(Sumber : Tribun Pontianak)

Pemuda dalam Kubangan Fanatisme Korean Wave

Horizon

Oleh : Fathiyah Khasanah Arrahmah

(Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)

  

Korean Wave atau Hallyu merupakan sebutan yang ditujukan bagi tersebar luaskannya budaya pop Korea di tingkat internasional yang dapat juga dikatakan sebagai globalisasi budaya Korea. Fenomena Korean Wave tidak hanya mencakup budaya pop Korea saja, namun juga diikuti dengan perhatian terhadap komoditas Korea Selatan lain seperti K-food, K-Pop, K-Fashion hingga K-Drama. Saat ini fenomena tersebut juga melanda generasi Indonesia masa kini, mereka pada umumnya menyukai drama dan music Korea yang merupakan komoditas utama Korea hari ini.[1]

  

Pengaruh Korean Wave di Indonesia

  

Indonesia yang saat ini merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia merupakan rumah bagi jutaan K-popers atau pecinta K-pop. Pada tahun 2022, Twitter mengumumkan daftar negara yang paling banyak men-tweet terkait artis Kpop sepanjang tahun 2021 dan Indonesia berada pada peringkat pertama dari daftar tersebut. Sedangkan untuk penayangan video-video K-pop di Youtube berdasarkan negara, Indonesia menempati posisi ke-2 dengan persentase 9.9%. Sementara itu, Korea Selatan berada pada posisi pertama dengan persentase yang tak jauh berbeda dari Indonesia yaitu 10.1%.[2]

  

Pengaruh ini juga tampak pada banyaknya artis Korea yang diundang ke acara-acara nasional di Indonesia dan menjadi brand ambassador perusahaan lokal. Hal tersebut tentu mendapatkan perhatian besar dari masyarakat Indonesia sehingga popularitasnya menjadi sebuah trending. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam berkembangnya Korean Wave secara global.[3]

  

Fanatisme Fans KPOP

  

Indonesia dikenal memiliki fanbase yang besar dan loyal dalam dunia K-pop. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai ‘pasar’ yang sangat potensial untuk perekonomian Korea Selatan. Terkadang, menjadi K-popers bukanlah sesuatu yang murah. Kpopers perlu mengeluarkan banyak uang untuk membeli tiket konser, album, merchandise, vote, dan produk yang diiklankan dan diapakai oleh idola mereka. Hingga, memberi hadiah berupa hutan, bintang, barang-barang dari brand designer .ternama dan memasang iklan jika idola mereka berulang tahun. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa fandom Kpop telah berfungsi hampe menyerupai sebuah cult di mana penggemar yang terdapat di dalamnya seakan-akan telah dihipnotis untuk selalu memuja idola mereka selayaknya seorang dewa, yang merupakan tindakan berlebihan dan melampaui batas.[3]

  


Baca Juga : Menyediakan Konten Khutbah Jumat Bukan Mengekang Kebebasan

Keberadaan artis Kpop saat ini banyak mempengaruhi preferensi para milenial dalam beberapa hal. Misalnya semakin maraknya penggunaan produk-produk skincare dan make up Korea, style Korea, konsumsi makanan Korea, dan lainnya. Cara pandang mereka pun juga berubah menjadi lebih terbuka terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti LGBT, seks di luar pernikahan, agnostic dan rasisme yang merupakan paham yang banyak diusung di Korea Selatan.[4] 

  

Korean Wave dalam Kacamata Islam  

  

Maraknya korean wave ini menjadikan seorang muslim lupa dengan identitas dirinya sebagai hamba Allah yang memiliki tujuan hidup tak hanya sebatas pada dunia saja, namun juga pada akhirat. Begitu aneh jika korea yang sebagian besar penduduknya tidak memiliki Tuhan, bisa berjalan beriringan dengan seorang muslim yang memiliki Tuhan dan seperangkat aturannya. Hendaknya seorang muslim hari ini harus menyadari bahwa semakin lama budaya Korean Wave ini terpisah dari Islam dan berada dalam dua persimpangan yang berbeda.[5]

  

Disisi lain ketergantungan terhadap suatu budaya juga akan mengubah masyarakat menjadi hedon dan konsumtif terhadap informasi yang selalu dicerna. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah: 

  

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَه حُسْنُ الْمَاٰبِ

  

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yakni: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” 

  

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan dalam Al-Imran ayat 14 Allah SWT memberi tahu kepada manusia tentang apa-apa yang disukai dan dicintai manusia di kehidupan dunia berupa bermacam-macam kesenangan dunia dalam bentuk wanita-wanita, anak-anak, harta, binatang ternak dan ladang.[6] Yusuf Mansur berpendapat bahwa di lafadz zuyyina linnasi, Allah seakan memberikan informasi bahwa kehidupan manusia dihiasi oleh Allah SWT dengan keinginan terhadap dunia. Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya di ayat selanjutnya dengan mengabarkan bikhairim mindzalikum yang bermakna bahwa masih ada yang lebih baik dari pada dunia dan seisinya yakni jannah. Dalam Al-Imran ayat 14-15 Allah seolah menyatakan bahwa manusia dapat memperoleh dunia tanpa harus meninggalkan akhirat.[7]

  

Berdasarkan ayat tersebut dapat dikatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan tertarik kepada segala hal dan urusan yang berkaitan dengan urusan dunia. Jika kecenderungan tersebut tidak diimbangi dengan ketakwaan kepada Allah, akan berakibat pada surutnya keimanan. Sehingga, manusia sangat membutuhkan agama sebagai petunjuk kehidupan dan menghadapi segala kenikmatan dunia. Kenikmatan dunia ini juga dapat berupa konflik dalam diri yang muncul akibat pertarungan sifat positif dan negatif dan dorongan hawa nafsu serta bisikan setan yang senantiasa menyertai manusi, seperti yang diterangkan dalam firman Allah[8]: 


Baca Juga : Masalah Perhajian di Indonesia

  

وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ 

  

Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh tuhanku. Sesungguhnya tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

  

Referensi:

  

[1] V. Ardia, “Drama Korea dan Budaya Popular,” Jurnal Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta, vol. 2, no. 3, Agustus 2014, Diakses: 11 April 2022. [Daring]. Tersedia pada: https://e-jurnal.lppmunsera.org/index.php/LONTAR/article/view/337

  

[2] I. P. Putri, F. D. P. Liany, dan R. Nuraeni, “K-Drama dan Penyebaran Korean Wave di Indonesia,” ProTVF, vol. 3, no. 1, Art. no. 1, Jun 2019, doi: 10.24198/ptvf.v3i1.20940.

  

[3] D. Larasati, “Globalization on Culture and Identity: Pengaruh dan Eksistensi Hallyu (Korean-Wave) Versus Westernisasi di Indonesia,” Jurnal Hubungan Internasional, vol. 11, no. 1, Art. no. 1, Nov 2018, doi: 10.20473/jhi.v11i1.8749.

  

[4] W. Puspitasari, “Gaya Hidup Penggemar K-Pop (Budaya Pop Korea) Dalam Mengekspresikan Kehidupannya (Studi Kasus K-Pop Lovers Di Surakarta),” Universitas Negeri Semarang, Semarang, 2013. Diakses: 11 April 2022. [Daring]. Tersedia pada: https://digilib.uns.ac.id/dokumen/31815/Gaya-Hidup-Penggemar-K-Pop-Budaya-Pop-Korea-Dalam-Mengekspresikan-Kehidupannya-Studi-Kasus-K-Pop-Lovers-Di-Surakarta

  

[5] “Efek Suka Menonton Tayangan Drama Korea Terhadap Aktivitas Salat Mahasiswa Iain Antasari Banjarmasin.pdf.” Diakses: 14 Juni 2022. [Daring]. Tersedia pada: http://idr.uin-antasari.ac.id/5172/1/Efek%20Suka%20Menonton%20Tayangan%20Drama%20Korea%20Terhadap%20Aktivitas%20Salat%20Mahasiswa%20Iain%20Antasari%20Banjarmasin.pdf

  

[6] I. Katsier, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsir, terj. Salim Bahreisy dan Said Bahreisy. Surabaya: Bina Ilmu, 2000.

  

[7] U. Y. Mansur, Semua Bisa Jadi Pengusaha. Zikrul Hakim Bestari, 2012.

  

[8] F. K. Ar’rahmah, “Pengaruh intensitas menonton drama Korea terhadap kualitas ubudiyah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.,” undergraduate, UIN Sunan Ampel Surabaya, 2021. Diakses: 7 April 2022. [Daring]. Tersedia pada: http://digilib.uinsby.ac.id/51000/