(Sumber : Doc acara)

Kebersamaan Sebagai Modalitas Kerja: ASN Kanwil Kemenag Jatim

Khazanah

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

  

Menjelang berakhirnya bulan puasa, saya diundang oleh Kakanwil Kementerian Agama (Kemenag) Jawa Timur, Dr. Ahmad Sruji Bachtiar, MPdI., untuk memberikan pembinaan mental bagi Aparat Sipil Negara (ASN). Sebuah acara yang tepat karena diselenggarakan pada Bulan Puasa yang memang memerlukan banyak nasehat keagamaan dalam kerangka penguatan iman dan pengamalan ajaran Islam dalam kaitannya dengan etos kerja. Acara diadakan di Aula Kanwil Kemenag Jawa Timur, 27/03/2025. 

  

Hadir seluruh kepala Bidang Kanwil Kemenag dan juga para pembimas di Kanwil Kemenag, seluruh jajaran pejabat dan ASN di Kanwil Kemenag Jawa Timur. Saya secara sengaja mengajak kepada para pejabat dan ASN Kemenag untuk memikirkan kembali tugas, pokok dan fungsi ASN yang tepat bekerja di Kementerian Agama. Sebuah Kementerian yang tidak hanya mengurus urusan duniawi atau masalah yang profan, tetapi juga hal-hal yang terkait dengan persiapan ke akherat atau sesuatu yang sakral. Ada tiga hal yang saya sampaikan, yaitu: 

  

Pertama, apresiasi atas penyelenggaraan puasa, yang sungguh-sungguh dilakukan dengan sangat baik oleh seluruh ASN di Kemenag, yang beragama Islam. Tetapi juga jangan lupa bahwa umat beragama lain juga memiliki puasanya masing-masing. Jika kita mengacu pada perintah Allah untuk berpuasa, bahwa “puasa juga diwajibkan bagi orang-orang sebelum kamu”, maka Agama Semitis, Yahudi dan Nasrani, juga memiliki puasanya sendiri-sendiri. Dan sekarang hingga mereka melakukan puasa sesuai dengan keyakinannya. 

  

Harapan kita bahwa puasa akan menjadi instrumen untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Target untuk menjadi lebih bertaqwa merupakan ajakan Tuhan kepada umatnya yang melakukan puasa. Bertaqwa artinya semakin memahami tentang diri kita masing-masing bahwa sesungguhnya di dalam diri manusia terdapat dimensi ketuhanan, karena manusia merupakan pancaran dari roh Tuhan. Ada dimensi ketuhanan di dalam diri manusia. Melalui puasa dapat menjadi sarana untuk memahami bahwa di dalam diri manusia terkandung potensi ketuhanan untuk berbuat baik. 

  

Kedua, salah satu indikator orang yang amal ibadahnya baik adalah tumbuhnya kebahagiaan. Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh Lembaga Internasional menempatkan masyarakat Indonesia masih berada dalam kebahagiaan. Ada yang menempatkan masyarakat Indonesia nomor dua setelah Inggris Raya, tetapi juga ada yang menempatkan di urutan 80-an. Bagi kita yang penting masih ada kebahagiaan. Survei yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) juga menempatkan masyarakat Indonesia cukup bahagia. BPS menggunakan ukuran kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup. Ini sudah baik sudah mengukur tentang makna hidup yang berarti bahwa hidup itu ada maknanya bagi diri, keluarga dan masyarakat bahkan bangsa. Lalu perasaan manusia di dalam kehidupan apa sudah sampai derajat senang atau belum, dan juga ukuran ekonomi yang berupa kepuasan hidup, bagi diri dan keluarga.

  

Kebahagiaan dalam Islam tidak hanya diukur dari banyaknya materi atau harta yang dimilikinya. Ada orang yang hartanya banyak ditangkap KPK, lalu dihukum. Padahal mobil mewahnya banyak, istrinya cantik, rumahnya mewah dan gaya hidupnya glamor, tetapi cara yang digunakan untuk kaya tidak benar. Ada orang yang kekayaannya mencapai angka Rp3.000 triliun. Ini lebih banyak dibandingkan anggaran pembangunan di Indonesia. Terkadang kita berpikir, apa kekayaan ini yang benar. Tetapi itulah kekayaannya. Jika menggunakan ukuran banyaknya kekayaan, pasti akan disimpulkan betapa bahagianya. Tetapi ternyata kebahagiaan bukan itu. Makan di restoran yang mewah dan mahal terkadang dianggap megah dan bahagia. Ternyata tidak. Makan nasi putih dengan telor dadar dan sambal saja terkadang sudah melebihi kenikmatan makan di restoran. 

  

Islam mengajarkan bahwa bahagia itu terkait dengan hati. Menerima kepastian Tuhan, mensyukuri nikmat Tuhan, bersabar atas semua yang terjadi itulah kebahagiaan. Ada dimensi pasrah atas semua hal yang memang harus diterimanya. Kebahagiaan tidak hanya diukur dengan benda-benda duniawi, tetapi diukur dengan hal-hal yang bersifat spiritual. Meyakini bahwa kehidupan dengan roh akan terus berlangsung, dan jasad akan rusak. Roh akan melanjutkan perjalanan meskipun jasad sudah berkalang tanah.

  

Ketiga, untuk mencapai kebahagiaan dalam bekerja, maka yang perlu diperhatikan adalah bekerja sama. Jangan bekerja sendiri-sendiri. Jika kita dapat bekerja sama, maka pencapaian kita akan lebih besar dibandingkan jika bekerja sendiri. Sekarang kita hidup di dalam alam kolaborasi. Siapa yang memiliki kemampuan kolaborasi, maka merekalah yang akan berhasil. Kami adalah TIM. TEAM singkatan dari Together Everyone Achieve More. Dalam kebersamaan, maka seseorang akan menghasilkan lebih banyak. Kebersamaan adalah kata suci bagi orang yang ingin berhasil. Kebersamaan adalah mantram suci bagi siapa yang ingin sukses. 

  

Kita bekerja sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, yang sesungguhnya bisa dikerjasamakan. Saling mendukung, saling mempersiapkan, saling memberi dan menerima dan sebagainya. Jangan tunjukkan satu orang. Jangan bekerja sendiri. Kita berada di dalam sebuah organisasi yang birokrasinya berarti harus ada yang diorganisasikan. Ada yang bekerjasamakan. Antar bagian saling mendukung untuk bekerja sama, sehingga produknya akan lebih optimal. 

  

Orang yang bekerja itu berada dalam sistem organisme sosial. Birokrasi kami sudah menyiapkan tupoksi siapa yang bekerja apa, lalu untuk mencapai tujuan, misi dan visi apa. Oleh karena itu, bekerja samalah agar tujuan, misi dan visi akan tercapai sesuai dengan hal-hal yang sudah digariskan untuk kita kerjakan. Makanya, semua ASN harus bicara kita dan bukan aku atau kamu. Aku ke Kamu dan menjadi Kita.

  

Yang harus diperkuat adalah kekitaan, bukan kekamuan atau keakuan. ASN harus meleburkan Aku dan Kamu untuk menjadi Kita. Keberhasilan adalah keberhasilan kita dan keberhasilan bukan aku atau kamu. Jika yang menerima hasil atau pengakuan dari orang atau lembaga lain adalah pimpinan kita, maka hakikatnya adalah kesuksesan bersama.

  

Wallahu a'lam bi al shawab.