Pesan Eskatologis: Dari Mana Mau Kemana

Beberapa hari yang lalu, saya sempat saling kirim pesan melalui WhatsApp (WA), yang jika direnungkan itu sangat luar biasa. Kebetulan, beberapa hari sebelumnya, saya menguji pada ujian tertutup program Doktor Islamic Studies di UIN Syekh Ali Rahmatullah Tulungagung (UINSATU) berkaitan dengan dunia eskatologis. Yaitu dunia masa depan, dimulai dari akhir zaman sampai alam akherat. Yang diteliti mengenai kehidupan penganut Tarekat Akmaliyah di Ponorogo tentang eskatologis. Rasanya pesan di dalam WA Prof. Imam Suprayogo itu terkait dengan pemikiran eskatologis.Secara lengkap pesan di dalam WA Prof. Imam, begitulah biasanya saya memanggilnya, sebagai berikut:
“Umur 60-an ke atas ini yang diperlukan adalah bersiap-siap, kemas-kemas untuk pulang ke rumah yang sebenarnya. Empat hal yang diperlukan, yaitu (1) mengetahui jalan menuju pulang, (2) alamat tempat pulang, (3) oleh-oleh pulang seharusnya cukup, dan (4) mengetahui siapa yang akan menerima kelak ketika pulang. Tentu 4 hal tersebut bersifat ruhaniyah. Sementara itu yang bersifat jasadiyah sudah jelas, yaitu ke makam atau kuburan. Jika 4 hal tersebut sudah jelas, insya Allah pulang dengan gembira, jauh lebih gembira ketika dulu datang. Sekedar bahan renungan saja.”
Pesan ini pendek, tetapi bagi saya memiliki kandungan makna yang sangat mendalam. Bagi orang yang menyadari bahwa kehidupan akan berakhir dengan kematian, dan tidak ada seorangpun yang bisa mengingkarinya, maka pesan itu betapa dalamnya. Sungguh bisa mengusik terhadap kesadaran jiwa kita bahwa kita akan pulang. Semuanya akan pulang, sebab kita hanya numpang lewat di dalam kehidupan duniawi dan akan kembali kepada kehidupan yang abadi di alam kubur lalu ke alam akherat.
Manusia dipastikan akan mengalami kehidupan di empat alam, yaitu alam ruh, tempat kita berjanji akan menyaksikan kekuasaan Allah dan keberadaan Allah. Alastu Birabbikum qalu bala syahidna” (QS. Al A’raf: 172). Terjemahan bebasnya: “Apakah Aku ini Tuhanmu? Mereka menyatakan; “benar Engkau Tuhan kami”. Di alam ruh ini kita sudah berjanji akan mengesakan Allah sebagai “Yang Tidak Terhingga” dan akan mengamalkan yang menjadi perintahnya. Lalu memasuki alam dunia atau alam tempat melakukan perjanjian. Mengesakan Allah dan melakukan amal kebaikan. “Amanu wa ‘amilus shalihat” (QS. Al Ashr: 3) atau “beriman dan beramal shaleh”. Setiap kata beriman selalu dilanjutkan dengan amal saleh.
Saya akan membahas pesan WA Prof. Imam dalam tiga hal:, yaitu:
Pertama, konsep pulang. Pulang menunjukkan seseorang dari bepergian, lalu kembali ke rumahnya. Pulang menunjukkan satu fenomena seseorang yang menuju rumahnya. Rumah di mana nanti manusia akan kembali kepada tempat yang secara eskatologis disebut sebagai alam akherat. Alam terakhir yang menjadi rumah bagi seluruh makhluk manusia. Rumah tersebut dinyatakan sebagai surga, bagi yang memperoleh reward dari Allah karena keimanan dan kesalehannya, dan neraka bagi yang tidak beriman dan beramal shaleh.
Pulang di dalam konsepsi Islam adalah akhir dari perjalanan kehidupan. Yaitu di kala telah dicabut ruhnya oleh Malaikat Izrail atas perintah Allah. Di dalam Alqur’an dijelaskan “Kullu nafsin dzaiqatul maut”. (QS, Ali Imran: 185), yang artinya: “setiap yang memiliki jiwa akan meninggal”. Jadi semua makhluk Allah SWT akan mengalami kematian. Pulang atau kematian tentu dapat dilihat dari perspektif filsafat yang mendasarinya. Bagi kaum materialisme bahwa kematian adalah rusaknya organ tubuh. Sedangkan bagi kaum agamawan, mati adalah akhir hidup manusia di dunia sesuai dengan kepastian Tuhan atau takdirnya.
Manusia sesungguhnya terdiri dari tiga dimensi, yaitu Roh atau “Pancaran Tuhan”, lalu jiwa atau nafs atau kehendak manusia. Roh itu netral tidak terkooptasi oleh kepentingan duniawai, sebab roh adalah eksistensi Tuhan yang memasuki alam materi atau manusia. Jasad adalah wadah yang disiapkan untuk menjadi rumah bagi roh. Meskipun memasuki jasad manusia yang bercorak materi, akan tetapi roh tidak melebur ke dalam jasad. Roh tetap berada di dalam eksistensinya sendiri. Itulah sebabnya roh dapat dicabut dan dikeluarkan dari tubuh manusia. Lalu siapa yang mati, maka jawabannya adalah jiwa dan jasad. Roh tidaklah mati. Di alam barzakh, Allah bisa memberikan pengetahuan kepada Roh, bahwa yang akan dialami jiwa dan jasad adalah sesuai dengan amal perbuatannya.
Kedua, pertanyaan eskatologis yang diungkap Prof. Imam itu luar biasa. (1) mengetahui jalan menuju pulang, (2) alamat tempat pulang, (3) oleh-oleh pulang seharusnya cukup, dan (4) mengetahui siapa yang akan menerima kelak ketika pulang. Islam adalah jalan menuju pulang, artinya orang yang mengamalkan Islam hakikatnya adalah orang yang akan pulang dengan jalan yang benar. Di kala kita membaca: “ihdinash shirathal mustaqim” (QS, Al Fatihah: 6), maka hakikatnya kita memohon kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang benar untuk pulang. Jalan tersebut adalah beriman kepada Allah tanpa sedikitpun keraguan, sebagaimana keimanan Sayyidina Abubakar. Yang selalu mempercayai kebenaran wahyu Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Allah memberikan representasi jalan pulang melalui Nabi Muhammad SAW. Umat Islam dapat menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai washilah untuk pulang melalui jalan yang benar. Membaca shalawat yang benar dan mengamalkan ajaran Islam secara konsekuen merupakan jalan menuju pulang.
Lalu, di mana alamat tempat pulang. Kemanakah kita akan melangkahkan kaki untuk pulang. Yaitu ke alam akherat melalui rumah antara, alam barzakh. Jika alam akherat adalah rumah terakhir, maka alam barzakh adalah tempat singgah sementara. Makanya, di alam barzakh itu Roh sudah mengetahui rumah materi di dunia dulu akan dikemanakan. Ada tiga pandangan, yaitu: sudah dikenalkan tentang surga, sudah dikenalkan neraka, dan ada yang dikenalkan surga dan neraka secara bergantian. Roh berada di dalam alam barzakh sampai kemudian ditiupkan sangkakala atau terompet kehancuran dunia. Setelah beberapa lama dunia dan tata suryanya lebur, maka manusia akan dibangkitkan pada yaumul ba’tsi dan jasadnya tumbuh melalui tulang ekornya masing-masing dan kemudian bersama jasad, jiwa dan rohnya akan mengalami masa yang menyenangkan atau menyesakkan. Bagi orang muslim yang berkategori nafsul muthmainnah, maka akan menemui kebahagiaan, sedangkan yang nafsul hayawaniyah akan mengalami kesengsaraan. Tempatnya adalah di alam yang sudah direkonstruksi. Bukan seperti bumi yang sekarang. Luasnya sama dengan bumi dan langit. Kata langit menggambarkan keseluruhan tata surya kita.
Barang bawaan atau oleh-oleh yang akan dibawa oleh manusia adalah amal perbuatan yang baik dan yang jelek. Jika kita membawa amalus shalihat, maka kita akan berjalan dengan ringan di alam makhsyar, tanpa beban. Digambarkan seseorang seperti terbang melintasi jembatan lurus atau shirathal mustaqim. Sementara itu yang melakukan kedhaliman, akan membawa beban berat, dan jika tidak mampu membawanya maka akan terjatuh dan masuk ke neraka. Di dalam cerita-cerita, ada yang membawa pahalanya dengan dipikul atau dijinjing. Pahala tersebut bukan berat seperti benda alami, lebih ringan sebagaimana biji dzarrah atau neutron. Begitulah kasih sayang Allah kepada hambanya. Ada yang membawa amal karena membaca Surat Al Ikhlas, ada yang membawa istighfar, ada yang membawa shalawat, ada yang membawa sedekah dan semua amal kebaikan untuk Allah dan umat manusia.
Kemudian, yang menerima kita di alam kubur, alam kebangkitan dan alam akherat, adalah Rasulullah SAW, Malaikat dan bahkan Allah SWT bagi umat yang mendapatkan rahmatnya. Inilah makna shalawat kepada Nabi Muhammad SAW agar di tiga alam tersebut kita mendapatkan perlindungannya. Nabi Muhammad SAW adalah Maulana atau pelindung kita. Muhammad SAW diberi otoritas oleh Allah untuk memberikan syafaatnya kepada umatnya yang patuh dan tunduk kepada Allah SWT. Oleh karena itu, menjadi sebuah keberuntungan bagi umat Islam yang bisa membaca shalawat dan kalimat thayyibah lainnya. Bukan berapa jumlahnya akan tetapi konsistensinya.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




