Praktik Membangun Toleransi Di Bumi Pertiwi Ala Millenial
InformasiTanpa disadari atau tidak terdapat banyak hal sederhana dan sepele yang bisa dilakukan untuk merajut harmoni dan toleransi di tengah gejolak perbedaan. Baik perbedaan antar suku, agama, ras, dan budaya . Serta, perbedaan pendapat maupun pandangan.
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan tersebut, yaitu mulai dari membangun sekolah multikultural, menciptakan bait puisi, dan menyantap hidangan makanan bersama di meja makan. Hanya saja dari beberapa tindakan yang dapat dilakukan tersebut ada beberapa tantangan dan rintangan yang harus dilewati. Salah satunya adalah mendapat labeling bahwa tindakan menanam nilai toleransi justru dinilai mengancam masyarakat setempat. Hingga kerap mendapat labeling dari masyarakat, yaitu tindakan kristenisasi ataupun islamisasi.
Hal ini sebagaimana disampaikan Abu Aman salah satu peserta Lomba Konten Baik dalam ajang Pesta Bhinneka Bertaut oleh KBR, ruang produksi podcast dan konten radio berbasis jurnalisme, berjejaring dengan 350 radio di Indonesia. Dalam tulisannya, ia bercerita bahwa selama dirinya menjalankan program KKN Nusantara di Kupang NTT banyak mendapat tanggapan negatif dari warga setempat, yang mana mayoritas adalah beragama Kristen. Padahal tujuan KKN Nusantara adalah sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat akan keberagaman dan toleransi di Indonesia bagian Timur.
"Ketika kami kesana anggapan mereka, kami ingin menyebarkan agama Islam disana atau Islamisasi. Bahkan melihat kepada kami, anak-anak disana takut. Apalagi program KKN Nusantara ini awal-awal mendapat tanggapan negatif. Namun setelah proses selanjutnya sehingga terjadinya kelas inspirasi. Saya disana menemukan hal-hal yang tidak pernah saya temukan sebelumnya, yaitu berdo'a bersama antar umat Islam dan umat Kristen, bernyanyi bersama, dan belajar budaya disana, dan berbagi hadiah sebagai bukti cinta antar sesama," ujar Abu asal Madura, (05/11).
Melalui Sekolah Multikultural
Tak jauh berbeda dengan Abu Aman, R Indah Riadiani Hapsarie salah satu peserta Lomba Konten Baik dalam ajang Pesta Bhinneka Bertaut menyampaikan, sudah seharusnya seluruh warga Indonesia saling mengenal antar sesama, baik antar suku, ras, budaya, dan agama demi terciptanya kehidupan bermasyarakat yang damai dan tentram tanpa konflik.
"Kebanyakan konflik terjadi karena tidak saling tahu dan saling mengenal. Sekitar empat tahun sudah saling kenal di sebuah sekolah yang terdiri dari berbagai latar belakang. Dan akhirnya sudah saling menerima. Sehingga akhirnya juga sudah terbiasa untuk bertoleransi dan berempati," ujarnya.
SMK Bakti Karya Parigi merupakan salah satu sekolah multikultural, tempat Indah mengabdikan diri untuk mengenal indahnya keberagaman Indonesia dan toleransi. Sebab di sekolah tersebut dirinya dipertemukan dengan berbagai murid dari berbagai suku, daerah, dan agama. Indah pun berkata bahwa dirinya merasa senang bisa menjadi salah satu relawan SMK Bakti Parigi. Karena melalui program tersebut dirinya bisa melihat cerminan kekayaan bumi pertiwi yang sesungguhnya.
Baca Juga : Abu Fida: Dari Teroris ke Moderasi Beragama
"Saya jatuh cinta, karena saya bisa meneropong Indonesia dari keseharian SMK Bakti Karya Parigi. Ada siswa dari Aceh dengan 28 suku disana. Mereka saling berbagi cerita, kisah, dan empati. Mengenalkan identitas masing-masing, melebur satu sama lain. Saya melihat adanya toleransi sehingga damai. Saya membaca cerita-cerita mereka, hati saya jadi hangat," tuturnya.
Dari berbagai suku dan daerah dipersatukan belajar dan hidup bersama selama tiga tahun di sekolah tersebut. Kata Indah bahwa dari sanalah yang nantinya akan memunculkan imun-imun toleransi saat sudah tamat sekolah. Hingga menjadi agen perdamaian yang akan menyebarkan virus-virus perdamaian.
"Saya nggak mau sendirian. Melalui tulisan ini, saya mau semua orang tahu dan semua orang belajar dari mereka," ucapnya.
Melalui Bait Puisi
Demikian dengan Pusvi Devi asal Sumatera Utara yang kini tumbuh dan berkembang di kota Pekanbaru Provinsi Riau meyakini betul bahwa sebagai generasi millennial untuk ikut berpartisipasi dalam merawat kebersamaan, toleransi, keberagaman, tradisi, dan budaya yang bisa dinikmati melalui puisi. Sebab baginya puisi bukan hanya sekedar kata-kata indah yang terlontar dari seorang pujangga dengan majas dan diksi yang indah. Akan tetapi lewat puisi terdapat makna yang begitu mendalam.
"Cukup menyampaikan akan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika. Teman-teman sekalian dalam puisi yang berjudul Asmara Loka di Tanah Karo yang artinya dunia cinta-kasih di tanah Karo. Dimana dalam konten Indonesia Baik ini mengajak seluruh umat khususnya di tanah Karo untuk menyadari bahwa dari keberagaman latar belakang yang ada termasuk dalam implementasi Bhinneka Tunggal Ika," jelas Pusvi saat memaparkan latar belakang dari karya puisi yang dibuatnya dalam lomba menulis kategori teks oleh KBR, (05/11).
"Umat tanah Karo sangat mendalami toleransi. Sebagai bukti setiap akhir tahun atau perayaan tahun baru, mereka selalu minta tolong kepada umat Islam untuk memotong hewan ternaknya. Hal itu supaya tetangga yang umat Islam bisa mencicipi masakannya. Begitu pun sebaliknya dengan umat Islam di tanah Karo. Ketika perayaan Idul Fitri, umat non muslim tidak pernah berharap upah untuk bergotong royong," tambahnya.
Melalui Meja Makan
Ammar Siddiq salah satu peserta Lomba Konten Baik oleh KBR juga mengakatan bahwa terdapat suatu hal yang cukup sederhana, namun memiliki dampak besar dalam membangun toleransi antar sesama, yaitu dimulai dari meja makan.
"Aku melihat saat semua dari berbagai latar belakang berkumpul di meja makan ngobrolin keberagaman dengan perspektifnya masing-masing merupakan salah satu bentuk pengaplikasian Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya. Misalnya nongkrong di warung kopi, disana ada orang Batak, Medan, Sunda, Padang yang memang memiliki pandangan yang berbeda," jelas Ammar peserta lomba menulis KBR kategori audio.
"Jika di dalam televisi antar satu sama lain saling gondok-gondokan saat menyampaikan perspektifnya masing-masing. Tapi jika diobrolinnya sambil makan, kita dapat mengenal lebih orang lain. Ini akan jadi lebih enak untuk mengungkapkan perspektifnya masing-masing. Sehingga yang gondok-gondokan itu hanya belum mengenal aja lebih dalam," tambahnya. (Nin)

