(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Kontribusi Teori Komunikasi dan Psikologi Bagi Pengembangan Teori Dakwah

Kelas Sosiologi

Pendahuluan

  

Sebagai dosen, saya telah banyak menulis buku. Hanya menulis artikel di jurnal yang saya kira sangat kurang. Maklum dalam rentang waktu yang cukup panjang, tujuh tahun saya pernah off tidak mengajar, kecuali menguji disertasi, karena jabatan structural di Kementerian Agama yang harus saya lakukan. Tetapi pasca kembali dari jabatan structural, saya kembali mengajar dan harus terus menulis, baik tulisan ringan maupun berat sebagai konsekuensi tugas jabatan dosen.

  

Saya sungguh beruntung karena untuk urusan tulis menulis saya tergolong yang rajin menulis, terutama lewat blog. Dan lewat menulis di blog itulah akhirnya lahir banyak buku. Selama saya di Jakarta itu, ada sebanyak enam buku yang berhasil terbit. Saya selalu berprinsip “saya menulis, maka saya hadir”, “saya menulis maka saya ada” atau verba volant, scripta mannen”.

  

Posisi saya ketika menulis tema ini saya kira juga perlu saya sampaikan, sebagai pertanggungjawaban atas karya akademis meskipun tidak rigit tentang pengembangan teori ilmu dakwah dari perspektif teori ilmu komunikasi. Saya merasa dekat dengan perspektif ilmu komunikasi, sebab di masa lalu, saya adalah dosen ilmu komunikasi sebelum pindah ke sosiologi agama dan kemudian menjadi professor sosiologi.

  

Sebagaimana yang sering saya nyatakan bahwa ilmu dakwah merupakan ilmu yang mengemban tugas tidak hanya menjelaskan dan menggambarkan kenyataan dakwah, akan tetapi juga sekaligus memiliki tugas profetik yaitu mengemban tugas memperbaiki terhadap kehidupan individu dan masyarakat, maka seluruh bangunan teori yang bercorak menjelaskan dan menggambarkan juga harus diubah atau ditambah menjadi tugas profetik dimaksud.

  

Oleh karena itu yang diharapkan adalah menghasilkan teori-teori profetik, misalnya teori konstruksi sosial profetik, teori stimulus respon profetik, teori uses dan gratification profetik, teori pilihan rasional profetik, teori pertukaran profetik dan sebagainya. Jadi, tugas ilmuwan dakwah adalah memberikan penjelasan dan penggambaran dan sekaligus menemukan solusi yang tepat tentang bagaimana individu dan masyarakat yang ideal tersebut dibentuk dan diwujudkan.

  

Selain ilmu komunikasi yang bisa memberikan sumbangsihnya untuk teori ilmu dakwah, maka teori psikhologi juga bisa memberikan kontribusinya bagi pengembangan teori ilmu dakwah. Namun demikian, Saya mesti harus meminta izin dulu kepada ahli-ahli psikhologi atau para dosen psikologi karena menulis tentang perspektif psikologis dalam pengembangan teori ilmu dakwah. Posisi ini harus saya ambil sebab pengetahuan saya tentang ilmu psikologi tentu sangat dangkal, jika pun pernah belajar tentu sebatas dalam mata kuliah pengantar psikologi, psikologi sosial dan psikologi agama, tetapi seingat saya pernah pada tahun 1980 akhir saya diberi amanah oleh Prof. Dr. Bisri Afandi, MA untuk menjadi asistennya pada mata kuliah Psikhologi agama.

  

Oleh karena itu, buku seperti Tulisan Prof. Dr. Zakiyah Darajad, Karya William James tentang “The Varieties of Religious Experience”, Karya Prof. Usman Najati, dan Nico Syukur Dister, tentu telah saya baca, sekurang-kurangnya.


Baca Juga : Motivasi dan Spiritualitas Segitiga : Urgensi tirakat dalam Pembentukan Karakter Siswa

  

Namun demikian tetap saja, saya bukanlah ahli dalam bidang psikhologi yang memiliki kapasitas utuh, sehingga tulisan inipun hanya mencoba untuk mengintegrasikan antara psikhologi sebagai perspektif teori atau pendekatan dan dakwah sebagai fakta atau realitas sosial atau individual, yang tentu bisa disandingkan. Dengan posisi kurang lebih. 

  

Perspektif Teori Ilmu Komunikasi

  

Sebagaimana diketahui bahwa ilmu komunikasi memiliki empat paradigma, yang sungguh sudah dipahami bersama. Paradigma sebagai pemikiran mendasar dari para ahlinya tentang apa yang menjadi subject matter of science telah menempatkan setiap ilmu pengetahuan memiliki paradigmanya sendiri-sendiri. Ilmu komunikasi memiliki paradigma mekanistik, psikhologis, simbolik interpretatif dan pragmatis. Di antara teori-teori tersebut yaitu:

  

Teori peluru atau the bullet theory atau Teori Jarum Hipodermik. Teori ini dikembangkan oleh Wilbur Schramm. Inti teorinya adalah bahwa pesan komunikasi itu berlaku seperti peluru yang bisa menembus terhadap sasaran secara mematikan. Ibaratnya peluru, maka pesan dalam komunikasi itu tidak dapat dicegah pengaruhnya pada komunikan atau sasarannya. Bullet theory of dakwah atau teori peluru dakwah, tentu menarik disimak sebab selama ini sudah menjadi kelaziman di dalam pengembangan ilmu dakwah. Hampir seluruh penelitian tentang dakwah berada di dalam teori ini, misalnya, tentang bagaimana da’i dengan pesannya melalui media, metode dan sarana dakwah lainnya yang berpengaruh langsung kepada mad’u. Sudah sangat banyak penelitian dalam konteks ini.

  

Teori Efek Media. Teori ini merupakan kelanjutan dari teori peluru yang dirasakan mulai kehilangan pamornya dalam studi-studi komunikasi. Oleh George Gebner dikembangkan teori Efek Media yang merupakan kritik terhadap teori peluru yang pernah sangat popular. Teori ini memiliki asumsi bahwa semakin sering seseorang mendengar atau melihat televisi atau media lainnya, maka akan semakin besar pengaruh media tersebut pada pandangannya tentang dunia yang memiliki kesamaan dengannya. Media memiliki dua kecenderungan yaitu melakukan mainstreaming atau pengarusutamaan informasi sehingga terdapat kesamaan pandangan atau respon tentang isi media, dan resonansi atau kemampuan untuk menyamakan antara realitas empiris dengan tayangan media. Di dalam kajian dakwah, maka teori efek media dapat digunakan untuk mengkaji peran media sosial atau media lainnya dalam pengaruhnya terhadap pandangan dan perilaku sasaran dakwah dalam hal tertentu. Semakin sering orang mendengarkan ceramahnya Gus Baha’, Ustadz Adi Hadayat atau UAS, maka dia akan berubah dengan mengidentifikasi dirinya atas apa yang diceramahkan tersebut.

  

Teori konstruksi sosial komunikasi dakwah, misalnya didapatkan dalam teori konstruksi sosial yang dikembangkan oleh James Carey yang berasumsi bahwa ada 4 (empat) tahapan dalam konstruksi sosial media, yaitu: 1) Konstruksi. Actor atau manusia dapat mengembangkan suatu konsep untuk menjadi kenyataan. 2) Pemeliharaan. Actor harus melakukan pemeliharaan secara terus menerus. 3) Perbaikan. Actor juga harus melakukan perbaikan konstruksi sosial secara terus menerus agar jika terdapat elemen yang hilang dapat dibenahi. 4) Perubahan. Konstruksi sosial akan berubah pada suatu waktu. Perubahan tersebut sangat potensial terjadi. Teori ini dapat digunakan untuk mengkaji tentang dakwah Islam dengan memfokuskan pada perubahan perilaku sasaran dakwah melalui tahapan-tahapan konstruksi sosial di atas. Ada proses yang disadari oleh subyek maupun sasaran dakwah dalam kerangka mengkonstruksi, memelihara, memperbaiki dan pengubah tindakan para pelaku dimaksud.

  

Teori Agenda Setting dakwah. Teori ini berasumsi bahwa media memiliki kemampuan untuk membentuk opini public. Jadi media memiliki kemampuan untuk memilih mana informasi yang dianggapnya penting dan mana yang dianggapnya tidak penting. Bahkan informasi yang tidak penting bisa menjadi penting jika diagendakan oleh media. Oleh karena itu media bisa mengagendakan berita agar berita tersebut dapat menjadi opini public. Teori ini dikembangkan oleh Mc. Comb dan D.L. Shaw pada tahun 1972. Selain itu media juga memiliki kemampuan untuk membangun pencitraan. Jika seseorang ingin memperoleh citra yang positif, maka media dapat dijadikan sebagai sarananya. Di dalam penelitian dakwah, maka teori ini bisa digunakan oleh da’i atau organisasi atau media Islam dalam kerangka untuk menyampaikan gagasan, ide atau pikiran agar dapat dijadikan sebagai rujukan oleh sasaran dakwah. Misalnya dalam pemberitaan di media sosial, maka tentu dilakukan dengan cara menyajikan mana yang dianggap penting dan kemudian dishare kepada audience. Sekarang sudah ada banyak dai yang melakukannya untuk kepentingan penyebaran Islam.

  


Baca Juga : In Memoriam: Emak, Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Keempat)

Analisis framing dakwah. Analisis ini digunakan untuk memilih pemberitaan mana yang dianggap penting dengan didasarkan pada pilihan-pilihan yang relevan dengan kebutuhan audience. Misalnya, terdapat sekian banyak berita yang bertebaran di dunia media informasi, maka akan dipilih mana yang diperkirakan akan memperoleh respon yang cukup kuat dari audience. Jadi, media memiliki kekuatan untuk memilih mana berita yang dianggap penting dan kemudian diulang-ulang untuk pemberitaannya. Di media televisi, misalnya akan bisa diketahui bagaimana perilaku media di dalam memframing berita sesuai dengan apa yang sesungguhnya menjadi misi kuatnya. Di dalam studi dakwah, tentu bisa digunakan untuk meneliti tentang berita-berita tentang Islam yang terdapat di media massa atau media sosial. Melalui analisis framing akan diketahui misalnya bagaimana dan berapa kuantitas pemberitaan tersebut tersaji di media.

  

Teori Stimulus dan Respons dakwah. Sebagai bagian dari paradigma psikhologi, maka teori ini digunakan untuk melihat bagaimana sebuah pesan disampaikan dan kemudian apa reaksi psikhologis yang terdapat pada sasaran komunikasi. Teori ini dikembangkan oleh B.F. Skinner dan kemudian menjadi bagian dari paradigma sosiologi maupun psikhologi. Teori stimulus dan respon mengandaikan bahwa factor lingkungan (stimulus) mempengaruhi terhadap perilaku (respon) manusia. Semakin kuat stimulus semakin besar respon yang diberikan kepadanya atau semakin berulang-ulang stumulus diberikan semakin besar keterpengaruhan atau respon yang diterimanya. Di dalam kajian dakwah, maka dapat diteliti misalnya seberapa besar pengaruh eksternal (da’i dengan pesan-pesannya) terhadap perubahan perilaku yang dijalani oleh sasaran dakwah. Meskipun corak teori ini lebih banyak menyasar kepada individu, namun demikian bisa juga digunakan untuk mengkaji komunitas dakwah dengan memperhatikan pengaruh kepada individu-individunya. Selain teori BF. Skinner, tentu juga bisa dijadikan sebagai perspektif, misalnya teori Freud tentang psikhoanalisis, teori James Taylor tentang Koorientasi Organisasi, bahwa organisasi merupakan kumpulan individu yang memiliki tujuan yang sama dan ingin mencapai tujuan bersama-sama dan dibangun melalui percakapan. Teori ini merupakan gabungan dari perspektif bahasa (linguistik), Wacana dan Organisasi.

  

Teori interaksionisme simbolik dakwah. Teori interaksionisme simbolik dikemukakan oleh George Herbert Mead dari Universitas Chicago. Prinsip di dalam teori ini adalah terfokus pada bagaimana manusia memaknai tindakan-tindakannya berdasarkan atas interaksi di antara mereka melalui percakapan atau conversasi. Di dalam memaknai tindakan tersebut maka manusia akan memperhatikan terhadap impuls atau rangsangan spontan atau gerak tubuh (gesture) lawan bicaranya, persepsi atau actor mereaksi terhadap rangsangan atau gerak tubuh yang diterimanya, manipulasi atau pengambilan tindakan yang dianggapnya tepat, untuk dilaksanakan. Mind (percakapan di dalam diri individu), self (seseorang melakukan relasi dalam hubungan sosial), I (respon individu kepada orang lain) dan Me (penerimaan diri atas orang lain). Inti teori ini adalah pemahaman manusia atas symbol-simbol perilaku ditentukan oleh interaksi yang dibangunnya. Di dalam kajian dakwah maka yang dapat dilakukan adalah dengan meneliti tentang lambang-lambang komunikasi dakwah yang digunakan oleh individu atau komunitas dalam berinteraksi dengan individu atau komunitas lainnya. Symbol tersebut dapat berupa pernyataan, teks, atau ungkapan yang dibaca atau diterima oleh orang lain dan kemudian dipahami sesuai dengan interaksinya dengan orang lain. Contoh lainnya, kita bisa meneliti ungkapan-ungkapan (sebagai perwujudan symbol) yang menyebabkan seorang da’i begitu menarik banyak orang dan ketertarikan tersebut terbentuk karena interaksi dengan lainnya.

  

Teori pertukaran. Mula pertama teori ini dikembangkan oleh George Homans, lalu Peter M. Blau dan Harold Kelly dengan konsepsi bahwa pertukaran akan terjadi manakala dua atau lebih individu memahami perilaku yang ditampilkannya dan memahami pertukaran apa yang dihasilkan dari relasi tersebut. Di dalam konsepsi ini, bahwa setiap relasi sosial mengandung nilai pertukaran, baik yang menguntungkan atau tidak. Jika menguntungkan maka akan berlangsung lama dan jika tidak, maka akan berlaku dalam waktu yang pendek. Jika dikaitkan dengan pesan-pesan dalam perilaku, maka akan terwujud di dalam lambang-lambang yang diketahui maknanya dan akan dipahami apakah lambing-lambang tersebut membawa kemanfaatan atau tidak.

  

Teori-teori lain yang bisa dijadikan sebagai basis pengembangan teori ilmu komunikasi dakwah, misalnya adalah Teori Dialektika Rasional yang digagas oleh Michael Bakhtin dan diteruskan oleh Leslie Baxter dan WK. Rawlins. Asumsinya bahwa di dalam kehidupan bersama ditandai dengan adanya ketegangan atau pertentangan dan konflik antar individu dan juga masyarakat. Hal ini terjadi karena adanya keinginan untuk saling memaksakan kehendak atau keinginan. Di dalam memenuhi kebutuhannya, manusia sering kali mengutamakan kepentingannya sehingga bisa mengganggu terhadap kepentingan orang lain. Di dalam studi dakwah misalnya bisa digunakan untuk memahami tentang aneka konflik sosial yang difasilitasi oleh keinginan pemenuhan kepentingan masing-masing, lalu bagaimana dakwah bisa menjembatani beberapa kepentingan yang berbeda tersebut untuk saling dinegosiasikan.

  

Media Effect Theory, memiliki proposisi, bagaimana media mempengaruhi masyarakat dan masyarakat mempengaruhi media. Dependency Theory, mempelajari tentang pengaruh jangka panjang media komunikasi terhadap aundience. Yang dikaji adalah relasi integral antara media, audience dan system sosial. Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur. Information Seeking Theory, yang mengkaji tentang proses dimana pengguna (users) mengikuti untuk menikmati informasi yang diperlukan dan pemenuhan informasi yang dibutuhkan dengan menggunakan pendekatan fomal atau informal melalui sumber-sumber pelayanan informasi yang akhirnya menjawab kesuksesan atau kegagalan untuk menemukan informasi yang diinginkan.

  

Tentu masih ada banyak teori yang terdapat di dalam ilmu komunikasi. Teori-teori tersebut telah dikembangkan sedemikian kuat di kalangan ahli komunikasi dalam berbagai madzab pemikiran teoretik, dan kiranya dapat digunakan untuk mengembangkan teori ilmu komunikasi dakwah. Ilmu komunikasi dakwah merupakan studi lintas disiplin, di mana ilmu komunikasi adalah ilmu sosial dan ilmu dakwah adalah ilmu agama. Sebagaimana ilmu-ilmu yang digolongkan lintas disiplin, maka tentu dapat menggunakan teori-teori yang sudah ada untuk mengembangkan disiplin keilmuan ini.

  

Perspektif Psikologi


Baca Juga : Upaya Mengurangi Sampah Makanan Komunitas Garda Pangan

  

Psikhologi disebut sebagai ilmu jiwa atau lebih jelas ilmu jiwa manusia. Psikhologi adalah suatu disiplin yang mengalami proses empirisasi yang sangat ketat. Semula yang menjadi kajian psikhologi itu adalah jiwa yang harus dirumuskan bagaimana dan apa indicator-indikatornya. Jiwa harus dituangkan dalam konsep yang empiris dan terukur, sehingga memenuhi standart ilmu pengetahuan terutama dalam paradigma positivistic yang kala itu sangat dominan. Makanya, dalam perkembangan berikutnya psikhologi menjadi ilmu yang sangat empirik dalam mengkaji perilaku manusia. Jadi emosi, sikap dan perilaku manusia adalah cermin untuk melihat jiwa manusia. Itulah sebabnya psikhologi di seluruh Indonesia menjadi sangat positivistik meskipun tetap saja ada yang berkonsepsi lain dan kemudian dapat dianalisis dengan pendekatan penelitian kuantitatif.

  

Dalam kajian di Fakultas Dakwah dan komunikasi, maka terdapat prodi Bimbingan dan Penyuluhan Masyarakat Islam, yang sudah berdiri sangat lama, dan tentu sudah banyak kajian yang mengkhususkan tentang hal ini, dan salah satu perspektif yang biasa digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan psikhologi. Oleh karena itu, psikhologi menjadi ilmu dasar di dalam studi-studi bimbingan dan penyuluhan dan bahwa saya sebut ilmu yang menjadi andalan dalam studi bimbingan dan konseling. Makanya, secara sengaja saya pilih juga perspektif psikhologi ini untuk menjadi pintu masuk bagi pengembangan Piskhologi Dakwah, yang memang menjadi keharusan untuk dikembangkan.

  

Di dalam tulisan ini, secara sengaja saya menggunakan paradigm di dalam prikhologi sosial, sebagai disiplin integrative yang menghubungkan antara psikhologi dengan fenomena sosial. Psikhologi sosial ialah cabang psikhologi yang merupakan studi interdisipliner, merupakan pemaduan antara psikhologi dan sosiologi. Mengkaji pikiran, perasaan dan perilaku individu dalam kaitannya dengan dunia sosial yang dipengaruhi oleh lingkungan fisik maupun lainnya. Dikembangkan oleh Mc Dougall melalui The Introduction of Social Psychology pada paruh pertama abad ke 20.

  

Di dalam literature disebutkan bahwa nativisme juga disebut sebagai pembawaan. Pandangan paradigma ini bahwa semenjak lahir manusia telah membawa potensi. Tokohnya adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860). Disebut sebagai aliran pesimistis, sebab manusia akan berkembang selama memiliki bakat yang dianugerahkan kepadanya. Ada dua teori yang dikaitkan dengan nativisme: psikhoanalisis dan humanistik. Tokoh utama dalam paradigm psikhoanalisis adalah Sigmund Freud dan tokoh dalam paradigm humanistic adalah Abraham Maslow.

  

Teori Psikoanalisis, terkait dengan teori struktur kepribadian: id (biologis), Ego (psikhologis) dan superego (sosiologis). Di dalam id yang dominan ialah seksualitas dan agresivitas. Prinsip kesenangan, yang naluriah. Di dalam ego terdapat sistem kepribadian, yang menyeimbangkan antara id dan superego. Di dalam ego terdapat kesadaran yang dibentuk oleh pengaruh luar atau lingkungan. Ego merupakan hasil tindakan yang saling mempengaruhi antara lingkungan dan perkembangan individu.

  

Bisakah teori ini digunakan untuk mengembangkan teori dakwah. Jawabannya tentu ya atau tidak. Tetapi saya menganggap bahwa teori ini saya kira bisa digunakan untuk melihat fenomena dakwah. Bukankah manusia memang memiliki id, ego, dan superego. Hanya saja jika Freud lebih menekankan pada sifat seksualitas dan agresivitasnya, maka konsepnya tentu bisa diubah dengan lebih soft. Misalnya bahwa manusia memiliki nafsu biologis yang penting untuk dipenuhi, sehingga konsepsinya lebih dibuka termasuk kebutuhan berketuhanan atau kebutuhan bersenang-senang atau rekreasi, maka dapat dibuatkan rekreasi yang bercoarak spiritual bukan hanya kebutuhan rekreatif fisikal. Wisata ziarah dan ritual adalah contoh mengenai bagaimana id manusia bisa dikondisikan. Demikian pula ego, yang bercorak psikhologis bahwa manusia juga memiliki kebutuhan pemenuhan psikhologisnya yang tidak hanya fisikal yang menghasilkan psikhologikal, akan tetapi juga dimensi spiritual. Sedangkan superego adalah kebutuhan yang terkait keinginan untuk bercorak kebutuhan sosial. Berkawan, bertemu kekasih, bertemu Tuhannya dan sebagainya.

  

Dengan demikian memang diperlukan pendekatan lain untuk menggunakan teori psikholanalisis dalam kerangka mengembangkan teori dakwah. Saya mengusulkan teori psikhologi analisis transcendental atau psikhologi analisis profetik. Jadi semata-mata menggunakan cara kerja teori tersebut untuk menggambarkan atau menjelaskan fakta atau realita kejiwaan manusia atau masyarakat.

  


Baca Juga : Nestapa Perempuan: Kala Agama Dilacurkan untuk Hasrat Nikah Sementara

Teori Humanistik. Aliran ini menolak psikholanalisis dan behavioristik. Psikhoanalisis terlalu menekankan pada naluri seksualitas dan sikap agresif, kaum behavioristik lebih menekankan pada fantor lingkungan dan melupakan faktor internal individu. Di antara tokoh aliran humanisme ialah Abraham Maslow (semula penganut behavioristik), menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh motivasi individu.

  

Teori kebutuhan dasar. Maslow mengidentifikasi ada lima kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan phisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial (kasih sayang), penghargaan (kepuasan) dan aktualisasi diri. Kebutuhan ini seperti gambar segitiga dari kebutuhan phisik ke self-actualization.

  

Teori ini secara pasti dapat digunakan untuk mengembangkan teori dakwah. Artinya bahwa proposisinya bisa dinyatakan bahwa semakin dekat aktivitas dakwah dengan kebutuhan manusia sebagaimana dinyatakan oleh Maslow, maka akan semakin besar peluang dakwah akan berhasil. Untuk kepentingan ini, maka dakwah harus dijadikan sebagai factor eksternal yang dapat berkorelasi dengan pemenuhan kebutuhan manusia. Manusia memiliki kebutuhan untuk memperoleh rasa kasih sayang, maka dakwah harus menggunakan konsepsi kasih sayang sebagai inti dakwahnya. Manusia memerlukan pemenuhan kebutuhan kepuasan, maka dakwah yang berhasil adalah dakwah yang memberikan kepuasan pada aspek fisikal, sosial atupun religious.

  

Teori diri (Self Theory). Teori ini dikembangkan oleh Carl Rogers (ahli psikhoterapis yang terfokus pada kebahagiaan individu). Prinsip dasarnya adalah dari bermasalah menjadi bahagia. Di antara Konsep-konsep penting adalah self concept, Real self (pengalaman individu). Ideal self (keinginan ideal). Incongruence (ketidakselarasan) dan congruence (keselarasan).

  

Teori ini relevan digunakan untuk mengembangkan teori dakwah. Melalui konsep-konsep yang dikembangkan misalnya pengalaman individual, ketidakselarasan atau keselarasan tentu dapat digunakan untuk melihat atau mengamati peristiwa dakwah, apakah dakwah sudah menggunakan konsep-konsep ini di dalam praktik dakwah. Misalnya studi tentang perubahan dari sikap dan perilaku tidak selaras menjadi selaras karena sentuhan dakwah atau praktik penyelenggaraan dakwah. Melalui teori ini sepertinya memberikan sumbangan konseptual bahwa dakwah mestilah dilakukan dengan mempertimbangkan dimensi pengalaman manusia, keselarasan dan ketidakselarasan sikap, emosi dan tindakan manusia.

  

Paradigma empirisme  memiliki proposisi bahwa perilaku manusia sesungguhnya ditentukan oleh factor lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Berbeda dengan teori-teori dalam paradigma nativisme, yang menyatakan factor bakat sangat menentukan perilaku manusia, maka di dalam paradigma ini justru sebaliknya. Potensi manusia akan menjadi kenyataan karena dipicu oleh factor eksternal.

  

Tokohnya ialah John Locke (1632-1706). Disebut juga sebagai teori environmentalisme. Prinsip dasar di dalam teori ini adalah teori behavioristik di mana ada reward and punishment. Teori behavioristik dikembangkan oleh J.B. Watson, menggunakan metode eksperimen untuk melengkapi metode observasi dan lainnya.

  

Teori ini secara umum sudah sangat dikenal oleh pengamat, pengkaji dan peneliti dakwah, sebab memang sangat masyhur. Bahkan tidak hanya ahli psikhologi tetapi juga ahli-ahli sosiologi menggunakan teori ini sebagai bagian dari kajiannya. Di antara yang bisa dilakukan untuk menggunakan teori ini adalah dengan menjadikan dakwah sebagai factor eksternal (menjadikannya sebagai lingkungan yang memiliki kemampuan untuk menstimuli) terhadap perilaku atau tindakan individu atau komunitas. Dakwah bisa berupa lilisan, bil hal, bil mal, bil yad dan sebagainya. dakwah bil mal misalnya tentu akan sangat efektif untuk mengubah perilaku individu atau komunitas agar bersesuaian perilaku atau tindakannya dengan ajaran agama.


Baca Juga : Riset Islamic Studies di Era Integrasi Ilmu (Bagian Satu)

  

Derivasi dari teori ini ialah teori rangsang balas (stimuly-respons) dikaitkan dengan Ivan Pavlov, L. Thorndike. Watson adalah pendukung Pavlov dalam kajian ilmiah. Perkembangan lebih lanjut dari teori SR ialah Classical Conditioning theory. Ada conditioned stimulus dan conditioned response. Pavlov menggunakan anjing sebagai percobaan, sedangkan watson menggunakan manusia untuk bereksperimen mengenai SR. Bayi usia 9 bulan. Ada neutral stimulus (bermain tanpa ketakutan pada tikus), unconditioned stimulus (pemukulan benda) yang menimbulkan ketakutan. Akhirnya begitu ada tikus maka menjadi takut.

  

Teori pengkondisian operan oleh Edward Lee Thorndike. Menghasilkan teori trial and error, yaitu teori berasal dari percobaan puzzle yang diperuntukkan bagi kucing. Kala kucing melakukan upaya-upayanya itu disebut sebagai proses uji coba sampai menemukan cara yang benar. Manusia akan melakukan upaya baru untuk menghadapi situasi yang baru dan sulit. Ada trial error.

  

Teori interaction outcome. Dikembangkan oleh John Thibaut dan Harold Kelly, 1959. Proposisinya: interaksi sosial merupakan karakteristik dari relasi sosial daripada perilaku individu. Relasi sosial tentu ditandai dengan interaksi-interaksi sosial baik yang khusus maupun umum. Dan sebuah relasi sosial akan bisa bertahan lama jika di antara yang berinteraksi tersebut memiliki kesamaan dalam tujuan dan kegunaan.

  

Teori-teori sebagaimana telah dijelaskan tentu bisa digunakan untuk meneliti aktivitas dakwah yang dilakukan oleh individu atau organisasi. Tentu saja yang diambil adalah metode kerjanya, yaitu penerapan eksperimen terhadap sasaran dakwah. Tentu saja bukan seperti yang dilakukan para ahli psikhologi ini secara umum, akan tetapi lebih khusus mengarah pada perlakukan dakwah terhadap sasaran dakwah. Teori interaction outcome, misalnya dapat digunakan untuk mengembangkan teori interaksi sosial dalam dakwah yang berbasis pada ajaran agama. Jadi bukan hanya interaksi dengan menggunakan pesan-pesan umum, akan tetapi pesan yang bercorak keagamaan.

  

Perspektif konvergensi merupakan penggabungan dari perspektif nativisme dan empirisme. Proposisinya adalah perilaku manusia dipengaruhi oleh faktor bawaan dan juga lingkungan. Teori ini saya kira paling empiris, sebab telah menggabungkan dua paradigm sekaligus. Manusia memiliki bakat dan dengan perlakukan secara memadai dari factor lingkungan tentu akan semakin potensial untuk berkembang. Kelemahan teori lingkungan adalah tidak memperhatikan bakat orang, sedangkan paradigm empiris terlalu mendewakan factor lingkungan dengan mengabaikan bakat atau potensi yang dimiliki individu.

  

Teori kognitif (Teori Kresch and Crufchfield, POX Heider, Disonansi Kognitif, teori Belajar Sosial, Teori Belajar Sosial dan Tiruan, Teori Proses Peniruan, Teori Lapangan Kurt Lewin). Teori ini lahir tahun 1959 sebagai akibat kegagalan teori behavioristik, sehingga muncul teori-teori lain dalam bidang yang lain, pengaruh teknologi dan munculnya komputer dan sebagainya. Teori Kresch and Crufchfield, mendasarkan teorinya pada prinsip dinamika tingkah laku dengan proposisi: motivasi dapat dilihat dari perilaku secara keseluruhan, ketidakstabilan psikhologis seseorang dapat menyebabkan ketegangan, frustasi dalam mencapai tujuan dapat menghasilkan perilaku adaptif dan nonadaptif. Manusia   dapat belajar dari situasi sosialnya.

  

Di dalam dakwah dikenal bahwa seseorang memiliki potensi untuk berkembang. Tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki bakat atau potensi yang diberikan oleh Allah sebagai bekal kehidupan. Manusia juga mengalami kegagalan dan kesuksesan. Maka Allah menganugerahkan kemampuan untuk belajar dari dunia sosial di sekelilingnya. Tentu saja ada yang berhasil secara optimal dan ada yang kurang berhasil. Ada saatnya bangkit dan ada saatnya harus berupaya secara lebih keras lagi untuk bangkit. Jika individu sering mengalami kegagalan, maka tentu akan membuatnya ragu atau putus asa dan sebagainya. Maka tugas dakwah adalah memberikan motivasi atau kepenasehatan atau pendampingan bagi pembelajaran sosial seperti ini.

  

Teori yang dihasilkan oleh Fritz Heider (1946) disebut sebagai teori keseimbangan antara P (perasaan atau sikap), O (pihak lain), dan X (obyek lain). Keseimbangan ideal terjadi saat ketiganya serasi dalam kesepakatan dan tujuan. Ketidakseimbangan terjadi jika ketiganya tidak serasi dalam kesepakatan dan tujuan. Dikembangkan oleh Leon Festinger (1957). Kesadaran terdiri dari elemen-elemen kognisi yang saling terhubung. Hubungan antar elemen: tidak relevan, disonan dan konsonan.

  

Teori ini dapat dijadikan sebagai pengungkit pengembangan teori dakwah. Teori keseimbangan dapat digambarkan bahwa terdapat seorang da’i sebagai pihak lain, dan ada individu dengan perasaan dan sikapnya yang berseberangan atau berbeda dengan da’i, maka keberhasilan da’i tersebut adalah pada saat dia mampu mengubah perasaan dan sikap yang kurang relevan menjadi relevan atau bersesuaian.

  

Sepengetahuan saya, bahwa studi psikhologi dakwah sudah lama dikembangkan, sebab tulisan tentang psikhologi dakwah sudah ada semenjak tahun 1980-an. Artinya sudah berkisar puluhan tahun. Hanya saja yang saya lihat –semoga saya tidak salah—bahwa karya dalam bidang ini masih berupa karya pengantar, sehingga baru membuka cakrawala adanya disiplin ini. Padahal seharusnya sudah dapat mengembangkan paradigma dan teori yang bisa dikategorikan sebagai paradigma dan teori psikhologi dakwah.

  

Jadi masih perlu kerja keras untuk menghasilkan teori-teori psikhologi dakwah profetik atau teori psikhologi dakwah transcendental, yang berbasis pada teori-teori psikhologi yang sudah hadir selama ini. Sungguh tugas para akademisi dakwah adalah mengembangkan ilmu dakwah yang integratif