Demitologi Dakwah di Pulau Jawa: Antara Mitos dan Rasionalitas dalam Layanan Sosial Keagamaan
Dr. Sokhi Huda, M.Ag. & Abu Amar Bustomi, M.Si.
(Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya)
Layanan sosial dalam dakwah di Pulau Jawa telah berkembang menjadi fenomena yang unik, di mana ajaran agama tidak hanya melayani kebutuhan spiritual, tetapi juga memenuhi tuntutan sosial, ekonomi, dan kesehatan masyarakat. Dakwah bukan lagi sekadar penyampaian ajaran agama melalui ceramah atau pengajian tetapi menjadi sebuah bentuk pelayanan sosial yang multidimensional. Namun, perkembangan ini tidak lepas dari tantangan modern, terutama dalam usaha mempertahankan relevansi ajaran agama di tengah masyarakat yang semakin rasional dan kritis.
Konsep demitologi yang dipopulerkan oleh teolog Jerman, Rudolf Bultmann, sangat relevan dalam usaha memahami dakwah Islam di Pulau Jawa mengalami transformasi. Bultmann berpendapat bahwa elemen-elemen mitos dalam agama perlu diinterpretasikan ulang atau bahkan dihilangkan agar ajaran agama dapat diterima oleh masyarakat modern yang lebih rasional. Artikel ini membahas cara para tokoh dakwah di Pulau Jawa, seperti Kiai Ghofur, Gus Samsudin, Gus Idris, dan Ustadh Ujang Busthomi memadukan unsur-unsur tradisional dengan kebutuhan kontemporer, serta pendekatan mereka dapat dilihat melalui perspektif demitologi Bultmann.
Transformasi Praktik Keagamaan: Mitos dalam Bingkai Rasionalitas
Salah satu tema utama yang muncul dari penelitian ini adalah transformasi praktik keagamaan, khususnya yang melibatkan elemen-elemen magis dan mistis dalam dakwah. Kiai Ghofur, misalnya, menggunakan elemen magis-kanuragan dalam dakwahnya, sebuah pendekatan yang kental dengan tradisi lokal. Kanuragan, yang mengacu pada ilmu kebatinan dan kekuatan spiritual, masih memiliki tempat di kalangan masyarakat tradisional, tetapi di era modern, pendekatan ini menghadapi tantangan untuk tetap relevan di tengah masyarakat yang semakin terpapar oleh rasionalitas dan sains.
Bultmann, dalam teorinya tentang demitologisasi, menekankan pentingnya menghilangkan elemen-elemen mitologis agar ajaran agama dapat diterima oleh masyarakat modern. Dalam konteks dakwah Kiai Ghofur, elemen magis ini perlu diadaptasi agar tidak kehilangan makna bagi generasi muda yang cenderung lebih kritis dan rasional. Transformasi ini menunjukkan upaya Kiai Ghofur untuk mempertahankan relevansi ajaran Islam, dengan tetap memanfaatkan elemen tradisional yang ada, namun dibingkai dalam konteks rasionalitas modern.
Integrasi Sosial dan Kebutuhan Masyarakat: Dakwah sebagai Solusi Krisis Sosial
Tema kedua yang muncul dari penelitian ini adalah bagaimana para tokoh dakwah seperti Gus Samsudin dan Gus Idris mengintegrasikan ajaran agama dengan solusi praktis untuk mengatasi krisis sosial di masyarakat. Gus Samsudin, misalnya, menggabungkan literasi akidah dan terapi akhlak dengan pengobatan alternatif dan solusi ekonomi. Pendekatannya yang transformasional sering kali berhasil menarik perhatian masyarakat yang menghadapi masalah-masalah mendesak, seperti kemiskinan atau penyakit, namun juga menghadapi kritik karena pendekatan yang dianggap terlalu mistis atau tidak ilmiah.
Di sisi lain, Gus Idris lebih fokus pada penguatan spiritual yang diintegrasikan dengan pengobatan herbal. Pendekatan ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga pragmatis, di mana ajaran agama dijadikan landasan untuk memberikan solusi kesehatan dan ekonomi bagi masyarakat. Bagi Bultmann, pendekatan seperti ini dapat menjadi bentuk demitologisasi, di mana ajaran agama tetap relevan dengan cara memenuhi kebutuhan nyata masyarakat tanpa tergantung pada narasi mitologis. Namun, tantangan bagi para tokoh ini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara elemen tradisional yang masih diminati oleh masyarakat dan tuntutan modern yang menginginkan pendekatan yang lebih rasional. Kritik terhadap metode Gus Samsudin, misalnya, menunjukkan adanya ketegangan antara elemen mistis dalam dakwah dengan kebutuhan masyarakat modern yang lebih kritis terhadap praktik-praktik tersebut. Dalam perspektif Bultmann, dakwah yang efektif adalah dakwah yang mampu menyaring elemen-elemen mitos, sehingga agama tetap relevan dan dapat memberikan solusi praktis bagi masyarakat modern.
Inklusivitas dan Egalitarian dalam Layanan Sosial: Dakwah untuk Semua Lapisan
Prinsip inklusivitas dan egalitarian menjadi tema penting lainnya dalam penelitian ini. Dakwah yang dilakukan oleh para tokoh seperti Gus Idris dan Ustadh Ujang Busthomi tidak hanya menyentuh aspek spiritual, tetapi juga mencakup layanan sosial yang menjangkau semua lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Pendekatan ini menekankan bahwa agama Islam bukan hanya milik kalangan tertentu, tetapi harus dapat diakses oleh semua orang, dengan perhatian pada kebutuhan sosial dan ekonomi mereka.
Ustadh Ujang Busthomi, yang dikenal dengan pendekatan dakwah berbasis pengobatan herbal dan terapi spiritual, berupaya memberdayakan masyarakat secara holistik. Prinsip egalitarian ini mencerminkan pandangan Jane Addams, yang menekankan pentingnya pelayanan sosial yang inklusif dan merata. Bagi Bultmann, layanan dakwah semacam ini adalah contoh bagaimana agama tetap relevan dengan cara melayani kebutuhan nyata masyarakat, tanpa terjebak pada dogma atau praktik yang eksklusif dan mitologis.
Pemberdayaan dan Stabilitas Sosial: Menghadapi Tantangan Modern dengan Nilai-Nilai Otentik
Tema terakhir dalam penelitian ini adalah pemberdayaan dan stabilitas sosial yang diusung oleh para tokoh dakwah di Pulau Jawa. Dakwah yang dilakukan oleh Gus Idris dan Ustadh Ujang Busthomi tidak hanya berfokus pada penguatan spiritual tetapi juga pada penguatan ekonomi dan kesehatan masyarakat. Misalnya, Ustadh Ujang Busthomi menggunakan pendekatan pengobatan herbal sebagai bagian dari layanan dakwahnya, yang memberikan solusi praktis bagi masyarakat yang tidak memiliki akses ke layanan kesehatan konvensional.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Bultmann tentang pentingnya menghilangkan elemen-elemen mitologis yang tidak relevan, sehingga ajaran agama dapat menjadi alat yang praktis untuk pemberdayaan masyarakat. Dengan menekankan nilai-nilai otentik Islam yang rasional dan relevan, para tokoh dakwah ini berhasil memperkuat stabilitas sosial dan moral di tengah masyarakat, sambil menjawab tantangan modern yang dihadapi oleh umat Islam.
Aksentuasi: Dakwah di Pulau Jawa dalam Perspektif Demitologi Bultmann
Secara keseluruhan, layanan sosial dakwah di Pulau Jawa menunjukkan proses demitologisasi yang signifikan, di mana elemen-elemen tradisional dan mitologis secara perlahan diadaptasi agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern. Dalam perspektif Bultmann, upaya ini penting agar agama tetap relevan dan dapat memberikan solusi nyata bagi masyarakat, baik dalam aspek spiritual maupun sosial.
Para tokoh dakwah seperti Kiai Ghofur, Gus Samsudin, Gus Idris, dan Ustadh Ujang Busthomi telah menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya tentang penyampaian ajaran agama, tetapi juga tentang cara ajaran tersebut mampu memenuhi kebutuhan praktis masyarakat. Tantangan terbesar yang mereka hadapi adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara elemen-elemen mitologis yang masih ada dalam ajaran tradisional dan tuntutan masyarakat modern yang semakin rasional. Dalam proses ini, demitologisasi menjadi langkah penting agar dakwah tetap relevan dan efektif di tengah perubahan sosial yang dinamis.
You may also like




