Budaya Makan Babi dan Harmonisasi Umat Islam dan Katolik
Riset BudayaTulisan berjudul “Food and Lokal Social Harmony: Pork, Communal Dining, and Muslim-Christian Relations in Flores, Indonesia” merupakan tulisan Yohanes S. Lon dan Fransiska Widyawati. Artikel ini terbit di Indonesian Journal for Islamic Studies “Studia Islamika” pada tahun 2019. Studi ini mengeksplorasi hubungan antara umat Katolik dan Islam di Manggarai, Flores yang dikaji dari perspektif budaya makan babi ketika ada acara makan bersama. Bagi masyarakat Manggarai, babi adalah hewan kurban, lambang identitas budaya, serta keyakinan dan menjadi “menu utama”. Hal yang normal jika keluarga muslim di Manggarai menyediakan babi untuk ritual adat walaupun mereka tidak memakannya. Sebaliknya, masyarakat Katolik Manggarai memiliki tradisi “woni” yakni menyediakan “menu khusus” yang bukan daging babi untuk keluarga muslim agar relasi dan “makan bersama” berjalan baik. Namun seiring berjalannya waktu, tradisi menghadirkan babi dalam ritual menjadi isu yang sensitif dan konfliktual. Penelitian Yohanes dan Fransiska menggunakan pendekatan sosio-historis. Di dalam tulisan ini akan dituliskan kembali resume artikel karya Yohanes S.Lon dan Fransiska dalam tujuh sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, Islam di Manggarai. Ketiga, Katolik di Manggarai. Keempat, babi dalam ritual perayaan. Kelima, kompromi penggunaan babi dalam ritual. Keenam, woni: praktik dan penerimaan. Ketujuh, konteks dan perubahan baru.
Pendahuluan
Di wilayah Indonesia bagian Timur, babi tidak hanya dianggap sebagai hewan ternak. Namun, telah memiliki peran sentral dalam kehidupan masyarakat Manggarai. Babi digambarkan berdea-beda sesuai dengan fungsinya pada ritual tradisional yang diadakan. Bagi umat Katolik, babi adalah hewan yang memiliki kepentingan religius. Sebagian besar keluarga beragama Katolik di Manggarai memelihara babi yang kemudian dijual atau disembelih untuk dimakan pada perayaan keagamaan, ritual tradisional maupun pertemuan lainnya.
Di sisi lain, daging babi dianggap haram dalam Islam. Sebagai agama minoritas di Manggarai, mereka tidak bisa menghindari “bertemu” babi. Terutama ketika memiliki tetangga yang memelihara bahkan memakan daging babi setiap hari. Guna menjaga kerukunan antar umat beragama, maka untuk mengakomodasi larangan makan babi dalam Islam, perayaan di Manggarai yang melibatkan masyarakat juga menghidangkan makanan non-babi. Hidangan disajikan di meja terpisah antara hidangan yang mengandung babi dan tidak. Tradisi ini disebut dengan “woni”.
Pada abad terakhir ini, ketidaksetujuan dari maum muslim di Manggarai mengenai praktek woni. Hal ini memicu perdebatan mengenai validitas hubungan Katolik-Muslim tradisional. Penyebabnya adalah hubungan antara kedua kelompok di tingkat lokal terkait dengan pergeseran perspektif dan gerakan Islam di tingkat daerah, nasional bahkan global. Di dalam dua dekade terakhir, dakwah Islam dan penguatan pendidikan Islam di sekolah yang sebagian besar didasarkan pada ajaran Katolik adalah penyebab perubahan sikap umat Islam terhadap hubungan mereka dengan umat Katolik.
Hubungan antara umat Islam dan Katolik di Flores menjadi sensitif tergantung pada konteks. Bagi muslim lokal yang memiliki ikatan kekeluargaan dengan umat Katolik, perihal babi bukan isu yang signifikan sebab ada pemahaman perihal signifikansi latar belakang budaya dan sejarah. Sebaliknya, jika tidak memiliki hubungan kekerabatan maupun pemahaman, maka hubungan antara umat Islam dan Katolik dapat menjadi isu yang sensitif.
Islam di Manggarai
Islam adalah agama pertama yang mencapai Manggarai. Kemudian, menyebar dengan cepat dan menjadi sominan di wilayah pesisir Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Di Manggarai Islam menyebar cepat di daerah pesisirdan hanya “bergema” di kota dataran tinggi pada pertengahan abad 20 pasca migrasinya orang Jawa, Sumatera, Sumbawa dan lain sebagainya. Islam diperkenalkan di Manggarai pada abad 16 oleh masyarakat dari kesultanan Gowa dan Bima. Orang-orang dari Bima dan Gowa awalnya datang ke Manggarai untuk berdagang kayu manis, cendana, madu, lilin, kayu kuning, kuda bahkan budak.
Baca Juga : Mencermati Metode Penelitian dalam Jurnal
Pada awal abad 20, perkembangan Islam semakin melemah sebab adanya kolonialisme dan misionaris Katolik. Kedatangan pejabat dan misionaris Belanda menyebabkan banyak umat Islam dipaksa untuk masuk Katolik. Sehingga, penyebaran Islam terbatas pada desa pesisir kecil. Para misionaris kemudian membuka sekolah di desa-desa termasuk di pesisir. Anak-anak muslim diharuskan dibaptis. Banyak keluarga muslim yang menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik. Sejarah ini adalah salah satu asal-usul kekerabatan Umat Islam dan Katolik terjalin.
Sejak awal abad 21, Islam di Manggarai menghadapi transformasi sebab munculnya Jamaah Tabligh dan Kelompok Khilafah yang mulai gerakan dakwah di wilayah tersebut. Gerakannya juga terkait dengan gerakan tingkat nasional maupun transnasional. Kelompok ini umumnya eksklusif, dan umumnya enggan berbaur dengan warga sekitar termasuk muslim lokal yang tidak berbagi denominasi atau ideologi yang sama. Semua gerakan ini berkontribusi pada wajah baru Islam di Manggarai dan bagaimana cara muslim berinterkasi dengan umat Katolik.
Katolik di Manggarai
Agama Katolik menyebar lambat di Manggarai. Katolik pertama kali diperkenalkan di Wilayah Flores oleh misionaris Portugis pada abad 16. Pada abad 20, para misionaris melok untuk menyebarluaskan misi mereka ke Manggarai. Salah satu alasannya adalah ketakutan terhadap kekuatan Islam Gowa dan Bima. Namun, seiring berjalannya waktu agama Katolik menyebar ke seluru Flores selama 25 tahun. Mayoritas Manggaraian masuk Katolik, sehingga menghalangi perkembangan Islam. Katolik menyebar dan sekarang “mencolok” di ruang publik. Hal ini sesuai denga napa yang ditulis Webb bahwa “Bahkan pepohonan, batu dan burung adalah Katolik”.
Babi dalam Ritual dan Perayaan
Meskipun mayoritas masyarakat sudah masuk Katolik, masyarakat Manggarai masih terus terlibat dalam berbagai ritual dan kepercayaan terhadap roh. Selama berbagai ritual dilaksanakan, babi, kerbau, ayam dan anjing atau hewan pengorbanan lain menjadi syarat penting, sebab digunakan sebagai persembahan terhadap nenek moyang. Jenis hewan bergantung pada jenis ritual. Misalnya, kerbau jantan biasanya dikorbankan pada acara besar yang melibatkan seluruh atau beberapa desa.
Babi yang dikenal sebagai ela dalam Bahasa lokal biasanya dikorbankan sebagai bagian dari ritual memperingati kelahiran, pertunangan, pernikahan dan kematian. Arti penting babi sebagai hewan kurban tercermin dalam penanaman babi sesuai dengan ritual yang dilakukan. Di dalam satu tahun, sebuah keluarga akan membutuhkan beberapa ekor babi untuk tujuan tradisional maupun non-tradisional. Masyarakat di Manggarai selalu mengandalkan dagig babi untuk memberikan makan keluarga dan tamu.
Baca Juga : Umat Masa Depan: Kritik Sosial Sebagai Substansi Agama (Bagian Ketujuh)
Kompromi Penggunaan Babi dalam Ritual
Babi menjadi salah satu syarat di Manggarai untuk melakukan ritual terlepas dari kenyataan bahwa Islam menganggapnya sebagai haram. Sehingga, diperlukan kompromi ketika ada acara perayaan tertentu. Bukan hal yang baru jika umat Islam menyediakan babi ketika keluarga Katolik berkunjung. Namun, beberapa keluarga muslim lebih memilih memerikan uang daripada babi, uang yang diberikan digunakan untuk membeli babi.
Di dalam beberapa dekade terakhir, bentuk kompromi lainnya adalah mengganti daging babi dengan daging kambing. Sehingga, jika ritual dilakukan di rumah keluarga muslim, maka babi akan digantikan dengan kerbau atau kambing. Namun, mereka tidak menyembelihnya di depan rumah, melainkan di belakang rumah sesuai tradisi di Manggarai.
Woni: Praktik dan Penerimaan
Tradisi makan bersama di Manggarai tidak hanya berlangsung ketika upacara tradisional. Ketika terjadi pertemuan, umat Katolik biasanya menyediakan “menu spesial” bukan babi yang bersumber dari tradisi lokal yang disebut woni. Beberapa umat Islam di Manggarai menyambut budaya ini dengan senang dan mereka menyebut diri mereka sebagai muslim lokal. Di dalam hal ini, budaya menunjukkan kehadirannya sekaligus ikatan kekerabatan antar umat. Hingga pada abad ke 20, para muslim lokal di Manggarai belum terpengaruh oleh imigran muslim. Kebanyakan dari mereka menerima pendidikan Katolik di sekolah sehingga mereka tidak asing dengan ritual dan relasi dengan masyarakat Katolik.
Konteks dan Perubahan Baru
Secara umum, perubahan signifikan biasanya terjadi akibat dari faktor eksternal. Meningkatnya kesadaran mengenai makanan halal merupakan salah satu pesan reformasi gerakan Umat Islam yang bertujuan mempraktikkan Islam murni berdasarkan Al-Qur’an. Perkembangan media massa menyebabkan kesadaran akan produk halal telah meningkat, bahkan mencapai daerah yang lebih kecil, lebih jauh,termasuk Manggarai.
Seiring berjalannya waktu, perubahan paling fenomenal terjadi terutama dalam dekade terakhir. Banyak umat muslim yang secara terang-terangan menolak untuk berpartisipasi dalam acara bersama dengan umat Katolik. Mereka ada;ah kelompok Jamaah tabligh dan Khilafah. Kelompok tersebut berasal dari India dan mulai menyebar di Manggarai pada tahun 2004. Mereka memiliki penampilan yang mencolok dengan berpakaian serba putih, jubah, sorban, dan memiliki jenggot panjang. Beberapa umat muslim menolak aktivitas kelompok ini sebab sering kali berdakwah untuk menganjurkan muslim tidak bergaul dengan non-muslim.
Kesimpulan
Makanan dapat menjadi lambang identitas masyarakat. Apa yang ada dalam komunitas dapat dikonstruksi menjadi sebuah konsep identitas mengenai siapa mereka secara sosial, budaya bahkan agama. Umat Katolik di Manggarai mengungkapkan identitasnya dengan menyajikan daging babi. Sebaliknya, kaum muslim menghindarii babi di acara ritual atau budaya menjadi ciri pembeda antara identitas keduanya. Daging babi bukan hanya menjadi ciri khas yang mendifinisikan dua kelompok, namun juga dua komunitas. Perbedaan harus dihargai sebagai dan dianggap sebagai bagian dari identitas ntuk menghindari konflik. Hubungan yang harmonis antara Muslim dan Katolik akan langgeng apabila kedua kelompok menghargai dan menghormati identitas masing-masing.

