Memetakan Riset Distingtif Pada IAIN Madura
KhazanahIAIN dan UIN sesungguhnya memiliki modalitas pembeda. Di antara pembedanya adalah kajian keislaman yang bisa menjadi unggulan. Melalui program integrasi ilmu, maka inilah yang menjadi pembeda antara berbagai perguruan tinggi yang sama prodinya. Konsep profetik atau transcendental dan konsep lainnya akan bisa menjadi pembeda. Contoh: di UA atau UB hanya ada konsep teori dramaturgi, maka IAIN atau UIN bisa menambahkan dengan dramaturgi profetik atau dramaturgi transcendental. Buku saya tentang Agama Pelacur menggambarkan hal ini.
Di dalam perbincangan yang dilakukan oleh LP2M IAIN Pamekasan, 9-10 Desember 2021, saya diminta untuk menjadi nara sumber dan sekaligus reviewer atas hasil kerja tim LP2M IAIN Pamekasan dalam menapaki keinginan menjadi UIN dengan keunggulan penelitian Kemaduraan, yang menjadi distingsinya. Hadir pada acara ini, Wakil Rektor II IAIN Madura, Dr. Mohammad Zahid, Warek III, Dr. M. Hasan, Kepala LP2M, Masyhur Abadi, Para dekan dan segenap anggota tim yang terdiri dari para doktor di bidang Islamic studies maupun ilmu social dan tenaga kependidikan. Acara yang menarik tentu, sebab tidak hanya merumuskan tema penelitian tetapi juga sub-sub tema penelitian.
Modalitas lainnya adalah budaya Islam dan lokalitas. Kita memiliki seperangkat pengetahuan dan praksis budaya Islam local yang sangat banyak dan berkualitas dan pengetahuan kita itu lebih holistic dibandingkan orang lain. Kita bukan sekedar pengamat tetapi tahu benar bagaimana budaya tersebut dipahami dan dilakukan oleh komunitas atau masyarakat. Kemudian juga modalitas relasi social. PTKIN memiliki jejaring yang sangat baik dengan institusi keagamaan, para ulama, dan masyarakat. Jejaring ini dapat dijadikan sebagai wahana untuk melakukan penelitian. Yang tidak kalah menarik adalah modalitas religiositas. Modal religious dapat menjadi kekuatan dan potensi untuk membangun jejaring dalam kerangka melakukan penelitian berbasis pada kepentingan bersama.
Sesuai KKNI level 9, maka penelitian kita harus integrasi ilmu. Apakah dalam coraknya interdisipliner, cross disipliner, multidisipliner atau transdisipliner. Perlu kolaborasi antara berbagai ahli dalam penelitian yang dilakukan: ahli agama, ahli sosiologi, ahli antropologi, ahli politik, ahli hukum, ahli komunikasi, ahli psikhologi dan sebagainya. Membangun kolaborasi interen dan eksteren institusi. Misalnya dengan UINSA, UINSU, UB, UA, dan sebagainya. Mengembangkan jejaring dengan lembaga-lembaga riset, baik dengan PTKI maupun PTU. Misalnya PKS dengan sesame Lemlit.
Di antara tema-tema yang dapat dikaji sebagai distingsi penelitian pada IAIN Madura meliputi:
1. Tafsir teks suci Madurawi. Mengkaji tafsir yang dilakukan oleh Ulama-ulama Madura. Baik di masa lalu maupun sekarang. Kajian non teks suci dari ulama-ulama Madura. Mengkaji tentang penafsiran atas penafsiran para ulama yang dilakukan oleh ulama Madura. Tradisi teks tentu sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari para ulama Madura di masa lalu dan terus terjaga hingga sekarang.
2. Dialog antara Islam dengan budaya dan tradisi local yang menghasilkan tradisi Islam local Madura. Kajian atas kearifan lokal masyarakat Madura yang merupakan kajian yang terfokus pada kekhasan masyarakat Madura dalam melihat Islam sebagai world view.
3. Kajian atas individu, komunitas dan masyarakat Madura kontemporer. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam isu-isu relasi agama, politik dan masyarakat. Kajian atas generasi milenial Madura, baik yang masih di Madura, mapun di luar Madura. Studi diakronik maupun sinkronik tentang perubahan-perubahan perlu dilakukan untuk memahami dan menjelaskan bagaimana orang Madura di masa lalu dan masa sekarang.
Baca Juga : Dilema Sosial-Ekonomi : Dari Trauma Hingga BLT Untuk Pekerja
4. Kajian media sosial, jaringan dan perubahan social di kalangan masyarakat Madura. Kajian tentang kebijakan-kebijakan local dalam kaitannya dengan Islam, negara dan masyarakat. Kajian atas sastra, seni dan budaya masyarakat Madura berbasis pada kearifan local. Studi pembangunan, masyarakat, negara dan kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, sosial dan budaya.
5. Agama bagi Masyarakat Madura. Masyarakat Madura memiliki paham keagamaan yang khas. Bagi mereka agama bukan hanya sebagai pedoman di dalam kehidupan tetapi juga identitas. Ekpressi keagamaannya begitu kentara di dalam pergaulan social maupun komunal. Agama memiliki makna mendalam bagi masyarakat Madura dan agama juga berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Madura.
6. Dalam kehidupan ekonomi, masyarakat Madura juga tergolong khas sebab menjadi wilayah lahan kering di daerah pedalamannya dan menjadi wilayah garam pada daerah pesisirnya. Pertanian tembakau di masa lalu menjadi andalan bagi masyarakat Madura sebagai konsekuensi lahan kering. Itulah sebabnya banyak warga Madura yang kemudian migrasi ke wilayah lain terutama perkotaan dan memasuki ekonomi yang berbasis pasar sebagai tempat bekerja. Nyaris banyak dijumpai pedagang Madura di pasar-pasar Surabaya.
7. Dalam kehidupan politik, masyarakat Madura juga sudah berubah. Di masa lalu Madura identic dengan NU, sehingga partai yang didukung NU tentu menjadi pilihan politiknya. Tetapi sekarang sudah berubah seirama dengan semakin banyaknya sentuhan partai-partai yang berbasis Islam atau non-Islam. Misalnya PDI-P dan PKS yang juga semakin dominan di Madura. Seirama dengan masuknya paham agama konservatif, maka pilihan politik orang Madura juga berubah.
8. Secara ekologis, Madura juga unik. Wilayahnya yang tandus tentu membuat ekologi Madura berbeda dengan wilayah Jawa, misalnya. Pada wilayah tandus maka peluang untuk mengembangkan usaha di sector pertanian dan perkebunan tentu menjadi terkendala. Namun demikian, warga Madura menyiasati kehidupannya dengan bekerja di sector informal terutama di wilayah-wilayah yang memungkinkan ekonomi informal bisa berkembang. Ekologi tentu berpengaruh terhadap perilaku social, ekonomi dan budaya bahkan agama.
9. Wilayah Madura adalah wilayah kepulauan. Artinya bahwa terdapat sangat banyak pulau di Kepulauan Madura. Sebagai wilayah kepulauan, maka kehidupan social ekonomi dan budayanya tentu sangat khas, yaitu budaya social ekonomi warga kepulauan. Pergaulan antar warga terfokus pada daerahnya saja, sehingga antar satu warga kepulauan dengan lainnya bisa tidak saling terjangkau. Sejarah menggambarkan bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat bahari, dengan sikap egaliter, dan sangat tergantung pada alam laut.
10. Agama dan gerakan sosial. Masyarakat Madura tentu terus bergerak. Perkembangan industrialisasi di Madura banyak berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Madura. Selain juga terjadinya pengaruh penerapan teknologi terapan yang mulai dilakukan oleh masyarakat Madura. Perkembangan modern ini tentu mempengaruhi terhadap kehidupan social ekonomi dan budaya bahkan agama di Madura. Kesadaran akan peran perempuan yang besar juga mempengaruhi Gerakan social ekonomi dan budaya masyarakat Madura, selain juga perkembangan teknologi informasi. Masyarakat Madura yang telah mengenal media social memunculkan adanya perubahan orientasi keagamaan dari Islam tradisional ke dalam Islam konservatif. Kepatuhan pada kiai juga menurun seirama dengan masuknya media sosial yang semakin permisif untuk mengacak-acak tradisi masyarakat Madura.
Tentu pemikiran ini masih sangat tentative dan baru tahapan tematik area penelitian. Akan juga menjadi relevan jika kemudian dikaitkan dengan ARKAN Kemenag dan juga pemetaan-pemetaan yang lebih banyak dalam kerangka untuk menemukan relevansi tema dengan realitas social yang terjadi di masyarakat. Pemikiran apapun akan menjadi semakin baik jika digagas secara bersama-sama. Jadi, pikiran banyak orang dengan kebersamaan akan lebih baik dari pada pemikiran setiap orang.
Wallahu a’lam bi al shawab.

