Benarkah Laki-Laki Tidak Boleh Menangis?
HorizonOleh Eva Putriya Hasanah
Sebuah kalimat dari pidato yang disampaikan oleh Ahmad Munjizun mahasiswa asal Lombok NTB Indonesia dalam wisuda Doktor di North Carolina (NC) State University Amerika Serikat menarik perhatian saya. Kalimat itu berbunyi \"I know this is not a manly thing to cry, but I like to cry (Saya tahu ini bukan hal yang jantan untuk menangis tapi saya suka menangis”
Kalimat ini menarik karena saya anggap seirama dengan kalimat “Laki-laki kok nangis” atau “Laki-laki jangan menangis” yang sering saya dengar sejak kecil. Kalimat-kalimat ini dalam perspektif gender di kenal dengan mitos maskulinitas.
Mitos maskulinitas terkait dengan pandangan bahwa laki-laki harus selalu kuat, tidak pernah menunjukkan emosinya secara terbuka, dan dapat mengatasi masalah dengan pendekatan yang rasional. Mitos maskulinitas ini meyakinkan laki-laki bahwa perasaan dan emosi adalah hal yang lemah sehingga menangis hanya akan dilakukan oleh perempuan. Sedangkan laki-laki yang menangis adalah tidak maskulin.
Berkembangnya stereotip ini dapat dipengaruhi oleh budaya patriarki yang memperkuat peran gender tradisional dan menekankan pada kekuatan serta ketangguhan sebagai sifat maskulinitas yang diidamkan. Laki-laki harus menjadi simbol kekuatan, maskulinitas dan tidak boleh menunjukkan rasa lemah. Masyarakat yang mempertahankan pandangan ini biasanya memiliki ambisi dan idealisme yang tinggi terhadap sifat “laki-laki sejati”.
Pada realitanya, dalam kehidupan sehari-hari, laki-laki juga mengalami berbagai masalah emosional yang perlu mereka ungkapkan. Sains melihat fenomena menangis pada laki-laki sebagai respons emosional alami yang normal. Di dalam penelitian, menangis dianggap sebagai cara yang penting untuk melepaskan stres dan mengurangi ketegangan emosional. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa menangis dapat membantu mengurangi kadar hormon stres dalam tubuh. Melalui tangisan, beberapa hormon yang berhubungan dengan stres seperti kortisol dan adrenalin dapat dilepaskan dan membantu meredakan tekanan emosional.
Sehingga sebenarnya yang membuat laki-laki jarang menangis bukanlah sebuah sifat nature namun tekanan yang datang dari lingkungan mereka seringkali membuat mereka kesulitan untuk mengekspresikan emosi tersebut. Budaya patriarki bukan hanya merepresentasikan ketidakadilan gender bagi perempuan, tetapi juga bagi laki-laki. Kebijakan sosial yang membatasi ekspresi emosional laki-laki dihadapkan pada risiko kesehatan mental dan hubungan antarpersonal yang buruk.
Nabi Muhammad SAW Juga Menangis
Baca Juga : Negara Mengatur Relasi Antar Umat Beragama: Penggunaan Toa
Nabi Muhammad merupakan teladan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam mengekspresikan emosi. Ia menunjukkan bahwa menangis bagi laki-laki adalah sesuatu yang wajar dan bisa jadi menjadi manifestasi kelembutan hati.
Nabi Muhammad seringkali menangis ketika berhadapan dengan masalah yang kompleks, baik di dalam kehidupan pribadinya maupun dalam kepemimpinannya, baik itu karena kesedihan, rasa takut, introspeksi diri, maupun dalam pengabdian kepada Allah SWT dan umat manusia. Sebagai contoh, ketika ia menerima panggilan pertama dari Allah SWT, ia begitu kewalahan sehingga menangis. Ketika putranya, Ibrahim, meninggal, Nabi Muhammad juga menangis tersedu-sedu.
Nabi Muhammad menunjukkan bahwa menangis bukanlah tanda kelemahan, tetapi justru merupakan ekspresi dari kepekaan dan kasih sayang. Ia juga menunjukkan bahwa laki-laki seharusnya tidak terbebani oleh ekspektasi sosial yang keliru tentang bagaimana seharusnya seorang laki-laki berperilaku.
Dalam Islam, menangis dianggap sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membuka hati kepada-Nya. Hal ini juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan membutuhkan pertolongan Allah SWT.
Dalam konteks budaya dan sosial yang mengabaikan kepentingan dan hak-hak laki-laki atau perempuan, penting bagi kita untuk meneladani sikap kelembutan hati Nabi Muhammad dan memperkuat kesadaran akan pentingnya mengekspresikan emosi secara jujur dan terbuka, tanpa perlu merasa terkekang oleh ekspektasi sosial yang keliru dan norma-norma tidak sehat.
Oleh karenanya, penting bagi setiap laki-laki untuk menolak mitos maskulinitas emosional dan mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang lebih sehat.

