(Sumber : nursyamcentre.com)

Maulid Nabi, Ruang dan Waktu untuk Berbenah Diri

Informasi

Nuansa dan suasana semarak perayaan Maulid baginda Nabi Muhammad SAW yang jatuh tepat pada tanggal 29 Oktober 2020 begitu meriah.  Tampak khususnya di pedesaan yang kini ramai dengan sejumlah penjual buah-buahan yang mulai berjualan di pinggir jalan.  Demikian juga ramai dengan orang-orang yang berbondong-bondong untuk membeli berbagai buah-buahan untuk persiapan perayaan. Meski begitu urgensi perayaan Maulid Nabi adalah menjadi pribadi yang semakin baik dengan meneladani akhlak, ibadah, dan mu'amalah baginda tercinta Rasulullah.

 

Nabi Muhammad SAW adalah sosok teladan bagi seluruh umat Islam. Karenanya meneladaninya tak terikat oleh ruang dan waktu. Demikian hal ini disampaikan H. Fahrur Razi, S.Ag, MHI Dosen Komunikasi Penyiaran Islam UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan bahwa baginda Rasulullah menjadi teladan bagi seluruh umat Islam dalam setiap kondisi dan situasi. Sebab Rasulullah adalah contoh dan teladan yang sempurna di dunia.

 

"Baginda Rasulullah adalah orang yang ma'shum dan dijaga. Selain Rasulullah tidak ada yang punya predikat tersebut. Semua yang dicontohkan kepada kita harus diteladani, baik dari segi akhlak, ibadah, dan mu'amalah. Segala aspek patut diteladani. Sebagaimana dalam surat Al-Ahzab ayat 212 yang berbunyi 'Laqad kaana lakum fii rasulillahi uswatun hasanatun,' " ucapnya saat diwawancara oleh crew NSC, Rabu (28/10).

 

Terlebih di era pandemi saat ini, sudah seharusnya umat Islam meneladani dan melakukan setiap anjuran baginda Rasulullah, yaitu salah satunya penting menjaga diri dan orang lain dari marabahaya. Seperti halnya disampaikan Razi, sudah semestinya umat Islam menjaga diri dan orang lain dari berbagai kemungkinan marabahaya yang akan menimpa.

 

"Menaati protokol kesehatan agar virus tidak menyebar pada orang di sekitar dengan selalu menjaga jarak, menggunakan masker, dan mencuci tangan menggunakan sabun. Sebagaimana dalam hadits yang berbunyi 'Laa dharara wa la dhirara' yang artinya tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain," terangnya.

 

Razi juga mengatakan bahwa Rasulullah begitu memperhatikan dan menjaga kesehatan. Hal ini sebagaimana tertera jelas di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berbunyi 'Idza sami'tum bihi biardhin falaa taqdamu 'alaihi wa idza waqa'a bi ardhin wa antum biha falaa tahruju firaran minhu'

 

"Yang artinya jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah. Maka, janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu," ujarnya.

 

Peduli Terhadap Sesama


Baca Juga : Megengan Sebagai Tradisi Persiapan Menuju Puasa

 

Selain menjaga kesehatan diri sendiri dan orang lain, peduli terhadap sesama orang di tengah pandemi menjadi salah satu bagian yang penting dan terus ditingkatkan. Demikian disampaikan Razi, meski di tengah keadaan yang sulit, kepedulian sosial harus tetap terjalin antara sesama. Sebab, akibat wabah pandemi begitu banyak dampak negatif yang diakibatkan, seperti banyak karyawan yang dirumahkan dan karyawan yang di-PHK.

 

"Tidak boleh ditinggalkan kerja-kerja sosial atau bahkan menurun. Kegiatan sosial tersebut, seperti berbagi santunan, pakaian, dan Alat Pelindung Diri (APD) kepada yang membutuhkan. Sebagai umat Islam kepedulian sosial kita harus ditingkatkan antara sesama umat manusia. Sebagaimana dalam hadist Imam Bukhari dan Muslim yang berbunyi 'Laa yu'minu ahadukum hatta yuhibba li-akhiihi ma yuhibbu linafsihi' artinya tidaklah sempurna iman seorang di antara kalian, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri," lirihnya.

 

Saling Tolong-Menolong Antar Sesama

 

Hal lain yang dianjurkan oleh baginda Rasulullah adalah saling tolong-menolong antar sesama umat manusia. Selain itu, sebagai manusia sudah seharusnya menjadi pribadi yang aktif dan tak mudah menyerah dalam setiap kondisi dan situasi. Seperti halnya disampaikan Razi, sisi kemanusiaan saat ini diuji, seberapa besar jiwa kemanusiaaan yang terjalin untuk saling menolong dan saling membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan dan bantuan.

 

"Misalnya saat ada orang kelaparan, apakah kita membantu atau tidak?. Kita ini sedang diuji oleh Allah. Peduli atau tidak?. Allah telah menguji kita dengan adanya wabah virus corona. Apakah kita dapat bersabar atau sebaliknya?. Namun, yang perlu dipahami bahwa wabah ini sudah ketentuan Allah sejak dahulu. Sudah tercatat. Sikap dan hati yang perlu menyadari. Tidak boleh terlalu sedih yang berlebihan ataupun senang berlebihan. Sebagaimana tertera jelas dalam surat Al-Hadid ayat 23 yang berbunyi 'Likayla tasaw 'ala ma fatakum wa la tafrahu bima atakum wallahu la yuhibbu kulla mukhtalin fakhurin'," tuturnya.

 

Sementara usaha dan do'a menjadi hal yang harus dilakukan oleh manusia untuk tetap bertahan dalam setiap kondisi dan situasi. Demikian usaha adalah bagian dari ibadah. Razi pun mengatakan bahwa manusia harus berusaha dengan baik untuk menaati protokol kesehatan. Sebab, menaati protokol kesehatan demikian dalam rangka menaati aturan Allah dan anjuran Rasulullah.

 

Lebih lanjut, Razi menyampaikan bahwa perayaan Maulid Nabi baginda Rasulullah dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, yaitu salah satunya melalui perayaan Maulid Nabi secara daring. Namun, jika harus melakukan secara luring, maka kapasitas dan kondisi ruangan perlu dikondisikan semaksimal mungkin di bawah penerapan protokol kesehatan. Meski demikian, urgensi perayaan Maulid baginda Rasulullah adalah menjadi pribadi yang semakin baik dengan meneladani Rasulullah baik dalam hal perkataan, perilaku, dan perbuatan dan juga senantiasa menjalankan anjuran-anjurannya.

 

"Tidak ada artinya melaksanakan perayaan Maulid Nabi jika tidak menjadi pribadi yang semakin baik. Misalnya, dengan tetap senantiasa menjaga kesehatan. Sebab, menjaga kesehatan adalah wajib. Salah satu menjaga kesehatan di tengah pandemi adalah menaati protokol kesehatan. Namun, jika kita tidak menaati protokol kesehatan, maka yang terjadi justru marabahaya bukan kemaslahatan dalam perayaan Maulid Nabi. 'Al- wiqayatu khairu min al-'ilaaji.' yang artinya pencegahan lebih baik daripada mengobati," tutupnya. (Nin)