(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Belajar dari Pernikahan NU-Muhammadiyah

Khazanah

Oleh : Eva Putriya Hasanah

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya 

  

Pertemuan saya dengan salah satu teman dari Lamongan pada tahun 2019 lalu, membawa saya mengenal cerita Mbah Putra dan Mbah Putri dalam pernikahan Nahdlatul Ulama\' (NU) dan Muhammadiyah yang menyatukan mereka hingga puluhan tahun lamanya bahkan hingga maut menjemput mereka di tahun yang sama yakni 2021 lalu. Sebelumnya, tulisan yang membahas tentang pernikahan beda organisasi masyarakat (ormas), khususnya NU dan Muhammadiyah memang telah beberapa kali diangkat, namun bagi saya keluarga yang dibangun oleh Mbah Putra dan Mbah Putri cukup unik dan sangat menarik sehingga perlu rasanya untuk saya abadikan dalam sebuah tulisan agar semua orang bisa mendapatkan maknanya.

  

Kisah Mbah Putra dan Mbah Putri menceritakan pernikahan antara dua individu dengan latar belakang yang berbeda. Mbah Putra adalah seorang Muhammadiyah sedangkan Mbah Putri adalah seorang NU. Baik NU maupun Muhammadiyah merupakan dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Selain sama-sama di kenal sebagai ormas yang  memperkenalkan Islam yang moderat dan ramah bagi seluruh manusia, keduanya juga sama-sama memiliki peran yang besar bagi perkembangan bangsa dalam segala aspek. Namun, secara doktrinal NU dan Muhammadiyah mempunyai beberapa perbedaan terutama dalam hal pengalaman beribadah yang bersifat furuiyah (cabang-cabang) dalam Islam. Katakan pada kegiatan tahlilan yang dilakukan untuk peringatan kematian seseorang pada hari ke-7, 40, 100, 1000 yang merupakan kultur yang erat sekali dengan NU namun tidak dilaksanakan di dalam Muhammadiyah. Selain itu perbedaan dalam faham agama yang sering kita dapati diantaranya adalah penggunaan Qunut dalam sholat subuh oleh NU sedangkan dalam Muhammadiyah tidak; dalam NU mereka membaca puji-pujian setelah adzan, dalam Muhammadiyah tidak ada ;sholat traweh 20 rokaat  dalam Muhammadiyah hanya 8 rokaat dan lain sebagainya. Perbedaan ini juga sangat terlihat ketika penentuan hari raya Idul Fitri yang terjadi beberapa tahun silam dimana hari raya keduanya jatuh di hari yang berbeda. Perbedaan yang terjadi memang tidak bisa diterlepas dari sumber rujukan yang digunakan oleh masing-masing ormas. Disamping itu NU sendiri dikenal sebagai ormas dengan toleransinya terhadap tradisi-tradisi yang ada di Indonesia, sementara Muhammadiyah dikenal dengan istilah pemurnian Islam dan berbagai gerakan pendidikan yang dilakukan.

  

Pada prinsipnya, perbedaan dalam hal keyakinan dan budaya merupakan salah satu faktor yang bisa menyebabkan terjadinya perselisihan. (Susanto, 2006) Namun, realitas pada keluarga yang di bangun oleh Mbah Putra dan Mbah Putri justru menunjukkan hal yang sangat berbeda. Di tengah arus perbedaan, keluarga campuran NU dan Muhammadiyah ini bahkan bisa bertahan hingga generasi ketiga. Tanpa adanya paksaan semua harus NU atau semua harus Muhammadiyah. Tetapi keberagaman tersebut tetap dijaga. Saat saya berbincang dengan salah satu anak dari Mbah Putra dan Mbah Putri untuk menanyakan bagaimana intensitas konflik yang mungkin saja terjadi akibat pemahaman atau praktik agama yang berbeda secara berulang-ulang, jawaban yang saya terima pun sama bahwa mereka tidak pernah merasakan terjadi konflik akibat perbedaan NU dan Muhammadiyah. Sebab mereka dapat saling mendukung dan menghargai. 

  

Mbah Putra dan Mbah Putri dikaruniai 5 (lima) orang anak, yang terdiri dari 4 (perempuan) dan 1 (satu) laki-laki. Saat ini, masing-masing anak telah menganut ormas yang berbeda yakni 2 (dua) menjadi NU dan 3 (tiga) menjadi Muhammadiyah. Perbedaan ini terjadi akibat 2 (dua) faktor, yakni : pendidikan dan pernikahan. Semasa hidup Mbah Putra dan Mbah Putri, mereka berdua telah menentukan dimana anak-anak mereka akan mendapatkan pendidikan. Tentunya hal ini terkait dengan pendidikan di lembaga NU dan Muhammadiyah. Sehingga melalui ini lah, anak-anak dari keluarga ini mendapatkan corak keagamaan yang berbeda yakni terdapat yang berpaham NU disamping itu juga Muhammadiyah. 

  

Tidak hanya dari faktor pendidikan, faktor pernikahan juga menjadi salah satu penentu adanya keberagaman yang masih dapat dipertahankan dalam keluarga ini. Urusan pernikahan, mbah Putra dan Mbah Putri membebaskan anak-anaknya. Sehingga pernikahan antara NU dan Muhammadiyah menjadi berulang pada anak dan cucunya. Ada pula anak dari mereka yang awalnya adalah Muhammadiyah kini menjadi kental dengan tradisi ke-NU-an akibat adanya pernikahan.

  

Di tengah perbedaan yang terjadi dalam keluarga ini, terdapat praktik-praktik saling menghormati dan menghargai didalamnya. Misalnya soal urusan sholat jum\'at, masing-masing anak atau anggota keluarga bebas untuk memilih masjid yang dianggap sesuai dengan paham NU maupun Muhammadiyah yang diikutnya. Selain itu, saat melaksanakan sholat subuh ketika yang memimpin sholat adalah anggota keluarga NU, maka yang Muhammadiyah juga mengikuti menggunakan Qunut. Begitu juga dengan adanya tahlilan atau peringatan kematian seseorang. Pihak Muhammadiyah juga sangat mendukung hal tesebut. Aktivitas-aktivitas demikian pun berjalan setiap saat sehingga menjadi kebiasaan bahkan setelah Mbah Putra dan Mbah Putri telah meninggal dunia.

  


Baca Juga : Asosiasi Dosen Pergerakan untuk Indonesia (Bagian Dua)

Bagi penulis, dari kisah ini terdapat setidaknya 2 (dua) pesan yang bisa kita petik sebagai pelajaran:

  

1. ) Memberikan Hak Berpendapat bagi Masing-masing Anggota Keluarga

  

Dari cerita diatas, anak-anak Mbah Putri dan Mbah Putra telah di sekolahkan di lembaga yang memiliki latar belakang ormas yang berbeda. Padahal jika mau egois atau bertindak superior, Mbah Putra bisa saja menjadikan semua anaknya menjadi Muhammadiyah atau sebaliknya Mbah Putri bisa menyekolahkan semua anaknya di sekolah NU. Namun pada realitas ini justru yang terjadi berbeda. Faktanya kedua orang ini mampu untuk berbagi nilai dan saling menghormati keinginan masing-masing. Pada urusan berumah tangga, poin ini menjadi sangat penting. Memberikan ruang pada masing-masing individu atas setiap pendapat yang ia miliki. Tanpa meletakkan siapa suami dan siapa istri, masing-masing diberikan tempat yang pas.

  

Selanjutnya pesan ini tercermin dari bagaimana anak-anak diberikan hak untuk menentukan pilihan dan jalannya sendiri. Meski pada awalnya melalui pendidikan Mbah Putra dan Mbah Putri terkesan memaksa untuk menentukan siapa NU dan siapa Muhammadiyah namun pada kelanjutannya semua hak diberikan kepada masing-masing anak. Hal ini terlihat dari bagaimana kedua pasangan ini berusaha untuk memberikan pandangan pada keberagaman dalam keluarga. Begitu juga memberikan kebebasan dalam urusan pernikahan kepada anak-anaknya dan menentukan jalan masing-masing. Contohnya : anak dari Mbah yang pada awalnya disekolahkan di Muhammadiyah, kini kemudian lebih kental dengan tradisi ke-NU-an karena faktor pernikahan.

  

2). Memberikan Pembelajaran tentang Keberagaman untuk Hidup yang Lebih Rukun

  

Konflik yang terjadi akibat perbedaan ormas NU dan Muhammadiyah memang tidak terlalu banyak muncul di permukaan. Namun bagi masyarakat yang hidup di pedesaan yang sangat kental dengan tradisi masing-masing ormas, hal ini bisa menjadi sebuah persoalan. Apalagi bagi seseorang yang awalnya tinggal pada lingkup masyarakat dengan kelompok dan tradisi yang homogen, tentu menerima hal yang berbeda bukan hal yang mudah.

   

Melihat pada saya sendiri yang lahir di tengah masyarakat NU, dibesarkan dalam pendidikan lembaga NU dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama. Pengetahuan tentang Muhammadiyah atau tentang paham-paham lain sangat sedikit atau bahkan tidak pernah saya dapatkan. Pengalaman saya ini berdampak pada diri saya dalam melihat ormas lain di kehidupan berikutnya. Masih teringat ketika saya duduk di Sekolah Menengah Atas (SMA), untuk pertama kalinya saya memasuki zona heterogen yang mana teman-teman saya terdiri dari berbagai macam latar belakang tapi yang paling sering waktu itu adalah Muhammadiyah. Dengan urusan ini saja, saya mendapati diri saya sangat sulit menerima orang-orang yang berbeda  paham berada disekililing saya karena pada waktu itu pikiran saya adalah hanya saya yang benar sedangkan yang lain tidak. Saya rasa, hal ini juga sama dirasakan oleh kebanyakan orang di tempat saya dalam melihat kelompok lain.

  

Pikiran saya berubah saat saya mulai banyak mengobrol dengan orang-orang berbeda kelompok dan membaca literasi tentang mereka, khususnya Muhammadiyah ketika berkuliah di Surabaya. Pikiran saya terbuka saat mendengar banyak cerita mereka tentang alasan-alasan mengapa tradisi yang selama ini di lakukan di NU tidak dilakukan di Muhammadiyah. Kenapa? Jelas jawabannya karena mereka memiliki sumber dan rujukan yang berbeda yang bisa saya katakan sama baiknya. 

  

Kisah keluarga yang di bangun oleh Mbah Putra dan Mbah Putri  merupakan sebuah potret bagaimana dua perbedaan dapat hidup saling berdampingan. Apabila menarik ulur hidup rukun yang di bangun pada keluarga ini diawali karena adanya nilai-nilai keberagaman yang diajarkan. Tidak senantiasa memaksa namun memberikan pandangan bahwa memang dalam hidup terdapat banyak perbedaan dan kelompok. Akibatnya, masing-masing individu memiliki banyak pandangan dan saling mengenal pemahaman sehingga berujung pada penerimaan dan menjadi kebiasaan dalam keluarga. 

  

Praktik seperti ini sejatinya bisa dilakukan dalam ruang lingkup yang lebih besar. Dalam hidup bermasyarakat, hendaknya bagi orang-orang yang mengerti bisa memberikan edukasi pengetahuan dan pemahamapan tentang keberagaman kepada masyarakat awam agar tidak tumbuh rasa benci akibat ketidaktahuan. Tidak hanya soal perbedaan agama, suku, maupun bahasa tetapi juga perbedaan di dalam masyarakat muslim sendiri. Sehingga masyarakat tidak hanya fokus pada perbedaan yang mereka miliki dengan kelompok lain yang berujung pada fanatisme dan melihat kelompok lain sebagai sebuah hal yang salah.