(Sumber : www.youm7.com)

Kebermaknaan Kisah Qur'ani: Pandangan Para Mufasir Terkait Kisah Sapi

Daras Tafsir

Pendahuluan

  

Kisah yang terkandung dalam surah al-Baqarah ini tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar dari kita. Kisahnya sering kita dengar dalam berbagai kesempatan; pelajaran sekolah, pengajian, khotbah jumat, kenduri, selamatan, resepsi, celetukan ringan di warung kopi, dan lain sebagainya. Tetapi, pernahkah kita merenungkan ibrah berharga yang terkandung di balik kisah itu? Adakah nilai lain selain “tak terlalu banyak menanyakan tentang rincian-rincian perintah agama yang justru semakin memberatkan kita” seperti yang lumrahnya kita pahami dari sikap umat Nabi Musa itu? Pernahkah kita menyadari bahwa episode yang “semestinya” menjadi awal-mula kisah itu justru diletakkan di bagian akhir oleh Al-Qur’an, mengapa? Pada titik ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk bersama-sama memaknai kembali kisah itu.

  

Alur Kisah: Teks Al-Qur’an

  

Sebelum terlalu jauh, ada baiknya kita menelaah kembali bagaimana Al-Qur’an menguraikan episode demi episode kisah tersebut. Berikut petikan selengkapnya:

  

[67] Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu menyembelih (seekor) sapi.” Mereka berkata: “Apakah engkau hendak menjadikan kami bahan olok-olokan?” Dia (Nabi Musa AS) menjawab: “Aku berlindung kepada Allah supaya tidak menjadi salah seorang dari orang-orang jahil (bodoh).” [68] Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhan Pemeliharamu untuk kami supaya Dia menerangkan kepada kami, sapi apakah itu?\" Dia (Nabi Musa AS) menjawab: “Sesungguhnya Dia berfirman bahwa (sapi itu) adalah sapi yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan di antara yang demikian itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan (kepada kamu).”

  

[69] Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhan Pemeliharamu untuk kami supaya Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” Dia (Nabi Musa AS) menjawab: “Sesungguhnya Dia berfirman bahwa ia adalah sapi yang kuning, yang kuning tua warnanya, (lagi) menyenangkan orang-orang yang memandang-(nya).” [70] Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhan Pemeliharamu untuk kami supaya Dia menerangkan kepada kami bagaimana sapi itu, (karena) sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah benar-benar akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” [71] Dia (Nabi Musa AS) berkata: “Sesungguhnya Dia berfirman bahwa sapi itu adalah (sapi) yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak (pula) untuk mengairi tanaman, tidak ada aib dan tidak (pula) ada belangnya.” Mereka berkata: “Sekarang (barulah) engkau menerangkan (sapi) yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan (perintah itu).

  

[72] Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling menuduh tentang (siapa pembunuhnya). Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang (selama ini) kamu sembunyikan. [73] Maka, Kami berfirman: “Pukullah (mayat) itu dengan sebagiannya (anggota badan sapi)!” Demikianlah Allah menghidupkan yang mati dan memperlihatkan kepada kamu ayat-ayat (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan)-Nya supaya kamu berpikir.

  

Pandangan Para Mufasir Terkait Alur Kisah


Baca Juga : Riuh Rendah Pilihan Presiden 2024 dalam Media Sosial

  

Jika Anda jeli, Anda akan dengan cepat menyadari bahwa ada yang “aneh” dari runtutan kisah di atas. Sebagaimana terbaca, petikan terjemah ayat ke-72 “semestinya” diletakkan sebelum ayat ke-67, lalu setelah ayat ke-71 langsung disusul oleh ayat ke-73. Bila demikian, maka alurnya “lebih” terbaca jelas. Jadi, ada seseorang yang diam-diam telah melakukan pembunuhan. Masyarakat resah dan gaduh karena si pembunuh tak mau mengaku. Mereka pun saling tuduh-menuduh. Kemudian mereka meminta Nabi Musa untuk berdoa kepada Allah, memohon petunjuk terkait siapa pelakunya. Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa bahwa Dia memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi sebagai solusinya. Dan seterusnya.

  

Tetapi sekali lagi, mengapa episode awal itu diletakkan di bagian akhir oleh Al-Qur’an? Ibrah apa yang hendak disampaikan oleh Al-Qur’an dalam mendahulukan perintah menyembelih sapi dan mengakhirkan latar belakang penyembelihannya?

  

Nah terkait hal ini, para mufasir memberikan jawaban yang berbeda-beda. Menurut Habib Quraish Shihab, hal itu mungkin disebabkan konteks kelompok ayat tersebut adalah gambaran tentang sikap batin dan keculasan orang-orang Yahudi. Sedangkan hal tersebut lebih jelas bila kisah sapi dikemukakan terlebih dahulu. Beliau mengutip penjelasan Ibrahim al-Biqa‘i (w. 885 H/1480 M) yang menerangkan dua sisi nikmat ilahi yang terkandung dalam kisah sapi. Pertama, nikmat pemaafan atas sikap penundaan pelaksanaan perintah. Kedua, nikmat penjelasan tentang siapa pembunuhnya. Dua nikmat ini pada gilirannya untuk menggaribawahi bahwa mereka dikecam dengan dua kecaman. Pertama, sikap tidak sopan dalam tuduh-menuduh dan pelecehan serta penundaan pelaksanaan perintah Allah. Kedua, pembunuhan yang terjadi dan implikasi-implikasinya. Walhasil, jika episode demi episode disusun sesuai alur kisah, maka tujuan tersebut tidak tercapai sehingga didahulukanlah kisap sapi—bukan latar belakang penyembelihannya—yang sejalan dengan kisah pelanggaran di hari Sabtu. (Patut dicatat, sebelum kisah sapi, Al-Qur’an menguraikan pelanggaran Bani Isra’il terhadap ketentuan di hari Sabtu, tepatnya pada ayat ke-65-66)

  

Al-Syaikh Mutawalli al-Sya‘rawi (w. 1419 H/1998 M) berpendapat lain yang lebih kurang bisa dideskripsikan sebagai berikut. Menanyakan sebab (atau latar belakang) suatu perintah itu berarti perintah tersebut berasal dari seseorang yang “setara” dengan Anda. Misalnya, jika ada seseorang berkata kepada Anda, “Lakukanlah ini,” maka Anda pun bertanya kepadanya, “Mengapa dan atas alasan apa saya menaati dan melaksanakan perintahmu?” Jadi, perintah dari seseorang yang “setara” dengan Anda lah yang Anda tanyakan sebab atau alasan perintahnya. Berbeda halnya dengan perintah dari seseorang yang tidak “setara”, seperti perintah ayah kepada anaknya, dokter kepada pasiennya dan komandan kepada pasukannya. Perintah jenis ini tidak (wajar) dipertanyakan sebabnya sebelum melaksanakannya terlebih dahulu, karena yang memerintah lebih tinggi kedudukannya dan lebih paham persoalan (ahkam) daripada yang diperintah. Di sinilah letak rahasia di balik pengakhiran episode latar belakang kisah sapi. Tegasnya, perintah penyembelihan sapi adalah bersumber dari Allah SWT sehingga tidak wajar dipertanyakan sebabnya. Seandainya setiap mukallaf menanyakan alasan atau rahasia perintah Allah terlebih dahulu sebelum melaksanakannya, niscaya pada hakikatnya ia melaksanakan perintah karena rahasia yang melatarbelakanginya, bukan karena Allah. Seolah-olah tujuan ia melaksanakan perintah adalah rahasia atau alasan itu. Jika demikian halnya, maka hilanglah nilai keimanan, tidak ada bedanya antara yang beriman dengan yang tidak beriman, dan tidak ada pahala yang ia peroleh dari Allah dari pelaksanaan perintah-Nya.

  

Sesungguhnya keimanan itu, masih melansir penjelasan al-Sya‘rawi, menjadikan orang mukmin menerima perintah Allah dengan penuh ketaatan, baik mengetahui alasan di balik perintah tersebut atau tidak. Ia pun bergegas melaksanakannya karena perintah tersebut bersumber dari Allah SWT. Dengan demikian, alasan keharusan (‘illat) melaksanakan segala macam taklif adalah iman kepada Allah SWT. Oleh karenanya, Allah SWT memulai setiap taklif yang Dia bebankan kepada hamba-Nya dengan berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman (Ya ayyuhalladzina amanu).” Yakni, “Wahai engkau yang mengimani Allah sebagai Tuhan Pemelihara dan Tuhan Pencipta (rabban wa ilahan wa khaliqan), ambillah perintah ini dari Allah dan laksanakanlah, karena sesungguhnya engkau telah beriman kepada Dzat yang memerintahkanmu.”

  

Pendapat lain dikemukakan oleh Thahir Ibn ‘Asyur (w. 1393 H/1973 M). Beliau tidak setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa ayat ke-67 hingga 73 di atas merupakan satu kisah. Menurutnya, delapan ayat tersebut mengandung dua kisah yang berbeda. Kisah pertama dimulai dari ayat 67 sampai 71, dan kisah kedua dimulai dari ayat 72 sampai 73. Salah satu buktinya adalah masing-masing dimulai dengan kata idz yang mengandung perintah mengingat. Beliau kemudian menjelaskan secara detail masing-masing kisah tersebut. Pendek kata, ide pokok yang melandasi pandangan beliau adalah keterkaitan dua kisah tersebut yang disimpulkan tanpa diperinci lebih lanjut oleh Al-Qur’an. Hal ini mengingat memang kebiasaan Al-Qur’an ialah tidak memerinci kisah; yang diuraikannya hanya bagian-bagian penting yang mengandung pengajaran. Kisah pertama merupakan ajaran agama sekaligus pemaparan sikap orang-orang Yahudi ketika menerima tuntunan, sedangkan kisah kedua merupakan nikmat dan anugerah Allah dalam bentuk pemaparan mukjizat Nabi Musa AS agar iman mereka lebih kuat. Oleh karan itu, kisah kedua ditutup dengan kalimat, “Dan menunjukkan kepada kamu tanda-tanda (kekuasaan-Nya) agar kamu berakal.”

  

Penutup

  


Baca Juga : Belajar Moderasi Beragama Bersama Mahasiswa UIN SUKA Yogyakarta

Sejauh ini, ibrah apa yang bisa kita petik dari narasi di atas? Pertama, baik pendapat Habib Quraish Shihab, Ibrahim al-Biqa‘i, al-Sya‘rawi maupun Ibn ‘Asyur, semuanya menunjukkan betapa hebatnya bahasa Al-Qur’an. Pendahuluan dan pengakhiran episode dalam sebuah kisah bukan tanpa alasan, tetapi mengandung hikmah yang tersembunyi. Hikmah tersebut mereka temukan pasca pembacaan dan perenungan yang mendalam. Ini pada gilirannya mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menilai Al-Qur’an sebagai bacaan yang tidak teratur, khususnya saat menemui serangkaian ayat dengan topik yang berbeda-beda, sebagaimana klaim sementara orientalis. Bahwa koherensi Al-Qur’an dan konektifitas ayat-ayatnya dapat kita pahami selama dibarengi dengan keimanan dan perenungan yang tulus dan mendalam. “Untuk mengantarkanmu mengetahui rahasia ayat-ayat Al-Qur’an, tidaklah cukup kau membacanya empat kali sehari,” demikian pesan Al-Maududi, ulama kenamaan asal Pakistan, yang dikutip oleh Habib Quraish dalam bukunya, Membumikan Al-Qur’an.

  

Kedua, baik penjelasan Habib Quraish Shihab, Ibrahim al-Biqa‘i, al-Sya‘rawi, maupun Ibn ‘Asyur, sudah semestinya kita jadikan sebagai bahan muhasabah (introspeksi). Sikap batin dan keculasan orang-orang Yahudi seperti yang tergambar dalam kisah sapi di atas misalnya, mendorong kita untuk menjernihkan batin dari sifat-sifat serupa, dan tidak menunda pelaksanaan apalagi melecehkan perintah Allah. Demikian pula rahasia pengakhiran latar belakang kisah sapi, mengingatkan kita untuk taslim dan taat kepada perintah-perintah Allah tanpa syarat. Boleh-boleh saja kita menanyakan rahasia di balik perintah dan larangan Allah, seperti salat, puasa, zakat, haji, wudu, tayamum, khamar, anjing, babi dan lain sebagainya; tetapi pada saat yang sama, kita mesti menyadari bahwa bukan hikmah atau rahasia yang tersimpan di balik perintah dan larangan itu yang mendorong kita taat kepada-Nya. Satu-satunya “alasan” pelaksanaan taklif adalah karena ia bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Ia sangat wajar untuk ditaati tanpa syarat karena bersumber dari Dzat yang menciptakan kita, meng-ada-kan kita setelah sebelumnya tiada, meski tentu saja pada tataran praktisnya kita memerlukan penjelasan dan bimbingan lebih lanjut dari para ulama tepercaya. Di sisi lain, banyaknya pertanyaan yang bukan pada tempatnya seperti yang terlukis pada kisah sapi di atas, menunjukkan betapa dangkalnya pemahaman terhadap agama. Hal ini di samping mengingatkan kita untuk tidak berlaku serupa (yakni banyak bertanya yang bukan pada tempatnya), juga memotivasi kita untuk terus mendalami tuntunan-tuntunan agama karena sikap tersebut seringkali lahir dari kebodohan. Dari sini sudah sepatutnya bila di sela-sela padatnya aktivitas sehari-hari, kita senantiasa menyempatkan waktu luang untuk mengaji, menelaah, dan mempelajari tuntunan-tuntunan agama melalui kajian-kajian rutin, baik luring ataupun daring yang diasuh oleh tokoh-tokoh berkompeten dalam ilmu-ilmu agama.

  

Daftar Rujukan

  

M. Quraish Shihab, Al-Qur’an dan Maknanya (Tangerang: Lentera Hati, 2013), 10-11.

  

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, Vol. 1 (Tangerang: Lentera Hati, 2017), 271-273.

  

M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 2013), 20.

  

Burhanuddin Abi al-Hasan Ibrahim Ibn ‘Umar al-Biqa‘i, Nazm al-Durar fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar, Vol. 1 (Kairo: Dar al-Kitab al-Islami, t.t.), 474.

  

Muhammad Mutawalli al-Sya‘rawi, Tafsir al-Sya‘rawi (Kairo: Akhbar al-Yaum, 1991), 388-389.

  

Muhammad al-Thahir Ibn ‘Asyur, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir, Vol. 1 (Tunisia: al-Dar al-Tunisiyah li al-Nasyr, 1984), 546-547, 559-560.