(Sumber : Banten News )

Musik dan Gerakan Islam Bawah Tanah

Riset Budaya

Artikel berjudul “Islamic Bawah tanah Movement: Islamic Music in the Indonesian Popular Music Science” merupakan karya Rahmat Hidayatullah. Tulisan ini terbit di Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies tahun 2024. Tujuan dari penelitian tersebut adalah mengkaji kemunculan musik Islamis di kancah musik gerakan Islam bawah tanah di Indonesia guna menunjukkan dalamnya pengaruh gerakan Islamis di kalangan pemuda muslim perkotaan, serta strategi generasi Islam baru dari politik struktural ke politik budaya. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, musik popular di Indonesia. Ketiga, suara Islamis di dunia musik bawah tanah. 

  

Pendahuluan

  

Salah seorang pemikir revolusioner Islam bernama Sayyid Qutb mengkritik keras budaya popular barat. Ia menyatakan dalam karyanya berjudul “Ma’alim fi al-Tariq” bahwa “Manusia saat ini seakan tinggal di rumah bordil besar. Mereka hanya mendengarkan pers, film, peragaan busana, kontes kecantikan, ruang dansa, bar, radio, dan televisi. Mereka menuruti nafsu akan tubuh yang telanjang, postur tubuh yang provokatif, dan ungkapan melalui sastra, seni, serta media massa.” Artinya Qutb beranggapan budaya popular barat yang ‘diekspor’ ke seluruh dunia oleh kekuatan kapitalis adalah budaya berbahaya bagi komunitas muslim, dan mendorong mereka menjauh dari jalan Islam, menjerumuskan pada jurang kebodohan. Jika umat Islam ingin bertahan, maka mereka harus berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan meninggalkan budaya barat yang menyimpang dari fitrah manusia. Lebih lanjut, Qutb menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya sistem dengan nilai dan cara hidup yang selaras dengan fitrah manusia. 

  

Sudut pandang Qutb mewakili prototipe Islamis yang digambarkan oleh banyak pengamat. Penolakan terhadap barat dan westernisasi baik dalam ranah politik maupun intelektual adalah dasar di mana identitas Islamis modern di bangun. Kelompok Islamis telah lama digambarkan sebagai anti-modernis dan anti-barat. Mereka memiliki citra sebagai kelompok fanatik konservatif yang berusaha melarang segala bentuk seni dan hiburan. 

  

Gambaran pengamat mengenai kelompok Islamis anti-ekspresif sangat kontras dengan tren gerakan Islamis baru di Indonesia yang berkembang beberapa tahun terakhir. Generasi Islam baru pada prinsipnya menerima pernyataan bahwa “Islam adalah solusi.” Namun, berbeda dengan Qutb yang mengutuk budaya popular barat dan menganjurkan pendekatan politik-revolusioner, generasi Islam baru memiliki pendekatan budaya dengan merangkul budaya popular barat sebagai media dakwah dan perlawanan. Pendekatan baru ini sangat menekankan beberapa unsur sinematik, permainan bahasa dan budaya. Mereka secara kreatif mengubah seluruh pesan Islam ke dalam gaya hidup, seni, musik, novel, film, dan mode. 

  

Pergeseran kearah pendekatan budaya antara lain tercermin dari munculnya berbagai ekspresi musik bawah tanah yang menyebarkan pesan-pesan Islami di kancah musik popular Indonesia. Istilah ‘Islamis’ mengacu pada ideologi dan gerakan agama-politik yang dirumuskan Asef Bayat. Menurut Bayat dalam tulisannya berjudul “Post Islamism: The Changing Faces of Political Islam” menyatakan bahwa Islamis adalah ideologi dan gerakan yang berusaha membangun semacam tatanan Islam seperti negara agama, hukum syariah, dan kode mural dalam masyarakat dan komunitas muslim. Belakangan ini banyak Musisi yang menciptakan karya musik dan mengandung beberapa pesan Islam, seperti penerapan syariah dan berdirinya negara Islam. 

  

Musik Popular di Indonesia

  

Secara historis, semua jenis musik di Indonesia selalu bersifat sinkretis dan menyerap pengaruh dari luar , jauh sebelum istilah globalisasi yang diciptakan pada masa kontemporer. Pribumisasi musik asing di Indonesia dimulai beradab-abad lalu, jauh sebelum industri musik internasional merambah pasar musik Indonesia. Pada perkembangannya, beberapa perbaikan dalam teknologi rekaman dan praktik pemasaran musik abad 20 membentuk pola produksi, distribusi dan konsumsi musik di Indonesia.


Baca Juga : Semakin Berumur Tetapi Sehat dan Beriman

  

Istilah musik popular Indonesia adalah kategori umum yang digunakan untuk menggambarkan musik produksi dalam negeri yang dipengaruhi musik popular barat. Musik popular Indonesia adalah kategori yang mencakup hampir semua genre musik popular barat seperti rock, pop, jazz, blues, R & B dan genre lain yang akrab dengan orang barat, kemudian di aransemen dan dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. 

  

Secara musikal, musik popular Indonesia sangat mirip dengan musik pop rock Anglo-Amerika dengan dominan bunyi gitar, keyboard, bass dan drum. Salah satu genre musik popular barat yang banyak digemari masyarakat Indonesia adalah musik rock. Genre ini dikenal sejak tahun 1950-an melalui beberapa film dan siaran radio luar negeri. Kebanyakan band bawah tanah di Indonesia umumnya memainkan musik rock yang memberontak dengan ritme yang keras dan musik yang sering kali mengandung pesan politik eksplisit. Sejak awal berdirinya, band bawah tanah Indonesia khususnya punk telah mempromosikan lagu yang menyerang korupsi dan kebrutalan pemerintah Soeharto.

  

Istilah “bawah tanah/underground” telah digunakan guna menggambarkan sekelompok subgenre musik rock dan metode produksi serta distribusi beberapa benda budaya. Di Indonesia kontemporer, “bawah tanah” adalah istilah umum mencakup berbagai genre musik rock impor dalam spektrum keras. Gender ini termasuk punk, hardcore, death metal, grindcore, black metal, grunge, indies, dan gothic. Istilah bawah tanah juga mengacu pada metode produksi dan distribusi yang bertentangan dengan industri komersial arus utama. sifat produksinya adalah akar rumput dan berskala kecil secara diskursif terkait filosofi kemandirian “lakukan sendiri.” Artinya, para seniman menolak gagasan “menjual” kepada label-label besar dan merayakan otonomi artistik, idealisme, komunitas dan perlawanan terhadap tekanan komersial. 

  

Suara Islamis di Dunia Musik Bawah Tanah

  

Perkembangan musik Islamis di kancah musik bawah tanah Indonesia erat kaitannya dengan tren hijrah di kalangan generasi muda dan kelas menengah muslim perkotaan dalam dua dekade terakhir. Istilah “hijrah” berasal dari bahasa Arab yang berarti migrasi atau perjalanan. Pada tradisi Islam, istilah ini mengacu pada perjalanan Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya dari Makkah ke Madinah tahun 622 M guna menghindari penindasan kaum kafir Quraisy. Pada pengertian ini, hijrah dianggap sebagai salah satu bentuk konversi agama, khususnya konversi intra-agama yakni proses di mana seseorang membuat komitmen signifikan dan diperbarui terhadap tradisi agama yang ada, menghubungkan kembali dan mengintensifkan praktik dalam suatu agama. Tradisi atau perubahan individu atau kelompok dari satu komunitas ke komunitas lain dalam tradisi besar. 

  

Fenomena hijrah yang terjadi beberapa tahun terakhir antara lain dipicu oleh gelombang Islamisasi dan masuknya gerakan-gerakan Islamis dan neo-fundamentalis dalam kehidupan sosial, budaya dan politik Indonesia pasca Orde Baru. Istilah “Islamisme” terutama mengacu pada ideologi yang menggunakan Islam sebagai alat tindakan politik. Islamisme mengklaim ingin menciptakan kembali masyarakat Islam sejati yang tidak hanya menerapkan hukum syariah, namun juga dengan mendirikan negara Islam melalui berbagai cara politis. 

  

Tren hijrah juga sampai para para-Musisi, salah satunya adalah M. Hariadi Nasution yang lebih dikenal dengan Ombat.  Ia adalah salah satu aktor kunci yang berperan dalam tumbuhnya gerakan Islam bawah tanah. Ia adalah pendiri sekaligus vokalis Tengkorak, sebuah band bawah tanah yang pertama kali memperkenalkan subgenre grindcode Indonesia. grindcode adalah genre musik metal ekstrem yang muncul di Birmingham, Inggris tahun 1980-an. Sebelumnya, Ombat mempraktikkan gaya hidup rock and roll yang brutal dan mendukung gerakan kiri di masa lalu. Ia sadar bahwa musik metal yang digelutinya telah menjauhkan diri dari nilai-nilai Islam. Ia pun terobsesi mengubah musik metal dari alat kolonialisme menjadi perlawanan. Saat itu ia memasukkan tema-tema jihadis dan ati zionis.

   

Kemunculan musik Islamis dan subkulturnya di Indonesia memberikan gambaran yang berbeda dari “pergantian pasca-Islamis’ di sebagian besar dunia Islam. Post Islamisme adalah kritik terhadap Islamisme dari dalam dan sebuah proyek alternatif untuk melampauinya. Pasca-Islamisme tampaknya menentang politik agama Islam. Lebih lanjut, pasca Islamisme mencerminkan pergeseran ke arah religiositas, pilihan individu, hak asasi manusia, dan pluralitas, bukan hanya sekadar otoritatif. 

  

Kesimpulan

  

Kemunculan gerakan Islam bawah tanah yang mengartikulasikan ideologi Islam melalui musik, seni dan praktik subkultur memang menggambarkan cerita sama mengenai nasib gerakan Islam kontemporer: “Islamisme belum mati.” Pergeseran arena politik ke arena budaya dalam Islamisme kontemporer tidak secara otomatis menyiratkan apa yang disebut dengan pasca-Islamisme. Alih-alih meninggalkan orientasi politik Islamisme klasik, para Musisi Islam bawah tanah justru menggunakan musik popular sebagai media dakwah guna menyebarkan agenda publik dan sarana tandingan budaya menyerang nilai modernisme dan sekularisme barat. Artinya, generasi baru Islamis tidak meninggalkan politik, namun menjalankannya melalui ruang yang terdiferensiasi secara fungsional, memanfaatkan praktik sosial budaya yang ada dan baru.