Damar Kurung Gresik: Lentera Ramadan yang Menyimpan Ribuan Cerita dalam Lukisan
InformasiEva Putriya Hasanah
Kalau berkunjung ke Gresik, Jawa Timur, saat Ramadhan, jangan kaget melihat lentera-lentera unik bergantung di depan rumah atau masjid. Bukan sekadar hiasan biasa, itu adalah Damar Kurung—lampion tradisional yang jadi simbol keceriaan bulan puasa sekaligus “buku cerita” visual warisan leluhur. Tradisi ini mungkin terlihat sederhana, tapi di balik kertas dan bambunya tersimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, agama, dan seni yang membuat kita semakin jatuh cinta pada budaya lokal. Yuk, kenalan lebih dekat!
Bukan Sekadar Lentera Biasa, Ini Karya Seni yang Jadi Media Dongeng
Bayangkan lentera berbentuk kubus atau persegi panjang, dengan rangka bambu dan kertas minyak sebagai “kanvas”. Di setiap sisinya, terdapat lukisan berwarna-warni yang menggambarkan aktivitas sehari-hari: orang berjualan di pasar, anak-anak bermain layangan, keluarga berbuka puasa bersama, atau orang salat tarawih di masjid. Nah, itu dia Damar Kurung!
Uniknya, setiap gambar bukan sekedar estetika, tapi juga punya makna simbolis. Misalnya, lukisan bulan sabit dan bintang melambangkan Ramadhan, pohon kelapa sebagai harapan kemakmuran, atau burung merak yang melambangkan keindahan. Dulu, sebelum ada televisi atau media sosial, Damar Kurung jadi cara masyarakat Gresik “bercerita” tentang nilai-nilai agama, budaya, dan kearifan lokal. Bisa dibilang, ini seperti Instagram Story-nya zaman dulu!
Dari Zaman Sunan Giri hingga Generasi Kekinian: Sejarah yang Panjang
Damar Kurung sudah ada sejak abad ke-16, tepatnya era penyebaran Islam di Jawa oleh Sunan Giri. Konon, lentera ini awalnya digunakan untuk akhirnya jalan menuju masjid saat tarawih. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai menambahkan lukisan sebagai sarana dakwah yang kreatif.
Di era 1900-an, seniman bernama Masmundari (1904–2015) berperan besar memopulerkan Damar Kurung. Perempuan tangguh ini melukis ribuan Damar Kurung dengan tangan sendiri, meski usianya sudah lebih dari 100 tahun! Karyanya bahkan dipamerkan di galeri nasional. Sayangnya, setelah Masmundari wafat, hanya segelintir pengrajin—termasuk anaknya—yang meneruskan tradisi ini.
Baca Juga : Dakwah Bil Hal dan Pengembangan Masyarakat Pesisir
Proses Bikinnya Rumit, Tapi Hasilnya Bikin Kagum
Bikin Damar Kurung gak salah beli lampion di toko online. Pertama, rangka bambu harus dibentuk manual dengan aman khusus agar kuat. Selanjutnya, kertas minyak a lilin (malam) agar tahan air dan lebih temaram saat diterangi lampu.
Nah, bagian paling menantang adalah melukis! Pengrajin menggunakan kuas kecil dan cat air untuk membuat ratusan detail di atas kertas. Butuh kesabaran ekstra, apalagi motifnya harus proporsional di setiap sisinya. Prosesnya bisa makan waktu 3-7 hari, tergantung kerumitan gambar. Nggak heran harganya bisa mencapai ratusan ribu rupiah per buah.
Ramadan di Gresik Makin Syahdu dengan Cahaya Damar Kurung
Selama Ramadhan, Damar Kurung dipasang di rumah-rumah, jalanan, atau tempat ibadah. Saat malam, cahayanya yang hangat langsung membuat suasana terasa magis. Bagi warga Gresik, tradisi ini bukan Cuma soal estetika, tapi juga pengingat untuk memperbanyak ibadah dan menjaga silaturahmi.
Biasanya, Damar Kurung juga menjadi “objek wisata” lokal. Anak-anak suka berkumpul di bawah sambil menunggu bedug magrib. Sementara orang dewasa menjadi bahan refleksi: “Apa kabar niat puasa kita hari ini?” atau “Sudahkah kita berbuat baik seperti dalam lukisan ini?”
Jaga Warisan, Jaga Identitas
Baca Juga : Tradisi Islam di Tengah Gerakan Dakwah Salafi-Wahabi di Indonesia
Damar Kurung Gresik adalah bukti bahwa tradisi tidak harus punah hanya karena zaman berubah. Justru, inilah momen untuk berinovasi tanpa menghilangkan esensinya. Dengan melestarikan Damar Kurung, kita bukan hanya menyimpan lentera, tapi juga merawat ribuan cerita, nilai, dan identitas budaya yang sudah turun-temurun.
Jadi, kalau kamu punya ke Gresik, jangan lupa cari lentera lukis ini. Siapa tahu, di balik cahayanya yang redup, kamu menemukan inspirasi baru untuk mencintai budaya itu sendiri.

