(Sumber : YouTube)

Menelaah Kembali Merosotnya Moral

Riset Agama

Artikel berjudul “Rethinking the Causes of Moral Decline from the Perspectives of the Bible and the Qur’an" merupakan karya Reda Abdelgalil. Tulisan ini terbit di Millah: Journal of Religious Studies tahun 2025. Penelitian tersebut mencoba mengeksplorasi penyebab utama kemerosotan moral pada manusia, sebagaimana disajikan dalam Alkitab dan al-Qur’an. Pendekatan komparatif tematik yang didukung analisis tekstual digunakan guna engeksplorasi tema-tema bersama, paralel, dan visi kitab suci tentang penyebab utama kemerosotan moral. Tulisan tersebut merusaha menyoroti bagaimana Alkitab dan al-Qur’an mengidentifikasi empat faktor penting abadi dari kemerosotan moral yang berulang: setan, iri hati, amarah, dan kebohongan. Keempat elemen ini berfungsi sebagai akar dari banyak krisis etika modern, yang mendistorsi tatanan moral perilaku manusia dalam masyarakat kontemporer. Sementara banyak studi empiris dan terapan telah membahas gejala eksternal kemerosotan moral, studi ini bertujuan untuk memeriksa penyebab utamanya dari perspektif teologis dan kitab suci. Maka, dengan mengacu pada kerangka etika Alkitab dan al-Qur’an, studi ini menyoroti bagaimana teks-teks ilahi ini mendiagnosis akar kegagalan moral manusia dan menawarkan solusi bagi umat manusia untuk mendapatkan kembali kemurnian naluriahnya dan hidup dalam damai dan kemakmuran. Terdapat tujuh sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, religiusitas dan moralitas. Ketiga, kesamaan kitab suci yang difokuskan. Keempat, setan dan kemorosotan moral. Kelima, kecemburuan dan iri hati. Keenam, kebohongan. Ketujuh, berbohong. 

  

Pendahuluan

  

Konsep “kemerosotan moral” menandakan keyakinan bahwa standar etika masyarakat semakin memburuk dari waktu ke waktu. Artinya, isu kemerosotan moral telah ada sejak awal keberadaan manusia di Bumi. Lebih lanjut, sebagian besar masalah sosial, ekonomi, dan politik hanyalah aspek dari ketiadaan moralitas. Sebuah studi baru-baru ini menekankan bahwa moralitas memainkan peran penting dalam membentuk dan mengatur persepsi sosial, memfasilitasi pembentukan identitas sosial dan hubungan politik. Studi lain menguraikan fakta bahwa ketiadaan sentimen moral dalam kerangka ekonomi dapat merusak tatanan social, kesejahteraan, menekankan peran efektif pertimbangan etis dalam mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Teks keagamaan tetap menjadi sumber penting untuk mengidentifikasi akar penyebab kemerosotan moral yang terus-menerus, menekankan bahwa Setan, iri hati, amarah, dan kebohongan adalah penyebab kegagalan etika yang universal.

   

Religiusitas dan Moralitas

  

Moralitas adalah seperangkat prinsip yang berasal dari cita-cita dasar agama yang harus diterapkan oleh manusia. Beberapa peneliti berpendapat bahwa agama tidak penting atau relevan dengan perkembangan kesejahteraan manusia, menekankan bahwa penurunan peran agama dapat berkontribusi pada perkembangan hak-hak universal dan toleransi. Mereka lebih lanjut berpendapat bahwa agama dapat memperkuat perpecahan sosial dan sikap bermusuhan. Sebaliknya, perspektif lain menunjukkan bahwa agama dapat menawarkan bimbingan tentang persepsi sejati kehidupan dan cara menangani kompleksitas dunia. Perspektif ini berpendapat bahwa rasionalitas manusia bukanlah sumber etika yang cukup, karena rasionalitas sering dikaitkan dengan pengambilan keputusan yang optimal, sementara keputusan manusia dipengaruhi oleh pertimbangan etis dan nilai-nilai intrinsik yang melampaui penalaran logis sederhana. 

   

Agama adalah kekuatan yang dapat mengubah sikap manusia dan menjauhkan mereka dari perilaku buruk dan sifat-sifat rendah. Agama menanamkan rasa takut kepada Tuhan dan mendorong individu untuk mencapai sifat-sifat tinggi dan moralitas yang luhur. Membuktikan iman yang teguh dan karakter moral yang kuat merupakan jaminan permanen bagi manusia untuk hidup harmonis dan membuat pilihan etis. Secara khusus, fokus utama agama-agama ilahi adalah untuk memperbaiki perilaku manusia dan membentuk karakter moral. 

  

Teks-teks keagamaan dari kitab suci merupakan sumber pengetahuan moral yang penting. Hal itu dapat membentuk keyakinan manusia, menunjukkan sifat baik dan jahat, dan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan hidup. Nilai-nilai tersebut memuat seperangkat prinsip moral dan etika yang membimbing tindakan manusia dan memengaruhi pengambilan keputusan. Lebih jauh lagi, nilai-nilai tersebut membantu manusia membuat pilihan yang selaras dengan nilai-nilai mereka. 

  

Alkitab dan Al-Qur\'an memuat prinsip-prinsip umum yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat manusia di berbagai zaman. Nilai-nilai tersebut memuat seperangkat prinsip moral dan etika yang membimbing tindakan manusia dan memengaruhi pengambilan keputusan. Lebih jauh lagi, nilai-nilai tersebut membantu manusia membuat pilihan yang selaras dengan nilai-nilai mereka. Mereka menyediakan sistem moral yang konstan dan dapat meningkatkan semua aspek kehidupan manusia dan jiwa. 


Baca Juga : Dari Perbincangan Menteri Agama dengan Tim Sebelas Plus (Bagian Satu)

  

Kesamaan Kitab Suci yang Difokuskan

  

Al-Qur\'an menceritakan peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam Alkitab, seperti penciptaan Adam dan Hawa, dan godaan Iblis terhadap mereka. Kesamaan dan kemiripan ajaran dan narasi Al-Qur\'an dengan Alkitab telah menyebabkan beberapa peneliti dan pemikir Barat terlibat dalam perdebatan panjang dan mengklaim bahwa Muhammad SAW mengutip peristiwa dan kisah Al-Qur\'an dari bagian-bagian Alkitab dan mereproduksi Al-Qur\'an baik dengan membacanya sendiri atau melalui teman-teman Yahudi dan Kristennya. 

  

Terdapat dua tokoh yang mengomentari kehidupan adam dan hawa dan penggabarannya pada Alkitab dan al-Qur’an. MD Johnson dalam karyanya berjudul “Ethics: Selections from classical and contemporary writers (1989)” mengomentari kesamaan penggambaran godaan Setan kepada Adam dalam Alkitab dan Al-Qur\'an: “Ada kemungkinan bahwa Muhammad memiliki pengetahuan tentang Malaikat Jatuh dan bagaimana hal itu terjadi dari tulisan-tulisan Yahudi atau Kristen lainnya. Ada juga kesamaan antara beberapa ayat dalam Al-Qur\'an dan Injil Bartolomeus, tetapi tidak mungkin untuk memastikan sumber mana yang digunakan Muhammad. Fakta bahwa ada deskripsi yang bertepatan dalam kedua tulisan tersebut menunjukkan bahwa keduanya memiliki sumber yang sama atau bahwa Muhammad mengetahui Injil Bartolomeus atau sumber lain yang menggambarkan materi asal yang sama.” 

  

Selain itu, Bamberger dalam tulisannya berjudul “allen Angels: Soldiers of Satan’s realm (2010)” menyatakan bahwa “Muhammad menggunakan literatur Yahudi dan Kristen dan menggabungkannya dengan takhayul kaumnya sendiri.” Patut disebutkan bahwa Johnson dan Bamberger memberi kesankepada pembaca mereka bahwa Al-Qur\'an adalah buku biasa yang disusun dan dituli soleh manusia yang menguasai rima kata-kata dan mengambil ajaran serta petunjuknyadari Yudaisme dan Kristen. Berdasarkan literatur Islam, Buta huruf adalah salah satu sifat luar biasa Nabi Muhammad SAW. Beliau tidak memiliki pendidikan formal dan tidak pernah membaca kitab suci. Al-Qur\'an adalah wahyu ilahi yang datang kepadanya dari Allah Yang Maha Perkasa.

  

Setan dan Kemorosotan Moral

  

Setan digambarkan dalam Alkitab dan Al-Qur\'an sebagai sosok yang mengeksploitasi kelemahan manusia dan menggoda manusia untuk berbuat dosa, memprioritaskan kesenangan duniawi dan harta benda, serta menentang Kehendak Tuhan. Ia adalah penyebab utama kurangnya moralitas intrinsik pada manusia dan perubahan individu yang baik menjadi pelaku perbuatan jahat. Ia dipandang sebagai musuh dan penggoda yang berusaha menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Setan dapat memanipulasi pikiran manusia dan menimbulkan keraguan pada imannya dan perintah Tuhan. Sekali lagi, Alkitab dan Al-Qur\'an menunjukkan bahwa komitmen untuk taat kepada Tuhan, menahan diri dari ketidaktaatan kepada-Nya, dan mencari perlindungan kepada Tuhan dari Setan yang terkutuk adalah kunci yang sangat penting bagi manusia untuk melindungi moralitas mereka dan menangkis taktik Setan. Oleh karena itu, siapa pun yang taat kepada Tuhan dan menyerahkan diri kepada Kehendak Ilahi-Nya akan berdamai dengan dirinya sendiri, sesama manusia, dan Tuhan. 

  

Kecemburuan dan Iri Hati 

  


Baca Juga : Meneliti Terapi Spiritual Kaum Tarekat: Abdul Basid Jadi Doktor

Iri hati adalah senjata dengan mekanisme pengunci yang rusak yang akan meledak dan membakar penembaknya. Secara historis, iri hati adalah perbuatan dosa pertama yang dilakukan di surga dan di bumi. Penciptaan Adam membuat setan, pencetus segala kejahatan, diliputi rasa iri hati yang jahat. Ia menolak untuk menaati perintah Allah dan bersujud kepada Adam. Akibat kesombongan dan iri hatinya, ia diusir dari Surga. Sejak saat itu, ia berusaha keras untuk merusak moral keturunan Adam dengan membimbing mereka untuk meniru dirinya dalam rasa iri dan dengki.

  

Narasi Alkitab tentang memerangi kecemburuan dan iri hati melalui kebenaran serupa dengan suara Al-Qur\'an. Baik Alkitab maupun Al-Qur\'an mengutip dan mengulangi iri hati sebagai motif utama pengusiran Adam dan istrinya dari surga, pembunuhan Habel oleh saudaranya yang iri, Kain, dan penderitaan Yusuf dalam waktu lama karena saudara-saudaranya yang iri. Tema Al-Qur\'an dan Alkitab tentang memerangi kecemburuan dan keinginan jahat melalui pencapaian kebenaran saling tumpang tindih. Penyerahan sepenuhnya nafsu seseorang kepada Kehendak Ilahi memiliki hasil moral yang luar biasa. Sebaliknya, mengisi hati dengan iri hati yang jahat memiliki konsekuensi moral yang mengerikan.

  

Amarah

  

Al-Qur\'an membahas emosi psikologis manusia dan menganggap amarah sebagai bagian dari fitrah manusia. Al-Qur\'an senantiasa memperingatkan terhadap amarah, yang dipicu oleh kesombongan, keegoisan, perdebatan, dan bujukan akan keuntungan duniawi. Amarah jenis ini memadamkan  bahaya logika dan kebijaksanaan, menghancurkan pikiran, mengalihkan perhatian, dan melemahkan moralitas serta kemampuan seseorang untuk memberikan penilaian yang adil. Kitab suci umat Islam ini juga memberikan petunjuk tentang cara mengelola amarah dengan memperkuat ketakwaan, disiplin diri, dan berlindung kepada Allah dari bisikan setan. 

  

Berdasarkan perspektif Alkitab, ada dua jenis kemarahan: kemarahan yang benar dan kemarahan yang berdosa.  Kemarahan yang benar dan tepat didorong oleh kasih Allah, yang termanifestasi dalam reaksi marah Musa, yang menghancurkan loh hukum Taurat ketika umatnya menyembah anak lembu. Hal ini juga terlihat jelas dalam kemarahan Yesus terhadap orang-orang Farisi karena  kekejaman hati mereka dan keinginan mereka agar Yesus melanggar hukum mereka. Kemarahan Yesus juga terlihat dalam pembersihan bait suci ketika para pengumpul uang menggunakannya sebagai tempat bisnis daripada tempat berdoa. Kemarahan yang berdosa dan tidak pantas dimotivasi oleh egoisme dan dapat bersifat internal, yang dirasakan di dalam hati, atau eksternal, yang dapat diungkapkan secara verbal atau fisik. Keduanya tidak bermoral dan tercela serta dianggap sebagai dosa karena keduanya memicu permusuhan, perselisihan, kekerasan, dan banyak pelanggaran. 

  

Jelas bahwa baik Alkitab maupun Al-Qur\'an memberikan petunjuk yang mengembangkan kapasitas yang lebih besar bagi manusia dan strategi yang sangat bermanfaat dalam mengelola amarah. Keduanya, Kitab suci memandang amarah sebagai karakteristik naluriah manusia yang harus dilepaskan dan dikelola dengan bijak. Jika tidak, amarah akan menumpuk dari dalam dan akhirnya menyebabkan kemerosotan moral.

  

Berbohong

  

Berbohong adalah salah satu dosa umum yang dilakukan manusia, baik secara sadar atau tidak sadar, dalam satu bentuk atau lainnya. Berbohong mungkin secara tidak adil merugikan seseorang, atau menguntungkan seseorang sementara merugikan orang lain, atau mungkin dilakukan semata-mata untuk kesenangan berbohong, atau untuk menyenangkan orang lain dalam percakapan yang menyenangkan. Jenis kebohongan yang mematikan adalah kebohongan yang diucapkan dalam ajaran agama. 

   

Jadi, baik Alkitab maupun Al-Qur\'an memperingatkan terhadap kebohongan karena hal itu mengarah pada lebih banyak keburukan dan menyebabkan kemerosotan moral. Keduanya mengajarkan bahwa kejujuran memelihara iman dan moralitas seseorang dalam kesempurnaannya, dan orang yang berbohong tidak menunjukkan iman. Keduanya menyarankan agar seseorang tidak pernah berbohong sama sekali.Jika tidak, tempat tinggalnya akan menjadi api jika dia tidak bertobat tepat waktu sebelum meninggal.

  

Kesimpulan

   

Krisis moral kontemporer, sebagai akibat dari terbebaninya kepentingan materialistis dan mentalitas egois oleh kemanusiaan. Hal ini memengaruhi hubungan dan transaksi antarmanusia. Situasi ini membutuhkan pemikiran ulang yang serius tentang penyebab kegagalan manusia dalam memastikan keunggulan moral, serta pengingatan yang serius terhadap kode transendental Tuhan. Artikel tersebut menunjukkan landasan moral bersama dari Alkitab dan Al-Qur\'an, karena keduanya hampir menyampaikan ajaran dan petunjuk yang sama tentang musuh Setan terhadap manusia dan konsekuensi buruk dari kecemburuan, iri hati, kemarahan, dan kebohongan. Keduanya secara signifikan berkontribusi dalam membentuk karakter moral manusia dan memberikan bimbingan bagi umat manusia secara luas untuk hidup harmonis dan menyelesaikan masalahmasalah kontemporer. Lebih jauh lagi, bimbingan ilahi tidak bertujuan untuk mengekang keinginan manusia karena itu adalah bagian dari bawaan alami mereka, tetapi untuk mengaturnya. Oleh karena itu, penelitian ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan kitab suci ilahi tidak hanya memberikan narasi moral deskriptif tetapi juga wawasan diagnostik tentang arketipe kemerosotan moral abadi sepanjang sejarah manusia, yang tetap relevan di dunia saat ini.