Jaman Palsu
Oleh: Suko Susilo
Tulisan ini tetap mengandaikan bahwa masih cukup banyak orang yang menjalani hidup penuh kejujuran. Orang-orang yang mendapatkan gelar sarjana, memperoleh jabatan, mendapat uang hasil berdagang, semua ditempuh dengan cara yang benar, berproses secara jujur, tanpa tipu muslihat, berpikir orisinal, bekerja keras dan bertanggung jawab. Orang-orang tampil dalam interaksi sosial secara jujur tak mengada-ada. Namun, tentu tak gampang hidup dengan cara itu ditengah kehidupan yang penuh kepalsuan dan ketidakjujuran.
Di dalam konteks itulah sebenarnya reformasi yang umurnya sudah lebih dari 20 tahun ini, mendapat tantangan yang sewajarnya untuk direalisasikan. Tantangan tersebut bukan hanya menghasilkan kegaduhan euphoria tak berkesudahan, bukan juga hanya bersambut sejumlah gagasan baru di berbagai seminar dan dialog elite yang mengaku pintar. Bisa jadi, bayangan di tahun 1998 tentang demokrasi yang segera berkibar-kibar itu, sekarang ini hanya menghasilkan kepalsuan.
Alangkah banyak keseharian kita diisi oleh berbagai tindakan yang tampaknya asli tetapi sebenarnya palsu. Beberapa orang mendirikan organisasi nirlaba berkedok mengadvokasi warga, tetapi yang dilakukan justru memperdayai warga untuk mengais laba. Mereka bergaya kaya mudik lebaran pakai mobil sewa, bicara dengan aksen Betawi layaknya artis di televisi demi dianggap telah menjadi bagian gemerlap ibukota. Teman di kampung plonga-plongo takjub oleh cerita yang sebenarnya mengada-ada.
Spanduk terbentang di jalan bertuliskan anti korupsi, tetapi tanpa risih menerima pemberian yang asalnya jelas tak bersih. Banyak dari mereka yang teriak anti kolusi, tapi merengek minta anaknya diterima kerja di instansi nenek. Mereka meringkuk di sudut kamar meratapi nasib setelah paman tega menolak lamaran kerjanya. Mereka juga teriak anti korupsi dan anti kolusi, ternyata justru korupsinya menjadi-jadi. Semuanya dipenuhi kepalsuan.
Mereka teriak sertifikasi agar pendidik lebih termotivasi, agar output bermutu dan berprestasi, tetapi nyatanya mutu tak juga beranjak tinggi. Justru, Pengadilan Agama sibuk mengurus cerai karena uang sertifikasi dipakai kawin lagi. Mereka berpikir bahwa tak penting berburu mutu, yang penting secepat kilat ijazah didapat. Entah dengan cara asli atau palsu tak perlu dipikir sampai jidat terlipat. Hidup nyaman maunya dicapai dengan gampang melalui jalan kepalsuan.
Jika dilihat, dari bawah hingga atas, dari hulu hingga hilir dipenuhi kepalsuan. Jangan-jangan Republik ini juga palsu karena berbagai urusan dijalankan mirip kerajaan. Segala urusan tergantung setoran. Bawahan harus memberi upeti atasan. Upeti menjadi-jadi saat bawahan mengemis jabatan. Rakyat tak cukup cium tangan, menceboki atasanpun bila perlu dilakukan. Bersemailah kemudian berbagai tindakan palsu.
Bawahan harus pandai memalsu tindakan untuk menutup tabiat aslinya. Mereka mulai membiasakan diri bertindak pura-pura. Mereka pura-pura sangat hormat, pura-pura sangat taat, pura-pura berakhlak mulia bak manusia setengah dewa. Semua dilakukan demi pangkat meningkat. Republik jadi daulat pejabat, bukannya daulat rakyat. Jaman edan, tabiat serigala dan kancil bertukar tempat.
Lebaran datang sekeranjang buah yang disiapkan jauh sebelum puasa maunya dijinjing menuju rumah atasan. Sungkem mohon maaf pada orang tua dan mertua ditunda demi pura-pura setia pada atasan. Bahasa bunga-bunga disiapkan meluncur tanpa jeda membombardir tanpa bisa disela. Semuanya pura-pura.
Tentu saya tak berhasrat mensyukuri korona, tapi karena wabah itu, rencana yang telah disusun matang jadi berantakan. Rencana yang dibumbui rencana pura-pura akhirnya buyar. Jangankan silaturahim ke rumah atasan, ke tetangga kiri kanan saja tak dilakukan, karena takut terpapar korona. Akhirnya, segala macam roti kalengan kualitas impor yang sudah disiapkan dibongkar. Roti dimakan sendiripun ternyata tak habis sampai kini.
Suasana lebaran tahun ini dan sebelumnya jauh berbeda. Semua orang fokus melindungi diri dengan memilih merayakan dirumah sendiri-sendiri. Mereka memilih bertemu melalui sambungan seluler dengan bertatap muka lewat layar. Mereka lebih memilih memakan ketupat sendiri tanpa tetangga dan keluarga. Suasana semacam itu sangat mengganggu, jauh berbeda dengan lebaran tahun-tahun lalu. Semua orang dapat memeluk keluarga besar, saling bertatap muka, makan opor ayam berbarengan, membicarakan banyak hal selama setahn belakangan.
Kandungan arti dalam Idul Fitri yang baru sebulan lewat diantaranya adalah kembali kepada fitrah. Kembali suci setelah berjuang memenjarakan hawa nafsu sebulan sembari mawas diri. Suci dari dosa setelah sukses sebulan puasa. Janji memelihara kesucian mesti dikumandangkan dalam hati diawal hari yang fitri. Kedepan, hari-hari harus diisi tindakan yang menjadi pantulan kesucian hati. Tindakan pura-pura dan segala macam kepalsuan harus diganti dan direformasi.
Sebenarnya, reformasi itu paling efektif jika dimulai dari pribadi dan sendiri-sendiri. Jadikan lebaran sebagai saat tepat mereformasi diri dari laku palsu ketidakjujuran. Kita harus mendekatkan tindakan pribadi ke arah yang dikehendaki oleh makna idul fitri dalam lebaran.
Lebaran itu dari kata dasar lebar yang mendapat akhiran-an. Jadi kata itu bermaksud mewajibkan kita membuka hati lebar-lebar untuk ikhlas meminta dan memberi maaf, agar dunia menjadi indah tanpa dendam akibat ketercelaan perbuatan di hari yang sudah-sudah.
You may also like




