Oleh : Imam Chanafi – Penyuluh Agama Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Angkatan Tahun 2000 – Mahasiswa Pascasarjana Prodi Doktor Angkatan 2025 Kelas A UNKAFA Gresik Baca jugaBelajar Dari Suami Zainab Putri Tertua Rasulullah Berita Kekerasan Antara Guru dan Siswa Belakangan ini kita disuguhi lagi berita, seorang murid berani menantang kelahi guru,
Eva Putriya Hasanah Sulit rasanya menahan sesak saat menyaksikan berita tentang banjir besar yang melanda Sumatera akhir-akhir ini. Setiap gambar yang ditampilkan di layar—rumah hanyut, jalan terputus, keluarga kehilangan orang tercinta—seolah menusuk ruang paling lembut di dalam hati kita. Namun di balik kesedihan manusia yang begitu terlihat, ada duka lain yang lebih sunyi,
Oleh: Prof. Dr. Hj. Titik Triwulan Tutik, MH. Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara UIN Sunan Ampel Surabaya Baca jugaEmpat Pekerjaan yang Bakal Eksis di Era Covid-19 Hingga Tahun 2021Jawa Timur — Upaya memperkuat kapasitas lembaga pendidikan pesantren dalam mencegah dan menanggulangi kekerasan terhadap anak terus digalakkan melalui program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Mitigasi
Eva Putriya Hasanah Dalam waktu kurang dari dua tahun terakhir, peta regulasi media sosial dunia mengalami perubahan besar. Negara-negara yang selama ini memiliki pendekatan berbeda terhadap ruang digital—Cina dengan kontrol ketatnya, Australia dengan nilai liberal-demokrasinya, dan Malaysia dengan pendekatan regulasi hybrid-nya—tiba-tiba menemukan diri mereka berada pada arah yang sama: memperketat pengawasan dan penggunaan media
Eva Putriya Hasanah Rahmah El Yunusiyyah merupakan salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah pendidikan Indonesia dan dunia Islam. Lahir pada tanggal 29 Oktober 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat, ia tumbuh di tengah lingkungan Minangkabau yang dikenal dengan tradisi merantau, kecerdasan sosial, dan budaya matrilineal yang memberi ruang bagi perempuan untuk berkarya.
Prof. Dr. Nur Syam, MSi Dalam Focus Group Discussion (FGD) ini, hadir sebagai narasumber adalah Prof. Dr. Babun Suharto, Prof. Dr. Moh. Mukri, Prof. Zaenuddin, dan saya. Berlaku sebagai moderator adalah Prof. Ilyasin, Direktur Program Pascasarjana UINSI. Acara yang diselenggarakan pada 9/11/2025, diikuti oleh Seluruh Rektor PTKIN yang di masa lalu mengusung nama sebagai
Prof. Dr. Nur Syam, MSi Yang dimaksud dengan Rektor Persemuran adalah para rektor yang institusinya di masa lalu menjadi cabang dari IAIN Sunan Ampel. Di masa lalu disebut sebagai IAIN Sunan Ampel Cabang Malang, Tulungagung, Ponorogo, Kediri, Jember, Pamekasan, Samarinda, dan Mataram. Kini, para rektor tersebut telah menjadi Rektor UIN Malang, UIN Jember, UIN
Eva Putriya Hasanah Di kaki Gunung Cikuray, udara Garut terasa lebih sejuk. Di sanalah berdiri Peacesantren Welas Asih, sebuah pesantren yang berbeda dari kebanyakan. Alih-alih hanya mengajarkan ilmu agama, pesantren ini juga menanamkan nilai perdamaian dan kecintaan terhadap alam. Bagi mereka, mencintai Allah berarti juga mencintai bumi yang diciptakan-Nya. Pesantren ini didirikan oleh
Oleh: Ahmad Luqman Hakim Universitas Kiai Abdullah Faqih Gresik Dalam beberapa tahun terakhir, jagat media sosial kita diramaikan oleh munculnya sosok-sosok pendakwah muda yang mengaku keturunan kiai—atau populer dengan sebutan “Gus-gus-anâ€. Mereka tampil dengan gaya khas santri: bersarung, berkopiah, dan bersorban, seolah mewakili citra Nahdlatul Ulama (NU) di ruang digital. Namun di balik semangat
Eva Putriya Hasanah Di era ketika semua orang bisa berbicara apa saja di media sosial, Tiongkok kini mengambil langkah berbeda. Negara tersebut baru saja menerapkan kebijakan yang mewajibkan para influencer atau pencipta konten memiliki ijazah atau sertifikat resmi jika ingin membahas topik-topik profesional seperti hukum, kesehatan, keuangan, pendidikan, dan teknologi. Baca jugaEmpat Pekerjaan yang
Oleh Eva Putriya Hasanah Sejarah peradaban manusia tidak selalu bersinar terang. Ada masa ketika berpikir rasional dianggap berbahaya, bertanya berarti melawan Tuhan, dan mencari penjelasan ilmiah bisa mengakhiri hukuman mati. Masa itu dikenal sebagai Abad Kegelapan (Abad Kegelapan) — periode antara runtuhnya kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga sekitar abad ke-10 Masehi, ketika
Oleh Abdul Wasik Beberapa waktu terakhir, jagat media sosial dan pemberitaan nasional kembali ramai oleh isu-isu yang menyudutkan pesantren dan kiai. Ada yang menuding pesantren sebagai sarang ekstremisme, ada pula yang memelintir ucapan kiai demi sensasi pemberitaan. Tak jarang pula, citra pesantren digiring pada opini negatif melalui framing media yang tidak proporsional. Akibatnya,
