(Sumber : Whiteboard Journal)

Negosiasi Patriarki dan Dominasi Peran Ruang Budaya

Riset Budaya

Artikel berjudul “Patriarchy Negotiation: Batak Women and the Domination of the Role of Cultural Space” merupakan karya Ulfa Ramadhani Nasution. Tulisan ini terbit di Al-Aḥwāl: Jurnal Hukum Keluarga Islam tahun 2024. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana perempuan Batak Angkola menegosiasikan sistem budaya patriarki, dengan upaya menemukan jalan tengah yang tetap beriringan dengan adat Batak dan agama Islam, dan di sisi lain secara perlahan mengeluarkan mereka dari bayang-bayang patriarki itu sendiri. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan, penelitian tersebut berpendapat bahwa hubungan perempuan dengan sistem budaya patriarki berdinamika dalam struktur dan waktu yang berbeda. Perempuan secara terus-menerus menggunakan cara yang berbeda untuk mengatasi kesulitan yang mereka hadapi dalam situasi tertentu. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, hubungan gender masyarakat Angkola. Ketiga, negosiasi patriarki. Keempat, antara sikap resistensi dan sikap yang lebih akomodatif. 

  

Pendahuluan

  

Sejak awal berdirinya, masyarakat Batak Angkola telah menggunakan sistem patrilineal dalam menetapkan garis keturunan mereka. Sistem ini mengacu pada garis keturunan ayah atau laki-laki dalam menentukan garis keturunan yang ditandai oleh garis keturunan marga, dan karenanya garis keturunan atau marga akan 'hilang' jika keluarga tersebut tidak memiliki anak laki-laki. Laki-laki adalah pencipta hubungan kekerabatan, sedangkan perempuan adalah pencipta hubungan besan. Struktur patrilineal ini tidak hanya mengatur garis keturunan, tetapi juga merupakan tulang punggung dan dasar yang menjadi pedoman dalam semua aspek kehidupan masyarakat Batak, seperti perkawinan, pembagian warisan, pemerintahan, pola pemukiman, pengelolaan tanah, penyelenggaraan keadilan, terhadap ranah domestik, seperti pembagian peran antara suami dan istri, pengasuhan istri dan anak, cara menjalin hubungan sebagai laki-laki (maskulinitas) dan perempuan (feminitas), yang semuanya masih terkait dengan asas-asas sistem patrilineal yang bersinggungan dengan budaya patriarki.

  

Hubungan Gender Masyarakat Angkola

  

Masyarakat Batak Angkola di kawasan Padang Lawas relatif loyal dalam menjaga nilai-nilai tradisional, sama halnya dengan masyarakat Batak Toba, Karo, Simalungun, Pakpak, dan Mandailing. Masyarakat Batak Angkola juga bangga dengan sistem kekerabatan patrilineal mereka, yang berpedoman pada garis keturunan dalihannatolu (tiga perapian) (tutur). Kebanggaan ini tersirat ketika orang Batak Angkola selalu suka menelusuri garis keturunan tutur setiap kali bertemu dengan orang yang seketurunan, dan sumber penelusuran tutur tersebut adalah marga dan keturunan laki-laki. Jadi, dalam sistem kekerabatan dalihannatolu ini terdapat ketidaksetaraan gender karena posisi perempuan dianggap lemah dan tidak jelas. Jadi, dominasi, pengaruh, dan kekuasaan orang Batak dapat terlihat dalam berbagai unsur struktur sosial dan kekeluargaan, bahkan hingga ke lembaga-lembaga, seperti hukum, adat, politik, dan agama.

  

Mengingat betapa pentingnya kedudukan anak laki-laki dalam masyarakat Batak, maka terdapat beberapa akibat apabila suatu keluarga tidak dikaruniai anak laki-laki yakni; 1) "Dangboipajonjongadatdiharajaon" (tidak boleh mengadakan pesta besar). 2) Tidak dapat meneruskan marga dan jika mereka mati mereka disebut nupunu (punah). 3) Ketika meninggal dunia, tidak dapat melaksanakan ritual saurmatua (upacara adat pemakaman bagi orang yang meninggal dunia secara lengkap setelah menikahkan semua anaknya dan mempunyai cucu laki-laki dan perempuan). 4) "Borusiparsondakibana" yaitu anak perempuan yang akan mengasuh orang tuanya, yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki. 5) Tidak memiliki "Mora" yang berfungsi untuk memberikan berkat adat. 6) Merasa terisolasi, seperti tertawa di tempat ramai dan menangis di tempat tersembunyi. Konsekuensi ini tidak hanya dirasakan oleh orang tua (ayah dan ibu), anak perempuan juga akan menderita konsekuensi jika dia tidak memiliki saudara laki-laki. Termasuk bahwa anak perempuan akan terbatas dalam hal berpakaian, bergerak, dan bersosialisasi, sehingga ada sentimen bahwa akan sulit bagi mereka untuk menemukan jodoh (suami).

  

Sistem kekerabatan dalihannatolu merupakan akar yang mendasari pola hubungan gender masyarakat Batak Angkola, dan pola yang terbentuk merupakan representasi dominasi laki-laki (patriarki) dan menciptakan hierarki yang menempatkan laki-laki pada posisi superior dan perempuan pada posisi subordinat. Pada patrilineal ini, aturan dan hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur, yang kemudian diadopsi oleh lembaga dan kelompok sosial di wilayah Padang Lawas, termasuk keluarga. Nilai-nilai patriarki tradisional terintegrasi erat dalam interaksi sosial dan komunikasi antar individu, baik di dalam keluarga maupun di dalam masyarakat Batak Angkola.

  

Aturan-aturan yang sudah melekat pada laki-laki dan perempuan Batak Angkola mengenai peran yang harus mereka penuhi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika menjalankan aktivitas, laki-laki dan perempuan Batak sudah memiliki bagiannya masing-masing, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin ini sudah berlangsung lama dalam masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun. Hal ini dianggap sebagai warisan budaya yang bernilai luhur tinggi bahkan  sakral, sebagaimana nilai-nilai agama yang mereka pahami. Hingga akhirnya budaya yang ada menjadi kearifan lokal yang harus diperjuangkan dan dijaga keberadaannya.


Baca Juga : In Memoriam: Emak, Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Keempat)

  

Pada kaitannya dengan pendidikan, meskipun terdapat kesetaraan dalam memperolehnya, bukan berarti perilaku yang diterima oleh laki-laki dan perempuan adalah sama. Khususnya dalam bidang pekerjaan, orang tua, khususnya ibu, akan membagi jenis pekerjaan yang dilakukan oleh anak perempuan dan laki-lakinya. Pada pembagian kerja ini, khususnya bagi keluarga kelas menengah ke bawah, anak perempuan akan diberikan tugas dan tanggung jawab yang meliputi urusan rumah tangga dan urusan publik. Anak perempuan akan melakukan kegiatan seperti mencuci, menyapu, dan memasak (rumah tangga), dan juga akan diberi tanggung jawab untuk bertani, berkebun, dan memelihara ternak (publik). Sementara itu, anak laki-laki hanya akan dibebani tugas-tugas yang melibatkan kegiatan di luar rumah, seperti mengurus ladang, menggembalakan ternak, dan berkebun, yang mana perempuan juga terlibat dalam melakukannya.

  

Negosiasi Patriarki

  

Bekerja dan memperoleh penghasilan bagi perempuan tidak berarti bahwa hubungan gender dengan laki-laki setara. Sebaliknya, ada indikasi bahwa perempuan semakin terlibat dalam skema budaya patriarki. Perempuan Batak Angkola yang dituntut untuk bekerja dan tetap memilih untuk bekerja dengan atau tanpa tuntutan secara tidak langsung telah menjadi agen yang mendorong patriarki itu sendiri. Konstruksi sosial masyarakat Batak tampak mapan dan secara konsisten menempatkan perempuan sebagai bawahan, seolah-olah laki-laki lebih penting daripada perempuan baik di ranah publik maupun domestik (mereka harus dilayani). Dalam hampir semua aspek penting yang berimplikasi sosial, budaya, dan ekonomi, laki-laki memegang peranan utama, seperti warisan, perkawinan, pengambilan keputusan dalam keluarga, adat istiadat, agama, dan lembaga lainnya. Jelaslah bahwa perempuan Batak mengetahui dan merasakan bagaimana masyarakat dan budaya memposisikan mereka. Akan tetapi, yang menjadi anomali adalah bahwa perempuan itu sendiri semakin memperkuat pendirian mereka terhadap keberlangsungan budaya ini. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana perempuan Batak akan berusaha mencari pasangan laki-laki Batak dan berambisi untuk menikah serta memiliki keturunan laki-laki.

  

Uniknya, di satu sisi perempuan Batak ingin dibantu dan diringankan pekerjaannya karena sudah membantu meringankan beban hidup keluarga, namun di sisi lain mereka sungkan apabila suami atau anak laki-lakinya terlalu sibuk dengan urusan domestik rumah tangga, seperti menyapu dan mencuci, memasak, berbelanja, dan sebagainya. Perempuan Batak akan merasa malu apabila pasangannya lebih bisa diandalkan dalam hal pekerjaan rumah tangga. Mereka akan mencegah hal itu terjadi sedini mungkin, dimulai dari anak laki-lakinya yang tidak dibekali dengan keterampilan dasar untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, yang merupakan dasar kehidupan manusia.

  

Larangan membantu pekerjaan rumah tangga merupakan bentuk perlawanan perempuan Batak untuk tetap menjaga kewanitaannya. Mereka berusaha untuk tetap melakukan pekerjaan rumah tangga apapun yang terjadi, karena melakukan pekerjaan rumah tangga merupakan salah satu alasan yang membenarkan perempuan untuk dapat merasa selaras dengan adat dan agama. Maka dapat dipahami bahwa pekerjaan rumah tangga merupakan representasi dari bentuk kewanitaan yang tidak boleh disentuh oleh laki-laki, serta agar perempuan Batak tidak merasa kehilangan jati dirinya sebagai perempuan, betapa pun lelahnya keadaan yang dihadapinya, setinggi apa pun pendidikan dan penghasilan yang diperolehnya, ia akan tetap melakukan pekerjaan rumah tangga, karena hal tersebut telah menjadi bagian dari kehidupan dan simbolnya yang menunjukkan bahwa ia adalah perempuan yang berpegang teguh pada ajaran adat dan sejalan dengan amanat agama.

  

Perempuan terpelajar dan perempuan pekerja bergaji tinggi merupakan dua aspek yang memengaruhi perubahan dalam konstruksi maskulinitas laki-laki Batak. Kedua hal ini merupakan dasar yang dapat memicu perlawanan yang dialami laki-laki Batak. Oleh karena itu, kedua hal ini merupakan dua hal yang diperjuangkan perempuan dengan lebih kuat saat ini. Kaum perempuan berlomba-lomba untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, karena pendidikan menjadikan kaum perempuan lebih berdaya dan lebih mudah memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan kepantasan mereka (tidak menjadi buruh kasar). Selain itu, pendidikan juga merupakan bagian dari perumusan falsafah hidup masyarakat Batak ( hasangappon; kehormatan dan kedudukan sosial) dan juga merupakan salah satu sarana untuk mencapai asas (hamoraon; kekayaan), dan memegang peranan penting dalam mewujudkan tujuan hidup yaitu mempunyai keturunan (hagabeon). Jadi, tidak mengherankan bahwa baik pria maupun wanita akan sama-sama mendukung pencapaian pendidikan tertinggi. Saat ini, orang tua yang tidak menginginkan perbedaan dalam rekomendasi pendidikan untuk anak laki-laki dan perempuan, dan akses pendidikan sama-sama terbuka untuk semua (tanpa memandang jenis kelamin). Bahkan ibu, bukan hanya ayah, bersedia meminjam uang dan menggadaikan barang, mencari pekerjaan sampingan, dan bekerja lebih keras agar anak mereka dapat meraih pendidikan yang lebih tinggi.

  

Antara Sikap Resistensi dan Sikap yang Lebih Akomodatif

  

Hubungan gender yang tercipta antara laki-laki dan perempuan tidak boleh dipandang sebagai fakta alamiah. Perempuan punya pilihan, meskipun pilihan untuk terus hidup di bawah kendali sosial dan budaya patriarki membawa konsekuensi yang harus ditanggung, dan itu tidak berarti bahwa memilih untuk berkonfrontasi tidak memiliki konsekuensi yang rumit bagi perempuan. Jadi apa yang tampak sebagai fakta \'alami\' harus dipahami dalam istilah politik dan sosial, bukan keharusan, tetapi suatu produk yang dapat dipahami melalui akomodasi bersama. Sehingga persetujuan perempuan terhadap struktur dan otoritas patriarki, ketegangan laten yang ada antara aspek perlawanan dan aspek tindakan perempuan yang lebih akomodatif, aspek yang menimbulkan pertanyaan tentang ambiguitas niat, subjektivitas perempuan dan konsekuensi tindakan mereka terhadap patriarki, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membahas pembelaan perempuan Batak.

  

Intinya, kedudukan perempuan tidak boleh begitu saja direduksi. Tidak bisa juga dikatakan bahwa diterimanya perempuan atas budaya patriarki, bahkan lebih jauh lagi, mereka juga menjadi pembela eksistensi budaya tersebut, merupakan bentuk kepasifan dan ketidakberdayaan perempuan, yang seolah-olah membenarkan perempuan bersikap lemah akal sehat. Kondisi perempuan Batak Angkola tidak hanya sebatas membela atau mendobrak budaya patriarki, bukan pula memilih untuk bertindak tunduk atau agresif dengan konsekuensi \'bunuh diri\', yang jelas apa yang dialami perempuan Batak bukan sekedar pilihan yang kotomis, ada kompleksitas yang bukan hanya tentang membela diri. Ada situasi yang kompleks yang harus diterima, ada kompleksitas perlawanan yang secara eksplisit bertentangan dengan tindakan yang lebih akomodatif, antara meraih patriarki dan memberdayakan diri.

  

Garis besarnya yang dapat dilihat ialah bahwa perempuan Batak telah mengakomodir kepentingan patriarkat untuk sekaligus memberdayakan kepentingan-kepentingannya. Kepuasan dalam memainkan peran sebagai perempuan yang bebas berperan baik di ranah publik maupun ranah domestik merupakan hal yang penting bagi eksistensi Angkola. Terbelenggu di permukaan, terbebas di dalam. Maka belenggu dan kebebasan tersebut merupakan teka-teki bagi perempuan itu sendiri yang hanya dapat dirasakan oleh masing-masing perempuan berdasarkan pengalamannya (subyektif). Jadi niat perempuan untuk mempertahankan patriarkat mempunyai makna ganda (ambigu). Dominasi ruang dan peran yang sering dilakukan perempuan untuk memperkuat sistem patrilineal tersebut diwujudkan dalam pola-pola perlawanan yang mengandung makna kompleks dan ambigu. Padahal pola perlawanan yang dilakukan perempuan bertujuan untuk memperkuat sistem patrilineal, nyatanya mempunyai dampak krisis tertentu bagi laki-laki. Perempuan juga telah melalui fase krisis ini sejak lama, yang mereka lawan dengan bentuk perlawanan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi upaya untuk melestarikan patriarki dari pihak perempuan juga dapat diartikan sebagai upaya untuk melawan budaya patriarki.

  

Kesimpulan

  

Analisis terhadap perempuan Batak Angkola yang disajikan dalam penelitian tersebut menegaskan beberapa temuan penting dari penelitian terkini tentang perempuan Batak Angkola dan budaya patriarki. Di antaranya, sikap kompromistis perempuan Batak Angkola terhadap budaya patriarki tidak dapat diartikan sebagai bentuk ketundukan tanpa mengandung unsur perlawanan. Upaya untuk menyeimbangkan antara adat dan agama dengan tindakan yang lebih kooperatif terhadap aspek-aspek patriarki dimaknai sebagai bagian paralel dari pertahanan, oleh karena itu bernegosiasi dengan budaya patriarki merupakan strategi yang kompleks. Kompleksitas tersebut dapat dilihat dari bagaimana perempuan Batak Angkola mengakomodasi tetapi di sisi lain juga melakukan resistensi terhadap perubahan tatanan patriarki yang dominan. Sehingga upaya untuk mempertahankan budaya patriarki tersebut dilakukan oleh perempuan Batak Angkola dengan skema resistensi terhadap patriarki itu sendiri, tanpa memperhatikan perkiraan waktu terjadinya perubahan sebagai konsekuensinya. Dengan demikian, negosiasi perempuan Batak Angkola dicirikan oleh sikap konformasi dengan menunjukkan upaya untuk beradaptasi dengan nilai-nilai patriarki sebagai representasi dari bentuk perlawanan terhadap budaya patriarki itu sendiri. Negosiasi khas perempuan Batak ini dirangkum dalam bagaimana mereka mendominasi peran-peran ruang budaya (publik dan domestik; menjadi ibu pekerja dan ibu rumah tangga).