(Sumber : NU Online)

Strategi Melakukan Poligami

Riset Sosial

Artikel berjudul “Causes and Consequences of Polygamy: An Understanding of Coping Strategies by Co-Wives in Polygamous Marriage” merupakan karya Sabila Naseer, Sehrish Farooq, dan Farah Malik. Tulisan ini terbit di ASEAN Journal of Psychiatry tahun 2021. Tujuan dari penelitian ini adalah menyelidiki penyebab poligami, hasil dan cara agar perempuan menerima poligami. Metode yang digunakan adalah kualitatif eksploratif dengan data yang berasal dari wawancara dengan 11 perempuan yang menjalani pernikahan poligami. Terdapat empat sub bab dalam penelitian ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, alasan pernikahan poligami. Ketiga, kemungkinan buruk poligami. Keempat, efek positif poligami. 

  

Pendahuluan

  

Poligami telah menjadi hal yang umum di berbagai budaya, khususnya masyarakat Islam. Islam memperbolehkan laki-laki menikahi empat perempuan, tetapi dengan syarat menjaga kesetaraan dan keadilan semua yang dimiliki sang suami secara materi. Di dunia muslim, poligami telah diakui karena didukung dan dikaitkan dengan doktrin agama, serta hubungan yang legal. Biasanya, perempuan menerima pernikahan poligami disebabkan karena kemandulan dan tidak memiliki anak laki-laki. Di beberapa negara seperti India, Cina dan Pakistan membunuh bayi perempuan adalah praktik yang sangat umum, meskipun dianggap sebagai sebuah kejahatan. 

  

Alasan Pernikahan Poligami

  

Terdapat beberapa alasan, mengapa seseorang memilih melakukan pernikahan poligami. Pertama, infertilitas atau hanya memiliki anak perempuan. Beberapa wanita merasa bersalah dan bertanggung jawab atas keturunan yang dimiliki selama pernikahan. Apabila dalam sebuah pernikahan, seorang istri tidak mampu memiliki keturunan, sebagian dari mereka lebih memilih untuk mengizinkan sang suami menikah lagi. Mereka tidak ingin mengambil jalan perceraian. Bagi mereka, ketika memberikan izin untuk menikah lagi, maka Allah SWT akan menurunkan rahmatnya. Kemudian, apabila dari pernikahan kedua suaminya memiliki anak, maka kehadirannya adalah sebuah anugerah. 

  

Ketika dalam pernikahan, seorang suami menginginkan memiliki keturunan laki-laki, namun kenyataannya hanya memiliki anak perempuan, biasanya seorang istri akan merasa bersalah. Beban kelamin anak, seakan hanya menjadi tanggung jawab istri. Rasa bersalah yang dimiliki terkadang terlalu menekan dan menghantui, sehingga sebagian dari mereka memberikan izin suami untuk menikah lagi agar keinginannya bisa terpenuhi. Mereka merasa memiliki kewajiban untuk menyenangkan suami dengan mengikuti segala keinginannya. 

  

Kedua, terlalu cinta terhadap suami. Perasaan cinta yang terlalu dalam menyebabkan seorang istri mau melakukan apa pun agar suaminya bahagia, misalnya dengan keinginan untuk poligami. Alhasil, memilih menuruti keinginan suami meskipun mengorbankan perasaan, ketimbang perpisahan dengan bercerai. Selain itu, sebagian dari mereka merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan suaminya, entah karena penyakit atau karena hal lain yang membuat pasangannya merasa kurang. 

  

Ketiga, tekanan keluarga. Terkadang sebuah pernikahan poligami terjadi karena adanya tekanan keluarga dari pihak ‘orang tua.’ Hal ini bisa saja terjadi, apabila orang tua terlalu ikut campur dalam rumah tangga anaknya. Keinginan dan ekspektasi mereka akan rumah tangga anaknya menjadi salah satu alasan. Misalnya, keinginan memiliki cucu laki-laki, memiliki cucu banyak, dan lain sebagainya. 


Baca Juga : Sebuah Formula Menghadapi Dampak Covid-19

  

Kemungkinan Buruk Poligami

  

Terdapat beberapa kemungkinan buruk yang disebabkan karena adanya poligami. Pertama, kecemburuan. Kecemburuan merupakan respons umum untuk melindungi suatu hubungan. Meskipun seorang istri menerima pernikahan poligami, mereka menyatakan betapa menyakitkan melihat sang suami bersama perempuan lain. Selain itu, respons ini biasanya dipicu karena adanya anggapan bahwa suaminya lebih mengutamakan istrinya yang lain. 

  

Kedua, kesepian dan tidak bahagia. Para perempuan yang menjalani pernikahan poligami mengakui bahwa mereka sebenarnya tidak senang dengan situasinya. Banyak dari mereka yang akhirnya merasa kesepian, ketika suaminya bersama dengan istrinya yang lain. Bahkan seiring berjalannya waktu, pernikahan yang mereka jalani seakan menjadi kompetisi antar-istri. Alhasil, ada istri yang merasa ada perubahan sikap mertuanya, dan disusul sang suami yang mulai acuh. 

   

Efek Positif Poligami

  

Ternyata, poligami tidak hanya memiliki dampak negatif, namun juga dampak positif. Beberapa dampak positif poligami adalah, pertama, adanya pembagian pekerjaan dalam rumah tangga. Adanya pembagian pekerjaan dalam rumah tangga menjadikan beban di dalamnya terasa ringan. Terlebih, ketika hubungan antar istri sangat baik dan seperti saudara, akan menjadikan keduanya saling membantu urusan rumah tangga. Bahkan soal merawat anak, mereka akan saling membantu satu sama lain. 

  

Kedua, antara agama, takdir dan kompromi.  Penerimaan seorang istri dalam menjalani pernikahan poligami adalah karena kesadarannya bahwa agama telah mengizinkan laki-laki memiliki istri lebih dari satu. Mereka merasa kehidupan yang sedang dijalani adalah takdir terbaik yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Meskipun, terkadang masih ada perasaan sedih dan depresi. Ketika hal itu terjadi, pilihan terbaik adalah berdoa dan menyandarkan perasaannya kepada Yang Maha Kuasa. 

  

Kesimpulan

  

Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa strategi terbaik menjalani pernikahan poligami adalah melalui izin istri. Seorang perempuan memilih menjalani pernikahan poligami meskipun ada klaim bahwa akan mendatangkan kerugian, namun bagi mereka perceraian bukanlah suatu pilihan. Bertahan dengan pernikahan poligami tetap memiliki sisi positif. Meskipun, dalam prosesnya diperlukan cara panjang dalam mengelola dan memahami konsekuensi dampak poligami. Penelitian di atas hanya menyandarkan penelitian dari sudut pandang agama, tanpa ada analisis lebih lanjut dengan pendekatan yang lain. Oleh sebab itu, pro dan kontra akan tetap muncul ketika membahas isu seksi seperti poligami. Tergantung, dari perspektif mana isu ini akan diulas.