(Sumber : Yoursay.com)

Populisme Islam Versi Indonesia

Riset Sosial

Artikel berjudul “Critical Analysis of Islamic Populism: Insight from Indonesian Perspective” merupakan karya Wasisto Raharjo Jati. Tulisan ini terbit di  Journal of Indonesian Islam tahun 2024. Tujuan dari penelitian tersebut adalah memberikan wawasan alternatif dalam memahami populisme Islam. Sebelumnya, telah terjadi perdebatan panjang tentang bagaimana membingkai populisme Islam di Indonesia. Pendekatan pertama cenderung percaya bahwa populisme Islam adalah produk dari ketimpangan ekonomi, sedangkan pendekatan kedua mendasari meningkatnya penggunaan identitas agama untuk memobilisasi orang. Mempertimbangkan kedua sisi, penelitian tersebut menggunakan analisis tinjauan kritis untuk mengetahui kesenjangan di keduanya. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, berbagai macam populisme. Ketiga, hubungan antara populisme dan kelas menengah muslim. Keempat, proyeksi populisme Islam bagi kelas menengah di Indonesia. 

  

Pendahuluan

  

Kemunculan berbagai macam aksi masa atas nama umat Islam Indonesia yang mengatasnamakan Aksi Bela Ulama maupun Aksi Bela Islam yang sampai saat ini masih terus berlangsung, menunjukkan bahwa nuansa Islamisasi semakin kental di ruang publik perkotaan. Islamisasi ini tidak hanya terbatas pada ekspresi ketakwaan dan religiositas, melainkan pengarusutamaan kepentingan Islam sebagai suara mayoritas dalam masyarakat. Maksud dari Islamisasi ganda ini kemudian bermuara pada kewajiban yang lebih besar bagi seorang muslim, di mana selain melaksanakan ibadah sunnah dan wajib secara pribadi, juga mencakup kewajiban membela Islam di muka umum. Adanya ekspresi defensif umat Islam ini menjadi embrio awal munculnya populisme Islam di Indonesia. 

  

Alasan terpenting keterlibatan kelas menengah muslim dalam berbagai gerakan populisme Islam adalah 1) belum ada partai politik berbasis Islam yang memenangi pemilu di Indonesia. Kondisi pertama ini menimbulkan kekecewaan di kalangan sebagian segmen umat Islam Indonesia sehingga memilih gerakan populis.  2) Gerakan populis dianggap mampu menyuarakan “aspirasi sejati” umat Islam Indonesia ketika kelompok Islam lain telah mendapat akomodasi dari pemerintah. Pada konteks ini, kelompok kelas menengah muslim Indonesia sebenarnya lebih melekat pada alasan kedua dibanding alasan pertama. 

  

Hal yang lebih penting, gerakan populis ini tidak selalu menuntut para pengikutnya untuk menjadi kader atau memiliki pemahaman agama yang mendalam seperti alumni pesantren , meskipun pada akhirnya mereka berupaya untuk meningkatkan pengetahuan dasar keIslaman mereka seperti mengaji yang ditunjukkan oleh komunitas “Yukngaji.” Akan tetapi, gerakan populis sendiri berkomitmen pada semangat amar ma\'ruf nahi munkar. Hal lain yang tidak kalah penting adalah bahwa gerakan populisme Islam ini memberikan ruang yang luas bagi ekspresi keagamaan bagi kelompok kelas menengah muslim untuk bisa mengidentifikasi diri sebagai muslim sejati. Adanya simbol mutualisme antara gerakan dan para aktor yang menjadi kelompok kelas menengah muslim merupakan motor penggerak utama gerakan populisme di Indonesia. Kendati demikian, beberapa pihak melacak aktor-aktor kunci di balik kemunculan populisme Islam ini, khususnya terkait Aksi Bela Islam dan Aksi Bela Ulama.

  

Berbagai Macam Populisme

  

Pembahasan populisme Islam dalam kajian Indonesia secara umum berangkat dari dua faktor penting, yaitu 1) kekecewaan terhadap demokrasi sebagai sistem yang lebih menguntungkan kaum elit ketimbang masyarakat dan 2) menguatnya politik identitas sebagai solusi ideal atas ketimpangan dan diskriminasi akibat sistem yang tidak adil. Berdasarkan kedua hal tersebut, populisme yang berkembang kemudian berupaya menghadirkan suara yang nyata dan jelas dari akar rumput yang selama ini belum banyak disuarakan. Hal ini memiliki dua sumber utama yakni aspirasi publik dan inspirasi dari seorang karismatik yang mendorong gerakan masa secara signifikan. Publik dalam konteks ini, tentu saja, adalah kelompok kelas menengah yang rasional dan pragmatis yang melihat gerakan viral sebagai pemicu perubahan sosial dan politik.

  

Terdapat tiga unsur penting populisme yakni publik, elit dan kehendak bersama. Khusus faktor ketiga, keinginan bersama tidak selalu bersinggungan dengan ideologi karena populisme masih ‘tipis’ untuk bisa berkomitmen secara jelas pada ideologi tertentu. Terlebih, populisme kerap disandingkan dengan agenda politik yang lebih besar dan luas. Kondisi ini membuat populisme condong diasosiasikan sebagai kekuatan emansipatoris secara politis. Adanya misi emansipasi yang diusung dalam gerakan populisme menempatkan elite dan hubungan masyarakat sebagai fokus utama. Terdapat tiga faktor penting mengapa hubungan yang tidak harmonis antara masyarakat dan elit justru memicu gerakan populisme. Faktor-faktor tersebut adalah anti kemapanan, anti otoritarianisme, favoritisme identitas pribumi. Makna anti kemapanan dalam populisme menunjukkan adanya representasi publik yang tidak setara oleh elit penguasa yang memicu resistensi publik mulai dari tingkat kritik hingga \'melawan.’


Baca Juga : Problem Forum Internum-Eksternum: Dialog Beragama (Bagian Empat)

  

Kajian terkini tentang politik Indonesia telah menggambarkan menguatnya sentimen ummah dalam populisme Islam. Berbagai pakar melihat kemunculan populisme Islam dari berbagai perspektif, misalnya Marcus Meitzner dan Richard Robison serta Vedi Hadiz yang cenderung melihat populisme sebagai bagian dari dinamika polarisasi politik saat ini. Lebih khusus lagi, Mietzner melihat kemunculan populisme Islam sebagai salah satu dari dua varian populisme lainnya, yaitu populisme teknokratik dan populisme chauvinistik. Lebih jauh, dua tipe populisme terakhir cenderung lebih dekat dengan nasionalisme dan sekularisme. Hadiz dan Robison juga melihat populisme Islam sebagai bentuk oposisi terhadap populisme nasionalistik sekuler. Mietzner sendiri berteori tentang kekuatan tokoh yang menjadi penggerak utama gerakan populisme. Dengan kata lain, faktor kharisma pemimpin populis menjadi faktor penting dalam kemunculan populisme Islam. Sedangkan Hadiz dan Robinson lebih cenderung melihat peristiwa euforia kampanye politik berkembang, memicu eskalasi penggunaan politik identitas. Artinya, polarisasi yang mengeras menjadi kata kunci yang menarik dalam membedah kebangkitan populisme kontemporer.

  

Jika menilik perdebatan teoritis sebelumnya, munculnya populisme Islam di Indonesia disebabkan oleh krisis representasi yang dialami oleh umat Islam, sehingga mereka lebih cenderung berpihak pada gerakan populisme karena partai politik berbasis Islam tidak pernah menang dalam pemilu pascareformasi. Sementara itu, faktor lain yang juga penting adalah krisis identitas yang dialami oleh umat Islam, di mana mereka yang mayoritas tampil sebagai minoritas dalam ekspresi ekonomi dan politik. Kedua kondisi inilah yang membuat sentimen populisme Islam kerap mengusung semangat ‘tokoh Muslim’ sekaligus ‘Muslim versus non-Muslim’. Kedua frasa ini menunjukkan adanya semacam ekspresi chauvinistik umat Islam terhadap agama, sehingga menjadi sangat rentan untuk dipolitisasi. Berbagai ekspresi keagamaan tersebut kerap kali menggoyahkan posisi kelas menengah Muslim dalam konteks ini. Terlebih lagi, mereka kemudian juga ikut ambil bagian dalam euforia narasi, yang memberi tahu kita bahwa kondisi Islam di Indonesia saat ini tertinggal dari yang lain.

  

Hubungan Antara Populisme dan Kelas Menengah Muslim

  

Kebutuhan untuk eksis dan memperoleh pengakuan sebagai seorang Muslim sejati melalui keanggotaan dalam kelompok populis Islam bukanlah konsep baru. Setidaknya hal ini sudah dapat diilustrasikan melalui serangkaian berbagai aksi sebelumnya, misalnya yang dilakukan oleh Serikat Pekerja Islam, Muhammadiyah, dan Masyumi. Sebelumnya, berbagai ormas Islam tersebut terkait erat dengan upay populisme Islam, meskipun berada pada level yang berbeda. Namun, ketika mengevaluasi tren dan pola populisme Islam di Indonesia, penting untuk menyoroti perasaan rendah diri yang terus-menerus di kalangan mayoritas, yang memotivasi kelas menengah Muslim untuk memobilisasi dan turun ke jalan.

  

Rasa rendah diri yang dialami umat Islam, khususnya kelas menengah Muslim, juga terkait dengan ketimpangan akses sosial dan ekonomi. Permasalahan ini muncul karena sistem dan struktur sosial yang tidak sama antara umat Islam dengan masyarakat yang ada. Lebih khusus lagi, warisan sistem kolonial yang menempatkan kaum minoritas secara hierarkis di atas kaum mayoritas, menempatkan umat Islam sebagai mayoritas pada posisi paling bawah. Konsekuensi logisnya adalah diskriminasi dan ketimpangan sosial ekonomi yang menjadi warisan narasi populisme Islam hingga saat ini. Embrio awal populisme Islam yang lahir dari rasa rendah diri ini melahirkan narasi ketidakadilan yang kemudian direspons dengan penguatan internal masyarakat. Kondisi ini yang membedakan narasi populisme Islam di Indonesia dengan narasi kelompok lainnya. Di samping alasan adanya narasi ketidakadilan, hal lain yang perlu digarisbawahi adalah adanya rivalitas internal yang dialami oleh ormas-ormas Islam tersebut yang utamanya disebabkan oleh perbedaan teologis. Kondisi ini menyebabkan adanya kesatuan narasi populisme Islam di kalangan umat Islam Indonesia.

  

Hal yang perlu ditegaskan ketika membaca muatan ideologis populisme Islam adalah persinggungannya dengan kekuatan sekuler. Kondisi ini secara tidak langsung membenarkan adanya rivalitas dalam aliran politik, khususnya di kalangan santri dan priyayi. Namun, perlu dicatat pula bahwa rivalitas juga terjadi di internal umat Islam, khususnya yang diwakili oleh kaum modernis dan tradisionalis. Kondisi ini mengakibatkan populisme Islam di Indonesia belum pernah secara serentak mewakili kepentingan umat Islam secara keseluruhan.

  

Pada perkembangannya, populisme Islam yang pada awalnya ditujukan untuk  bersikap defensif dengan label ummah agar dapat mengikat umat Islam dengan kokoh. Saat ini, populisme Islam tampak mengarah pada tindakan-tindakan ofensif dengan tetap menggunakan sentimentalitas dan jihad dengan tujuan untuk mengarusutamakan Islam di ruang publik. Jadi, rivalitas antara Islam dan sekulerisme masih terus terjadi, tetapi kemudian kelompok Islamis mengklaim diri sebagai suara mayoritas umat Islam Indonesia, sehingga terkesan menjadi sebuah gerakan besar. Setidaknya berbagai argumen tersebut tergambar dalam dua hasil terkini tentang gelombang populisme Islam dengan tema “Aksi Bela Islam”, “Aksi Bela Ulama”, serta “Tokoh Muslim” yang terjadi di Indonesia. Selain itu, hal menarik yang penting untuk dicatat adalah transformasi kelas menengah Muslim sebagai pendukung utama gerakan populisme Islam.

  


Baca Juga : Menjaga Keragaman Sebagai Kewajiban (Bagian Dua)

Hubungan populisme Islam dengan kelas menengah muslim saat ini mulai bergeser ke arah eksistensi diri. Hal ini terkait dengan menguatnya eksistensi pengarusutamaan Islam di ruang publik. Oleh karena itu , gerakan populisme Islam yang dipelopori oleh kelompok kelas menengah muslim lebih banyak menyasar kelompok penekan daripada kelompok kepentingan. Meningkatnya partisipasi kelas menengah muslim, khususnya muslim perkotaan, dalam gerakan populisme mengindikasikan adanya keinginan untuk lebih dari sekadar ekspresi keagamaan di depan publik. Terlebih lagi, penggunaan narasi dan simbol-simbol Islam di ruang publik akhir-akhir ini marak dilakukan oleh beberapa kelompok muslim perkotaan. Hal ini merupakan bagian dari upaya untuk meneguhkan eksistensi populisme. Artinya, populisme dapat dimobilisasi secara masif yang bersinggungan dengan identitas. 

  

Populisme Islam Indonesia lebih condong pada gerakan kuasi-kolektif yang digerakkan oleh tokoh-tokoh personal tertentu. Jadi, hidup matinya populisme Islam bergantung pada karakter dan tindakan tokoh-tokoh yang bersangkutan. Karena itu, tidak mengherankan jika gerakan populisme Islam Indonesia tidak berfokus pada institusionalisme partai, tetapi lebih bersifat parsial, yakni terbagi berdasarkan afiliasi tokoh. Kondisi ini menyebabkan gerakan populisme Islam tidak dapat benar-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat akar rumput. Akan tetapi, lebih pada patronase elit yang memanfaatkan euforia religiusitas kelas menengah Muslim atas nama patronase elit politik tertentu.

  

Proyeksi Populisme Islam Bagi Kelas Menengah di Indonesia

  

Latar belakang sosial ekonomi kelas menengah muslim Indonesia sendiri cukup beragam. Mereka bukan berasal dari kaum borjuis kecil seperti di Mesir atau Turki sehingga mereka memandang Islam sebagai ideologi dan agama pembebasan. Secara garis besar, kelas menengah muslim Indonesia dapat dikategorikan sebagai kaum nouveau riche (yang keterikatannya dengan Islam belum berakar kuat). Mereka baru memahami Islam ketika sudah mencapai kemantapan sehingga ketika harus menggambarkan narasi ketimpangan terasa tidak memiliki akar. Belum kuatnya akar Islam dalam diri pribadi tersebut menyebabkan narasi dan eksistensi populisme Islam sendiri cenderung parsial dalam eksistensinya. Terlebih lagi, khususnya terkait narasi ketimpangan dan keterasingan Islam di Indonesia, terkesan lebih artifisial karena sebagian besar partisipan gerakan populisme Islam, misalnya Aksi Bela Islam, Aksi Bela Ulama, dan Pilih Pemimpin Muslim, merupakan Muslim kelas menengah yang mapan, baik dari segi pendidikan maupun pendapatan.

  

Ringkasnya, munculnya gerakan populisme Islam di kalangan kelas menengah Muslim Indonesia terutama didorong oleh tindakan narsisme  dan pencarian identitas sebagai Muslim baru, sering kali melalui promosi Islam dalam wacana publik. Artinya, Islam sendiri tidak melekat sebagai ideologi, melainkan sebagai identitas yang dibutuhkan untuk memperkuat citra diri sebagai Muslim yang taat.

  

Secara umum, populisme Islam Indonesia berupaya meniru apa yang terjadi di Timur Tengah misalnya, isu Palestina, jihad, serta ketimpangan ekonomi yang disebabkan oleh dominasi Barat. Sejak isu-isu ini masuk ke Indonesia, sebagian besar kelas menengah muslim di negeri ini dengan antusias menyambut dan menghargai perjuangan atas beragam isu tersebut. Namun, tidak sedikit pula kelompok kelas menengah yang mengangkat isu-isu lain yang menjadi faktor yang diperjuangkan dalam gerakan populisme. Artinya, populisme Islam yang berkembang di Indonesia tidak benar-benar berfokus pada satu isu besar yang mengakar. Fokusnya terutama pada ekspresi emosional, dengan tujuan mengkriminalisasi baik ulama maupun agama itu sendiri.

  

Kesimpulan

  

Emosi telah membentuk populisme Islam untuk berjalan dalam konteks Indonesia. Pengaruh ulama yang kharismatik sebagai patron, akses sumber daya yang tidak merata, dan lama absennya kemenangan elektoral bagi partai-partai Islam telah membuat mereka beralih ke gerakan populisme. Gerakan-gerakan terkini seperti Aksi Bela Islam, Aksi Bela Ulama, dan Gerakan 212 telah menunjukkan populisme Islam tetap tangguh. Dibandingkan dengan gerakan populis lain yang bercita-cita menjadi partai, gerakan populisme tampaknya hanya menanggapi isu-isu daripada terstruktur. Temuan ini tentu saja berkontribusi pada cakupan studi populisme yang luas secara global.