(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Sejarah, Bentuk dan Makna Keris Bagi Masyarakat Jawa

Riset Budaya

Tulisan berjudul “Makna Keris dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat” merupakan karya dari Akhmad Arif Musadad. Tulisan ini terbit di Jurnal Majalah Ilmiah Pengetahuan Sosial (MIPS). Tujuan dari penelitian Masadad adalah mengetahui bentuk fisik, sejarah perkembangan, arti dan efek dari keris. Penelitian tersebut menggunakan metode etnografi, dengan masyarakat Surakarta sebagai subjek. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, dengan narasumber beberapa orang yang memiliki pengetahuan dan menjadi “konsultan” mengenai arti dan efek dari keris. Di dalam resume ini akan dijelaskan enam sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, kerangka teori. Ketiga, bentuk fisik dan bagian keris. Keempat, sejarah perkembangan keris. Kelima, makna keris dalam kehidupan masyarakat Jawa. Keenam, pengaruh keris dalam kehidupan masyarakat.  

    

Pendahuluan

  

Di Jawa keris telah dikenal sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu. Keris dianggap dapat menambah nilai kebesaran seorang raja dan pusaka yang dapat memberikan kekuatan gaib. Keris mulai berkembang sejak zaman Sultan Agung (1613-1645), karena digunakan sebagai “hadiah” untuk prajurit yang berprestasi. Hal ini membawa pengaruh besar bagi perkembangan keris. 

  

Sejalan dengan perkembangan kehidupan sosial budaya masyarakat Jawa, fungsi keris mengalami perkembangan dan perubahan. Fungsi awalnya sebagai senjata, berubah menjadi pusaka. Selain itu, keris juga merupakan lambang ikatan keluarga tanda jasa, pangkat, jabatan, barang mewah dan pelengkap pakaian adat. 

  

Kerangka Teori

  

Menurut pandangan orang Jawa, daya hidup yang dapat menggerakkan orang adalah daya kekuatan. Daya kekuatan ada dua yakni lahir dan batin. Kekuatan lahir ditunjukkan secara fisik, sedangkan kekuatan batin oleh orang Jawa disebut kasekten. Kasekten adalah kemampuan memancarkan kekuatan yang luar biasa, bukan karena kekarnya badan, tapi yang memungkinkan apa saja yang tampak tidak mungkin. Orang Jawa menganggap kasekten adalah energi yang kuat  dan dapat mengeluarkan panas, cahaya maupun kilat. 

  

Menurut Hardjo Suprapto dalam bukunya berjudul “Tosan Aji Kawawas Saka Alam Religius” mengatakan bahwa, kekuatan gaib atau kasekten bersumber pada empat kekuatan. Pertama, kekuatan ilahiyah yakni kekuatan Tuhan untuk mengatur alam. Kedua, kekuatan insaniyah yakni kekuatan yang masuk dalam tubuh manusia. Ketiga, kekuatan kosmis yakni kekuatan yang ada pada alam semesta. Keempat, kekuatan anatomis yakni kekuatan pada tulang, otot, dan kulit manusia. Kekuatan kosmis terdapat pada tosan aji yang berpamor.

  

Salah satu tosan aji adalah keris. Keris merupakan akronim dari “ke” (kekerasan) yang berarti pagar, penghalang, pengendalian, dan peringatan, serta “ris” (aris) yang berarti tenang, lambat, dan halus. Jadi, keris berarti suatu benda yang dapat memagari, menghalangi atau mengendalikan dirinya secara halus. Menurut Hamzuri dalam bukunya berjudul “Keris” menyatakan bahwa keris adalah benda bertuah atau keramat sehingga memerlukan perawatan khusus. Artinya, keris sering dianggap sebagai benda pusaka yakni karya manusia yang didasari atas perpaduan nalar dan batin yang dianggap punya kekuatan magis. 


Baca Juga : Faktor Terjadinya Integrasi Umat Islam dan Umat Kristen

  

Keris dianggap sebagai karya seni yang adi luhung, yakni memiliki dua konsep dasar, esoteri dan eksoteri. Esoteri keris adalah segi yang rahasia dalam keris atau kemampuan gaib yang terkandung dalam keris. Sedangkan, eksoteri keris adalah segi yang tampak konkrit seperti bentuk, bagian, periodisasi dan keindahan ukiran. 

  

Bentuk Fisik dan Bagian Keris

  

Secara garis besar, keris dibagi menjadi dua bagian. Bagian dalam disebut bilah keris dan bagian luar disebut warangka. Warangka atau sarung keris terdiri dari bagian atas, gandar, dan pendok. Bagian yang tidak termasuk warangka, tapi terdapat di luar keris adalah gagang keris, mendak dan selut. Sedangkan, bagian dalam keris yang dinamakan bilah terdiri dari tiga bagian yakni peksi, ganja (alas dari kedudukan keris) dan bilah yang meliputi sor-soran, bagian tengah dan ujung. 

  

Sejarah Perkembangan Keris

  

Menurut Bambang Harsrinuksmo dalam bukunya berjudul “Ensiklopedi Budaya Nasional, Keris dan Senjata Tradisional Lainnya” menyatakan bahwa budaya keris telah berkembang menjelang tahun 1000 M. Pada zaman Majapahit hampir semua pria memiliki keris. Buktinya adalah salah satu relief pada Candi Jago dari abad 13 M yang tergambar Pandawa sedang bermain dadu dan Punakawan di belakangnya tampak membawa keris. 

  

Setelah Islam berpengaruh pada kerajaan Jawa: Demak, Pajang dan Mataran, pembuatan keris semakin berkembang. Menurut legenda, salah seorang Pangeran Sedayu bernama Joko Supa diangkat sebagai empu istana Kerajaan Demak oleh Sunan Kalijaga. Hingga saat ini, ada mitos yang menceritakan bahwa tempat keramat bekas pembuatan keris berupa sumber air panas dan api alam di Desa Mrapen, yang merupakan tempat bekas Joko Supa. 

  

Makna Keris dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

  

Sebagian masyarakat Jawa masih percaya bahwa keris memiliki kekuatan magis yang diperoleh melalui doa dan berpengaruh pada pemiliknya. Keris memiliki beberapa macam kekuatan yakni daya yang menyerupai getaran, berisi makhluk halus, berisi sebagian kesaktian dari empu yang membuatnya dan Tuah yang berisi berkah Tuhan. 

  

Seiring dengan perkembangan dan perubahan sosial, fungsi keris mengalami perkembangan. Pertama, sebagai senjata pembunuh karena keris merupakan senjata pokok dalam berperang. Kedua, sebagai pusaka karena dianggap sebagai warisan nenek moyang. Ketiga, sebagai lambang atau simbol karena memberikan tanda pada sesuatu. Misalnya, simbol legitimasi jabatan, identitas masyarakat, dan falsafah. Keempat, sebagai alat perlengkapan karena dapat dijadikan sebagai pelengkap berbagai aktivitas. Kelima, sebagai benda seni karena memiliki nilai yang cukup tinggi.

  

Pengaruh Keris dalam Kehidupan Masyarakat

  

Di dalam sebilah keris terkandung nilai budaya yang sangat tinggi. Penggunaan keris sebagai pelengkap busana tradisional seperti upacara pernikahan dapat meningkatkan nilai keris dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu keris juga digunakan sebagai syarat kelengkapan sesaji. Artinya, masyarakat tidak dapat mengingkari keberadaan keris meskipun hanya bersifat simbolis.  

  

Mayoritas orang Jawa yang beragama maupun pengikut aliran kepercayaan, mereka mampu membedakan antara ajaran agama yang dianut dengan nilai yang berkembang. Misalnya, mereka tetap percaya bahwa keris adalah benda budaya peninggalan nenek moyang, namun kepercayaan ini tidak mempengarui aktivitas mereka dalam menjalankan ajaran agama. Selain itu, masyarakat percaya bahwa keris adalah pusaka yang dianggap sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta. Kekuatan keris juga dianggap mendatangkan keselamatan dan kemudahan dalam meraih apa yang dicita-citakan. Meskipun begitu, masyarakat tetap yakin bahwa semua kekuatan yang terdapat dalam keris bersumber dari Tuhan yang Maha Esa.

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar keris merupakan benda hasil budaya, keris memiliki makna yang dalam bagi kehidupan masyarakat. Sehingga, pelestarian keris juga harus diperhatikan. Selain itu, pada zaman sekarang orang yang memahami keris semakin langka. Bisa jadi karena zaman yang semakin modern dan teknologi semakin canggih, sehingga keris seakan menjadi “usang” karena diaggap hanya milik orang tua. Artinya, peran tokoh maupun sesepuh masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang keris memiliki tanggung jawab untuk “menularkannya” pada generasi muda. Hal ini dilakukan supaya mereka memiliki sikap positif dan mempertahan keberadaan keris di tengah kehidupan dan arus zaman yang semakin kencang berkembang.