(Sumber : Guru dalam Pendidikan Islam)

Nilai Integrasi Pendidikan Islam dan Sains di Kepulauan Riau

Riset Agama

Artikel berjudul “Exploring the Values of Integration of Islamic and Science Education: A Qualitative Approach in Contemporary Learning at Riau Islands High School” merupakan  karya Juni Mahanis dan Nunung Witono. Tulisan tersebut diterbitkan dalam International Journal of Studies in International Education, Vol. 2 No. 2, Mei 2025. Artikel ini membahas nilai-nilai integratif antara Pendidikan Agama Islam (PAI) dan sains dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kepulauan Riau. Fokus utama penelitian tersebut adalah bagaimana integrasi dua bidang tersebut dapat membentuk karakter peserta didik yang cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern. Terdapat empat sub-bab dalam review ini. Pertama, integrasi pendidikan Islam dan sains. Kedua, tantangan implementasi integrasi. Ketiga, integrasi dalam kurikulum pembelajaran. Keempat, manfaat integrasi pendidikan Islam dan sains.

  

Integrasi Pendidikan Islam dan Sains

  

Penulis membuka pembahasan dengan menggambarkan realitas pendidikan di era globalisasi yang menuntut keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan moralitas. Pendidikan Islam dan sains sering kali diposisikan secara dikotomis, padahal keduanya dapat saling memperkuat dalam membentuk manusia yang utuh. Pada konteks Kepulauan Riau yang memiliki karakter geografis kepulauan, keterbatasan akses teknologi dan sarana pendidikan menjadi tantangan besar bagi pelaksanaan kurikulum integratif.

   

Mahanis dan Witono menegaskan bahwa tujuan utama integrasi ini adalah menciptakan sistem pendidikan yang mampu menghubungkan wahyu dan akal secara harmonis. Sains dipahami bukan sebagai lawan agama, tetapi sebagai sarana untuk mengenali kebesaran Allah melalui fenomena alam. Jadi, pembelajaran sains yang berlandaskan nilai-nilai Islam diharapkan melahirkan generasi yang bukan hanya rasional, tetapi juga beretika dan berkeimanan kuat.

   

Integrasi nilai-nilai Islam dan sains dalam pembelajaran di SMA Kepulauan Riau dilakukan melalui pendekatan kontekstual dan tematik. Guru PAI dan sains berkolaborasi dalam merancang materi yang mengaitkan fenomena alam dengan ajaran Al-Qur’an. Misalnya, dalam pelajaran biologi, konsep ekosistem dikaitkan dengan nilai tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardh (pemelihara bumi). Sementara dalam pelajaran fisika, hukum keseimbangan dan keteraturan alam dijelaskan sebagai manifestasi dari sunnatullah.

  

Integrasi ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga praktikal. Siswa diajak untuk memahami sains bukan sekadar melalui eksperimen, melainkan sebagai refleksi spiritual terhadap ciptaan Tuhan. Pendekatan tersebut memperkuat motivasi belajar siswa dan menumbuhkan kesadaran religius yang kontekstual. Artinya, integrasi PAI dan sains tidak hanya mencetak siswa berpengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran etis dalam penggunaan ilmu pengetahuan.

   

Tantangan Implementasi Integrasi

  

Penulis mengidentifikasi berbagai kendala dalam penerapan integrasi PAI dan sains di sekolah menengah. Tantangan utama adalah keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi. Sekolah-sekolah di pulau-pulau kecil banyak yang tidak memiliki laboratorium memadai, akses internet stabil, dan sumber belajar digital yang mendukung pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini berdampak pada terbatasnya eksperimen ilmiah dan praktik pembelajaran interaktif yang seharusnya menjadi jantung pendidikan sains.


Baca Juga : Menjaga Islam Ahlu Sunnah Wal Jama'ah

   

Selain itu, kualitas sumber daya manusia juga menjadi hambatan signifikan. Banyak guru belum mendapatkan pelatihan pedagogis untuk mengembangkan pembelajaran integratif. Guru PAI cenderung menguasai aspek teologis tetapi kurang memahami pendekatan ilmiah, sedangkan guru sains sebaliknya kurang menginternalisasi nilai-nilai Islam ke dalam proses pembelajaran. Perbedaan paradigma ini membuat integrasi berjalan parsial. Penulis menilai bahwa diperlukan kurikulum nasional yang lebih adaptif serta pelatihan rutin bagi guru agar integrasi berjalan secara sistematis dan bukan sekadar inisiatif personal.

  

Integrasi dalam Kurikulum dan Pembelajaran

  

Bagian ini memaparkan bagaimana integrasi nilai Islam dan sains mulai diterapkan dalam kurikulum SMA di Kepulauan Riau. Kurikulum nasional saat ini masih memisahkan antara mata pelajaran agama dan sains, namun sekolah-sekolah Islam di wilayah kepulauan mencoba menerapkan model integratif melalui proyek ilmiah berbasis nilai keagamaan. Misalnya, siswa diminta melakukan penelitian lingkungan hidup dengan pendekatan etika Islam tentang amanah dan ihsan terhadap alam.

  

Pendekatan ini sejalan dengan orientasi pendidikan abad ke-21 yang menekankan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan literasi teknologi. Pada konteks integratif, keterampilan tersebut dibingkai oleh nilai-nilai spiritual yang mengajarkan tanggung jawab sosial dan kesadaran ekologis. Penulis menegaskan bahwa kurikulum seperti ini dapat menghubungkan dimensi kognitif, afektif, dan spiritual dalam satu kesatuan proses belajar.

  

Manfaat Integrasi Pendidikan Islam dan Sains

  

Penulis menguraikan sejumlah manfaat dari penerapan pendidikan integratif ini. Pertama, penguatan karakter dan moralitas siswa. Melalui penggabungan nilai-nilai Islam dalam sains, siswa belajar bahwa ilmu bukan sekadar alat untuk menguasai alam, tetapi juga sarana untuk mengabdi kepada Allah dan menjaga keseimbangan ciptaan-Nya. Kedua, pengembangan kemampuan berpikir kritis dan reflektif. Siswa dilatih menilai fenomena ilmiah secara rasional sekaligus etis, sehingga muncul kesadaran bahwa pengetahuan harus diarahkan untuk kemaslahatan manusia. Ketiga, penguatan kesadaran spiritual dan ekologis. Dengan melihat keteraturan alam sebagai tanda kekuasaan Tuhan, siswa terdorong untuk lebih peduli pada lingkungan dan menerapkan prinsip tanggung jawab ekologis. Keempat, pembentukan kecakapan abad ke-21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan pemecahan masalah berbasis nilai. Melalui pendekatan integratif, siswa tidak hanya menguasai konsep ilmiah tetapi juga membangun kepribadian yang matang secara spiritual.

  

Kesimpulan

  

Artikel tersebut menegaskan bahwa integrasi antara Pendidikan Agama Islam dan sains di sekolah menengah atas merupakan keharusan strategis dalam membangun pendidikan holistik di Indonesia. Di tengah tantangan globalisasi dan keterbatasan infrastruktur di wilayah kepulauan, pendekatan integratif ini menjadi solusi untuk mencetak generasi berilmu dan berakhlak. Penulis berhasil menunjukkan bahwa meskipun banyak hambatan, guru dan sekolah di Kepulauan Riau mulai menemukan cara kreatif untuk menjembatani agama dan sains dalam kurikulum. Melalui pembelajaran berbasis nilai-nilai Islam, siswa tidak hanya memahami fenomena ilmiah secara rasional, tetapi juga menginternalisasi kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosial. Integrasi ini membuka jalan bagi terbentuknya paradigma pendidikan tauhidi yang memandang ilmu sebagai jalan menuju pengenalan terhadap Sang Pencipta. Jadi, penelitian tersebut memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan model pendidikan Islam kontekstual yang menyatukan akal, iman, dan amal dalam satu kesatuan proses belajar.