Memperkuat Wilayah Birokrasi Bersih Melayani: Kankemenag Bangkalan
Di tengah kesibukan yang tetap saja menumpuk, saya masih memprioritaskan atas pentingnya membangun birokrasi di Kementerian Agama (Kemenag) agar berada di dalam area Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM). Keduanya selalu menjadi bagian tidak terpisahkan dari tugas pokok dan fungsi dari seluruh Aparat Sipil Negara (ASN) Kemenag, termasuk di Kankemenag Bangkalan.
Saya mendapatkan Undangan, 08/07/26, untuk memberikan taushiyah birokrasi pada ASN Kankemenag Bangkalan dalam kerangka persiapan untuk mengajukan kembali Kankemenag dalam kompetisi penetapan WBK dan WBBM. Kankemenag Bangkalan masih harus bekerja keras untuk kembali berprestasi dalam dua konsep ini, sebab masih ada kekurangan yang diperlukan untuk kepentingan tersebut.
Saya menyampaikan tiga hal dalam kaitan dengan taushiyah birokrasi, yaitu:
Pertama, bersyukur atas karunia Allah bahwa kita menjadi ASN Kemenag. Meskipun kita tahu bahwa menjadi ASN Kemenang itu sangat berat, sebab memanggul tugas yang lebih berat, akan tetapi dengan menjadi ASN Kemenag, maka tujuan kita bekerja itu sangat jelas. Jika kita menggunakan konsep Mc-Kinsey, maka orang bekerja bisa menjadi bahagia, jika memenuhi tiga aspek, yaitu memiliki purpose atau tujuan di dalam bekerja. Bekerja itu harus memiliki tujuan. Jangan untuk mencapai tujuan antara atau instrumental purpose ialah untuk mendapatkan gaji, jabatan dan status sosial, akan tetapi harus mencapai tujuan bekerja tertinggi yakni untuk memperoleh keridlaan Allah SWT. Inilah tujuan tertinggi dalam bekerja. Dengan tujuan tersebut, maka tujuan instrumental dan tujuan akhir bisa ditunaikan. Lalu ada hope atau harapan. Jangan sampai harapan kita bekerja adalah untuk mengharapkan gaji, jabatan dan status sosial yang tinggi, akan tetapi justru untuk mencapai keridlaan Allah SWT. Harapan kita adalah agar mendapatkan ridhanya Allah SWT. Dan yang tidak kalah penting adalah memiliki persahabatan atau friendship. Hanya dengan persahabatan saja hidup akan menjadi bermakna.
Kedua, kita tidak boleh berhenti untuk berkarya. Dalam jabatan dan fungsi apapun, maka kita tidak boleh untuk berhenti berkarya. Bagi kita berkarya merupakan tolok ukur atas keberadaan kita. Kita berkarya kita ada. Tidak ada prestasi tanpa karya. Dan melalui karya itu menjadi ukuran khairun nas anfa’uhum linnas”. Seseorang dinyatakan menjadi terbaik, jika paling bermanfaat bagi orang lain.
Di sinilah makna kita harus bekerja secara optimal di dalam birokrasi. Bekerja serius itu dapat diukur dari capaian, seperti menjadi birokrasi yang bebas korupsi dan birokrasi yang bersih dan melayani. Jika banyak Kankemenag yang berindikasi seperti ini, maka inilah yang dapat menjadi ukuran bahwa kita berhasil. Upaya yang dilakukan oleh Kankemenag Bangkalan untuk terlibat di dalam kompetisi WBK dan WBBM merupakan upaya yang harus didukung oleh semua pihak, khususnya para ASN di Kankemenag ini.
Kita semua harus memperbaiki atas pelayanan kantor kita agar masyarakat merasakan betapa pentingnya pelayanan kantor Kemenag. Harus diupayakan agar survei kepuasan pelanggan kita memasuki pelayanan yang memuaskan, baik pelanggan internal maupun eksternal. Semua harus merasakan kepuasan bahkan menghasilkan loyalitas pelanggan. Jika tidak ingin dilayani dengan baik, maka hal itu terdapat di Kemenag.
Wajah Kemenang itu akan dapat dilihat melalui bagaimana pelayanan oleh Kankemenag Kabupaten, Kantor Urusan Agama (KUA) dan para penyuluhnya. Kantor kita di Jakarta itu lebih banyak urusan kebijakan dan administratif, akan tetapi untuk urusan pelayanan itu ada di Kabupaten dan Kecamatan. Jika pelayanan di sini bagus itu akan berimbas pada kebaikan pelayanan Kemenag pada umumnya. Marilah kita perankan kantor kita menjadi kantor pelayanan sesuai dengan UU No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Ketiga, ada satu konsep penting, saya sebut sebagai tasawuf birokrasi. Kita jadikan birokrasi kita sebagai jalan untuk mendapatkan keridlaan Allah SWT. Birokrasi yang selama ini menjadi tempat kita bekerja dengan urusan-urusan duniawi, hendaknya dihias dengan tasawuf. Hidup harus dihias dengan ingat atau dzikir kepada Tuhan. Di dalam bekerja, kita harus ingat bahwa ada mata universal yang mengawasi kerja kita semua. Kita pasti yakin, semua amalan kita itu akan direkord dengan sangat presisi di hadapan komputer raksasa yang secara cermat mencatat semua amalan kita, meskipun sebesar dzarrah, sebesar biji sawi atau bahkan sebesar neutron. Makna malaikat pencatat amal adalah mekanisme otomatis di dalam proses pencatatan amal kebaikan dan amal keburukan. Malaikat Raqib dan Atid itu secara fungsional menjadi koordinator pencatatan amal perbuatan manusia.
Di dalam tasawuf birokrasi, maka semua pelakunya memiliki kesadaran bahwa apapun yang dilakukan akan menjadi saksi kelak di saat hari kebangkitan. Suatu hari yang akan menjadi saksi apakah kita akan menerima catatan amal dengan tangan kanan atau tangan kiri. Jika kita menjadi pejabat juga tidak hanya kita yang ditanya, akan tetapi juga orang yang kita pimpin. Jika diilustrasikan, maka semua orang yang memiliki relasi dengan kita akan memberikan kesaksian atas apa yang kita lakukan.
Saya yakin bahwa di dunia birokrasi kita, sudah tidak ada lagi birokrasi meja. Ada banyak meja, ada bawah meja dan ada meja pingpong. Semuanya sudah on the track bahwa kita ingin memperbaiki pelayanan kita dengan upaya yang sebaik-baiknya. Dan salah satu contoh adalah dengan diresmikannya secara ulang Gedung Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) yang akan menjamin bahwa pelelangan atas barang dan jasa akan dapat dilakukan dengan transparansi dan akuntabilitas. Ke depan kita akan semakin baik.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like




