(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Asosiasi Dosen Pergerakan untuk Indonesia (Bagian Satu)

Opini

Suatu kebahagiaan dan sekaligus kebanggaan ketika bertemu dalam ruang zoom dengan para pakar dari berbagai perguruan tinggi di dunia. Hal yang sungguh sangat apresiatif adalah para professor dan doctor itu berada di berbagai negara. Dari Indonesia, Arab Saudi, Australia, dan Amerika. Kemudian, yang membuat hati berbunga-bunga karena para professor dan doctor tersebut adalah aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang berhasil merengkuh jabatan tertinggi di dalam dunia akademik, Professor dan Pendidikan tertinggi atau doktor.

  

Jum’at, 4/11/2021, para aktivis PMII yang tergabung di dalam Dewan Pakar (Depak) melakukan pertemuan pertama semenjak ditetapkan sebagai Depak ADP, sekian bulan yang lalu. ADP adalah Asosiasi Dosen Pergerakan yang merupakan wadah atau perkumpulan bagi dosen yang menjadi aktivis PMII. Di masa lalu, pada waktu mahasiswa adalah aktivis PMII pada masing-masing perguruan tingginya, dan kemudian memasuki jenjang sebagai dosen baik di PTKIN/PTKIS maupun PTU. Acara yang dikemas dalam bentuk diskusi dan curah pendapat ini berlangsung nyaris tiga jam, jam 19.00-22.00 WIB. Tema semula yang dibahas adalah “Peningkatan Kapasitas Riset dan Pengabdian Masyarakat” dengan pemantik diskusi Prof. Lias Hasibuan dan Nyarwi Ahmad, PhD dengan dipandu oleh Sahabat Rois.

  

Acara pertemuan ini juga dihadiri oleh hampir seluruh Dewan Pakar dan juga pimpinan ADP. Di antara yang hadir adalah: Sahabat Lias Hasibuan, Nur Syam, Nyayu Khadijah, A. Thalabi, Sumanto al Qurthuby, Martin Kustati, Musahadi, Suaidi Asyari, Shalahuddin Kafrawi, Elta Rahmi, Ahmad Suaedy, Achmad Fathoni, Ahmad Subakir, Syamsul Umam, Khoiruddin Nasution, Abdul Halim, Ahmad Taufiq, Ali Formen, Citra Orwela, M. Raihan Syah, Rois dan Sidik NT.   

  

Acara yang digelar pertama ini benar-benar gayeng. Setelah Prof.Lias dan Dr. Nyarwi Ahmad memberikan paparannya, maka berturut-turut para peserta memperkenalkan diri, sebab ada di antara para sahabat ini yang sudah saling kenal dan ada juga yang belum mengenal. Pada akhirnya para peserta mengetahui bahwa di antara para sahabat ini ternyata memang figur-figur yang hebat dalam bidangnya masing-masing. Andaikan tidak karena teknologi informasi, maka tidak mungkin para aktivis PMII lintas benua ini bisa bertemu dalam satu meeting yang hebat. 

  

Di dalam paparannya, Prof. Lias menyatakan bahwa antara riset dan pengabdian masyarakat merupakan dua aktivitas yang saling bertemu. Sebaiknya pengabdian harus berbasis riset, sehingga pengabdian tersebut akan menjadi lebih efektif, tetapi pengabdian masyarakat juga akan dapat menghasilkan riset-riset baru. Demikian pula kaitannya dengan Pendidikan/pengajaran. Dr. Nyarwi Ahmad juga menyampaikan hal senada, dinyatakan bahwa riset sekarang ini sudah diintervensi oleh negara dan pengusaha. Artinya bahwa riset telah dijadikan sebagai instrument untuk mengukuhkan peran negara dan juga dunia usaha. Di sinilah problemnya, sehingga kekuatan civil society nyaris kurang mendapatkan tempatnya. Selain itu studi-stusi non Islamic studies harus memperoleh porsi yang besar di kalangan Perguruan tinggi Islam. Jika selama ini kita lebih banyak berkiprah di dalam Islamic studies, maka harus juga diprioritaskan studi non Islamic studies. UIN bisa mengembangkannya.

  

Kajian tentang relasi negara dan civil society perlu dikemas lebih atraktif sehingga akan menghasilkan pandangan-pandangan baru yang lebih mencerahkan. Banyak pandangan yang menarik, sebagaimana disampaikan oleh para sahabat. Prof. Sumanto Al Qurtubi misalnya menyampaikan gagasan tentang pentingnya peningkatan kualitas Lembaga Pendidikan di Indonesia. Melalui kualitas Pendidikan yang hebat, maka PT di Indonesia akan dapat menjadi destinasi mahasiswa dari seluruh Indonesia. Indonesia sudah ketinggalan dibandingkan dengan Malaysia, yang PT di sana sudah menjadi destinasi mahasiswa di belahan lain. PT Malaysia berhasil membangun imaje tentang kualitasnya. Termasuk yang penting adalah mengenai pentingnya membangun kolaborasi dengan para dosen di berbagai area. Para dosen diaspora yang menjadi aktivis tentu bisa dipetakan dan diajak kolaborasi tentang pengembangan PT dan kualitas SDM. Prof. Suaedi sebelumnya juga mengusulkan agar kita tidak tersedot seluruh pikiran kita untuk membahas moderasi beragama akan tetapi juga memperhatikan tentang program studi non Islamic studies, termasuk dosen PMII yang berada di sana. Prof. Sholahuddin juga menyampaikan gagasan tentang memperkuat jejaring di dunia internasional. Dewasa ini kita bisa melakukan kolaborasi baik dalam pembelajaran, riset dan pengabdian masyarakat.

  

Ada banyak dosen PMII yang barada di luar negeri dan berada di dalam program studi non-keislaman yang bisa bekerja sama untuk pengembangan kelembagaan. Diperlukan support bagi para pengemban kepemimpinan di Indonesia untuk Gerakan kolaborasi. Prof. Musahadi mengangkat isu tentang riset dalam konteks perkembangan akhir-akhir ini. Dinyatakan bahwa dengan hadirnya BRIN ternyata belum memberikan peluang ilmu agama untuk memiliki keterwakilan di dalamnya. Tidak ada misalnya deputi bidang keilmuan agama. Justru riset tentang agama dimasukkan di dalam bidang social humanior. Padahal di dalam rumpun ilmu sesuai dengan UU No 12 Tahun 2012, dinyatakan bahwa ilmu agama merupakan rumpun tersendiri. Diperlukan suara dari aktivis PMII, terutama ADP untuk kepentingan seperti ini. Selain itu juga diperlukan pembelaan terhadap orang-orang terpinggirkan, misalnya terkait dengan persoalan tanah. PMII harus terlibat dalam pengawasan kebijakan pertanahan baik regulasi atau implementasi regulasi tersebut bagi rakyat. Demikian pernyataan Prof. Eti dari UIN Jambi. 

  

Hal yang sesungguhnya diperlukan oleh jajaran ADP adalah bagaimana mengartikulasikan pesan-pesan akademis dan juga pesan-pesan etis dalam kaitannya dengan relasi antara dosen, perguruan tinggi, negara dan masyarakat dalam konteks membangun Indonesia ke depan terutama dalam menghadapi Indonesia Emas, 2045. Peran ADP diharapkan dapat memberikan konstribusi positif tidak hanya bagi pengembangan SDM, kekuatan institusi Pendidikan tetapi juga kekuatan masyarakat di tengah tantangan yang makin kompleks dewasa ini.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.