Memahami Konsep Islam Tentang Kesehatan Jiwa
Kata jiwa berasal dari bahasa Arab yaitu nafs yang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai diri atau secara lebih sederhana bisa diterjemahkan dengan jiwa, dalam bahasa Inggris disebut soul atau spirit. Kesehatan jiwa (mental) sangat pentingdalam mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Tiadakesehatan tanpa kesehatan jiwa, hal ini jelas tersirat dalam laguKebangsaan Indonesia Raya, yang salah satu baitnya berbunyi“bangunlah jiwanya…., bangunlah badannya…., untukIndonesia Raya….â€. Dimana sebelum sehat badan, kita harussehat jiwa terlebih dahulu. Jika jiwa seseorang sehat, makatubuhnya akan sehat juga.
​Dalam tradisi keilmuan Islam kajian ‘jiwa’ justru mendapatperhatian penting. Hampir semua ulama, kaum sufi dan filosofmuslim ikut berbicara tentangnya dan menganggapnya sebagaibagian yang lebih dahulu diketahui oleh seorang manusia. Karena dimensi jiwa dalam Islam lebih tinggi dari sekedardimensi fisik karena jiwa merupakan bagian metafisika. Iasebagai penggerak dari seluruh aktifitas fisik manusia. Meskipunsaling membutuhkan antara jiwa dan jasad tanpa harusdipisahkan, namun peran jiwa akan lebih banyak mempengaruhijasad.
​Zakiah Daradjat merumuskan pengertian kesehatan mentaldalam pengertian yang luas dengan memasukkan aspek agama didalamnya sebagaimana berikut: terwujudnya keserasian yangsungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan yang terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinyasendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan danketaqwaan, serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Menurut perspektifIslam sehat atau tidaknya mental seseorang berpijak pada aspekspiritualitas keagamaan. Seberapa jauh keimanan seseorangyang tercermin dalam kehidupan keberagamaan dalamkesehariannya menjadi titik tolak penting dalam menentukansehat atau tidaknya mental seseorang. Dalam pandangan Islam gangguan dan tidak sakit mental tidak hanya diukur denganukuran humanistik saja, sebagaimana diikut oleh semua aliranpsikologi kontemporer. Akan tetapi Islam juga melihatbagaimana kaitannya dengan iman dan taqwa.
​Karenanya indikator kesehatan mental dalam Islam adalahpertama, terbebas dari gangguan dan penyakit jiwa. Kedua, terwujudnya keserasian antara unsur-unsur kejiwaan. Ketiga, mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan diri secarafleksibel dan menciptakan hubungan yang bermanfaat danmenyenangkan antar individu. Keempat, mempunyaikemampuan dalam mengembangkan potensi yang dimilikinyaserta bermanfaat untuk dirinya dan orang lain. Kelima, berimandan bertakwa kepada Allah dan selalu berupaya merealisasikantercipta kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.
​Orang yang sehat mental akan senantiasa merasa aman dan bahagia dalam kondisi apapun, ia juga akan melakukan intropeksi atas segala hal yang dilakukannya sehingga ia akan mampu mengontrol dan mengendalikan dirinya. Mental yang sehat tidak akan mudah terganggu oleh stressor (penyebab terjadinya stres). Ia akan memiliki kemampuan diri untuk bertahan dari tekanan-tekanan yang datang dari lingkungannya. Namun tak dapat dipungkiri seseorang juga bisa mengalamigangguan mental. Terapi kesehatan mental dalam Islam sudah ditunjukkan secara jelas dalam ayat-ayat Alquran, di antaranya yang membahas tentang ketenangan dan kebahagian sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 97 yang artinya: “Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yangbaik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. Artinya bahwa laki-laki dan perempuan mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.Karena hanya orang-orang yang berimanlah yang hatinya tenang dengan mengingat Allah.
​Jika ditelusuri lebih jauh ada tiga metode yang dikembangkan untuk pemeliharaan kesehatan mental dalam Islam yaitu: pertama, metode Imaniah. Dengan iman, seseorang memiliki tempat bergantung, tempat mengadu, dan tempat memohon apabila ia ditimpa problema atau kesulitan hidup, baik yang berkaitan dengan prilaku fisik maupun psikis. Ketika seseorang telah mengerahkan daya upayanya secara maksimal untuk mencapai satu tujuan, namun tetap mengalami kegagalan, tidak berarti kemudiann ia putus asa atau malah bunuh diri. Keimanan akan mengarahkan seseorang untuk mengoreksi diri apakah usahanya sudah maksimal atau belum.
Kedua, metode Islamiah yang terwujud dalam rukun Islam. Realisasi metode Islam dapat membentuk kepribadian muslim yang dapat menimbulkan lima karakter ideal yaitu: 1) Karakter syahadatain yaitu karakter yang mampu menghilangkan dan membebaskan diri dari segala belenggu dan dominasi tuhan-tuhan temporal dan relatif, seperti hawa nafsu dan materi. 2) Karakter mushalli, yaitu karakter yang mampu berkomunikasi dengan Allah (ilahi) dan dengan sesama manusia (insani). Komunikasi ilahiah ditandai dengan takbir, sedang komunikasi insaniah ditandai dengan salam. Karakter mushalli juga menghendaki kesucian lahir yang diwujudkan dalam wudhu (Q.S. al-Maidah: 6) dan batin yang diwujudkan dalam bentuk keikhlasan dan kekhusyukan (Q.S. al-Mukminun: 1-2). 3) Karakter muzakki, yaitu karakter yang berani mengorbankan hartanya untuk kebersihan dan kesucian jiwanya (Q.S. al-Taubah: 103). Karakter muzakki menghendaki adanya pencarian harta secara halal dan mendistribusikannya dengan cara yang halal pula. Ia adalah sosok yang empatik terhadap penderitaan pribadi lain. 4) Karakter sha’im, yaitu karakter yang mampu mengendalikan dan menahan nafsu-nafsu rendah dan liar. Seperti menahan makan, minum, hubungan seksual pada waktu dan tempat yang dilarang. 5) Karakter hajji, yaitu karakter yang mau mengorbankan harta, waktu, bahkan nyawa demi memenuhi panggilan Allah SWT. Yang akhirnya akan menghasilkan jiwa yang egaliter, memiliki wawasan inklusif dan pluralistik, melawan kebatilan, serta meningkatkan wawasan wisata spiritual.
Ketiga, metode Ihsaniah. Kata ihsan berasal dari kata hasuna yang berarti baik atau bagus. Ihsan merupakan seluruh prilaku yang mendatangkan manfaat dan menghindarkan kemudharatan. Namun karena ukuran ihsan bagi manusia sangat relatif dan temporal, maka kriteria ihsan yang sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Hadis Nabi Muhammad SAW. menyebutkan bahwa ihsan bermuara pada peribadatan dan muwajahah, dimana ketika sang hamba mengabdikan diri pada-Nya seakan-akan bertatap muka dan hidup bersama dengan-Nya, sehingga seluruh prilakunya menjadi baik dan bagus.
Oleh karena itu, kesehatan jiwa dalam kehidupan manusia merupakan masalah yang sangat penting karena menyangkut soal kualitas dan kebahagian hidup. Islam memiliki konsep tersendiri dan khas tentang kesehatan jiwa. Dapat ditegaskan bahwa iman dan takwa memiliki relevansi yang sangat erat sekali dengan soal kejiwaan.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
You may also like




