Dulu Sandal Dijahit, Sekarang Langsung Diganti
Eva Putriya Hasanah
Memperbaiki barang yang rusak adalah kebiasaan orang jaman dulu yang biasa dilakukan sehari-hari.Bagi generasi yang tumbuh beberapa dekade lalu, barang rusak tidak selalu berarti barang yang harus dibuang. Sandal yang putus dibawa ke tukang sol. Payung yang patah diperbaiki. Setrika, radio, kipas angin, bahkan televisi sering kali diservis berkali-kali sebelum benar-benar tidak dapat digunakan lagi. Di banyak rumah, memperbaiki barang merupakan pilihan yang wajar, bahkan menjadi bagian dari budaya hidup hemat.
Namun keadaan kini berbeda. Ketika layar ponsel retak, banyak orang memilih membeli perangkat baru. Ketika sepatu mulai rusak, pilihan mengganti sering dianggap lebih praktis daripada memperbaiki. Ketika pakaian mulai usang, tidak sedikit yang langsung membuangnya untuk membeli model terbaru. Perubahan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat memandang barang, konsumsi, dan keberlanjutan lingkungan.
Dari Budaya Memperbaiki ke Budaya Mengganti
Pada masa lalu, keputusan memperbaiki barang sering kali didorong oleh pertimbangan ekonomi. Harga barang relatif mahal dibandingkan pendapatan masyarakat, sehingga memperpanjang usia pakai menjadi pilihan yang masuk akal. Selain itu, keberadaan tukang servis dan pengrajin perbaikan sangat mudah ditemukan. Hampir setiap kawasan memiliki tukang sol sepatu, tukang reparasi elektronik, tukang jahit, atau bengkel kecil yang melayani berbagai kebutuhan perbaikan rumah tangga.
Kini situasinya berubah. Produksi massal membuat banyak barang tersedia dengan harga yang semakin terjangkau. Dalam beberapa kasus, biaya memperbaiki bahkan hampir sama dengan membeli barang baru. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat banyak produk dirancang dengan komponen yang sulit diperbaiki atau diganti secara mandiri. Akibatnya, masyarakat semakin terbiasa dengan pola konsumsi yang mengutamakan penggantian daripada perbaikan.
Gunungan Limbah Elektronik yang Terus Bertambah
Salah satu dampak paling nyata dari perubahan tersebut adalah meningkatnya limbah elektronik atau electronic waste (e-waste). Menurut laporan Global E-waste Monitor yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dunia menghasilkan lebih dari 60 juta ton limbah elektronik pada tahun 2022, dan Angka ini terus tumbuh sebesar 2,6 juta ton setiap tahun. Limbah elektronik kini menjadi salah satu jenis sampah dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Ponsel, laptop, televisi, kulkas, mesin cuci, dan berbagai perangkat elektronik lainnya memiliki masa pakai yang semakin pendek. Banyak perangkat dibuang bukan karena tidak dapat digunakan lagi, melainkan karena muncul model yang lebih baru atau biaya perbaikannya dianggap tidak sebanding. Padahal, limbah elektronik mengandung berbagai material berharga seperti emas, tembaga, dan logam langka yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali. Sebaliknya, limbah tersebut juga mengandung bahan berbahaya yang dapat mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan kecil untuk mengganti barang ternyata memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar bagi bumi.
Fast Fashion dan Pakaian yang Semakin Cepat Menjadi Sampah
Perubahan pola konsumsi juga terlihat jelas dalam industri fesyen. Dulu, pakaian sering digunakan selama bertahun-tahun. Jika ada bagian yang robek, pakaian dijahit kembali. Jika ukurannya berubah, penjahit dapat membantu menyesuaikannya. Tidak jarang pakaian diwariskan kepada adik atau kerabat yang lebih muda.Saat ini, industri fast fashion mendorong siklus konsumsi yang jauh lebih cepat. Tren mode berubah dalam hitungan minggu. Konsumen didorong untuk terus membeli koleksi terbaru dengan harga yang relatif murah.
Laporan berbagai organisasi lingkungan menunjukkan bahwa industri fesyen menjadi salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Jutaan ton pakaian berakhir di tempat pembuangan setiap tahun, meskipun sebagian masih layak digunakan. Dalam banyak kasus, masalahnya bukan karena pakaian rusak, melainkan karena pakaian dianggap tidak lagi mengikuti tren. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana nilai suatu barang semakin sering ditentukan oleh kebaruan, bukan oleh fungsi atau daya tahannya.
Hilangnya Keterampilan Memperbaiki
Selain menghasilkan lebih banyak sampah, budaya mengganti juga menyebabkan berkurangnya keterampilan memperbaiki barang. Generasi terdahulu terbiasa memahami cara kerja benda-benda di sekitar mereka. Mereka mengetahui bagaimana mengganti kabel setrika yang putus, menambal ember bocor, atau memperbaiki engsel pintu yang rusak.
Hari ini, banyak produk hadir dalam bentuk yang lebih kompleks dan tertutup. Pengguna cukup memakai, lalu mengganti ketika terjadi kerusakan.Akibatnya, hubungan manusia dengan barang menjadi berbeda. Barang tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang dirawat dan dipertahankan selama mungkin, tetapi sebagai produk yang memiliki masa pakai singkat.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa budaya memperbaiki dapat membantu mengurangi limbah, menghemat sumber daya alam, serta memperpanjang umur penggunaan produk.
Ketika Memperbaiki Menjadi Tindakan Lingkungan
Dalam beberapa tahun terakhir, muncul gerakan global yang mendorong masyarakat kembali pada budaya memperbaiki barang. Di berbagai negara berkembang konsep repair culture dan right to repair yang menuntut produk dirancang lebih mudah diperbaiki oleh pengguna. Gerakan ini lahir dari kesadaran bahwa masalah lingkungan tidak hanya dapat diselesaikan dengan mendaur ulang sampah. Mengurangi konsumsi dan memperpanjang usia pakai barang juga merupakan bagian penting dari solusi.
Menjahit pakaian yang robek, memperbaiki kipas angin yang rusak, atau menggunakan kembali barang lama mungkin tampak sebagai tindakan kecil. Namun jika dilakukan oleh jutaan orang, dampaknya terhadap pengurangan limbah dan penggunaan sumber daya dapat menjadi sangat signifikan.
Pelajaran Lama yang Kembali Relevan
Di tengah arus konsumsi modern, ada pelajaran berharga yang dapat dipetik dari generasi terdahulu. Mereka mungkin tidak mengenal istilah ekonomi sirkular, keberlanjutan, atau jejak karbon. Namun dalam praktik sehari-hari, mereka telah menerapkan banyak prinsip yang kini dianggap penting bagi masa depan lingkungan. Mereka memperbaiki sebelum membeli. Mereka merawat sebelum membuang. Mereka memaksimalkan manfaat sebuah barang sebelum menggantinya dengan yang baru.
Tentu tidak semua hal dari masa lalu harus dipertahankan. Kemajuan teknologi telah membawa banyak kemudahan yang patut disyukuri. Namun ketika gunungan limbah elektronik terus bertambah dan pakaian semakin cepat menjadi sampah, mungkin sudah saatnya kita kembali mengingat satu kebiasaan sederhana yang pernah begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari: tidak semua barang yang rusak harus segera dibuang. Kadang-kadang, memperbaiki bukan hanya soal menghemat uang. Ia juga merupakan cara menghargai sumber daya, mengurangi limbah, dan menjaga bumi yang kita tinggali bersama.




