(Sumber : Yayasan NSC)

In Memoriam: Emak, Begitu Besar Kasih Sayangmu Padaku (Bagian Satu)

Khazanah

Adakah kesedihan yang melebihi kesedihan di kala ditinggal wafat oleh seorang Ibu?

  

Saya kira tidak ada.  Kesedihan yang disebabkan oleh rasa kedalaman batin yang tidak terhingga. Di kala saya menuliskan artikel  ini di dalam kata demi kata, maka yang ada adalah deraian air mata kehilangan. Air mata bening yang menyertai ungkapan rasa yang sedemikian mendalam. Air mata yang keluar dengan tulus untuk mengenang seorang Ibu, Hajjah Turmiatun, yang telah menghadap kehadirat Rabb-nya. 

  

Air mata ini Mak,

Air Mata bening yang hadir dari perasaan mendalamku,

Air mata yang hanya bisa hadir karena kepergianmu,

Air mata yang tak mampu membalas kasihmu

Air mata yang tidak bisa membalas atas ketulusan cintamu.

Air mata yang menggambarkan betapa aku mencintaimu,

Air mata yang lebih dari segalanya,

Air mata yang mengucur tanpa perintahku.

Air mata yang tumpah tanpa ungkapan kata,

Air mata yang keluar dari perasaan batinku,

Emak, Engkau telah tinggalkan Aku. 


Baca Juga : Problematika Tradisi dan Modernitas dalam Pemikiran Islam

Emak, Engkau hadir dalam pelukan Tuhanmu

Emak, Engkau menghadap ke hadirat Rabb-mu. 

Emak, engkau orang yang sangat aku kagumi, 

Emak, engkau  Perempuan yang sangat shalihah. 

Emak, Engkau Perempuan untuk hidupku  

Emak, Engkau yang melahirkanku. 

Emak,  Engkau  lentera hidupku. 

Emak,  Engkau lambang kebaikan bagiku. 

Emak,  Engkau lambang perempuan shalihah yang aku tahu, 

Emak,  Engkau selalu hadir dalam tarikan salat lima waktu,  

Emak, Engkau hadir dalam  setiap azan memanggilmu, 

Emak, Engkau hamparkan sajadah di hadapanmu. 

Emak, Engkau menjadikan salat sebagai  tiang hidupmu. 

Emak, Engkau jadikan Salat sebagai roh hidupmu. 

Emak, Engkau jadikan Salat sebagai amal bakti kepada Rabb-mu.


Baca Juga : Menciptakan Generasi Muslim Moderat di Indonesia

  

Puisi ini hadir dalam kegalauanku membayangkanmu. Terasa Engkau masih duduk di kursi di depan rumahmu sambil melihat musala yang didirikan untuk mengabadikan amalan ibadahmu. Di bulan puasa kemarin, Engkau masih bisa menyelesaikan salat Sunnah Tarawih kesukaan Rasulmu Muhammad SAW. Jika pagi menjelang Engkau tengadahkan tanganmu memanjatkan doa kehadirat Rabbmu. Tanganmu menengadah dengan mulut dan batinmu yang memohon agar Allah selalu melindungiku. 

   

Puisi ini hadir untuk menandai perpisahan ragamu dan ragaku. Aku masih di dunia ini untuk melanjutkan cita-citamu. Sementara ragamu telah ditanam di tanah kuburmu. Rohmu menghadap kepada Tuhanmu. Kau telah bersemayan di alam kuburmu. Engkau telah hadir di alam antara dunia dan akherat. Alam kubur bagimu. 

  

Saya berkeyakinan Engkau berada di tempat yang dirahmati Allah dengan Cahaya-Nya yang gilang gemilang. Nurun ala nurin. Cahaya itu hanya akan hadir pada orang yang tidak lepas shalatnya. Emak, Engkau tidak pernah melupakan shalatmu. Engkau selalu melanggengkan shalat pada waktumu. Engkau selalu menghadap Tuhanmu dalam salat-salat yang Engkau tunaikan selalu. 

  

Ya Allah, aku yakin Emakku akan Engkau berikan Rahmat dan Rahim-Mu. Engkau berikan kebaikan di dunia ini dengan segala kurang lebihnya, dan pasti juga akan Engkau berikan kebaikan di alam kuburnya. Engkau akan ridhai kehadirannya di dalam lindungan-Mu. Pasti akan Engkau tunjukkan kenikmatan Surga sebagaimana Engkau janjikan. Pasti akan merasakan kebahagiaan karena Cahaya Surga yang sudah Engkau berikan.

  

Ya Allah, aku berjanji dengan hatiku, akan selalu membacakan fatihan dan doa untuk Emakku. Engkau tahu Ya Allah Emak ini sangat menyayangiku, bahkan lebih dari harta benda yang dimilikinya. Bibirnya basah karena doanya untukku. Mulutnya berkomat kamit menyebut nama-Mu agar terdapat kesuksesan hidup untukku. Ya Allah semua itu karena kasih sayang-Mu yang tidak terhingga kepada Emakku.

  

Ya Allah aku yakin bahwa keberhasilanku di dalam kehidupan ini, adalah karena doa orang tuaku. Emak dan Bapakku, bahkan juga kakek-nenekku. Aku merasakan belaian kasih sayang, cinta dan doa yang tulus dari mereka semua. Ya Allah jadikan aku sebagai anak yang bisa membahagiakan orang tuaku, leluhurku dengan selau membacakan Fatihah dan doa di waktu setelah shalatku. 

  

Ya Allah, adakah yang lebih indah dari untaian bacaan fatihah dan doa yang ditujukan kepada keluargaku. Ya Allah istikamahkan pikiran, hati, perasaan dan jasadku untuk selalu membahagiakan keluargaku. Emak dan Bapak adalah washilahku di dalam dunia ini.  Lalu  untaian salawat akan terus menjadi washilah kepada Allah dan rasulmu. Bismillah aku menyayangi dan  mencintaimu.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.