(Sumber : Liputan6.com)

Islam, Qatar dan Sepak Bola

Opini

Saya termasuk orang yang “hanya” senang nonton sepak bola tetapi tidak termasuk yang gila bola. Hanya sekedar senang saja. Pada Piala Dunia tahun 2018, saya memang menjagokan Perancis untuk menjadi juara dunia, dan ternyata memang benar. Perancis bisa membenamkan Kroasia dengan kemenangan yang meyakinkan, 4:1. Waktu itu sempat nonton bareng (nobar) di Jakarta. Tim Kroasia ini hebat, pada Piala Dunia 2018 masuk final dan Piala Dunia 2022 masuk semi final. Yang menarik tentu nama-nama pemain Kroasia, yang bisa dipelesetkan memiliki kesamaan dengan nama orang Indonesia. 

  

Nama-nama pemain Kroasia memang  mirip dengan nama-nama orang Indonesia. Banyak yang berakhiran dengan ic. Misalnya Ivan Perisik, Luca Modric, Dominic Livakovic, Mateo Kovacic, Andrej Kramaric dan lain-lain. Sama dengan orang Indonesia, misalnya Dewi Motik, Dewi Persik, Saskia Gothic dan sebagainya. Pada  waktu Perancis melawan Kroasia di finial Piala Dunia 2018,  dan  Kroasia kalah dari Perancis, maka joke-nya adalah pemain-pemain seperti Dewi Persik dan Saskia Gothik belum dimainkan. Cerita begini berawal dari pendukung Kroasia pada saat Kroasia kalah dari Perancis.

  

Pasca final Piala Dunia di Qatar, 2022, maka banyak berseliweran di media sosial tentang Islam sebagai pemenang di dalam ajang Piala Dunia tahun 2022. Video di youtube ini menggambarkan tentang bagaimama Islam menjadi perbincangan hangat terutama dalam kerangka mengeliminasi pandangan-pandangan kaum Islamphobia yang selalu berpandangan negative atas Islam. Ada pandangan yang menyatakan bahwa Islam itu identic dengan kekerasan social, radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. 

  

Piala Dunia yang diselenggarakan di Qatar justru memberikan gambaran secara empiris bahwa pandangan sementara orang Barat, bahwa Islam sebagai sumber masalah tersebut salah dan tidak pada tempatnya. Pandangan tentang Islam sebagai penyebab atas berbagai masalah di dalam kehidupan global justru tidak relevan. Pandangan miring atas Islam yang seperti itu lebih banyak berasal dari sangat sedikit orang Islam yang memang memiliki tafsir lain atau tafsir kekerasan, seperti beberapa kasus terorisme. Tetapi ketika kemudian digeneralisasikan Islam sebagai sumber masalah global tentu tidak pada tempatnya. 

  

Islam yang hadir secara empiris di Qatar dalam perhelatan Piala Dunia di sini, justru memberikan gambaran bahwa Islam itu hakikatnya adalah kedamaian. Islam itu justru menghadirkan keselamatan. Islam memberikan rasa aman bagi orang lain. Kala perhelatan Piala Dunia 2022 hadir di Qatar, maka terdapat jutaan orang yang datang dengan berbagai etnis, golongan social dan agama yang bermacam-macam. Mereka datang dengan budaya dan kebiasaannya. Mereka hadir dengan keyakinan dan kepercayaannya. Mereka tentu juga ingin mengekspresikan dirinya bahkan juga dukungannya yang kuat untuk tim sepakbolanya. Ada campuran antara keyakinan, tradisi dan nasionalisme di dalamnya, bahkan juga sikap chauvinistic yang ingin diluapkannya. Akan tetapi semuanya berjalan secara normal dan natural, sebab penyebab “kerusuhan” misalnya minuman keras yang dilarang dengan tegas. Bahkan juga keinginan mengekspresikan Gerakan LGBT yang dudukung oleh tim negara-negara besar pun bisa dinihilkan. 

  

Piala Dunia 2022 di Qatar ternyata bisa menjadi cermin bagaimana Islam sebagai pattern for behavior tersebut  tersaji dengan indahnya. Lewat pattern of behavior dari masyarakat Qatar, yang sopan, saling berbagi, yang ramah dan mengedepankan keamanan dan kenyamanan serta komunikasi yang cerdas, maka kemudian muncul kesadaran baru di kalangan masyarakat dunia, bahwa hakikat Islam adalah keselamatan. Bayangkan perhelatan sepak bola yang biasanya terdapat  kerusuhan, ternyata sama sekali tidak terjadi kerusuhan. Kaum hooligans Inggris yang sering membuat keonaran juga bertekuk lutut atas regulasi yang diterapkan oleh pemerintah Qatar. Ketegasan pemerintah menolak tradisi mereka yang potensial membuat keonaran menjadi variable penting sepakbola damai.

  

Bandingkan dengan kerusuhan sepak bola di dunia, misalnya Peru 1964 (318 orang tewas), Skotlandia 1971 (66 orang tewas), Inggris 1985 (200 orang meninggal), Belgia 1985 (35 orang meninggal), Inggris 1989 (97 orang meninggal), Ghana 2001 (126 orang meninggal) dan Mesir 2012 (73 orang tewas). Dan yang juga memilukan adalah tagedi Kajuruhan Indonesia 2022 (153supporter wafat). Karena kasus ini, maka Indonesia bertengger di urutan kedua pasca Peru dalam hal tragedi sepak bola. 

  

Qatar tentu telah belajar banyak atas berbagai kejadian yang menyebabkan tragedy dalam sepak bola. Itulah sebabnya, Qatar dapat mendesain perhelatan sepak bola Piala Dunia 2022 dengan sangat excellence. 10  stadion yang baru dengan kenyamanan dan keindahan, dengan keamanan dan keselamatan, bahkan juga air pendingin yang memadai akhirnya bisa menjadi satu kesatuan dalam penyelenggaraan sepak bola global, Piala Dunia. Dan ujung akhirnya adalah supporter bola dapat menikmati permainan bola sebagai seni tertinggi, dan keterampilan  professional yang hebat dan juga  kenyamanan yang melegakan. 

  

Qatar tentu melambung tinggi dalam imaje sebagai tempat yang aman, tempat yang nyaman dan tempat yang panas tetapi menyejukkan. Dan fase berikutnya tentu adalah Qatar akan dapat menjadi tempat wisata fisikal maupun rohani dan yang terpenting adalah akan semakin banyaknya investor yang akan terlibat di dalam perdagangan global melalui Qatar. Dukungan pemerintah yang powerfull dan respon masyarakat yang utuh bisa menjadi variable penting di dalam kesuksesan Qatar dalam melambungkan imajinasi  sebagai negeri yang aman dan damai, tempat investasi global yang menjanjikan dan tentu juga mengangkat citra Islam sebagai agama yang memberi rahmat bagi seluruh alam. 

  

Wallahu a’lam bi al shawab.