Wednesday, July 29 2026

Category: Uncategorized

Menteri agama, Fahrul Razi telah menyatakan bahwa tahun 2020 M/1441 H, pemerintah Indonesia tidak akan mengirimkan jamaah haji Indonesia. tahun ini menjadi tahun yang berat sebab mestinya Indonesia akan mengirimkan jamaah haji sebanyak 221.000 orang dan akhirnya semuanya gagal berangkat.\r\nCalon jamaah haji Indonesia tersebut terdiri dari sebanyak 203.320 orang jamaah haji regular dan sisanya 17.608

Adakah masih ada keinginan untuk menyelenggarakan program pembelajaran sebagaimana sebelum masa pandemi covid-19? Tentu jawabannya ada. Di beberapa lembaga pendidikan ternyata ada keinginan untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka sebagaimana di masa lalu.\r\nMungkin memang ada tuntutan untuk memulai belajar lagi di sekolah atau memang sudah ada kesiapan untuk itu. Tetapi sebagian besar orang tua atau wali

Covid-19 juga memaksa anak-anak untuk belajar di rumah, learning at home. Covid-19 benar-benar digdaya, sebab semua harus diatur sesuai dengan standart yang diperbolehkan. Di antaranya adalah standart kesehatan yang sedemikian ketat. \r\nCovid-19 adalah penyakit kerumunan atau crowd desease. Makanya, di mana terdapat tempat kerumunan maka disitu persebaran covid-19 menjadi melonjak. \r\nPemerintah sudah menerapkan PSBB. Namun

Era covid-19 ini luar biasa. Sejumlah tatanan lama yang selama ini sudah menjadi baku harus mengalami dekonstruksi. Di masa lalu, nyaris tidak ada yang berpikir bahwa untuk menjadi tempat ibadah harus memperoleh pengesahan dari yang berwajib.\r Namun di era covid-19 ini tidak ada yang bebas merdeka untuk melakukan semuanya. Termasuk juga tempat ibadah dalam menyelenggarakan

Oleh: Dr. Lukmono Hadi [Dosen UPN Yogyakarta] Sosiolog bencana yang mengajar di Prodi School of Social Sciences di PT terkemuka dunia, Nanyang Technological University, Sulfikar Amir membuat statement, kalimatnya saya kutip sebagai berikut: \”Di Indonesia, kepercayaan publik pada otoritas pemerintah tergerus karena informasi kurang transparan dan kapasitas tak memadai sejak awal penanganan pandemi Covid-19. Itu

https://www.youtube.com/watch?v=WDIuAO5HyEs

Gagasan sistem ekonomi pasar sosial sebenarnya sudah lama, yaitu di kala usai Perang Dunia ke dua. Di Jerman dengan tokohnya Kanselir Konrad Adenauer seorang tokoh Persatuan Demokrat Kristen (CDU). Ekonomi pasar sosial dikenal juga sebagai Kapitalisme Rhein, dan berasal dari Madzab Ekonomi Freiburg saat jeda antar perang dunia. Sistem ini dianggap sebagai jalan ketiga di

Kata jiwa berasal dari bahasa Arab yaitu nafs yang secara harfiah bisa diterjemahkan sebagai diri atau secara lebih sederhana bisa diterjemahkan dengan jiwa, dalam bahasa Inggris disebut soul atau spirit. Kesehatan jiwa (mental) sangat pentingdalam mencapai tujuan hidup berbangsa dan bernegara. Tiadakesehatan tanpa kesehatan jiwa, hal ini jelas tersirat dalam laguKebangsaan Indonesia Raya, yang salah

Tulisan ini rasanya agak emosional, dan itu saya sadari sepenuhnya. Saya merasakan betapa berat orang-orang kelompok “miskin” dan “rentan” ekonomi dalam menghadapi pandemi virus corona sekarang ini. Saya juga menyadari mengapa pemerintah terasa agak lamban dalam melakukan “lock down” sebagaimana yang dilakukan oleh Malaysia, Filipina, atau beberapa negara lainnya. Dan akhirnya pemerintah menetapkan status Pembatasan

Rasanya kurang tepat jika tidak juga membicarakan mengenai orang kaya di Indonesia. Mungkin di antara kita ada yang bertanya: “adakah orang terkaya di Indonesia yang masuk dalam jajaran satu persen penguasa ekonomi dunia?” Jawabannya tentu sudah bisa diduga: “ada”. Pertanyaan berikutnya adalah: “bagaimana di dalam sistem ekonomi yang di dalam UUD 1945, sebelum diamandemen berbunyi:

Seingat saya di Toko Buku Periplus, Bandar Udara Juanda, saya membeli buku yang sangat luat biasa, “The Great Divide, Unequal Societies and What We Can Do About Them”, yang ditulis oleh Joseph E. Stiglitz, pada 2017. Seingat saya sedang ada potongan harga 20 persen. “Wah, ini ada buku yang menarik dalam batin saya”. Tetapi seperti

Sebenarnya ketidaksetaraan ekonomi itu sangat membahayakan bagi keberlangsung kehidupan sosial. Jika negara terus mengembangkan “rent seeking” sebagai instrumen perekonomian, maka yang diuntungkan hanyalah kalangan satu persen saja sedangkan yang 99 persen sisanya dalam keadaaan sebaliknya. Praktik “rent seeking” ternyata juga terus berlangsung hingga saat ini.\nKetidaksetaraan ekonomi bukan hanya cerita Amerika Serikat saja, akan tetapi nyaris

1 2 3 4 5 6 7