan di dunia dan di akherat. Di dalam Islam, sebuah doa tidak hanya ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk seluruh umat Muslim. Bisa dibayangkan manfaat doa untuk umat, baik di masa lalu, misalnya umat Nabi Adam AS, yang menjalankan syariatnya sampai umat Nabi Muhammad SAW., baik yang masih hidup atau sudah wafat. Doa adalah ajaran universalitas Islam yang hakiki. Manusia harus sadar bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha tahu, omniscience, sehingga sebesar biji dzarrah pun prilaku dan doa kita didengar dan diketahui oleh Allah SWT.
Kedua, salat adalah instrumen bagi manusia untuk memberikan puja dan puji kepada Allah. Bacaan dalam doa iftitah merupakan awal dari pujian kepada Allah, dilanjutkan dengan bacaan Surat Alfatihah, yang diawali dengan bacaan alhamdulillahi rabbil ‘alamin serta bacaan dalam ruku’, sujud dan tahiyyat adalah kunci puja dan puji kepada Allah. Ada makna yang sangat mendalam tentang penyucian dan rasa syukur yang sangat mendalam. Manusia pasrah atas Tuhan yang sangat sakral, The Sacred, yang berbeda dengan dirinya, yang profan. Kemahasucian itulah yang menjadi titik substansial di dalam beribadah. Yang Maha Suci hanya bisa diyakini, sebab tidak ada instrumen duniawi yang bisa menyibaknya. Tidak ada instrumen fisika yang mampu untuk mengobservasinya. Yang ada hanya suprametafisika, sebab yang metafisikapun tidak mampu menjangkaunya. Hanya atas kehendak Allah semata manusia bisa “merasa” kehadiran Allah dalam dzikir-dzikirnya. Terbukanya hijab antara hamba dan Tuhan hanya mungkin terjadi atas kehendak Allah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang bisa menghadap Allah SWT tentu semata-mata atas kehendak-Nya atau Nabi Musa AS yang bisa berbicara dengan Allah SWT.
Ketiga, shalat juga bagian dari apresiasi manusia atas kenabian dan kerasulan yang dijadikan sebagai ekspresi rahman dan rahim Tuhan dan atas semua sifat-sifat Allah SWT. Dengan sedikit kita memahami tentang bagaimana manusia harus memberikan salam atas keberkahan dan kebaikan Tuhan kepada para Nabi dan Rasul. Assalamu alaika ayyuhan nabiyyu warahmatullahi wa barakatuhu, assalamu ala’ina wa ala ‘ibadil lahis shalihin. Ucapan keselamatan itu tidak hanya untuk Nabi dan Rasul, akan tetapi juga untuk seluruh manusia yang beriman kepada Allah. Jadi, umat manusia yang beriman dan beramal shaleh mulai Nabi Adam AS, hingga Nabi Ibrahim AS sampai Nabi Muhammad SAW mendapatkan ucapan keselamatan dari orang yang melakukan salat.
Jadi, shalat adalah amalan individu yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya tetapi juga bagi umat manusia. Islam tidak hanya agama privat atau individu-individu, akan tetapi agama yang mengajarkan dibalik yang privat itu ada pesan-pesan universal.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




