(Sumber : uinjkt.ac.id)

In Memoriam Prof. Azyumardi Azra: Kritisisme Konstruktif

Khazanah

Mungkin sudah ratusan tulisan untuk mengenang kepergian Prof. Azyumardi Azra yang telah  menghadap kehadirat Allah SWT. Banyaknya tulisan tersebut menandai betapa banyak orang yang merasakan kehilangan atas kepergian Prof. Azyumardi ke alam baka. Maklum Prof. Azyumardi merupakan tokoh nasional dan internasional yang berasal dari bumi pertiwi, Indonesia. Prof. Azyumardi dikenal luas sebagai akademisi yang memiliki komitmen besar dalam pembangunan bangsa, dalam berbagai aspeknya. Prof. Azyumardi tidak hanya piawai dalam menjelaskan pikiran, ide dan gagasannya secara lesan tetapi juga mampu menuliskannya secara jernih di dalam karya-karyanya. Kita bisa menikmati kelugasan dan analisisnya yang tajam dalam berbagai media nasional dan internasional. Hampir setiap pekan tulisannya muncul di Harian Republika, Kompas, Media Indonesia, Sindo dan lainnya. Bahkan dalam sepekan bisa saja ada dua tulisan dalam koran yang sama. Kolom resonansi di Koran Republika selalu menampilkan gagasannya yang orisinal dan penuh dengan konsep-konsep baru yang menginspirasi. 

  

Komitmennya  pada dunia akademis yang kritis tetapi konstruktif terus dijaganya sepanjang hidupnya. Prof. Azyumardi  tidak segan melakukan kritik konstruktif pada pemerintah, jika dirasakannya ada kebijakan yang tidak sesuai dengan harkat dan martabat bangsa dan jauh dari kepentingan untuk pembelaan kepada rakyat. Tulisan-tulisannya  yang penuh dengan kritik konstruktif tersebut menjadikannya sebagai akademisi dan intelektual yang independent dalam menatap kehidupan ke depan. Anehnya meskipun Prof. Azyumardi melakukan kritik terhadap pemerintah, akan tetapi justru diangkat menjadi Ketua Dewan Pers 2022-2025. 

  

Kekritisannya terhadap pemerintah ternyata tidak menjadikannya sebagai individu yang teralienasi  dari pemerintah. Dan kedekatannya dengan pemerintah juga tidak melunturkan jiwa kritisnya dalam menyikapi dunia kehidupan di sekelilingnya. Inilah kelebihan Prof. Azyumardi yang tidak dimiliki oleh akademisi atau intelektual lainnya. Keikhlasan untuk melakukan kritik tanpa ada kepentingan yang manifest atau latent itulah yang barangkali mengantarkan kritik Prof Azyumardi justru menjadi pemicu untuk melakukan perubahan pada siapapun yang dikritiknya. 

  

Kekritisan tersebut telah menjadi bagian dari jiwa Prof. Azyumardi dan hal itu telah lama berada di dalam jiwa dan pikirannya. Kritisisme seorang jurnalis yang telah terbina lama ternyata tidak hanyut dalam status, kedudukan dan jabatan. Jiwa jurnalisme di dalam dirinya tidak pernah pudar dan mengantarkannya untuk terus kritis tetapi dalam bingkai konstruktif. Jika kita membaca tulisan Prof. Azyumardi di Resonansi Harian Republika atau kolom di Kompas, kita akan merasakan betapa hentakan jiwanya yang tertuang di dalam tulisannya. Bagi kita, sulit untuk menemukan sosok ilmuwan yang memiliki komitmen besar dalam upaya memberikan kritik untuk perbaikan masyarakat sebagaimana yang dilakukannya. Ada banyak intelektual dan akademisi yang kritis tetapi pikirannya bisa saja “melukai” individu atau institusi yang dikritiknya. Prof. Azyumardi merupakan sosok yang berbeda dengan akademisi atau intelektual yang bergenre seperti itu.

  

Prof. Azyumardi tidak hanya piawai menuliskan gagasannya dalam artikel lepas atau artikel ilmiah popular akan tetapi juga menuliskan gagasannya secara serius dalam buku dan artikel ilmiah di dalam jurnal. Karya-karya yang berupa buku sangatlah menarik dan outstanding. Siapakah  kalangan akademisi yang tidak mengenal karyanya yang monumental tentang “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII”. Karya ini tentu telah melahirkan banyak doctor pengkaji Islam di Indonesia. Dipastikan citasi atas tulisannya juga luar biasa. Jika seandainya dalam setiap citasi itu dihargai dengan pahala, maka sangat layak Prof. Azyumardi  menuai keberkahan dalam kehidupan pada masa yang akan datang. Baik di dalam kehidupan di alam barzakh maupun alam akhirat. Karya-karya akademiknya  dipastikan menjadi karya monumental dan dipastikan dicitasi oleh kaum akademisi sesudahnya. Saya termasuk salah satu yang mencitasi karya-karyanya  sewaktu saya menulis disertasi di Universitas Airlangga, yang kemudian menjadi Buku dengan judul “Islam Pesisir”.

  

Karena tulisan-tulisannya, meskipun Prof. Azyumardi  telah wafat akan tetapi ide, gagasan dan pemikirannya  akan tetap hadir di dalam ruang-ruang kuliah, di dalam seminar dan diskusi dan di dalam kehidupan pribadi-pribadi  yang akan meneruskan perjuangannya. Inilah kelebihan seorang penulis, sebab pemikirannya akan terus hidup sepanjang masa. Prof. Azyumardi merupakan salah satu tokoh yang akan terus hidup dalam kajian keislaman, keindonesiaan dan kemoderenan. 

  

Saya tentu tidak akan bertemu lagi dengan beliau secara fisik, tetapi saya yakin masih akan bertemu dengan pemikirannya yang sudah diterbitkannya. Secara fisik terakhir saya bertemu dengan Beliau pada waktu pengukuhan Doktor Honoris Causa (DR.HC.) Lukman Hakim  Saifuddin di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saya sempat bertemu  dan duduk berdampingan. Sebagaimana biasa tentu saling bertanya mengenai kesehatan masing-masing. Kehadirannya dalam acara tersebut adalah sebagai Guru Besar UIN Syahid Jakarta, dan sekaligus sebagai promotor dalam penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa dimaksud. Penganugerahan tersebut digelar pada 31 Mei 2022 di Aula Harun Nasution. Pak Lukman dikukuhkan sebagai doctor oleh Rektor UIN Syahid Jakarta, Prof. Dr. Amani Lubis, MA.

  

Perkenalan saya dengan Pak Azra secara intensif adalah kala saya menjabat di Jakarta, karena ada banyak momen yang mempertemukan khususnya acara-acara yang diselenggarakan oleh Kemenag dalam pengembangan Pendidikan Tinggi Islam. Namun demikian kami sudah saling mengenal jauh sebelumnya, terutama pada saat Prof. Azyumardi  menjabat Rektor UIN Syahid Jakarta. Dan secara khusus juga sudah mengenalnya lewat tulisan dan karya-karyanya yang tentu menjadi rujukan di kala saya menulis. 

  

Pada saat pengukuhan Pak Lukman itu,  betapa kelihatan komitmennya  pada pembangunan umat beragama di Indonesia yang berbasis moderasi beragama. Bagi Prof. Azyumardi bahwa hanya dengan moderasi beragama saja masa depan Indonesia akan bisa dipertahankan dan tujuan kemerdekaan akan bisa didapatkan. Jika diringkas pemikirannya  bahwa sekarang dan akan datang yang diperjuangkan adalah Keislaman, Keindonesiaan dan kemodernen. Menjadi umat Islam Indonesia yang modern. 

  

Ada yang menarik kala saya hadir pada acara pengukuhan Pak Lukman. Saya berdampingan dengan Prof. Komaruddin Hidayat, Rector UIII Jakarta, Pak Komar berseloroh pada waktu Prof. Azyumardi Azra pidato sebagai promotor. Prof. Komar menyatakan: “dari sisi usia saya lebih tua dibandingkan Prof. Azyumardi tetapi  saya tampak lebih muda. Masalahnya karena Prof. Azyumardi itu sangat serius dan semua dipikirkannya”. Apa yang diucapkan Prof. Komar benar, memang banyak yang dipikirkan oleh Prof. Azyumardi dan itu bisa dilihat dari banyaknya tulisan yang dihadirkannya dalam presentasi  ilmiah dalam seminar nasional maupun internasional. Prof. Azyumardi itu merupakan sosok yang tidak bisa berkata tidak jika untuk urusan pengembangan ilmu pengetahuan. Termasuk juga kala harus menjadi narasumber pada acara di Kuala Lumpur yang kemudian menjadi saat kewafatannya. Prof. Azyumardi lahir di Padang Pariaman, 4 Maret 1955 dan wafat 18 September 2022. 

  

Dan yang terus saya kenang adalah beliau aktif di WAG para Profesor PTKIN dan yang selalu diupload adalah buku-buku baru dari berbagai disipilin keilmuan. Beliau jarang komentar di WAG tetapi yang terus dilakukan adalah mengirimkan buku-buku untuk teman professor. Setelah ini saya tidak tahu siapa yang akan melakukannya seperti itu.

  

Selamat jalan dalam menempuh kehidupan baru di alam barzakh. Saya yakin Prof. Azyumardi adalah orang yang dipastikan memperoleh keridaan Allah. Lahu al fatihah…

  

Wallahu a’lam bi al shawab.