(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Jalan Menuju Perdamaian Global

Riset Agama

Artikel berjudul “Fethullah Gulen: Interfaith Dialogue as a Way to the Global Peace” merupakan karya Ahmad Sunawari Long, Mohd Hatib Ismail, dan Zul’azmi Yaakob. Tulisan ini terbit di International Journal of Islamic Thought tahun 2022. Tujuan dari penelitian ini adalah memperdalam pemikiran Fethullah Gulen mengenai dialog peradaban yang banyak diadopsi oleh banyak orang untuk mendirikan organisasi dan melakukan tujuan yang sama yakni berusaha saling mengerti, saling berempati, hidup berdampingan secara damai dan kerja sama. Terdapat empat sub bab dalam review ini. Pertama, Fethullah Gulen. Kedua, dasar dialog antaragama. Ketiga, tantangan dalam dialog antaragama, Keempat, pendekatan dalam dialogantaragama.

  

Fethullah Gulen 

  

Hal utama yang dituliskan oleh peneliti adalah gambaran mengenai sosok Gulen. Mengenali Gulen memang penting, sebelum melangkah lebih jauh tentang pemikirannya. Pembaca akan disuguhkan dengan perkenalan singkat namun cukup lengkapan dan relevan guna mengetahui siapa sebenarnya sosok Gulen dan bagaimana latar belakangnya. 

  

 Muhammad Fethullah Gulen lahir pada 27 April 1941 di Desa Krucuk, Disktrik Erzurum, Anatolia Timur Turki. Ia merupakan anak ke empat dari enam bersaudara, pasangan Ramiz Gulen dan Rafiah Hanim. Keluarga Gulen adalah orang terkemuka dan berpengaruh dalam keilmuan Islam. Berawal dari kakeknya yang sangat disegani karena ilmunya, begitu juga sang ayah adalah seorang ulama berkepribadian baik. Ibu Gulen adalah seorang guru al-Qur’an untuk anak-anak dan perempuan setempat. Ia dikenal sebagai sosok yang baik dan sopan. Keluarga Gulen memegang teguh ajaran Islam. Rumah mereka dijadikan tempat berkumpulnya para ulama setempat untuk diskusi seputar Islam. 

  

Sampai saat ini, Fethullah Gulen belum menikah. Ia telah menempatkan prioritasnya untuk mengabdi pada dunia ilmu dan umat. Selain itu, ia sangat prihatin dengan situasi umat Islam saat ini. Akhirnya, ia memberikan komitmen penuh bahwa dirinya adalah seorang “bapak bangsa.” “Penderitaan umat Islam lebih dari sekadar itu, saya belum menemukan waktu untuk memikirkan diri saya sendiri.” Itulah pernyataan yang selalu ditegaskan oleh Gulen, jika menyinggung perihal pernikahan. 

  

Fethullah Gulen dituduh sebagai pendiri organisasi teroris bernama FETO. Selain itu, ia juga dituduh merendahkan citra Islam ketika mengkritik keyakinan sekelompok muslim sebagai dogmatis dan fundamentalis. Gulen dianggap pro-Yahudi dan pro-Amerika karena ia dianggap diam atas apa yang dilakukan Israel terhadap Palestina, tapi ia vokal dalam mengkritik muslim yang melakukan kegiatan teroris. Bahkan, ia dituduh pemerintah Turki Erdogan sebagai dalang percobaan kudeta 16 Juli 2016. Namun, terlepas dari kontroversinya, ia adalah sosok yang kredibel dalam mempromosikan perdamaian global. Segala karya yang ia hasilkan tidak menunjukkan bahwa ia mengorganisir kegiatan kekerasan atau permusuhan terhadap agama lain. ia adalah sosok yang sukses dan berpengaruh di dalam maupun luar Turki. Gulen berhasil membawa dimensi baru ajaran sufi dan praktuk keagamaan yang lebih praktis dan mudah diterima oleh masyarakat. Nilai-nilai perdamaian global yang melekat dalam ajaran Islam melalui jalan sufi yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan selalu ia promosikan. Fethullah Gulen sianggap sebagai sosok yang berhasil membawa nilai-nilai tasawuf dan kehidupan sufi ke dunia global. 

  

Dasar Dialog Antaragama 

  

Gagasan Gulen tertuang dalam beberapa karyanya seperti Dialogue Is a Must (2003), Jews and Christians in the Qur\'an (2003) Turkish Experience of Muslim-Christian Dialogue: Past and Present (2004), Tolerance and Dialogue in the Perspective of the Qur\'an and Sunna (2006), Love, Compassion, Tolerance, and Forgiving: The Pillars of Dialogue (2006), How to Interact with Followers of Other Religions (2006), Islam\'s Ecumenical Call for Dialogue (2006), Dialogue with the People of the Book (Jews and Christians) (2006) dan Towards a Globalization of Love & Tolerance (2012). 


Baca Juga : Sebuah Kajian dalam Perspektif Tafsir: Ayat-Ayat Gelisah

  

Dialog antar agama adalah orang-orang dari berbagai agama yang saling menghormati dan menghargai , sehingga memungkinkan mereka untuk hidup  dan bekerja sama terlepas dari perbedaan mereka. Secara akademis ada tiga macam dialog antaragama yakni 1) dialog antara para intelektual tinggi yang berbeda agama; 2) dialog di tingkat dasar atau di antara orang-orang biasa; 3) dialog masalah bersama di mana orang-orang dari latar belakang agama berbeda yang berkumpul untuk mengatasi masalah-masalah konkret lokal yang spesifik seperti perihal lingkungan, perdamaian, kemiskinan, dan lain sebagainya.

  

Gulen telah mengidentifikasi dan mempraktikkan ketiga dialog tersebut untuk mempromosikan perdamaian global. Ia mempromosikan dialog antaragama baik dalam bentuk tertulis maupun praktis. Selain itu, ia juga mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dalam pemikiran filsafatnya. 

  

Fethullah Gulen menjelaskan bahwa ada empat landasan dalam dialog antaragama. Pertama adalah cinta. Ia menganggap bahwa dialog antaragama adalah ekspresi cinta yang diilhami Tuhan. Cinta berada dalam tindakan praktis dan tataran hubungan antar komunitas dan antaragama. Hal ini diungkapkan dalam keterlibatan dialogis bahwa “dialog adalah obat untuk terror, kekacauan, dan intoleransi. 

  

Kedua, kasih sayang. Secara alamiah, manusia akan memiliki sifat kasih sayang terhadap sesamanya. Biasanya, sifat ini akan diwujudkan dalam perbuatan. Jika kasih sayang diikutsertakan dalam segala keputusan, maka harmoni akan mudah dicapai. 

  

Ketiga, aspek toleransi di mana segala sesuatunya berdasarkan kesepakatan dan persatuan. Melalui toleransi, manusia akan saling memaafan, menghargai gagasan satu sama lain, dan bersikap lemah lembut. Kelembutan adalah cara terbaik untuk menyentuh hati dan lebih mudah dekat dengan orang lain melalui tindakan yang penuh kasih. Gulen menekankan toleransi dengan isyarat saling menerima antar agama dan keragaman budaya sesuai dengan perspektif Islam. 

  

Keempat, aspek pengampunan yang dianggap sebagai nilai terbesar dalam hal kebaikan. Memaafkan memang sepertinya mudah, namun sulit untuk dipraktikkan. Menurut Gulen, memaafkan seseorang adalah kebaikan yang jauh lebih besar daripada mereka yang meminta maaf dan pengampunan. “Melakukan kesalahan adalah manusiawi, memaafkan adalah sifat Ilahi.”

  

Tantangan dalam Dialog Antaragama

  


Baca Juga : Menghalau Radikalisme di Media Sosial

Fethullah Gulen mengidentifikasi adanya beberapa tantangan dalam dialog antarberagama. Pertama, faktor sejarah di mana baik muslim maupun non-muslim memiliki hubungan masa lalu yang kelam. Umat Islam masih dihantui oleh peristiwa masa lalu, seperti Perang Salib di mana perselisihan teologis antara kedua belah pihak terjadi. Sejarah digunakan oleh media barat sebagai kesempatan untuk menjatuhkan Islam. Sebaliknya, hal tersebut justru menimbulkan pandangan negatif terhadap barat yang dianggap sebagai musuh yang terus menindas kaum muslim secara ekonomi dan politik.

  

Kedua, jatuhnya Kerajaan Turki Utsmani yang masih menjadi kenangan buruk dalam sejarah Islam. Lebih jauh lagi, Barat sudah berhasil menerapkan ideologinya guna mengubah lanskap gaya dan pemikiran umat Islam. Meskipun kisah jatuhnya Islam telah berlalu dan tidak ada penjajahan fisik, kecurigaan terhadap Barat tetap ada. Selain itu, gelombang kebencian terhadap Islam semakin meningkat pasca peristiwa 9/11. 

  

Ketiga, adanya kontradiksi dua pihak dalam melihat Islam. Pihak pertama melihat Islam sebagai ideologi politik dinamis yang menerima kebebasan. Kebebasan ini kemudian terus berubah menjadi ideologi independent yang terlihat memisahkan doktrin agama dari nilai kehidupan. Pihak lain melihat umat Islam condong ekstrem dan menolak konsep toleransi. Kontradiksi kedua belah pihak ini akan menghalangi Barat untuk memahami Islam dan melibatkan diri dalam dialog antaragama. 

  

Keempat, Islam dituduh sebagai agama baru dan menyimpang dari agama yang benar yakni Yudaisme dan Kristen. Selain itu, Nabi Muhammad SAW dituduh sebagai nabi palsu, manusia biasa, penipu yang cerdik, anti-Kristen atau pujaan umat Islam. Secara teoretis dan praktis, sejarah dunia mencatat hubungan yang baik dengan bangsa Yahudi. Bahkan, ketika orang-orang Yahudi diasingkan dari Andalusia, mereka diberikan suaka oleh Pemerintah Ottoman. 

  

Solusi atas keempat tantangan tersebut menurut Gulen adalah penekanan akan pentingnya melupakan dendam atas luka masa lalu, mengabaikan polemik, dan menghilangkan kebencian. Ia meminta umat Islam untuk melihat kesalahan mereka sendiri dengan jelas, dan buta dengan kesalahan orang lain. Gulen menambahkan bahwa agama seharusnya bisa menjadi fondasi perdamaian, kerukunan, dan persatuan. 

  

Pendekatan dalam Dialog Antaragama 

  

Fethullah Gulen memperkenalkan dua pendekatan dalam berdialog. Pertama, dialog melalui media massa. Ia pernah ditunjuk sebagai residen dari Journalist and Writer\'s Foundation (JWF), lembaga swadaya masyarakat (LSM) paling berpengaruh di Turki. Menyadari peran media massa, Gulen mengambil langkah cerdik dengan menyebarluaskan gagasannya menggunakan kekuatan media. 

  

Kedua, dialog melalui organisasi dan lembaga pendidikan. Gulen adalah orang yang praktis di mana ia lebih suka mendefinisikan dialog di luar pemahaman dasar yang hanya melibatkan diskusi verbal. Sebaliknya, ia berpandangan bahwa dialog harus dilembagakan dan dipraktikkan melalui kegiatan sosial dan pendidikan. Alhasil, para pendukungnya Gulen yang tergabung dalam ‘Gerakan Gulen’ sering melakukan berbagai kegiatan seperti makan malam bersama, seminar dan konferensi, mengunjungi Tempat bersejarah di Turki, menulis, memperkenalkan kurikulum pendidikan, dan berkolaborasi dengan organisasi lain dalam melakukan kegiatan kemanusiaan. 

  

Kesimpulan

  

Secara garis besar, inti dari penelitian ini bahwa Fethullah Gulen merupakan cendekiawan, pemikira dan aktivis pendidikan muslim Turki arus utama yang berwibawa. Ia memiliki gagasan dialog antaragama dan antarbudaya. Di Turki, ia dipuji karena membawa suasana positif antara penduduk muslim dan berbagai agama minoritas, seperti Kristen dan Yahudi. Di luar Turki, gagasannya tentang dialog antaragama telah menginspirasi banyak orang untuk mendirikan organisasi dan melakukan dialog dengan tujuan yang sama. Selama bertahun-tahun, Gulen adalah seorang dialog pejuang antaragama yang telah berkomitmen untuk membawa perdamaian global melampaui batas agama, ras, dan wilayah. Artikel tersebut disusun dengan bahasa yang lugas sekaligus mudah dipahami. Peneliti tidak memberikan celah bagi pembaca untuk ‘berimajinasi’ dengan poin dan gagasan dari hasil penelitian tersebut. Hasil dari penelitian ini bisa menjadi salah satu rujukan dan catatan yang bisa diadopsi.