(Sumber : Tanoto Foundation)

Guru Perempuan Susah Jadi Kepala Sekolah di Indonesia?

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Profesi guru di Indonesia seringkali diidentikkan dengan perempuan karena beberapa alasan. Salah satunya adalah adanya stereotip gender yang masih melekat dalam masyarakat. Stereotip ini menganggap bahwa pekerjaan di bidang pendidikan, termasuk menjadi guru, lebih cocok untuk perempuan. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi dan pilihan karir di kalangan masyarakat.

  

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbudristek, pada semester ganjil Tahun Ajaran (TA) 2022/2023 terdapat 3,3 juta guru di seluruh Indonesia. Dari total populasi guru nasional, sebanyak 2,36 juta orang atau 70,84% adalah perempuan. Sementara jumlah guru laki-laki sebanyak 972,05 ribu orang atau 29,16%.

  

Besarnya jumlah perempuan yang berprofesi sebagai guru bisa jadi indikasi yang baik, menandakan semakin terbukanya akses perempuan untuk bekerja dan berperan di publik. Namun pada kenyataannya menjadi seorang guru perempuan di Indonesia tidaklah mudah, terutama ketika bercita-cita untuk menjadi seorang Kepala Sekolah. Terdapat berbagai faktor yang menjadi hambatan dalam mencapai posisi kepemimpinan tersebut.

  

Studi yang dilakukan oleh Cakra Wikara Indonesia (CWI) dan program INOVASI pada tahun 2021 menunjukkan bahwa persentase guru perempuan di jenjang kepemimpinan masih rendah dibandingkan dengan laki-laki. Sementara kondisi kesejahteraan guru masih memprihatinkan, saat bersamaan guru perempuan harus memikul berbagai beban yang tidak serta-merta dialami oleh laki-laki guru.

  

Di tahun 2018, mengutip dari website konde, INOVASI melakukan survei terhadap 567 guru dan 199 kepala sekolah di 16 kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara dan Jawa Timur. 

  

Di antara temuan nya adalah guru perempuan cenderung memiliki kinerja yang lebih baik. Kepala sekolah perempuan juga cenderung mempunyai manajemen sekolah yang lebih baik dan membangun lingkungan belajar yang lebih kondusif. Namun survei tersebut juga menemukan bahwa guru perempuan cenderung lebih lama mendapatkan kesempatan menjadi kepala sekolah.

  

Salah satu faktor yang mempengaruhi sulitnya seorang guru perempuan menjadi Kepala Sekolah adalah faktor kultural. Hal ini dapat disebabkan oleh stereotip gender yang masih melekat dalam masyarakat, di mana perempuan dianggap kurang cocok untuk memegang posisi kepemimpinan.

  

Norma gender yang membagi peran sosial laki-laki dan perempuan secara berbeda. Peran reproduktif dan tanggung jawab domestik seringkali dibebankan secara eksklusif pada perempuan, sehingga sulit bagi mereka untuk mengambil keputusan secara otonom dalam perencanaan dan pengembangan karir dari guru menjadi kepala sekolah.

  

Selain itu, terdapat juga hambatan multidimensional lainnya. Data jumlah kepala sekolah perlu ditelusuri dari data jumlah guru di seluruh Indonesia untuk melihat sejauh mana perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam mencapai posisi kepemimpinan. Adanya perbedaan gaji dan perlindungan kerja yang lemah bagi guru honorer juga menjadi salah satu hambatan dalam mencapai posisi kepemimpinan.

  

Pada hari guru yang jatuh pada 25 November kemarin, kita harus ingat bahwa kita harus menghargai perjuangan dan dedikasi guru perempuan di Indonesia. Kita harus berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi guru perempuan agar mereka juga memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai posisi kepemimpinan yang mereka impikan. Dukungan dari pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat secara keseluruhan sangat penting untuk mengatasi hambatan-hambatan ini. Selain itu, perlu adanya peraturan dan kebijakan yang mendukung kesetaraan gender dalam dunia pendidikan, termasuk dalam hal peningkatan partisipasi perempuan dalam posisi kepemimpinan. Selamat hari guru!