Eva Putriya Hasanah Dalam waktu kurang dari dua tahun terakhir, peta regulasi media sosial dunia mengalami perubahan besar. Negara-negara yang selama ini memiliki pendekatan berbeda terhadap ruang digital—Cina dengan kontrol ketatnya, Australia dengan nilai liberal-demokrasinya, dan Malaysia dengan pendekatan regulasi hybrid-nya—tiba-tiba menemukan diri mereka berada pada arah yang sama: memperketat pengawasan dan penggunaan media
Eva Putriya Hasanah Rahmah El Yunusiyyah merupakan salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah pendidikan Indonesia dan dunia Islam. Lahir pada tanggal 29 Oktober 1900 di Padang Panjang, Sumatera Barat, ia tumbuh di tengah lingkungan Minangkabau yang dikenal dengan tradisi merantau, kecerdasan sosial, dan budaya matrilineal yang memberi ruang bagi perempuan untuk berkarya.
Eva Putriya Hasanah Di kaki Gunung Cikuray, udara Garut terasa lebih sejuk. Di sanalah berdiri Peacesantren Welas Asih, sebuah pesantren yang berbeda dari kebanyakan. Alih-alih hanya mengajarkan ilmu agama, pesantren ini juga menanamkan nilai perdamaian dan kecintaan terhadap alam. Bagi mereka, mencintai Allah berarti juga mencintai bumi yang diciptakan-Nya. Pesantren ini didirikan oleh
Eva Putriya Hasanah Di era ketika semua orang bisa berbicara apa saja di media sosial, Tiongkok kini mengambil langkah berbeda. Negara tersebut baru saja menerapkan kebijakan yang mewajibkan para influencer atau pencipta konten memiliki ijazah atau sertifikat resmi jika ingin membahas topik-topik profesional seperti hukum, kesehatan, keuangan, pendidikan, dan teknologi. Baca jugaEmpat Pekerjaan yang
Oleh Eva Putriya Hasanah Sejarah peradaban manusia tidak selalu bersinar terang. Ada masa ketika berpikir rasional dianggap berbahaya, bertanya berarti melawan Tuhan, dan mencari penjelasan ilmiah bisa mengakhiri hukuman mati. Masa itu dikenal sebagai Abad Kegelapan (Abad Kegelapan) — periode antara runtuhnya kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 hingga sekitar abad ke-10 Masehi, ketika
Oleh Eva Putriya Hasanah Dalam dunia yang serba cepat, penuh distraksi, dan sering kali membuat kita merasa kehilangan arah, banyak orang mencari cara untuk tetap tenang dan berpijak pada nilai-nilai yang kokoh. Menariknya, salah satu jawaban yang paling relevan justru datang dari lebih dari dua ribu tahun lalu — dari ajaran para filsuf
Oleh Eva Putriya Hasanah Tahukah kamu bahwa Universitas Oxford adalah universitas pertama di Eropa yang mengajarkan Bahasa Arab? Inilah kisah menarik tentang bagaimana pertemuan antara Barat dan dunia Islam pada abad ke-17. Baca jugaEmpat Pekerjaan yang Bakal Eksis di Era Covid-19 Hingga Tahun 2021Bahasa Arab di Jantung Oxford Di balik menara batu
Oleh Eva Putriya Hasanah Kita sering mendengar nasihat sederhana: “Berbagi itu membahagiakan.†Namun, apakah pernyataan ini sekadar pesan moral, atau memang memiliki dasar ilmiah? Sejumlah penelitian psikologi sosial ternyata membuktikan bahwa berbagi—terutama dalam bentuk pengeluaran untuk orang lain—benar-benar meningkatkan kesejahteraan subjektif seseorang. Fenomena ini dikenal dengan istilah prosocial spending, yaitu penggunaan uang
Eva Putriya Hasanah Di Jepang, makan siang di sekolah bukan sekadar jeda untuk mengisi perut. Ia adalah bagian dari pendidikan, budaya, dan kebijakan negara yang dijalankan dengan serius. Program ini bahkan telah menjadi salah satu rahasia Jepang dalam membentuk generasi sehat dan berdisiplin. Menariknya, makan siang di sekolah Jepang tidak hanya diatur melalui menu
Eva Putriya Hasanah Aktivis lingkungan internasional asal Swedia, Greta Thunberg, kembali menarik perhatian publik dengan pernyataannya tentang keterkaitan isu keadilan iklim dengan situasi di Palestina. Dalam sebuah wawancara, ia menegaskan bahwa perjuangan melawan krisis iklim tidak bisa dilepaskan dari perjuangan kemanusiaan, termasuk membela hak-hak rakyat Palestina. Baca jugaEmpat Pekerjaan yang Bakal Eksis di
Eva Putriya Hasanah Nepal baru saja menorehkan sejarah baru dalam panggung politiknya. Untuk pertama kalinya, negeri di kaki Himalaya itu memiliki perdana menteri interim perempuan: Sushila Karki. Kejutan ini tidak hanya datang dari sosok yang terpilih, tetapi juga dari cara pemilihannya. Generasi Z, kelompok muda yang lahir di era digital, memainkan peran dominan dengan
Eva Putriya Hasanah Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin merambah ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga hiburan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, ada satu ranah yang semakin terasa kehadirannya: politik. Kampanye politik tidak lagi hanya mengandalkan spanduk, baliho, dan debat panjang, melainkan kini juga ditopang oleh algoritma cerdas yang
