(Sumber : Metro tv)

Collective Moral Injury: Saat Negara Jadi Sumber Luka Hati Massal

Informasi

Eva Putriya Hasanah 

  

Bukan Cuma Galau Biasa, Tapi Trauma yang Menyebar Kayak TikTok Challenge!

  

Bayangkan lagi scroll TikTok atau Twitter, tiba-tiba timeline mu penuh dengan berita korupsi, aparat main gebuk, atau penggusuran paksa. Kamu ngerasain bad mood kolektif—seolah seluruh angkatan muda lagi viral rasa kecewa yang sama. Ini bukan algoritma lagi memberi kamu konten negatif, tapi tanda bahwa kita semua sedang mengalami collective moral injury: luka batin massal yang muncul ketika negara atau sistem gagal menjadi pelindung, malah menjadi sumber derita.  

   

Negara Melindungi Rakyat? Kadang Justru Sebaliknya  

  

Kita diajari bahwa negara itu “ibu pertiwi” yang selalu sayang pada anak-anaknya. Tapi kenyataannya, negara kadang-kadang memberi isyarat seperti toxic parent: janji manis di depan, tapi di belakang justru menyakitkan. Lihat saja kasus George Floyd di AS (2020). Saat video polisi tergeletak di leher Floyd hingga ia meninggal dunia, dunia ikut merasakan sakitnya. Bukan hanya karena rasisme, tapi karena institusi yang seharusnya menjamin keadilan malah menjadi alat penindas. Atau di Myanmar (2021), di mana militer menembak warga sipil seperti target practice. Rasa marah, sedih, dan kecewa itu tak hanya dirasakan korban secara langsung, tapi juga menjadi luka bersama yang menginfeksi mental generasi.  

  

”Sakit banget rasanya di hati...”

  

Dan ini bukan sekedar perasaan. Menurut penelitian Smith & Freyd (2014), pengkhianatan oleh institusi (pengkhianatan institusional) merusak kepercayaan publik secara permanen—seperti hubungan yang diputuskan melalui chat, namun berskala nasional.  

  

Cedera moral kolektif bukan Cuma soal kejadian hari ini. Ini seperti warisan trauma yang diturunkan ke generasi berikut. Bayangkan anak muda yang tumbuh di tengah berita korupsi menteri, kekerasan aparat, atau pengabaian hak dasar. Mereka belajar untuk tidak percaya pada sistem, bahkan sebelum sempat merasakan “keadilan” itu sendiri.  


Baca Juga : Tantangan Generasi Muda: Kekerasan Terhadap Perempuan (2)

  

Studi Litz dkk. (2009) menyebut, luka semacam ini bisa memicu PTSD sosial. Bukan hanya individu yang trauma, tapi seluruh komunitas kehilangan rasa aman.  

  

Gejalanya? Dari Insomnia Sampai Apat Massal

  

Cedera moral kolektif bukan cuma bikin kamu sebel lihat berita. Ini nyerang psikis dan sosial. Misalnya, kamu tiba-tiba tidak bisa tidur setelah membaca kasus penggusuran paksa, atau jadi malas ikut pemilu karena yakin “suara nggak bakal didengar”. Ada juga yang jadi sinis ekstrem—menganggap semua politikus koruptor, atau hukum hanya mainan orang yang berkuasa.  

  

Tapi ini bukan berarti kamu lebay. Penelitian Stark dkk. (2020) menyatakan, reaksi ini alamiah ketika sistem yang diharapkan menjadi pelindung malah menjadi sumber ancaman. Bayangkan kamu punya temen yang selalu janji nraktir, tapi ujung-ujungnya kabur. Lama-lama, kamu pasti kapok undang dia—sama kayak masyarakat yang kapok percaya pada negara.  

  

Pengkhianatan Sistemik: Bukan Hanya di Tingkat Negara

  

Pengkhianatan oleh institusi (pengkhianatan institusional) tidak hanya terjadi di istana. Di kampus, korporasi, bahkan komunitas lokal pun bisa terjadi. 

  

Yang bikin parah, menghina ini menular. Seperti virus, trauma kolektif menyebar melalui diskusi di grup WA keluarga, reels Instagram, atau bahkan meme sindiran. Setiap kali ada kasus baru, luka lama kembali terbuka. Kasus George Floyd, misalnya, bukan cuma bikin warga AS berdemo, tapi juga picu gerakan anti-rasisme global.  

  


Baca Juga : Proxy War

Menurut Herman (1992), trauma massal bisa membuat masyarakat kehilangan empati—seperti zombie yang hidup hanya untuk bertahan. Tapi di era medsos, efeknya lebih kompleks: generasi Z jadi kelebihan informasi, hingga kelelahan mental (social burnout).  

  

Kalau Dibiarin, Kita Bisa Jadi “Generasi Trauma”

  

Bayangkan 10 tahun lagi: anak-anak yang tumbuh di tengah ketidakadilan jadi apatis, atau malah memberontak dengan cara destruktif. Kepercayaan pada hukum pupus, solidaritas sosial hancur, dan negara tinggal jadi “musuh bersama”.  

  

Tapi jangan putus asa! Kuncinya: jangan diam. Trauma kolektif bisa menjadi energi untuk perubahan, asal kita tidak membiarkannya menjadi silent killer. Seperti kalimat, \"Kalau bukan kita yang bergerak, siapa lagi? Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Auto-repost!\"

  

Luka Bisa Sembuh, Asal...

  

1. Akui bahwa ini nyata: Jangan tutup mata dengan dalih “ah, biasa lah”.  

  

2. Bersuara bersama: Tekan institusi melalui petisi, demo damai, atau konten kreatif.  

  

3. Bangun dukungan jaringan: Dari komunitas offline sampai grup medsos yang saling menyemangati.  

  

4. Jaga diri sendiri: Batasi konsumsi berita negatif, dan ingat: kamu tidak sendirian.  

  

Collective moral injury mungkin akan tetap ada selama sistem masih beracun. Tapi selama masih ada yang peduli, harapan untuk perubahan tetap hidup. Seperti luka di kulit, bekasnya mungkin tetap ada—tapi kita bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.