(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Lima Aktivitas Menjaga Kesehatan Mental Di Tengah Pandemi

Informasi

Di tengah kembali melonjaknya kasus Covid-19 di bumi pertiwi, baik kota ataupun desa, mengakibatkan tak sedikit masyarakat mengalami rasa cemas. Terlebih saat mendengar siaran demi siaran korban Covid-19 dalam sehari yang tiada henti. Padahal menjaga kesehatan mental juga tak kalah pentingnya dari menjaga kesehatan fisik di tengah masa pandemi.

 

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Dewi Savitri Dosen Psikologi Universitas Indonesia menyampaikan, kesehatan mental sangatlah penting di masa pandemi sekarang ini. Sebab, untuk menjaga imun tubuh, selain diperlukan sehat secara fisik juga harus sehat secara mental.

 

"Ya penting kesehatan mental. Jadi nggak hanya sehat fisiknya melainkan juga sehat secara mental," ujar Dewi.

 

Dewi kembali menjelaskan bahwa dalam Psikologi rasa cemas terbagi menjadi dua bagian, yaitu cemas dari dalam atau Intrinsik dan cemas dari luar Entrinsik. Intrinsik merupakan rasa cemas yang ditimbulkan karena pengaruh pikiran negatif dalam diri seseorang. Sementara, Entrinsik merupakan rasa cemas yang ditimbulkan karena pengaruh hal negatif di luar diri seseorang.

 

"Kondisi dalam diri yang juga bisa membuat kita cemas," ucapnya.

 

Dalam hal ini, Dewi juga memaparkan bahwa kecemasan juga merupakan tanda bahwa seseorang tengah mengalami gangguan neurotik. Adapun gangguan neurotik ditandai dengan beberapa gejala, seperti kecemasan, rasa tidak aman, fobia, dan depresi. Bahkan kata Dewi, orang yang mengalami gangguan neurotik kerap menyalahkan suatu hal di luar dirinya akan masalah yang menimpanya.

 

"Mereka akan menyalahkan pengaruh luar untuk setiap masalah yang berhubungan dengan perilaku mereka termasuk orang lain. Kecemasa ini yang akan memperlambat kesembuhan," terang Dewi.

 

Lebih lanjut Dewi menyampaikan bahwa terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan untuk tetap menjaga kesehatan mental di tengah pandemi, yaitu berpikir positif, membaca Al-Qur\'an, Isoman, mencari hiburan, lingkungan yang mendukung, pola hidup sehat, dan komunikasi antar keluarga yang terjaga.


Baca Juga : Gambaran Siti Khadijah di Abad 19

 

Berpikir Positif

 

Dewi menjelaskan bahwa sangat penting untuk terus berpikir positif. Walau dalam kondisi apapun seseorang pasti akan mengalami rasa cemas. Hingga, ia menyarankan agar dapat mengambil setiap masalah yang menimpa sebagai bentuk ujian dari sang pencipta sebagai jalan untuk menguatkan mental.

 

"Tawaddu' dan dapat mengambil hikmah bahwa setiap rasa sakit dan masalah apapun adalah ujian," lirihnya.

 

Memperkuat Ibadah

 

Hal lainnya yang dapat dilakukan, yaitu dengan memperbanyak membaca al-Qur'an. Kata Dewi, dengan membaca al-Qur'an dapat mengurangi rasa cemas yang melanda. Hingga akhirnya dapat membuat hati menjadi tenang dan pikiran menjadi positif.

 

"Bacalah al-Qur'an, sekalipun kita dalam keadaan sakit. Jika benar tidak mampu untuk membaca al-Qur'an saat sakit, kita dapat menggantinya dengan mendengarkan muratal.Selain itu tetap menjalankan sholat. Jika tidak bisa berdiri maka dengan cara duduk. Jika tidak bisa duduk maka dengan cara berbaring. Bahkan kita juga bisa membaca istighfar dalam hati saat dalam keadaan sakit. Dalam pengalaman saya, saat membaca istighfar dapat mengurangi rasa sakit yang akhirnya saya menjadi lebih pasrah," tutur Dewi.

 

"Banyak mengaji dan sholat. Ibadah Diperkuat. Akhirnya menjadi lebih pasrah. Sholat Tahajjud. Dapat membaca surah Al-waqiah ayat 88-89 untuk menghilangkan kecemasan demi membangun keyakinan pada sang pencipta," tambahnya.

 


Baca Juga : Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Sosial: Sosiologi Transedental

Isoman

 

Sementara hal lain yang dapat dilakukan guna menjaga kesehatan mental, yaitu Isolasi Mandiri (Isoman). Dalam hal ini Dewi

menyampaikan bahwa hendaknya seseorang yang terpapar Covid-19 alangkah baiknya dapat melakukan isolasi mandiri di rumah selama gejalanya masih dalam skala sedang. Hal ini menurutnya menjadi salah satu cara untuk bisa tetap menjaga kesehatan mental.

 

"Sebab saat di rumah sakit kita kan tidak bisa melakukan sesuatu semau kita, misalnya mau menonton TV. Terus kita tidak bisa makan makanan semau kita," ujar Dewi.

 

Mencari Hiburan

 

Tak kalah pentingnya dalam menjaga kesehatan mental, yaitu mencari hiburan. Dewi pun menyarankan, agar kesehatan mental tetap terjaga sebaiknya dapat mencari hiburan yang menyenangkan. "Misalnya, dengan menonton televisi," kata Dewi.

 

Komunikasi Antar Keluarga yang Terjaga

 

Terakhir yang jauh lebih penting dari beberapa hal sebelumnya, yaitu menjaga komunikasi antar keluarga, kerabat, dan teman dekat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara, yaitu salah satunya dengan menghubungi keluarga, kerabat, dan teman melalui video call. Adapun komunikasi tersebut dilakukan demi tetap menstabilkan kesehatan mental. Hingga semakin termotivasi dan terdorong untuk selalu berpikir positif.

 

"Ya bisa juga sesekali telfon anggota keluarga atau teman yang sedang terpapar Covid-19. Hanya saja kita juga perlu tahu diri dengan memperhatikan waktu. Jangan sampai kita menelfon di saat jam tidur, seperti siang hari," pungkasnya (NIn)