(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Fenomenologi Sebagai Metode Penelitian Sosiologi (3)

Kelas Metode Penelitian

Oleh: Dr. Abdul Main, M. Hum.

Widyaiswara BDK Surabaya

  

Penelitian fenomenologis pada dasarnya berprinsip a priori. Artinya bahwa peneliti sudah memiliki kesadaran dalam dirinya mengenai realitas yang diamati. Karenanya peneliti berangkat dari perspektif filsafat, mengenai apa yang diamati dan bagaimana cara mengamatinya. Adapun premis-premis dasar yang digunakan dalam penelitian fenomenologis adalah sebagai berikut: (1) sebuah peristiwa akan berarti bagi mereka yang mengalaminya secara langsung; (2) pemahaman objektif dimediasi oleh pengamatan subjektif; (3) pengalaman manusia terdapat dalam struktur pengalaman itu sendiri, tidak dikonstruksi oleh peneliti (Koeswara, 2009: 58).

  

1. Tahap Perencanaan Penelitian

  

Perencanaan penelitian diawali dari penyusunan proposal penelitian yang menggambarkan adanya latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, signifikansi penelitian, konseptualisasi, paradigma penelitian, dan metode peneltiain. Dalam rangka itu, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh: 

  

a. Membuat daftar pertanyaan, menurut  Moustakas (1984) dalam Creswell, harus memenuhi syarat berikut: (1) struktur makna yang mungkin dari peristiwa yang diamati; (2) tema-tema dan konteks yang bermakna dari peristiwa yang diamati; (3) struktur universal mengenai perasaan dan pemahaman informan terhadap peristiwa; (4) tema-tema struktur invariant (unit-unit makna) yang memfasilitasi penjelasan peristiwa.

  

b. Menjelaskan latar belakang penelitian yang menggambarkan ketertarikan peneliti pada permasalahnan penelitian agar peneliti lebih fokus pada inti penelitian dan tidak bias.

   

c. Memilih informan yang tepat, yaitu yang: (1) terlibat langsung dengan fenomena yang diteliti; (2)  mampu menggambarkan kembali fenomena yang dialaminya; (3) bersedia diwawancarai dan terlibat dalam proses penelitian; (4) menyetujui makna-makna instersubjektif atas fenomena yang disusun peneliti.


Baca Juga : Para Pemimpin Haus Darah: Trump dan Netanyahu

  

d. Telaah dokumen, yang menurut Cooper (1989) ada empat cara: (1) tinjauan integratif, yaitu tinjauan literatur yang berhubungan dengan topik penelitian; (2) tinjauan teori; (3) tinjuauan metodologi; dan (4) tinjauan tematik, yaitu tinjauan terhadap tema-tema inti tentang fenomenologi yang pernah ada sebelumnya.

  

2. Metode Pengumpulan Data

  

Metode pengumpulan data dalam penelitian fenomenologi berfokus pada interview mendalam (in-depth interviews) dan narasi (narratives) sebagai metode-metode kunci untuk membuat deskripsi dari pengalaman-pengalaman yang dilalui dalam hidup. Selain mendeskripsikan lefeworld, juga penting untuk mengumpulkan data melalui metode dokumentasi (documentary methods) atau metode visual (visual methods). Apa pun metode pengumpulan data yang digunakan, peneliti fenomenologi menjadi seorang mediator antara pendapat (voices) dan pengalaman informan serta masyarakat luas yang terlibat (Bloor & Wood, 2006: 128).

  

Kegiatan pengumpulan data yang utama pada penelitian fenomenologi adalah wawancara mendalam atau wawancara kualitatif. Karena dengan metode inilah esensi dari fenomena yang diamati dapat diceritakan dari sudut pandang orang pertama (orang yang mengalaminya langsung). Menurut Creswell (2007), teknik pengumplan data dalam penelitian femomenologi adalah: (a) wawancara mendalam; (b) refleksi diri; dan (3) gambaran realitas di luar konteks penelitian. 

  

Wawancara pada penelitian fenomenologi biasanya dilakukan secara informal, interaktif, dan melalui pertanyaan dan jawaban yang terbuka. Walaupun pada awalnya peneliti sudah mempersiapkan daftar pertanyaan, pada pelaksanaannya tidak kaku mengikuti daftar pertanyaan yang telah dibuat sehingga wawancara mengalir sesuai dengan respon dan jawaban subjek. Hal terpenting dalam wawancara adalah dapat menggali data sedalam-dalamnya.

  

Beberapa jenis pertanyaan yang akan membantu memberikan penjelasan fenomenologis adalah: (1) peristiwa apa dan siapa aktor yang terlibat; (2) bagaimana peristiwa itu memengaruhi subjek; (3) bagaimana peristiwa yang dialami subjek memengaruhi orang lain di sekitarnya; (4) apa perasaan yang muncul dalam peristiwa itu; (5) apa yang dipikirkan subjek dengan peristiwa yang dialaminya; (6) apa perubahan dan keadaan yang diingat subjek ketika mengalami peristiwa itu?

  

3. Tahap Analisis Data

  


Baca Juga : Trilogi Ukhuwah Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Di kalangan para ahli metode fenomenologi terdapat beberapa varian dalam tahap analisis data. Creswell (2007: 77-78) mengidentifikasi dua di antaranya, yaitu metode yang digunakan Polkinghorne (1989) dan Moustakas (1994). Adapaun metode Moustakas dapat diekstraksi (diperas) dan diperjelas dalam alur sebagai beriktu:

  

Berdasarkan flow chart 1 di atas, alur kerja analisis data dapat dijelaskan sebagai berikut:

  

a. Data-data yang sudah terkumpul dikelompokkan sesuai dengan sub-sub tema penelitian atau sesuai permasalahan yang telah dirumuskan. Pada tahap ini peneliti membuat daftar pertanyaan berikut jawaban yang relevan dengan permasalahan yang diteliti.

  

b. Reduksi dan eliminasi data. Pada tahap ini peneliti menguji data dengan cara epoche, yaitu mengosongkan tendensi untuk tidak ‘asal’ memeroleh data sebanyak-banyaknya, tetapi harus selektif memilih data yang benar-benar sesuai dengan fenomena yang dibidik, sehingga data yang tidak penting akan dikurung dulu masuk bracketing; sedangkan data yang penting akan diproses lebih lanjut.

  

c. Memberi tema-tema data yang sudah mulai nampak eidos-nya, yaitu invariant constitute yang tersisa dari proses eliminasi data untuk selanjutnya ditematisasi (dinamai) sesuai dengan pokok permasalahan penelitian.

  

d. Identifikasi data, yaitu memilah data yang telah memiliki eidos-eidos untuk divalidasi. Apakah data yang telah nampak eidos-nya dinyatakan secara eksplisit oleh subjek? Dan apakah cocok dengan permasalahan penelitian dan tematisasi/penamaan data sebelumnya? Jika terdapat data- yang tumpang tindih dan tidak cocok dengan permasalahan penelitian maka akan dikurung dulu di bracketing; sedangkan data yang cocok akan diproses lebih lanjut. 

  

e. Mengonstruk deskripsi tekstural dari masing-masing informan; yaitu membahasakan ulang tanpa mengurangi esensi dari apa yang telah dinyatakan oleh subjek. Data hasil deskripsi tekstural tersebut kemudian dipilah lagi, apakah berguna bagi penelitian selanjutnya; jika tidak berguna maka di-einklamerung masuk bracketing; sedangkan data yang berguna akan diproses labih lanjut.

  

f. Membuat deskripsi struktural, yaitu menggabungkan deskripsi tekstural dengan data-data yang diperoleh dari mengintuisi fenomena melalui reduksi transendental. Maka sampailah peneliti kepada kesadaran transendental, di mana telah nampak terang data dari fenomena dan cocok dengan permasalahan penelitian.


Baca Juga : Hansen : Cumlaude Dengan Analisis Kuantitatif Tentang Bank Syariah

  

g. Membuat sintesa data dan menjawab semua permasalahan penelitian, yaitu merekonstruksi makna-makna dan esensi-esensi fenomena yang merepresentasikan semua permasalahan penelitian.

  

4. Teknik Validasi Data

  

Pada dasarnya tidak ada satu teknik tunggal yang disepakati para penulis metode fenomenologi. Tetapi secara prinsipil berbagai teknik yang ada menunjukkan kesamaan tujuan, bahwa validasi data bertujuan untuk mencapai data yang terjaga kevalidan dan keandalannya supaya hasil penelitian dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena lain yang serupa. Berikut adalah teknik validasi data dalam penelitian fenomenologi:

  

Berdasarkan flow chart 2 di atas, proses validasi data dapat dijelaskan sebagai berikut:

  

a. Peneliti pertama-tama harus melakukan refleksi terhadap makna-makna yang ditangkap dari fenomena yang telah disintesa. Pada langkah ini boleh jadi peneliti harus tetap melakukan reduksi transendental bersamaan proses sintesa data. Jika dalam proses sintesa terdapat unsur emosi peneliti, yang berarti bahwa fenomena yang dideskripsikan tidak ’Wessen’, maka mengulangi refleksi lagi sampai ditemukan hasil sintesa yang benar-benar maknawi yang hakiki dari fenomena. Sebaliknya, jika proses refleksi telah menemukan ’meaning’ yang maknawi dan hakiki maka dapat dilanjutkan ke proses berikutnya.

  

b. Meminta pendapat dari kolega atau peneliti lain (peer reviewer) yang konsen terhadap permasalahan penelitian, kepada dosen, dan kepada informan untuk memperolah kemantapan bahwa makna-makna yang telah dikonstruksi peneliti adalah benar.

  

c. Analisis rasional, yaitu menelaah apakah deskripsi fenomenologis dari makna-makna intersubjektif secara keseluruhan sudah logis atau belum. Jika belum logis maka dilakukan analisis rasional ulang sampai diperoleh deskripsi fenomenologis yang ’fixed’,  sebaliknya jika deskripsi makna-makna fenomenologis sudah logis maka disusunlah rumusan implikasi teoritik. 

  

Demikianlah prosedur dan tahapan-tahapan dalam penelitian fenomenologis. Secara umum prinsip-prinisp metodologis-fenomenologis telah memberikan landasan komprehensif tentang cara menggapai kebenaran fenomena. Tidak ada claim kebenaran tunggal tentang cara menggapai kebenaran fenomana. Yang ada malah perbedaan. Perbedaan, sejauh menyangkut ’cara, metode, dan paradigma’ adalah sah. Justru di sinilah pangkal tolak perdebatan ilmuwan sepanjang zaman: sejak awali hingga kini; mulai dari ilmuwan yang mendewakan ’positivisme’ sampai yang ’naturalisme-konstruktivisme’; dari mereka yang menjunjung tinggi metode kuantitatif sampai yang kualitatif. Dalam cara berpikir paradigmatik, perbedaan adalah niscaya, sama niscayanya dengan kebenaran fenomena itu sendiri.