Sastra Islam Modern Indonesia
Riset SosialArtikel berjudul “Islamic Literature in Modern Indonesia: Political Disputes Among Muslim Writers 1930s-1960s” merupakan karya Sudarnoto Abdul Hakim. Tulisan ini terbit di Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies tahun 2023. Penelitian ini berusaha mengkaji perubahan atau evolusi unsur-unsur Islam dalam sastra Indonesia pada abad 20. Kajian yang digunakan adalah analisis Sejarah guna mengkaji kesinambungan dan perubahan ekspresi tema Islam dalam karya sastra. Melalui pencermatan pada ayat-ayat dalam karya sastra dan kritik yang melingkupinya, menunjukkan bahwa sastra Islam telah mengalami transformasi signifikan dari dekade ke dekade. Selain itu, penelitian tersebut membahas bagaimana tokoh-tokoh politik Islam menyampaikan ideologi dan visinya melalui karya sastra, dan menyoroti hubungan era antara Islam, sastra dan politik. Seperti yang diketahui bahwa Islam telah menjadi elemen penting dalam perkembangan sastra di Indonesia sekaligus berfungsi sebagai sarana kritik terhadap musuh elite politik muslim. Terdapat tiga sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, karya sastra Islami: dari Hamka hingga Kipandjikusmin. Ketiga, sastra dan perselisihan politik: Islam vis a vis pemerintah.
Pendahuluan
Sepanjang perkembangan karya sastra Indonesia, puisi paling awal ditulis dalam bahasa Melayu oleh para pemuda Sumatra dengan karya yang berjudul “Jong Sumatra.” Selama beradab-abad, bahasa Melayu telah menjadi media kontak di Nusantara. Prasasti-prasasti tertua yang terlestarikan dalam bahasa Indonesia ditulis dalam bahasa yang pantas disebut bahasa Melayu. Prasasti tersebut juga berasal dari masa pra-Islam pada abad 7 Masehi dan ditemukan di sekitar Palembang tepatnya perbukitan Minangkabau. Pada masa Kerajaan Sriwijaya mengembangkan bahasa Melayu sebagai media pengajaran bahasa Sansekerta dan filsafat Budha, kemudian menyebar ke seluruh Nusantara melalui kegiatan perdagangan dan keagamaan.
Pada masa kejayaan Islam, banyak dijumpai karya intelektual Islam mengenai tasawuf, fikih, tauhid, tafsir dan lain sebagainya yang ditulis dalam bahasa Melayu dengan tulisan Arab. Karya tersebut juga mencakup Roman, Tawarikh, dan berbagai jenis puisi Melayu seperti Pantun, Syair dan Gurindam. Selain itu, karya sastra bahkan politik juga diekspresikan dengan aksara Arab atau latin.
Rasanya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa bahasa Melayu berfungsi sebagai bahasa ilmu pengetahuan, budaya, politik, perdagangan dan agama di Indonesia sebelum abad 20. Jika dikaitkan dengan kebangkitan nasionalis Indonesia, dapat dikatakan bahwa pers dan sejumlah organisasi memperoleh posisi strategis di mana para penulis dan aktivis dengan bahasa Melayu sebagai media komunikasi untuk gerakan nasionalis dan menyebarkan gagasan mengenai satu bahasa nasional yang sama. Pada tahun 1918, ada 40 surat kabar yang menggunakan bahasa Melayu dan berkembang menjadi 200 di akhir tahun 1925.
Tanggal 28 Oktober 1928 menjadi puncak dari keinginan para pemuda untuk mewujudkan persatuan Indonesia. Secara khusus, acara ini juga diakui sebagai penerimaan formal Bahasa Indonesia. Bahasa Melayu akhirnya diubah menjadi Bahasa Indonesia sebagai media untuk mengekspresikan cita-cita politik yang banyak digunakan di kalangan aktivis. Namun, catatan Sejarah tidak jelas membuktikan adanya kontribusi aktivis dan penulis muslim dari gerakan ideologi Islam seperti Muhammadiyah dan Sarekat Islam (SI).
Berbeda dengan sayap nasionalis dan komunis, mereka tidak terlalu menaruh perhatian untuk mempublikasi ide-ide politiknya melalui karya sastra. Mereka menulis dan menerbitkan isu-isu sosial dan Islam sebagai bagian dari dakwah. Pada tingkat tertentu, para aktivis dan sastrawan muslim Muhammadiyah juga menyebarkan gagasan Tajdid yang didedikasikan untuk memurnikan iman dan memperbarui cara memahami al-Qur’an dan hadis, serta memodernisasi kehidupan duniawi.
Karya Sastra Islami: Dari Hamka hingga Kipandjikusmin
Baca Juga : Habib Sholeh Tanggul: Sosok Zuhud, Dermawan dan Antusias Berdakwah
Mayoritas penulis dan pembaca muslim di Indonesia secara budaya sadar akan akar agama mereka. Fiksi, prosa, puisi dan drama religi yang bertujuan untuk dakwah memang ada, sehingga beberapa penulis dijuluki sebagai ‘penulis religius.’ Karya sastra mereka dipengaruhi oleh doktrin dan moralitas Islam. Misalnya, karya berjudul “Siklus” karya Mohammad Diponegoro dan “Kubah” karya Tohari. Kedua karya ini menggambarkan kisah-kisah yang berkaitan dengan ajaran Islam mengenai nilai-nilai moral. Di dalamnya mempromosikan cerita sufisme. Begitu juga dengan karya-karya Hamka. Alhasil, cukup dikatakan bahwa sastra Indonesia pada umumnya adalah sastra Islami karena fokus mengagungkan, menjunjung tinggi dan menyebarkan pandangan dunia Islam dan konsep kemanusiaan secara langsung dan eksplisit.
Hamka adalah salah satu tokoh yang aktif menulis “Roman Pitjisan.” Ia juga mengarang beberapa novel seperti “Si Sabariah; Laila Madjnun; Di Bawah Lindungan Ka’bah; Tenggelamnya Kapal Van der Vijk; Tuan Direktur; Tuan Direktur; Merantau ke Deli; Di Lembah Kehidupan; dan Entjik Utik.” Beberapa karya Hamka di atas mendapatkan banyak kriikan, sehingga membuatnya diberikan julukan “Kiai Ai Lap Yu atau Kiai Tjabul.”
Sindiran halus dalam karya sastra sering kali melibatkan personifikasi Tuhan dan menghadirkan nabi dalam latar zaman modern, sehingga memicu perdebatan kontroversial di kalangan penulis dan masyarakat muslim. Mereka yang berusaha membangun kebebasan intelektual dan mengekspresikan karya imajinatif mereka terganggu oleh perlakuan negatif yang mereka terima dari para ulama konservatif dan otoritas politik.
Kipandjikusmin salah satu orang yang baru terjun ke dunia sastra Indonesia juga dianggap bertentangan dengan moralitas Islam dan mengganggu religiositas Masyarakat. Sayangnya, ia dianggap menghina Tuhan, malaikat, nabi, Pancasila dan UUD 1945, sehingga ia diadili. Hal ini disebabkan oleh salah satu karya novelnya berjudul “Langit Makin Mendung” yang menggambarkan kesedihannya melihat apa yang terjadi di pusat prostitusi Jakarta, Planet Senin.
Secara umum, novel “Langit Makin Mendung” sebenarnya menceritakan kisah Nabi Muhammad turun ke bumi bersama Jibril untuk ‘meneliti’ mengapa jumlah umat Islam yang masuk surga berkurang. Kipandji mencoba menggarisbawahi fakta bahwa umat Islam Indonesia mulai banyak yang berzina, minum alkohol, berperang melawan umat Islam, dan melakukan hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Seakan tak kuasa berbuat apa-apa untuk menghentikan maraknya maksiat, Nabi Muhammad SAW dan Jibril kemudian menyaksikan manuver politik, kriminalitas dan kelaparan di Jakarta. Namun sebenarnya, tulisan Kipanji adalah kritik keras atas kegagalan politik ideologis NASAKOM Soekarno.
Reaksi atas tulisan Kipanji yang luar biasa menunjukkan bahwa sastra masih berada di bawah kendali kuat konservatisme agama dan otoritas politik saat itu. Bagi mereka, religiositas harus diperkaya tidak hanya dengan pengetahuan Islam formal, seperti yang dirumuskan oleh Ulama’ dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan dengan penghayatan yang baik. Oleh sebab itu, religiositas semacam ini mendorong Hamka untuk menyarankan bagi para ulama untuk menulis novel dan karya sastra lain sesuai dengan kemampuannya, guna menanamkan sentimen dalam sastra.
Sastra dan Perselisihan Politik: Islam vis a vis Pemerintah
Penyair muslim tahun 1940-an dan 1950-an banyak membahas berbagai topik yang berkaitan dengan Islam dan sastra. Tepat tahun 1956 dapat dianggap sebagai era penting perkembangan konsep seni dan sastra Islam. Ketidakstabilan politik akibat ketegangan antara Soekarno yang menganjurkan pelaksanaan Demokrasi Terpimpin dan NASAKOM saat itu, khususnya dengan kekuatan Islam, mendorong para penyair muslim untuk merumuskan ideologi sastra dan seni Islam mereka. Pada tahun ini juga meskipun muslim konservatif menolak romantisme dan satire religius sastra tidak benar-benar menghalangi penyair muslim untuk ‘mencari’ ideologi sastra Islam. Mereka terus membahas banyak isu mengenai Islam dan sastra dalam spektrum luas. Pasca tumbangnya PKI, dakwah menjadi tema pokok perbincangan di kalangan penyair muslim. Dakwah sebagai ajaran Islam yang harus dilaksanakan oleh setiap umat Islam, sekaligus menjadi tema perbincangan yang tidak ada habisnya, sebagaimana ekspresi kesadaran religius dan ideologi para penyair muslim.
Kesimpulan
Secara garis besar penelitian ini menunjukkan bahwa karya sastra adalah ekspresi budaya dan ideologis yang dapat memicu perdebatan bahkan konflik di antara para penyair. Islam telah memperkaya budaya dan sastra Indonesia dengan banyak karya berbasis Islam yang ditulis oleh cendekiawan dan penyair muslim. Unsur keIslaman terlihat jelas dalam sastra Indonesia, termasuk penggunaan sindiran keagamaan. Selama tahun 1950-an dan 1960-an, Islam juga digunakan sebagai basis ideologi sastra, khususnya dalam menanggapi ketegangan politik. Analisis sejarah merupakan pendekatan yang berguna untuk memahami perdebatan dan konflik sosial, politik, dan agama dalam masyarakat Indonesia, termasuk pengaruhnya terhadap karya sastra

