Wednesday, July 29 2026

Author: Nur Syam

Saya didapuk untuk menjadi penceramah di dalam acara kunjungan para anggota Jam’iyah Ngaji Qur’an, ibu-ibu keluarga besar UIN Sunan Ampel, di Semarang Jawa Tengah. Mereka berkunjung ke Rumah Ibu Prof. Dr. Zumrotul Mukaffa, MAg, tepatnya di Pondok Pesantren Taman Adiluhung Kenteng, Kelurahan Kalisegoro, Kecamatan Gunung Pati, Kota Semarang, Jawa Tengah. Pondok pesantren yang didirikan oleh

Menyambut pidato Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Menag, tentang identitas kebangsaan dan keberagamaan, maka saya ingin menuliskan  rilis Lembaga Survey Indonesia (LSI) tentang survey akan hal tersebut. Ada sebuah survey lama, tentang identitas nasional, bangsa dan suku, yang dirilis oleh LSI tahun 2019, yang dilakukan dengan mengambil sampel sebesar 1.550 responden dengan margin error 2,5

Selain fungsi kritik yang diperankan agama, sebagaimana peran Nabi atau Rasul, maka agama juga memiliki fungsi penting untuk membangun keteraturan social. Di dalam fungsi kritik, maka setiap Rasul diturunkan pada umatnya yang compang-camping kehidupannya dilihat dari perspektif moralitas kemanusiaan. Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad datang kepada kaum

Gagasan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA tentang memfungsikan agama sebagai kritik social, saya kira perlu untuk dicermati. Agama secara historis menampilkan dirinya sebagai kritik atas kehidupan social yang terjadi pada saat agama tersebut dibawa oleh para utusan Tuhan. Jika kita pahami dari teks-teks yang membicarakan tentang kehadiran para Nabi selalu melakukan kritik atas kehidupan social

Kala saya berangkat ke SD Al Muslim, saya dikontak melalui pesan WhatsApp dari Radio Suara Surabaya untuk membahas tentang hasil penelitian yang dilakukan oleh Harvard University, Baylor University dan Gallup tentang hasil survey yang menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang terbahagia. Mbak Widya mengontak saya untuk wawancara via online agar saya menjadi narasumber dalam

Dalam hal membikin acara yang luar biasa,  Kementerian Agama adalah jagonya. Dalam beberapa even yang melibatkan Menteri, para pejabat dan ASN Kemenag dan undangan tokoh-tokoh agama di Indonesia, saya menyaksikan sebuah pagelaran acara yang full menggunakan teknologi digital dalam prosesinya. Acara yang dihelat dalam Tasyakuran Hari Amal Bhakti Kementerian Agama (HAB) ke 80 juga dipagelarkan

Era sekarang adalah era kompetisi. Sebuah era yang setiap individu harus berkompetisi agar bisa survive. Siapa yang ingin hidup, bahasa kasarnya, maka harus memiliki kemampuan untuk berkompetisi dengan manusia lainnya. Siapa yang kompetitif, maka dialah yang akan menguasai kehidupan. Sekarang bukanlah era menunggu takdir datang, atau menunggu nasib baik. Saya kira sudah bukan zamannya  kita

Di akhir tahun,  Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) menyelenggarakan acara yang sangat monumental, yaitu acara Review and Design on Islamic Education  di Aula HM Rasyidi, Kantor Kementerian Agama, Jalan Thamrin Jakarta, 30/12/2025. Acara  yang dikemas sangat baik dengan kolaborasi music, drama, orasi ilmiah dan taushiyah yang sangat bergizi. Sungguh acara ini dipersiapkan dengan sangat

Sebuah acara yang menarik, 30/12/2025,  sebab  dihadiri oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., Menag, dan  tentu patut untuk diperhatikan terutama pembahasan  temanya  tentang ekoteologi, yang sekarang sedang menuai zamannya. Capaian kinerja atas gagasan Prof. Dr. Nasaruddin Umar MA., tersebut sudah melampaui ekspektasi, sebab sekarang sudah tidak lagi berbicara dalam tataran konsep tetapi sudah pada tahapan

Di dalam Focus Group Discussion (FGD) tentang Implementasi Kebijakan Ekoteologi Kementerian Agama Republik Indonesia, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, ternyata ada gagasan yang menarik, 29/12/2025. Hadir  para penasehat Ahli Menag, Para Pejabat dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Utama dan Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama dan para staf. Juga hadir Staf Khusus, Staf Ahli,  dan Tenaga

Suatu kesempatan yang sangat langka untuk hadir di dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki)  Malang dalam acara membahas mengenai pendirian Direktorat Jenderal  (Ditjen) Pesantren, yang izin prakarsanya sudah disetujui oleh Presiden RI, Prabowo Subianto, sebelum Upacara Gebyar Hari Santri Nasional (HSN) di Taman Mini Indonesia Indah

Suatu kesempatan yang\r\nsangat langka untuk hadir di dalam acara Focus Group Discussion (FGD) di\r\nUniversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki)  Malang dalam acara membahas mengenai pendirian\r\nDirektorat Jenderal  (Ditjen) Pesantren,\r\nyang izin prakarsanya sudah disetujui oleh Presiden RI, Prabowo Subianto,\r\nsebelum Upacara Gebyar Hari Santri Nasional (HSN) di Taman Mini Indonesia Indah\r\n(TMII), 24/10/2025. Hadir di dalam acara\r\nFGD

1 5 6 7 8 9 77