Membaca Ulang Identitas Perempuan Madura Pesisir di Tengah Perubahan Sosial dan Digitalisasi
Sampang, 6 Juni 2026 — Tim Riset MoRA The Air Funds menggelar Focus Group Discussion atau FGD di Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, untuk mendalami identitas perempuan Madura pesisir dalam ruang domestik dan publik. Kegiatan ini merupakan bagian dari riset berjudul “Identitas Perempuan Madura Pesisir dalam Ruang Domestik dan Publik: Gender, Pendidikan, Kepemimpinan, Tradisi Bekerja, Digitalisasi dan Perubahan Sosial di Tengah Kontestasi Otoritas Keagamaan di Pesisir Pulau Madura dan Tapal Kuda Jawa Timur.”
Riset ini diketuai oleh Prof. Dr. Nur Syam, M.Si, dengan anggota tim yang terdiri atas Wahyu Ilaihi, MA., Ph.D, Dr. Pardianto, M.Si, Moh. Khoirul Anam, M.Li, Mevy Eka Nurhalizah, M.Sos, dan Nur Hasib, M.T. Kegiatan FGD dipandu oleh Nurul Ismayah sebagai moderator, dengan Ibu Jumiyati sebagai narasumber. Diskusi ini melibatkan 15 informan yang memberikan pandangan, pengalaman, dan refleksi tentang kehidupan perempuan pesisir Madura.
Dalam forum tersebut, perempuan pesisir Madura dipotret sebagai kelompok yang memiliki ketangguhan sosial, ekonomi, dan kultural. Mereka tidak hanya menjalankan peran domestik sebagai ibu dan pengelola rumah tangga, tetapi juga aktif dalam ruang publik, organisasi sosial-keagamaan, pendidikan, perdagangan, serta kegiatan komunitas. Catatan diskusi juga menunjukkan bahwa perempuan pesisir Camplong dan sekitarnya banyak terhubung dengan organisasi seperti Fatayat NU, Muslimat, IPPNU, serta forum pengajian dan komunitas lokal.
Salah satu isu penting yang mengemuka adalah kemampuan perempuan pesisir dalam menyeimbangkan peran rumah tangga dan aktivitas publik. Para informan menggambarkan bahwa perempuan pesisir terbiasa mengatur waktu secara ketat, terutama ketika harus bekerja, berdagang, mengurus anak, mengikuti kegiatan organisasi, atau mendampingi aktivitas sosial-keagamaan. Pada konteks keluarga nelayan, perempuan juga memiliki peran besar ketika suami melaut dalam waktu lama. Mereka menjadi penopang utama keluarga, baik secara emosional maupun ekonomi.
Diskusi juga menyoroti bahwa kepemimpinan perempuan di masyarakat pesisir tidak hanya diukur dari jabatan formal, tetapi juga dari keteladanan, pendidikan, pengalaman organisasi, serta kemampuan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar. Dalam masyarakat Madura pesisir, figur yang dihormati sering kali berkaitan dengan otoritas keagamaan, keteladanan moral, dan kedekatan dengan tradisi pesantren. Namun, ruang sosial perempuan juga terus berubah seiring meningkatnya akses pendidikan dan keterlibatan mereka dalam organisasi.
Selain itu, FGD membahas pengaruh digitalisasi terhadap kehidupan perempuan pesisir. Media sosial, grup WhatsApp, pengajian daring, dan platform digital mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Digitalisasi tidak hanya digunakan untuk komunikasi organisasi dan keluarga, tetapi juga untuk memperluas jaringan, memperoleh informasi keagamaan, mengikuti kajian, dan mendukung aktivitas ekonomi. Perubahan ini memperlihatkan bahwa perempuan pesisir tidak berada di luar arus modernisasi, melainkan turut beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Tradisi lokal juga menjadi perhatian dalam diskusi, termasuk keterlibatan perempuan dalam kegiatan sosial-keagamaan dan budaya pesisir seperti selawatan, pengajian, petik laut, rokat tasek, serta kegiatan komunitas nelayan. Dalam tradisi tersebut, perempuan sering mengambil peran penting, mulai dari persiapan konsumsi, pengorganisasian kegiatan, hingga keterlibatan dalam praktik sosial yang memperkuat solidaritas masyarakat.
Melalui FGD ini, tim riset berupaya memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai identitas perempuan Madura pesisir di tengah perubahan sosial. Perempuan pesisir tidak hanya dipahami sebagai bagian dari ruang domestik, tetapi juga sebagai aktor penting dalam pendidikan, ekonomi keluarga, organisasi sosial-keagamaan, pelestarian tradisi, serta adaptasi terhadap digitalisasi.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya kajian tentang perempuan Madura pesisir, khususnya dalam melihat hubungan antara gender, pendidikan, kepemimpinan, tradisi bekerja, digitalisasi, perubahan sosial, dan otoritas keagamaan. Hasil FGD ini menjadi salah satu pijakan penting bagi pengembangan riset yang lebih mendalam di kawasan pesisir Pulau Madura dan Tapal Kuda Jawa Timur.




