Stoicism: Filsafat Kuno yang Justru Paling Relevan di Zaman Modern
Informasi
Oleh Eva Putriya Hasanah
Dalam dunia yang serba cepat, penuh distraksi, dan sering kali membuat kita merasa kehilangan arah, banyak orang mencari cara untuk tetap tenang dan berpijak pada nilai-nilai yang kokoh. Menariknya, salah satu jawaban yang paling relevan justru datang dari lebih dari dua ribu tahun lalu — dari ajaran para filsuf kuno yang dikenal dengan sebutan Stoicism atau stoikisme.
Stoicism bukan sekadar teori filsafat yang berdebu di ruang kuliah. Ia adalah seni hidup yang praktis, sederhana, dan sangat membumi. Diajarkan pertama kali oleh Zeno of Citium di Yunani pada abad ke-3 sebelum Masehi, ajaran ini kemudian berkembang di tangan para tokoh besar seperti Seneca, Epictetus, dan Marcus Aurelius — seorang kaisar Romawi yang justru terkenal karena kedalaman refleksi pribadinya.
Stoicism Bukan Tentang Menahan Emosi, Tapi Mengelolanya
Banyak orang salah paham dan mengira bahwa menjadi stoik berarti “tidak punya perasaan.” Padahal, Stoicism tidak mengajarkan untuk menolak atau mematikan emosi, melainkan menguasainya agar tidak dikuasai olehnya.
Bagi para filsuf Stoik, emosi bukanlah musuh, tapi sinyal. Marah, kecewa, atau takut adalah reaksi alami manusia. Namun, hidup yang baik justru bergantung pada kemampuan untuk memahami emosi itu tanpa harus diperbudak olehnya. Seperti kata Seneca,
“We suffer more often in imagination than in reality.”
Kita sering tersiksa bukan oleh kenyataan, tapi oleh pikiran kita sendiri yang berlebihan menanggapi kenyataan itu.
Baca Juga : Drama BBM: Antara Prioritas Pemerintah dan Masyarakat
Fokus pada Hal yang Bisa Dikendalikan
Inilah inti ajaran Stoicism yang paling terkenal:
“There are things we can control, and things we cannot.”
Filsafat ini mengajarkan pembedaan sederhana namun mendalam: ada hal-hal yang bisa kita kendalikan (pikiran, tindakan, reaksi), dan ada yang tidak (opini orang lain, masa lalu, cuaca, keberuntungan). Kebijaksanaan hidup, bagi para Stoik, adalah fokus pada apa yang bisa kita ubah — dan menerima dengan lapang dada apa yang tidak bisa.
Jika direnungkan, prinsip ini sangat relevan dengan kehidupan modern: ketika kita terjebak dalam kecemasan karena hal-hal di luar kendali (seperti komentar orang di media sosial atau standar kesuksesan yang ditetapkan dunia), Stoicism mengingatkan kita untuk kembali ke dalam diri.
Amor Fati: Mencintai Takdir
Salah satu konsep paling indah dari Stoicism adalah Amor Fati, yang berarti “mencintai takdir.” Bukan sekadar pasrah terhadap keadaan, tapi benar-benar mencintai setiap kejadian dalam hidup — baik atau buruk — sebagai bagian dari pertumbuhan diri. Bagi seorang Stoik, hidup tidak harus berjalan sesuai rencana agar bisa bermakna. Justru setiap hal, termasuk penderitaan dan kehilangan, adalah kesempatan untuk melatih kebajikan dan memperkuat karakter.
Marcus Aurelius, dalam buku Meditations yang ditulisnya di tengah perang dan wabah, menulis:
Baca Juga : Islamophobia : Anti Islam atau Anti Muslim?
“A blazing fire makes flame and brightness out of everything that is thrown into it.”
Api kehidupan akan semakin menyala justru karena ujian yang kita hadapi.
Lahir dari Penderitaan, Tumbuh dalam Kebajikan
Hal menarik lain dari Stoicism adalah bagaimana ajaran ini justru lahir dari pengalaman hidup yang sulit. Epictetus, salah satu tokoh utamanya, dulunya adalah seorang budak. Namun ia tumbuh menjadi guru filsafat yang mengajarkan kebebasan sejati bukanlah bebas dari rantai, tapi bebas dari perbudakan pikiran.
Marcus Aurelius adalah kaisar yang hidup dalam tekanan berat, menghadapi perang dan penyakit. Namun ia tetap menulis tentang belas kasih, kesabaran, dan pengendalian diri. Dari mereka kita belajar bahwa ketenangan batin bukanlah milik orang yang hidup tanpa masalah, melainkan milik mereka yang memaknai masalah dengan cara yang benar.
Latihan Sehari-hari Ala Stoik
Stoicism bukan teori yang harus dihafalkan, tapi dilatih setiap hari. Beberapa praktik sederhana yang masih bisa dilakukan hingga hari ini antara lain:
1. Journaling reflektif — menulis pikiran dan emosi seperti Marcus Aurelius, agar lebih sadar pada diri sendiri.
2. Visualisasi negatif — membayangkan kehilangan atau kesulitan, bukan untuk menakut-nakuti diri, tapi untuk lebih menghargai apa yang dimiliki.
3. Rasa syukur — menyadari bahwa ketenangan datang bukan dari memiliki banyak hal, tapi dari mensyukuri yang ada.
4. Memento mori — mengingat kefanaan, bukan untuk murung, tapi agar hidup lebih bermakna setiap hari.
Latihan-latihan sederhana ini terbukti efektif untuk menjaga keseimbangan pikiran di tengah stres, tekanan kerja, dan tuntutan sosial.
Stoicism dan Dunia Modern
Di era digital, Stoicism menemukan kehidupan baru. Banyak tokoh modern seperti Ryan Holiday (The Daily Stoic), Tim Ferriss, hingga atlet dan pebisnis besar mengaku terinspirasi oleh ajaran ini. Mereka menggunakan prinsip Stoik untuk menjaga fokus, mengelola stres, dan membangun disiplin diri di tengah kehidupan yang serba cepat. Pada dasarnya, Stoicism menawarkan sesuatu yang kita semua butuhkan: ketenangan dalam ketidakpastian.
Stoicism mengajarkan bahwa hidup tidak akan pernah benar-benar tenang — tapi kita bisa belajar menjadi tenang di dalamnya. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi, tapi kita selalu bisa memilih bagaimana menanggapinya.
Dan mungkin, di dunia yang semakin sibuk dan berisik ini, menjadi “stoik” bukan berarti dingin — tapi justru berarti penuh kesadaran, kedewasaan, dan kasih sayang.

