Islam Itu Indah: Sebuah Refleksi Pemikiran Prof. Nur Syam
Khazanahdr. Ahmad Fudhalli
Prof. Nur Syam adalah cendekiawan yang tidak hanya menulis tetapi juga “menghidupkan” Islam melalui narasi yang menggugah. Salah satu buku yang mengulas tarekat Sattariyah—sebuah tradisi spiritual yang mengakar dalam sejarah perlawanan Pangeran Diponegoro—mengangkat kembali kenangan kita pada hubungan agama, budaya, dan perjuangan melawan yang tersisa. Dalam karya tersebut, Islam diposisikan bukan hanya sebagai sistem doktrin, tetapi juga sebagai energi sosial yang menopang perjuangan. Tarekat, yang sering dianggap hanya sebagai jalan mistik, ternyata merupakan alat resistensi terhadap penjajahan.
Namun, Prof. Nur Syam tidak berhenti pada narasi heroik. Tulisan lain tentang pelacuran di pesisir Jawa menunjukkan keberanian intelektualnya menyentuh isu yang sering dianggap tabu. Pelacuran, yang menjadi “industri gelap” di ruang-ruang terpencil, dipandangnya bukan sekadar moralitas pribadi, tetapi sebagai gejala sosial yang melibatkan ekonomi, patriarki, dan marginalisasi. Ia mengingatkan kita pada nada getir Clifford Geertz yang membaca kehidupan pedesaan Jawa sebagai “mosaik kompleks” yang penuh paradoks.
Buku Islam itu Indah membawa kita ke ranah refleksi yang lebih filosofis. Dalam kumpulan ceramahnya, Prof. Nur Syam mengurai gagasan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Pesannya jelas: Islam adalah agama yang menyemai persahabatan, baik di antara manusia maupun dengan alam. Islam, dalam diamnya, tidak hanya melarang menebang hutan sembarangan atau mencemari laut, tetapi juga mengecam secara kultural—bahkan humoris—orang yang memagari laut. Sebuah kritik yang halus, tetapi tajam terhadap kapitalisme yang memprivatisasi ruang publik.
Di sini, terlihat kesamaan dengan karya-karya besar lainnya. Pandangannya mengingatkan kita pada Small is Beautiful karya EF Schumacher, yang menyoroti keharmonisan antara manusia, lingkungan, dan ekonomi. Keindahan sederhana yang ditawarkan Schumacher seolah bersambut dengan gagasan Prof. Nur Syam: bahwa Islam mengajarkan kita untuk hidup selaras dengan apa yang ada, bukan mengeksploitasinya.
Film Italia Life is Beautiful pun terasa menggema di sini. Dalam film tersebut, bahkan di tengah penderitaan kamp konsentrasi, tokoh utama menghadirkan keindahan dan makna hidup melalui cinta dan imajinasi. Dalam Islam versi Prof. Nur Syam, keindahan itu hadir melalui persahabatan, kasih sayang, dan pengakuan akan keberagaman manusia.
Tesisnya, bahwa dunia tanpa Islam tidak akan damai, adalah kritik terhadap stereotip yang melabeli agama ini sebagai sumber kekerasan. Dunia, tanpa nilai-nilai Islam yang sejati, akan kehilangan dasar etika yang menjunjung kasih sayang. Prof Nur Syam menyodorkan perspektif bahwa Islam adalah hubungan, bukan sekedar keimanan.
Seperti Pramoedya dalam Panggil Aku Kartini Saja, Prof. Nur Syam juga memahami bahwa ceramah yang dituliskan akan hidup lebih lama dari suara di mimbar. Tulisannya menjadi warisan—jejak yang abadi. Ini bukan sekadar soal menyampaikan gagasan, tetapi menyelamatkannya dari batas usia manusia. Di sini, kita melihat intelektualisme yang tidak hanya memikirkan dunia, tetapi juga berusaha menciptakan dunia yang lebih baik.
Jika buku ini dipahami dengan hati yang jernih, ia bisa menjadi jembatan: antara yang sakral dan yang profan, antara tradisi dan modernitas, antara Islam dan dunia. Keindahan Islam yang digambarkan oleh Prof. Nur Syam adalah keindahan yang menginspirasi, menguatkan, dan memperbaiki. Ibarat lautan yang tak terpagari, gagasan-gagasannya adalah ruang tak terbatas untuk kita renungkan.

