(Sumber : www.thatsbook.com)

Mengenal Tiga Kompilasi Tafsir Ibn 'Abbas

Daras Tafsir

Pendahuluan

  

Sebagai sahabat bergelar Tarjuman al-Qur’an, nama Ibn ‘Abbas dalam diskursus Ilmu Tafsir amat diperhitungkan. Penafsiran-penafsirannya dijadikan sebagai sumber primer oleh para ulama sejak dulu hingga sekarang. Hal ini bukan hanya dilatarbelakangi oleh kecerdasan dan kecakapannya dalam mengungkap makna tersirat maupun tersurat di balik ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi ditopang pula oleh doa Nabi SAW yang secara khusus diperuntukkan baginya, “Ya Allah pahamkanlah ia dalam (ilmu) agama dan ajarkanlah takwil kepadanya.” Belum lagi statusnya sebagai bagian dari keluarga Nabi, tentu semakin membuat penafsiran-penafsirannya memiliki nilai tersendiri. 

  

Oleh karenanya, tidak mengherankan bila para mufasir memberikan perhatian yang besar pada penafsiran-penafsiran Ibn ‘Abbas. Di antara bentuk konkret perhatian itu ialah dikerahkannya usaha sedemikian rupa agar penafsiran-penafsiran Sang Tarjuman al-Qur’an terkumpul dalam sebuah karya khusus. Sebagai contoh, tiga kompilasi Tafsir Ibn ‘Abbas yang masing-masing ditulis oleh al-Fayruz Abadi, ‘Abdul ‘Aziz b. ‘Abdullah al-Humaydi dan Rasyid ‘Abdul Mun‘im ar-Rajal. Ketiga kompilasi inilah yang akan kita bahas pada artikel kali ini.

  

Pertama: Tanwir al-Miqbas

  

Judul lengkapnya, Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas. Kompilasi ini ditulis oleh Abu Thahir Muhammad b. Ya‘qub al-Fayruz Abadi, seorang ulama terkenal yang berasal dari Persia dan wafat pada tahun 816 H di al-Quds, Palestina. Pada bagian pembuka, al-Fayruz menuliskan rangkaian sanad yang beliau jadikan sebagai dasar mengumpulkan kompilasi Tafsir Ibn ‘Abbas. Bila diperhatikan, rangkaian sanad tersebut bermuara pada Muhammad b. Marwan as-Suddi ash-Shaghir à Muhammad b. as-Sa’ib al-Kalbi à Abu Shalih à Ibn ‘Abbas.

  

Sayangnya, rangkaian sanad tersebut merupakan jalur periwayatan yang “paling bermasalah”. Muhammad b. as-Sa’id al-Kalbi misalnya, dianggap oleh para kritikus hadis sebagai perawi yang periwayatan-periwayatannya mesti ditinggalkan. Lebih dari itu, sekelompok ulama bahkan “mencurigainya” telah melakukan pemalsuan. Pun demikian dengan Muhammad b. Marwan as-Suddi ash-Shaghir, perawi yang mentransmisikan riwayat dari al-Kalbi. Pada konteks ini, as-Suyuthi berkata, “Jika riwayat Muhammad b. Marwan as-Suddi ash-Shaghir bersanding pada jalur periwayatan al-Kalbi, maka itu merupakan rangkaian sanad kebohongan (silsilah al-kadzib).”

  

Kedua: Tafsir Ibn ‘Abbas

  

Judul lengkapnya, Tafsir Ibn ‘Abbas wa Marwiyyatuhu min Kutub as-Sunnah. Kompilasi ini yang ditulis oleh ‘Abdul ‘Aziz b. ‘Abdullah al-Humaydi ini merupakan disertasinya yang ia ajukan pada King Abdul Aziz University, 1401 H, di bawah promotor Prof. Dr. Muhammad Muhammad Abu Syuhbah. Seperti yang terlihat dari judulnya, dalam mengkompilasi riwayat-riwayat tafsir Ibn ‘Abbas, al-Humaydi merujuk pada kitab-kitab hadis yang secara detail ia tuliskan pada bagian mukadimah. Kitab-kitab hadis yang dimaksud adalah Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Muwaththa’ Malik, Sunan Abi Dawud as-Sijistani, Sunan an-Nasa’i, Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah, Musnad Ahmad, Musnad Abi Dawud ath-Thayalisi, Mushannaf ‘Abdzur Razzaq, al-Muntaqa karya al-Jarud, Musnad asy-Syafi‘i, Sunan ad-Daruquthni, Sunan ad-Darimi dan Musnad al-Humaydi.


Baca Juga : Kajian Atas Kelompok Marginal dalam Perspektif Dramaturgi

  

Alih-alih sekadar menghimpun, ‘Abdul ‘Aziz al-Humaydi juga menelaah lebih lanjut riwayat-riwayat tafsir Ibn ‘Abbas yang berhasil ia kumpulkan. Dalam hal ini, ia melakukan kritik sanad melalui empat tahapan gradual, yaitu mendedah biografi setiap perawi, meneliti pendapat para ulama kritikus hadis terkait integritas setiap perawi, verifikasi ketersambungan sanad, dan menetapkan “status” riwayat sesuai dengan kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh para ulama.

  

Berdasarkan telaah yang ia lakukan terhadap kitab-kitab hadis di atas, al-Humaydi tidak mendapati satu pun penafsiran Ibn ‘Abbas terkait 36 surah dalam Al-Qur’an. Yaitu (1) al-Fatihah, (2) al-‘Ankabut, (3) Luqman, (4) Fathir, (5) Yasin, (6) az-Zumar, (7) Ghafir, (8) al-Fath, (9) al-Mujadalah, (10) al-Jumu‘ah, (11) al-Munafiqun, (12) at-Tahrim, (13) al-Mulk, (14) at-Takwir, (15) al-Infithar, (16) al-A‘la, (17) al-Ghasyiyah, (18) al-Fajr, (19) asy-Syams, (20) al-Layl, (21) adh-Dhuha, (22) asy-Syarh, (23) at-Tin, (24) al-Bayyinah, (25) az-Zalzalah, (26) al-‘Adiyat, (27) al-Qari‘ah, (28) at-Takatsur, (29) al-‘Ashr, (30) al-Humazah, (31) al-Fil, (32) Quraisy, (33) al-Ma‘un, (34) al-Kafirun, (35) al-Ikhlash, dan (36) al-Falaq. Pun demikian dengan 78 surah lainnya, al-Humaydi tidak mendapati Ibn ‘Abbas menafsirkan semuanya secara utuh-detail. Surah Yunus misalnya, dari 109 ayat yang dikandungnya, hanya ayat ke-24 yang ditemukan penafsiran Ibn ‘Abbas, Yusuf 2 ayat (94 & 110), ar-Ra‘d 2 ayat (7 & 14), dan lain sebagainya.

  

Ketiga: Shahifah ‘Ali b. Abi Thalhah

  

Kompilasi Tafsir Ibn ‘Abbas karya Rasyid ‘Abdul Mun‘im ar-Rajal ini berjudul lengkap, Tafsir Ibn ‘Abbas al-Musamma Shahifah ‘Ali b. Abi Thalhah ‘an Ibn ‘Abbas fi Tafsir al-Qur’an al-Karim. Rasyid mengaku bahwa penulisan kompilasi ini dilatarbelakangi—atau lebih tepatnya terinspirasi—oleh pernyataan Imam Ahmad b. Hanbal yang berbunyi, “Di Mesir terdapat sebuah salinan berisi tafsir yang diriwayatkan oleh ‘Ali b. Abi Thalhah.” Sayangnya, betapa pun gigihnya mencari salinan yang dimaksud oleh Imam Ahmad itu, Rasyid tetap tidak menemukannya.

  

Dari sini, Rasyid tergerak untuk menghimpun penafsiran-penafsiran Ibn ‘Abbas yang diriwayatkan oleh ‘Ali b. Abi Thalhah dengan cara melacaknya dalam sumber-sumber yang relevan, mulai dari yang ber-genre tafsir, hadis, sejarah, sirah nabawi, hingga tauhid. Secara keseluruhan, tidak kurang dari 32 sumber yang ia lacak, di antaranya Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Ansab al-Asyraf, Tafsir at-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk, an-Nasikh wa al-Mansukh an-Nahhas, al-Qath‘ wa al-I’tinaf, asy-Syari‘ah, Tarikh Jurjan, as-Sunan al-Kubra, al-Asma‘ wa ash-Shifat, Tafsir al-Baghawi, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir Ibn Katsir, ad-Durr al-Mantsur fi at-Tafsir bi al-Ma’tsur, Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, Fath al-Qadir, Fath al-Bari dan lain-lain.

  

Setelah berhasil menghimpunnya, Rasyid mendapati dua kategori tafsir Ibn ‘Abbas yang diriwayatkan oleh ‘Ali b. Abi Thalhah. Pertama, riwayat-riwayat dengan sanad utuh seperti riwayat-riwayat yang ditulis oleh ath-Thabari, al-Baladzari, Abu Ja‘far an-Nahhas, al-Ajiri, as-Sahmi, ath-Thabrani, Abu ‘Amr ad-Dani, al-Bayhaqi, dan Abu al-Syaikh al-Hafizh ‘Abdullah b. Muhammad b. Ja‘far dalam karya mereka masing-masing. Kedua, riwayat-riwayat mu‘allaq (perawi tidak disebutkan secara utuh) seperti riwayat-riwayat yang ia temukan dalam Tafsir Ibn Katsir, Shahih al-Bukhari, ad-Durr al-Mantsur karya as-Suyuthi, Fath al-Bari karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, dan Irsyad as-Sari karya al-Qusthullani.

  

Walhasil, penting untuk digarisbawahi bahwa ‘Ali b. Abi Thalhah sendiri adalah ahli hadis sekaligus ahli tafsir yang reputasinya dikenal dengan baik oleh para ulama. as-Suyuthi dalam misalnya, saat menjelaskan tentang Gharib al-Qur’an menyatakan, “Adapun sumber utama dalam hal itu (Gharib al-Qur’an) ialah penjelasan-penjelasan valid dari Ibn ‘Abbas. Demikian pula para kolega/muridnya yang mentransmisikan penafsiran Gharib al-Qur’an Ibn ‘Abbas dengan rangkaian sanad yang sahih. Di sini saya akan menampilkan beberapa di antaranya, yakni penjelasan dari Ibn ‘Abbas melalui jalur periwayatan ‘Ali b. Abi Thalhah secara khusus, karena ia merupakan salah satu jalur periwayatan tersahih.”

  


Baca Juga : Menjaga Kebinekaan Sebagai Kebutuhan (Bagian Satu)

Penutup

  

Sehubungan dengan penafsiran-penafsiran Ibn ‘Abbas, tidak sedikit para ulama yang mengingatkan akan urgensi menelaahnya secara kritis, alih-alih menerimanya begitu saja. Hal ini mengingat ditemukannya sejumlah riwayat palsu atas nama Sang Tarjuman al-Qur’an itu. Adalah Imam asy-Syafi‘i yang sejak ribuan tahun silam mengatakan, “Riwayat tafsir dari Ibn ‘Abbas tidak ada yang valid kecuali sekitar seratus hadis.”

  

Daftar Rujukan

  

Muhammad ‘Ali an-Najjar, “Muqaddimah” dalam Majduddin Muhammad b. Ya‘qub al-Fayruz Abadi, Basha’ir Dzawiy at-Tamyiz fi Latha’if al-Kitab al-‘Aziz, Vol. 1 (Kairo: Lajnah Ihya’ at-Turats al-Islami, 1996), 1-3.

  

Abu Thahir Muhammad b. Ya‘qub al-Fayruz Abadi, Tanwir al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1992), 3-4.

  

Muhammad Husain adz-Dzahabi, at-Tafsir wa al-Mufassirun, Vol. 1 (Kairo: Maktabah Wahbah, t.t.), 61-62.

  

‘Abdul ‘Aziz b. ‘Abdullah al-Humaydi, Tafsir Ibn ‘Abbas wa Marwiyyatuhu fi at-Tafsir min Kutub as-Sunnah (Disertasi—Jami‘ah al-Malik ‘Abdul ‘Aziz, 1401 H), 23-26.

  

Rasyid ‘Abdul Mun‘im ar-Rajal, Tafsir Ibn ‘Abbas al-Musamma Shahifah ‘Ali b. Abi Thalhah ‘an Ibn ‘Abbas fi Tafsir al-Qur’an al-Karim (Beirut: Mu’assasah al-Kutub ats-Tsaqafiyyah, 1991), 5, 17-23, 59-62.