(Sumber : Kajianpustaka.com)

Cara Jitu Atasi Stres Kerja: Iman Solusinya

Riset Sosial

Artikel berjudul “Islamic Faith as a Source of Coping With Work Stress” merupakan karya Furuk Kerem Santurk dan Selin Isikan dari Universitas Duzce, Turki. Tulisan ini terbit di Al’Jami’ah: Journal of Islamis Studies tahun 2024. Tujuan utama penelitian tersebut adalah memahami stres yang dialami para manajer atau pemimpin perusahaan dan peran agama Islam dalam proses penanggulangannya. Pendekatan fenomenologis kualitatif digunakan dan sebanyak 19 manajer perusahaan di Zona Industri Terorganisir Duzce di Turki menjadi narasumber melalui snawball sampling. Wawancara baik secara tatap muka maupun daring dilakukan dengan panduan wawancara semi terstruktur. Data yang diperoleh kemudian dikaji dengan analisis isi dan metode campuran yang menghasilkan 282 kode yang diungkapkan ke dalam 30 kategori dan enam tema yakni persepsi stres, sumber stres, konsekuensi stres, penanggulangan, posisi ajaran Islam, dan penanggulangan Islamis. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, stres kerja dan penanganannya secara keagamaan. Ketiga, mengatasi stres secara religius.Keempat, sumber-sumber keagamaan untuk mengatasi stres kerja. 

   

Pendahuluan

  

Stres adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari sebagai konsep yang mencakup berbagai suasana hati. Upaya manusia untuk merasa cukup dan mengikuti arus waktu menuntutnya menghadapi dan berjuang melawan stres. Jika stres dialami di tempat kerja yang merupakan tempat menghabiskan sebagian besar waktu, tentu menyebabkan berbagai masalah psikologis dan fisiologis. Beban kerja yang berlebihan seperti kondisi kerja, hubungan buruk dengan rekan satu tim atau kolega, serta berbagai situasi serupa yang menyebabkan stres kerja. Bagi seorang manajer, selain masalah di atas, proses pengambilan keputusan dan upaya beradaptasi dengan lingkungan persaingan yang terus berubah menjadi salah satu sumber utama stres. 

  

Pada proses ini, para manajer tentu mencari dukungan internal atau lingkungan yang akan menghilangkan stres atau mengurangi dampaknya pada tingkat yang dapat dikelola, sambil berjuang melawan gangguan psikologis dan fisiologis yang disebabkan oleh stres. Berbagai strategi penanganan stres dilakukan, seperti mencari dukungan sosial, mengabaikannya, bahkan beralih pada keyakinan agama. Meskipun dunia bisnis mengevaluasi fakta dan peristiwa condong pada perspektif pragmatis, dampak keimanan dalam mengatur kehidupan manusia sangat luar biasa. Melihat seseorang dalam perspektif spiritual memungkinkan penilaian yang lebih holistik. Perspektif holistik Islam akan memfasilitasi pemahaman yang lebih baik mengenai seseorang, dan memfasilitasi manajemen stres melalui praktiknya. 

  

Stres Kerja dan Penanganannya Secara Keagamaan

  

Stres adalah situasi yang tidak dapat dihindari dan dialami pada hampir setiap momen kehidupan. Seseorang terpapar stres melalui berbagai peristiwa. Stres adalah upaya yang dilakukan seseorang melampaui batas fisik dan psikologisnya karena kondisi yang tidak sesuai timbul dari lingkungan fisik atau sosialnya. Setiap perubahan dalam rutinitas harian atau kondisi fisik maupun mental dapat menyebabkan stres. Konsekuensi negatif dari stres dapat dinilai berdasarkan tiga kategori yakni fisiologis, psikologis dan perilaku. Sifat stres yang multidimensi dan memungkinkan konfrontasi, terlepas dari waktu dan tempat, memaksa individu mencari solusi guna mengatasi konsekuensi yang tak terelakkan. Berdasarkan dunia pekerjaan, stres kerja diketahui dapat menyebabkan permasalahan seperti kinerja yang buruk, kurangnya motivasi, masalah dalam hubungan, bahkan perilaku yang berlebihan. 

  

Manusia memerlukan keterampilan berpikir yang efektif untuk memahami diri mereka sendiri dan lingkungan guna meningkatkan kualitas hidup mereka. Strategi penanganan keagamaan terdiri dari unsur dan strategi penanganan emosi dan masalah. Penanganan keagamaan adalah kecenderungan individu beralih pada keyakinan agama mereka, ketika menghadapi pemicu stres. Penanganan secara religius berkaitan dengan sikap positif, termasuk mencari dukungan spiritual dari sang pencipta atau sesama pemeluk agama. Agama memberikan kerangka kerja bagi individu untuk memahami dan menafsirkan situasi terkini dalam menghadapi pengalaman yang menyakitkan. 

  

Bagi umat Islam, al-Qur’an menekankan pentingnya pikiran. Namun, jika kekuatan pikiran ini mempengaruhi kehidupan manusia dan digunakan dengan benar, maka ia harus memperoleh prinsipnya dari sumber yang suci dan menjadikannya sebagai pedoman dalam tindakannya. Faktor lain yang membantu orang beriman mengatasi kesulitan mereka adalah keyakinan akan takdir. Keyakinan yang dimaksud adalah situasi yang terjadi pada seseorang sejak lahir hingga meninggal dunia atas izin Allah SWT. Seseorang yang mengandalkan keyakinan ini akan melindungi diri mereka secara psikologis dari dampak buruk masalah yang dihadapi. Ibadah adalah penerapan praktis dari masalah keimanan yang dijelaskan dalam bagian teoretis agama. 


Baca Juga : Chrisye dalam Getaran Lirik Lagu Religius

  

Mengatasi Stres Secara Religius

  

Terdapat enam tema yang dibahas lebih lanjut dalam penelitian tersebut. Pertama, persepsi stres. Kata stres dapat dipersepsikan secara positif oleh para manajer karena aspek-aspeknya yang memberdayakan dan pemikiran multidimensi atau secara negatif karena strukturnya yang kompleks penuh dengan kecemasan. Aspek negatif dari stres yang lebih dirasakan secara emosional. Oleh karena itu, stres merupakan proses yang perlu dikelola dalam dua dimensi tersebut. Stres yang dialami seseorang dapat menurunkan efisiensi kerja dan berdampak pada keluarganya. Stres merusak hubungan dengan keluarga dan teman. Stres juga dapat menyebabkan masalah kesehatan. Jadi, stres adalah faktor yang sepenuhnya mempengaruhi kehidupan seseorang. 

  

Kedua, sumber stres. Interaksi antara kehidupan pribadi dan lingkungan sosial tampak seperti pemicu stres lainnya dalam kehidupan kerja manajer. Selain itu, perasaan gelisah dan tidak bertanggung jawab akibat ibadah yang tidak tuntas juga menimbulkan stres. Selain situasi pribadi, keluarga dan agama juga dianggap sebagai pemicu stres. Stres, yang dibentuk oleh cara seseorang menilai situasi, memengaruhi kehidupan manusia secara berbeda. Gangguan terhadap ritual keagamaan juga dapat menyebabkan stres bagi seseorang.

  

Ketiga, konsekuensi stres. Stres dapat terwujud sebagai reaksi terhadap diri sendiri atau orang lain. Struktur unik setiap pengalaman dapat menghasilkan makna positif atau negatif dari situasi yang penuh tekanan dan mengembangkan perilaku yang sesuai. Para narasumber menekankan bahwa pengalaman yang diperoleh selama stres dan makna yang diperoleh setelah periode waktu tertentu berbeda. Stres dapat menimbulkan konsekuensi fisiologis dan psikologis yang dapat memengaruhi kesehatan. Kelelahan, insomnia, sakit kepala, dan berkeringat merupakan dampak fisiologis yang paling umum, sedangkan mudah tersinggung, panik, tidak bahagia, dan kebutuhan untuk menyendiri merupakan dampak psikologis yang paling umum. 

  

Keempat, mengatasi stres. Bagi manajer, solusi secara langsung ketika stres melanda adalah mencari dukungan sosial baik dari lingkungan internal maupun eksternal. Merokok dan menjauh dari tempat-tempat yang membuat stres juga dianggap sebagai solusi, selain penekanan kuat pada kepribadian. Beralih ke keyakinan agama juga muncul sebagai faktor penting dalam mengatasi masalah.

  

Kelima, Islam dalam kehidupan.  Kepercayaan agama memberi makna pada kehidupan dan memberikan kedamaian dan kekuatan spiritual, membantu merencanakan kehidupan seseorang dengan tugas-tugas, dan memberikan tujuan. Dengan beriman kepada Allah, manusia menerima kebesaran dan kekuasaan-Nya. Rasa penyerahan diri kepada Sang Pencipta dirasakan antara rasa takut dan harapan. Proses penciptaan makna juga membentuk perilaku dalam kehidupan kerja dan sosial, terutama dari perspektif moral.

  

Keenam, penanganan secara Islami. Penanganan masalah dalam Islam memiliki struktur yang mencakup strategi yang berfokus pada masalah dan emosional. Strategi tersebut berfokus pada kesadaran beragama, ibadah, dan mencari dukungan sosial. Iman kepada takdir merupakan salah satu syarat keimanan seorang muslim. Orang yang beriman kepada takdir menyadari bahwa semua kejadian yang dialaminya terjadi dalam pengetahuan Allah. Melalui kesadaran ini, manusia memandang kejadian tersebut sebagai ujian dan dapat menghadapinya dengan kesabaran dan ketenangan, sehingga dapat berbicara dengan penuh pertimbangan dan lebih toleran terhadap orang yang melakukan kesalahan. Selain itu, dengan kesadaran akan takdir, manusia menghadap kepada Allah SWT dan meyakini bahwa Ia akan memberikan yang terbaik. 

  


Baca Juga : Brain Rot: Telaah QS Al-Hasyr Ayat 19

Ibadah yang paling banyak disebutkan dalam proses penanggulangan adalah doa. Doa dapat diartikan sebagai memohon pertolongan kepada Allah SWT dengan menyampaikan kepada-Nya keadaan yang sedang terjadi. Selain itu, melaksanakan salat tepat waktu dan tuntas juga efektif dalam mengatasi masalah. Khususnya dalam salat, ada rasa tanggung jawab kepada Allah SWT. Orang yang beribadah merasa telah melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar. Pikiran ini memicu kebahagiaan dan kedamaian serta mengurangi kecemasan. 

  

Sumber-Sumber Keagamaan untuk Mengatasi Stres Kerja

  

Tingkat stres yang dialami dapat bervariasi menurut cara seseorang memandang sumber stres. Beberapa pemicu stres terkait dengan pekerjaan (tugas, karyawan, manajer), sementara yang lain berdasarkan situasi pribadi (kepribadian, masalah kesehatan). Interaksi antara kehidupan pribadi dan lingkungan sosial tampak seperti pemicu stres lainnya (keseimbangan kerja-keluarga, hubungan sosial) dalam kehidupan kerja para manajer. Meskipun fokusnya adalah pada stres kerja, para manajer menganggap stres sebagai suatu proses yang dialami di semua bidang kehidupan. Selain itu, kekurangan dan gangguan dalam ritual keagamaan dipandang sebagai pemicu stres, karena ibadah dianggap sebagai faktor yang mengurangi stres. Persepsi tentang kekurangan dalam ibadah sebagai pemicu stres berasal dari rasa tanggung jawab yang dibebankan oleh ibadah kepada orang-orang.

  

Berdoa adalah strategi yang paling umum digunakan dalam konteks ini. Perilaku seperti berdoa, memperhatikan ibadah, dan bersabar dalam menghadapi kesulitan adalah tindakan yang digunakan dalam mengatasi masalah. Penting untuk memahami bagaimana Islam diposisikan dalam kehidupan untuk memahami cara mengatasi masalah keagamaan dengan lebih baik. Selain menjadi faktor penting yang memengaruhi kehidupan bisnis dan pribadi, Islam juga memiliki makna yang unik. Berdasarkan bisnis, Islam mendorong para manajer untuk bersikap lebih toleran dan adil terhadap karyawannya serta mendukung kebebasan berkeyakinan dan beribadah. 

  

Islam juga menganjurkan untuk bekerja, memandang amanah sebagai amanah, memberi manfaat kepada orang lain, dan berusaha sebaik-baiknya. Para peserta yang menghayati ajaran Islam tersebut memandang ajaran tersebut sebagai pedoman dalam segala keputusan dan tindakan yang akan diambil dalam hidup. Orang-orang seperti itu memiliki tingkat kesadaran yang lebih tinggi terhadap takdir, kesabaran, dan tawakal, serta lebih mementingkan masalah pembagian hak. Pemusatan ini diyakini memengaruhi sifat-sifat kepribadian dan berkontribusi pada seseorang yang jujur, jauh dari kemunafikan, terukur, optimis, toleran, suka menolong, dan berhati-hati. Selain itu, orang-orang ini telah menemukan makna hidup dalam Islam, yang memberikan tujuan dan motivasi  dan pengaruh agama terlihat dalam semua bidang kehidupan mereka.

  

Gagasan bahwa berbagai jenis ibadah dan ritual penyucian diri dapat mengurangi tingkat stres telah didukung oleh banyak penelitian. Demikian pula, praktik keagamaan memainkan peran penting dalam mengatasi stres kerja dan mengatur kesehatan mental. Ibadah mencakup sikap dan perilaku tertentu yang ditunjukkan orang untuk menunjukkan rasa hormat, cinta, dan ketaatan kepada Allah dan untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Pada konteks ini, melaksanakan salat secara penuh dan tepat waktu memungkinkan untuk menjaga komunikasi yang erat dengan Allah SWT. Komunikasi yang baik dengan Sang Pencipta baik untuk kesehatan mental seseorang, dan percaya kepada Tuhan juga memengaruhi proses mengatasi stres. Cara mengatasi stres dapat dilakukan dengan ibadah seperti salat, membaca al-Qur\'an, bersedekah, dan berzikir memperkuat komunikasi individu dengan Allah SWT dan menempatkannya pada posisi yang lebih kuat terhadap pemicu stres. 

  

Kesimpulan

  

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa para manajer menganggap stres sebagai suatu proses yang dapat menyebar ke semua bidang kehidupan. Sementara itu, keyakinan agama mempengaruhi cara seseorang memandang stres dengan segala konsekuensinya. Persepsi terhadap stres juga menentukan jenis strategi penanggulangan yang akan dipilih.  Ajaran Islam menangani stres dengan cara yang lebih holistik, yang mencakup dimensi psikologis dan fisiologis. Selain itu, disiplin manajemen waktu yang dipicu oleh ritual-ritual Islam, seperti salat dan bentuk-bentuk ibadah lainnya, memiliki efek positif dalam mengatur stres.