Transformasi Nilai Keislaman Dalam Pendidikan Islam
Saya diundang oleh Bapak Drs. Lukman Hakim, MPd dalam rangka mengisi acara Rapat Kerja Yayasan Pendidikan Islam Darmo Permai (YPIDP), 12/09/2026, di Hotel Holy Day Inn Surabaya. Acara ini diikuti oleh segenap pengurus Yayasan dan para kepala Sekolah yang tergabung pada YPIDP dimaksud. Saya diminta untuk memberikan penjelasan tentang “Transformasi Pendidikan dan Inovasi Digital Menuju Generasi Berdaya Saing Global”. YPIDP mengelola Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) yang secara organisatoris berada di bawah lembaga pendidikan Khadijah Surabaya. Saya menyampaikan tiga hal terkait dengan menjawab pertanyaan bagaimana pendidikan Islam di masa depan pada era digital.
Pertama, Pendidikan Islam merupakan proses transformasi nilai-nilai keislaman kepada peserta didik melalui proses pembelajaran terpadu menuju perilaku yang baik. Proses transformasi nilai-nilai keislaman bukan sekedar transfer nilai. Di dalam transformasi terdapat proses perubahan secara kontinum menuju kepada kebaikan.
Nilai keislaman adalah nilai-nilai yang terdapat di dalam Al-Qur’an, hadits dan ijmak ulama. Al-Qur’an dan hadits adalah sumber nilai, ijmak ulama adalah penafsiran para ulama tentang nilai yang harus dilakukan. Nilai-nilai tersebut berada di dalam konteks Islam rahmatan lil alamin. Nilai ketuhanan, kemanusiaan dan kealaman. Hablum minallah, hablum minan nas dan hablum minal alam.
Di dalam transformasi nilai, guru adalah teladan. Guru adalah uswah hasanah, sebagaimana para da’i, kyai dan ulama, yang juga uswah hasanah. Para ulama, kyai dan guru adalah representasi akhlak Nabi. Sebagaimana Nabi adalah representasi sifat-sifat Allah SWT. Guru merupakan faktor pengaruh eksternal. Murid memiliki kemampuan untuk belajar. Ada faktor internal.
Secara psikhologis, Islam mengajarkan teori tabularasa. Manusia diciptakan dalam kesucian dan akan menjadi bukan kesucian atau tidak kesucian karena faktor keluarga. Ayah, ibu dan saudara-saudaranya. Kullu mauladin yuladu ‘alal fitrah. Fain abawahu yudawwidanihi, auw yunassiranihi auw yumajisanihi. Jadi selain ada faktor pembawaan juga ada fkator lingkungan di dalam pendidikan. Sekolah adalah faktor eksternal atau lingkungan yang turut terlibat di dalam pembinaan anak-anak.
Secara antropologis, rumah memiliki banyak fungsi: Fungsi pengasuhan, Fungsi sosialisasi atau pergaulan, Fungsi pendidikan, Fungsi enkulturasi, Fungsi rekreasi, Fungsi kesehatan, Fungsi spiritual. Baiti jannati. Rumah merupakan madrasah awal, yaitu tempat untuk mengasuh anak dan memperkenalkan nilai-nilai kehidupn berbasis ajaran agama. Oleh karena itu tanggungjawab orang tua menjadi sangat penting terhadap kebutuhan anak akan agama dan nilai-nilai kehidupanya.
Kedua, Pengguna media sosial kita sungguh sangat banyak, 67 persen dari populasi penduduk Indonesia. pengguna internet sebanyak 86 persen, Pengguna mobil connection sebanyak 133 persen. Hal ini menggambarkan besarnya penggunaan media sosial di dala. Kehidupan masyarakat Indonesia. Nyaris semua usia, mulai anak-anak sampai orang dewasa nyaris semuanya menggunakan WA, youtube, IG, facebook dan sebagainya.
Masyarakat Indonesia sudah kecanduan bermain HP. Berdasarkan penelitian, Rata-rata penggunaan HP kira-kira sehari 6-7 jam setiap hari. Dominasi penggunaan HP terdapat pada Youtube, Tik Tok dan Instagram. Sebaiknya, penggunaan HP sehari yang sehat adalah: Anak-anak rata-rata 1 jam perhari dalam usia 2-5 tahun. Anak sekolah rata-rata 2 jam usia 5 tahun ke atas. Remaja dan dewasa rata-rata 4 jam sehari. Berdasarkan penelitian, penggunaan HP berlebihan di atas 6 jam akan menyebabkan menyusutnya kemampuan otak atau otak mengecil.
Ketiga, terdapat tiga perubahan dalam pembelajaran: Pembelajaran berbasis hafalan atau to memorize. Siswa diajari untuk hafal apa yang diajarkan. Pembelajaran berbasis pencarian atau to search. Siswa diminta untuk menemukan hal-hal yang dipelajari. Pembelajaran berbasis Artificial Intelligent (AI). Cari dengan kata kuncinya dan kemudian memperoleh jawaban yang tepat dan akurat. Harus dicari mana yang cocok sesuai dengan keadaan siswanya.
Di dalam proses pembelajaran anak-anak, maka ada banyak metode pembelajaran, di antaranya discovery learning atau pembelajaran untuk menemukan sendiri konsep, prinsip dan teori dari bahan-bahan pembelajaran. Metode ini termasuk student centered. Metode ini ditemukan oleh Jerome Bruner. Baginya cara pembelajaran terbaik adalah jika seorang siswa secara aktif menemukan hal-hal yang dipelajarinya. Program pembelajaran bisa dilakukan secara berkelompok dengan tema-tema yang sesuai dengan tema pembelajaran.
Tujuannya adalah untuk mendorong siswa untuk aktif dalam menemukan konten pembelajaran. Melakukan identifikasi atas apa saja yang akan dipelajari. Misalnya tentang prilaku sehat berbasis pada ajaran Islam. Mengajak siswa untuk menemukan tema yang dipelajari, misalnya konsep jenis-jenis kesehatan: kesehatan fisik dan apa yang dibutuhkan. Misalnya ketercukupan gizi, apa saja dan bagaimana memenuhinya. Kesehatan jiwa, apa saja dan bagaimana caranya, bagaimana melakukannya.
Siswa dapat diajar secara kelompok untuk menjawab atas penugasan-penugasan tersebut dengan cara menuliskan jawabannya. Dan mengoleksi hasil kerjanya. Siswa menyampaikan hasil kerjanya. Guru mengapresiasi dan memberikan masukan tentang apa seharusnya dipahami oleh para siswa. Guru sebagai fasilitator. Guru sudah memiliki jawaban. Tetapi murid harus mencarinya sendiri terlebih dahulu.
Anak-anak seusia SD atau SMP sudah mengenal teknologi informasi. Mereka sudah familiar dengan media sosial, tik tok, youtube, dan sebagainya. Mereka sudah mengakses informasi dari media sosial yang berkembang dewasa ini. Oleh karena itu, sekolah harus terlibat di dalam pembelajaran berbasis digital atau teknologi informasi. Jangan sampai anak-anak lebih banyak mengakses informasi yang tidak terkendali.
Untuk kepentingan tersebut, maka sekolah harus memiliki jejaring dengan orang tua agar sekolah dapat mengontrol yang dilakukan oleh siswanya. Jaringan WA saja. Ibu-ibu lebih perhatian dibanding bapak-bapak. Jejaring ini untuk kepentingan timbal balik. Guru perlu tahu siswa di rumah dan orang tua perlu tahu aktivitas anak di sekolah.
Materi pembelajaran dilakukan dengan video, tiktok, youtube dan sebagainya. Materi pembelajaran misalnya pentingnya kesehatan dalam pandangan Islam. Disajikan ayat Qur’an dan hadits dan qaul ulama. Sajikan video kenyataan empirisnya. Sajikan akibatnya, dan sebagainya. Sajikan program pembelajaran yang menarik, jangan apa adanya.
Perlu kerja tim. Guru-guru harus bekerja sama untuk merumuskannya dan menghasilkan produk yang menarik dan unggul. Produk itu diketahui oleh orang tua dan anak-anak. Lakukan literasi kepada orang tua. Guru harus melek teknologi informasi atau pembelajaran digital.
Guru harus menjadi fasilitator dan konselor dalam pembelajaran. Di tengah pembelajaran digital, guru harus aktif menyediakan bahan-bahan pembelajaran. Saya yakin, bahwa di lembaga pendidikan ini sudah ada inovasi terkait dengan pembelajaran efektif. Jadi, Institusi pendidikan harus menyiapkan siswa ke depan yang memiliki talenta besar dalam penguasan teknologi informasi. Siswa diasumsikan well educated dalam pembelajaran dan produk pembelajaran.
Wallahu a’lam bi al shawab.
You may also like

NU, PTNU dan Tantangan Global (2)

NU, PTNU dan Tantangan Global (1)

Kepemimpinan sebagai Substansi Pengembangan PTKIN

