Waspada Radikalisasi Online
Riset AgamaArtikel berjudul “Dark Side of the Web in the Context of Online Radicalization” merupakan karya Halide Erdogan. Tulisan ini terbit di Journal of Islamic Thought and Civilization (JITC) tahun 2023. Penelitian ini berfokus kepada bagaimana perubahan metode aksi para ekstremis atas kehadiran internet, sebab mereka harus melakukan adaptasi dengan konjungtur yang baru. Selain itu, studi tersebut berusaha menganalisis situasi di mana individu dan kelompok terpapar radikalisme, sehingga dapat dihasilkan konsep mengenai radikalisme, ekstremisme, dan radikalisme agama. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, konsep radikalisme. Ketiga, radikalisme bermotif agama. Keempat, radikalisasi online dalam lanskap sosial.
Pendahuluan
Radikalisasi adalah proses mental yang menyebabkan perubahan sosial berskala besar dan melegitimasi kekerasan kemudian berdampak pada faktor ekonomi, sosial, kognitif, perilaku, bahkan agama. Beberapa dekade terakhir, internet banyak dimanfaatkan oleh kelompok radikal, misalnya untuk melakukan perekrutan, propaganda, perencanaan serangan, sekaligus membahas keuntungan finansial. Platform online menjadi sumber terbesar yang menyebarkan ekstremisme, kekerasan, serta ideologi radikal.
Platform digital memfasilitasi dan mempercepat proses radikalisasi online. Anonimitas internet dan kemudahan dalam menjangkau massa menawarkan peluang lain bagi kelompok radikal. Ditambah, individu akan selalu mencari jawaban atas pertanyaan mereka terutama dalam hal isu teologis, dalam situs online. Alhasil, mereka secara tidak sadar telah terlibat dalam proses radikalisasi.
Konsep Radikalisme
Istilah radikalisme memiliki makna leksikon sama dengan fundamentalisme, yakni menggambarkan beberapa organisasi yang berbeda seperti komunitas agama atau etnis, separatis, dan kelompok ideologis. Kelompok yang menggunakan kekerasan politik sebagai sarana perubahan dianggap sebagai “kelompok revolusioner radikal” dalam literatur. Sedangkan, radikalisasi didefinisikan sebagai sebuah proses yang dibentuk oleh pengalaman individu mengenai ketidakstabilan emosi, kecemasan, dan kemarahan yang sejalan dengan keyakinan dan perilaku ekstremis.
Menurut Saiful Umam dalam tulisannya yang berjudul “Radikal Muslims in Indonesia:The Case of Ja’far Umar Thalib and The Laskhar Jihad” menyatakan bahwa, individu yang terpapar radikalisme tidak hanya meyakini suatu ide dan ideologi, melainkan juga memperjuangkannya. Hal ini adalah dua konsep yang berbeda, sebab mengadvokasi sesuatu berarti memperbanyak pendukung atau sekutunya. Artinya, individu yang teradikalisasi melihat tindakan teroris sebagai tindakan yang sah. Sedgwick dalam karyanya berjudul “Al Qaeda and the Nature of Religious Terrorism” berasumsi ada tiga kelompok radikal yang berbeda yakni mereka yang mengutuk sistem ‘lazim’ dan menganggapnya tidak sah, mereka yang ingin menggulingkan sistem ‘lazim,’ dan mereka yang memimpikan utopia sebagai pengganti sistem ‘lazim.’
Wictorowicz dalam tulisannya berjudul “Radicalism Islam Rising: Muslim Extremism in the West” menjelaskan bahwa radikalisasi terdiri dari proses yang berurutan sekaligus mandiri. Tahap pertama adalah ekspansi kognitif yang muncul dari saat mengalami krisis pribadi. Misalnya, ketika seseorang kehilangan kerabat, putus dengan kekasih, terpuruknya ekonomi yang kemudian membuat mereka bertanya ‘soal kehidupan.’ Akibatnya, keyakinan seseorang akan terguncang, dan para kelompok radikal kemudian masuk dengan pesan yang dibawa. Pesan ini memainkan peran tambahan dalam membangun identitas baru mereka. Alhasil, pesan radikal memiliki efek positif terhadap individu, serta ikatan berbasis pesan terjalin antara individu dan kelompok.
Baca Juga : Moderasi Beragama Bagi Guru PAI di Era Artificial Intelligent
Tahap kedua yakni pencarian religius di mana individu berusaha mengembangkan sistem pemaknaan religius untuk dirinya sendiri guna memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Mereka akan mencoba mengambil manfaat dari lingkungan sosialnya yang kemudian menemukan seseorang sebagai sosok pedoman. Oleh sebab itu, proses resosialisasi muncul pada tahap ini.
Tahap ketiga yakni adaptasi lingkungan. Pada fase ini seseorang menjadi siap untuk dibimbing oleh kelompok yang terhubung dengan sosok ‘pedoman.’ Seseorang akan sepenuhnya mengadopsi ideologi kelompok dan menjadi anggota ekstremis dengan transisi dari individualitas ke sosialisasi.
Konsep lain yang banyak digunakan dalam menjelaskan proses radikalisme adalah Metafora Tangga Fatali Moghaddam dalam tulisannya berjudul “The Staircase to Terrorism: A Psychological Exploration.” Ia mendefinisikan proses bergabung dengan organisasi teroris sebagai tangga enam lantai yang menyempit ke atas dengan setiap langkah menggambarkan proses mental yang berbeda. Pada lantai dasar, individu memiliki persepsi mengani keadilan dan perasaan ‘relatif’ tersisih. Kemudian, ia akan menaiki anak tangga pertama guna mencari keadilan atau solusi atas masalah yang dihadapinya. Anak tangga kedua, seseorang sedang didominasi rasa kecewa dan amarah karena pencarian solusinya gagal atau individu merasa marah terhadap seseorang, atau aktor tertentu. Anak tangga ketiga, seseorang akan mulai berpikir bahwa teror adalah hal yang wajar dan tindak kekerasan adalah hal yang sah. Anak tangga keempat, seseorang akan melihat dunia dari dua perspektif yang berbeda, “kami” dan “mereka.” Anak tangga kelima atau lantai keenam, seseorang menjadi militan aktif, mampu melakukan segala macam aksi teror, dan kurang memiliki empati.
Radikalisasi Bermotif Agama
Kelompok radikal bermotif agama dapat diartikan sebagai interpretasi doktrin agama yang salah dan tidak tepat serta keinginan mencapai tujuan politik dengan menerapkan ideologi yang diyakini. Oleh sebab itu, penyalahgunaan dan penafsiran ajaran agama adalah langkah penting menuju motivasi keagamaan. radikalisasi bermotif agama biasanya disebabkan oleh beberapa aspek seperti ekonomi, politik, sosial dan pendidikan. Kemungkinan, radikalisasi di negara berkembang terjadi di mana konflik internal terjadi berulang, dan polarisasi ideologis sekaligus oposisi terhadap imperialisme terwujud secara dominan.
Aspek politik menjadi penyebab agama Islam menjadi sorotan di Barat, terutama karena wacana jihadnya. Hal ini dipandang sebagai sumber organisasi teroris bermotif agama. Pasca runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin terlihat bahwa Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika Utara mengalami tatanan baru karena pengaruh Soviet dan politik Islam. Hasilnya adalah politik Islam memperoleh ciri militer karena elite birokrasi dalam revolusi Iran 1979, revolusi dilembagakan dan ketegangan besar muncul antara Iran dan Barat.
Radikalisasi Online dan Lanskap Sosial
Organisasi radikal menggunakan internet guna tujuan tertentu, misalnya propaganda, rekrutmen, logistik dan pembiayaan. Mereka berkumpul di internet melalui jaringan media sosial seperti Twitter, Facebook, Youtube, Telegram dan mendapatkan simpatisan dengan mengadakan diskusi spiritual. Jawaban mengapa organisasi radikal begitu tertarik dengan media sosial terletak pada jumlah pengguna internet yang aktif. Pada tahun 2021, terdapat 4,9 miliar pengguna internet aktif di dunia. selain itu, mayoritas individu akan menghabiskan waktu dii platform online dan banyak mengikuti gagasan atau informasi yang didasarkan pada keyakinannya.
Pada setiap tahap radikalisasi, seseorang akan mencari solusi guna berbagai jenis kebutuhannya. Saat seseorang ingin memenuhi kebutuhan spiritualnya, mereka akan melanjutkan pada tahap-tahap selanjutnya karena adanya interaksi timbal balik. Selain itu, media sosial memungkinkan penggunanya untuk mengisolasi diri dari kelompok ideologi serupa dan kemungkinan terpapar ideologi kekerasan meningkat, terutama karena kaum muda yang rentan menggunakan platform media lebih sering. Keterlibatan dengan pesan ekstremis di media sosial akan menjadikan mereka mulai mendeskripsikan kekerasan dan tindakan terkait dengan cara yang positif atau netral. Mengingat bahwa kekerasan diperlukan seiring berjalannya proses, mereka pasti akan memilih langkah selanjutnya yakni radikalisasi. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kleinmann berjudul “Radicalization of Homegrown Sunni Militants İn the United States: Comparing Converts and Non-Converts,” menghasilkan bahwa sepertiga dari mereka yang radikal dan berpartisipasi dalam kegiatan teroris adalah mereka yang melakukan pindah agama. Artinya, radikalisasi di tingkat individu lebih banyak terjadi di kalangan mualaf.
Kesimpulan
Secara gamblang penelitian tersebut menjelaskan bahwa radikalisasi sebenarnya memiliki banyak lapisan dan penyebab yang berbeda. Prosesnya juga berbeda tergantung dengan pendidikan, status sosial, ekonomi, bahkan pandangan politik individu. Alhasil prosesnya ada yang membutuhkan jangka waktu lama dan pendek. Selain itu, situasi lain juga mempengaruhi radikalisasi seperti viktimisasi individu, perasaan dikucilkan dan ketidakmampuan mengekspresikan diri. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah peran pemerintah di mana integrasi sosial harus menguat bukan melemah, sehingga seseorang tidak akan melihat radikalisasi sebagai sebuah solusi.

