Gen Z, Tingkepan, dan Realita bahwa Tradisi Nggak Bisa Dipaketkan
InformasiEva Putriya Hasanah
Berhadapan dengan tradisi, Gen Z sering berada di posisi yang serba salah. Mau patuh sepenuhnya, rasanya berat—baik dari segi tenaga, biaya, maupun waktu. Mau menolak mentah-mentah, ada rasa sungkan dan takut dicap “ora njawani”. Di ruang abu-abu itulah Lili dan Pandu berdiri, saat kehamilan pertama mereka memasuki usia yang oleh adat Jawa dianggap sakral: empat bulan (atau tujuh bulan), waktu yang lazim dirayakan lewat tradisi tingkepan. Ya, artikel ini akan membahas bagaimana respon gen z pada tradisi dari perspektif pengalaman Lili dan Pandu. Pasangan suami istri gen z yang penulis samarkan namanya.
Sebagai pasangan muda, Lili dan Pandu punya niat yang sebenarnya sangat lurus. Mereka ingin tetap menghormati tradisi di desa tempat mereka tinggal. Tidak ingin dianggap mengabaikan adat, apalagi sampai menyinggung perasaan orang tua dan tetangga. Namun, pada saat yang sama, mereka juga sadar akan kemampuan diri mereka. Anggaran terbatas, tenaga terbatas, dan—ini yang paling penting—mereka tidak ingin merepotkan orang lain untuk rewang, alias bantu-bantu sejak pagi sampai malam.
Solusi yang mereka anggap paling masuk akal adalah: pesan semuanya. Makanan katering, bingkisan tamu, bahkan perlengkapan doa. Tinggal undang tetangga dan saudara, doa bersama, makan sebentar, selesai. Praktis, rapi, dan—dalam bayangan mereka—tidak ribet. Dari sekian banyak elemen tingkepan, mereka hanya menyisakan dua hal yang mereka tahu betul sebagai “ikon”: procot dan rujak. Sudah, itu saja. Intinya doa dan niat baik, pikir mereka.
Masalahnya, tradisi tidak bekerja sesederhana itu.
Menjelang hari H, satu per satu informasi mulai berdatangan. Dari orang tua, sesepuh desa, sampai tetangga yang sekadar mampir sambil ngopi. Tingkepan, kata mereka, bukan cuma soal doa dan makan. Ada simbol rangkaian, laku, dan perlengkapan yang masing-masing punya makna. Dan semuanya, entah bagaimana, terasa wajib.
Baca Juga : Sang Matematikawan
Salah satunya cengkir. Sepasang kelapa muda gading yang diberi nama Yusuf dan Maryam. Kelapa ini bukan sekedar properti, tapi simbol doa agar anak yang lahir kelak selamat, baik, dan membawa berkah. Dalam prosesnya, sang suami harus mengambil cengkir tersebut dan menggendongnya menuju rumah menggunakan kain, seperti menggendong bayi asli. Di titik ini, Pandu mulai sadar: ini bukan acara “dua jam santai lalu pulang”.
Belum selesai dengan cengkir, masih ada dua piyik—anak burung dara—yang harus disediakan sebagai lauk yang disajikan diatas nasi gurih yang disajikan dalam mangkuk yang terbuat dari daun pisang yang kemudian di jepit menggunakan jarum sehingga bisa digunakan seperti mangkuk kecil, dengan jumlah 42, lengkap dengan hitung-hitungan simbolisnya. Lalu Sego golong : nasi kuning dengan lauk ayam, bubur beras, ketupat dan polo pendem: aneka umbi-umbian seperti singkong, ubi, dan talas yang dikukus. Semua harus ada. Semua punya arti. Semua butuh persiapan.
Di hari H, yang sejak awal di kira akan sederhana, justru terasa penuh. Ada banyak momen kecil yang menyita perhatian, banyak orang yang perlu diarahkan, dan banyak hal yang tetap harus dikerjakan sendiri. Lili dan Pandu sibuk, lelah, dan sedikit kaget. Ini jauh dari bayangan “acara praktis” yang sempat mereka rencanakan.
Namun, di situlah ironi Gen Z bertemu dengan tradisi. Mereka datang dengan niat efisiensi, namun dihadapkan pada adat yang tumbuh dari logika kebersamaan dan simbolisme. Tradisi tidak mengenal konsep “hemat energi” ala generasi modern. Ia menuntut kehadiran penuh—fisik, waktu, dan emosi.
Pada akhirnya, Lili dan Pandu tetap menjalani tingkepan itu sampai selesai.
Secara sosiologis, apa yang dialami Lili dan Pandu bisa dibaca sebagai bentuk negosiasi budaya khas Gen Z, generasi yang tumbuh dalam ekosistem serba praktis namun tetap hidup di ruang sosial yang sarat nilai tradisional. Dalam kajian antropologi, tradisi seperti tingkepan bukan sekadar ritual kehamilan, melainkan mekanisme pewarisan makna, kontrol sosial, sekaligus mengikat solidaritas komunal. Ketika pasangan muda mencoba menyederhanakan prosesi demi efisiensi biaya dan tenaga, yang terjadi bukan penolakan terhadap adat, melainkan upaya adaptasi terhadap struktur tradisi yang belum sepenuhnya fleksibel terhadap logika modern. Di titik ini, keterkejutan mereka justru menunjukkan bahwa tradisi bekerja bukan melalui rasionalitas praktis, melainkan melalui simbol, repetisi, dan keterlibatan kolektif—sesuatu yang bagi Gen Z sering terasa “ribet”, tetapi bagi masyarakat desa justru menjadi inti dari penghentian nilai-nilai sosial itu sendiri.
Kata Studi Literatur
Kalau bicara soal survei dan penelitian, jarang ada survei yang secara spesifik membedah tradisi desa secara detail—apalagi yang selevel tingkepan lengkap dengan cengkir, piyik, dan polo pendem. Sebagian besar survei besar justru menempatkan Gen Z dalam isu-isu yang lebih besar dan abstrak: budaya, nilai tradisional, agama, keluarga, hingga modernitas. Meski begitu, hasilnya tetap bisa dibaca sebagai peta jalan untuk memahami bagaimana generasi ini bernegosiasi dengan tradisi.
Baca Juga : Televisi Digital dan Ekonomi
Pola pertama yang sering muncul dari survei nilai dan sikap generasi muda menunjukkan satu hal penting: Gen Z masih menganggap tradisi itu penting, tetapi tidak selalu wajib dijalankan secara utuh. Tradisi diposisikan sebagai penanda identitas dan bentuk penghormatan, bukan aturan baku yang tak boleh disentuh. Selama esensinya masih ada—doa, niat baik, kebersamaan—bentuknya bisa disesuaikan. Dalam logika Gen Z, tradisi bukan kitab suci, tapi rancangan yang bisa direvisi.
Pola kedua muncul dari survei tentang hubungan keluarga dan adat. Banyak Gen Z menjalankan tradisi bukan karena keyakinan pribadi yang mendalam, melainkan karena faktor sosial yang sangat membumi: menghormati orang tua, menjaga kerukunan, dan menghindari drama keluarga. Ini bertahan seperti yang dialami Lili dan Pandu. Tingkepan dijalani bukan karena iman tradisional yang menggebu-gebu, tapi karena satu sakti dalam hidup bermasyarakat kalimat: “nggak enak kalau nggak ada.”
Pola ketiga datang dari survey gaya hidup. Di sini Gen Z konsisten digambarkan sebagai generasi yang pragmatis dan efisien. Semuanya dihitung: biaya, waktu, tenaga. Masalah muncul ketika logika efisiensi ini memenuhi tradisi yang penuh simbol, panjang, dan kerja kolektif. Benturannya bukan dalam bentuk kesesuaian frontal, melainkan kerumitan praktis: mana yang boleh dipangkas, mana yang ternyata sakral dan tidak bisa ditawar.
Pola keempat terlihat dalam survei tentang agama dan praktik budaya. Gen Z cenderung memisahkan antara nilai spiritual dan bentuk ritual. Makna dianggap lebih penting daripada prosesi. Sayangnya, dalam tradisi Jawa, makna justru bersemayam di dalam prosesi itu sendiri. Akibatnya, upaya menyederhanakan sering dibaca sebagai ketidaktahuan atau bahkan ketidaksopanan, padahal niatnya justru ingin tetap menghormati.
Kalau ditarik garis besarnya, survei-survei itu akan memberi tahu kita satu hal penting: sikap Gen Z terhadap tradisi itu tidak hitam-putih. Mereka tidak anti-adat, tapi juga tidak mau tradisi jadi hal yang “ditelan mentah”. Mereka ingin tradisi tetap hidup, tapi dengan cara yang masuk akal, bisa dipahami, dan relevan dengan kehidupan mereka. Dan ketika tradisi desa masih menuntut simbol-simbol yang sarat makna dan keterlibatan komunal, terjadi semacam gesekan kecil—bukan karena Gen Z kurang hormat, tapi karena mereka hidup di zaman yang memandang efisiensi, relevansi, dan pengalaman pribadi sebagai nilai penting.

