(Sumber : Nur Syam Centre)

Rama Hoy

pepeling

Oleh: Jambedaweh

  

Seraya bil-barakah dan bil-istifad pada tokoh-tokoh kita yang luar biasa ini, marilah kita membacakan surat al-Fatihah. Pada Sayyid Yusuf Talango dan Rama Hoy, al-Fatihah.

  

Perjumpaan awal saya dengan Rama Hoy terjadi secara tidak sengaja pada medio tahun 2011. Melalui perjalanan yang tidak direncanakan secara matang, bersama beberapa orang sahabat saat berkelana ke pulau Madura. Tanah penuh tuah dengan sekian banyak manusia istimewa dan khumul dengan kesederhanaannya yang apa adanya. Di ujung timur bumi para jawara bersenjata celurit itu, rombongan kami tiba tepat sesaat setelah hari berganti di pertengahan malam. 

  

Setelah memarkir mobil, pada waktu yang menurut perhitungan Jawa disebut kolo gondoyoni kami naik perahu menuju pulau Poteran Talango. Di sana terdapat makam seorang tokoh besar yang biasa disebut warga sekitar dengan Sayyid Yusuf Talango. Nama lengkapnya sendiri dalam banyak catatan yang salah satunya dikeluarkan oleh website Pemerintah Kabutapen Sumenep dinashkan dengan Sayyid Yusuf bin Ali bin Abdullah al-Hasan. 

   

Air laut memantulkan rembulan, bintang, dan cahaya lampu-lampu di daratan dan membentuk sebuah ornament indah di permukaan airnya. Bahkan riak ombak kecil melukiskan pendar kemilau aneka warna dan sesekali menyeruak  ke atas perahu dan membahasi pakaian kami. Sayup-sayup terlihat beberapa ikan mengikuti perahu yang kami tumpangi seakan-akan menantang kecepatan dan berlomba menuju garis finish.

  

Memasuki kolo puspotajem kaki-kaki rombongan kami menginjak tanah pulau Talango dan bergegas menuju komplek makam dengan menerobos jalan terobosan melewati kebun dan belukar dengan arahan seorang sahabat. Konyolnya, ada salah seorang rombongan kami yang rupanya takut kegelapan dan yang bersifat misteri. Sehingga, saat mendengar suara tertentu atau melihat bayangan tertentu, sekonyong-konyong dia berpegangan dan terkadang memeluk orang terdekatnya, sedangkan yang diperlakukan seolah tak terima dan justru menggodanya. Bagi sebagian dari kami, perjalanan itu menyenangkan. Sedangkan bagi sahabat yang penakut itu, pernajalan tersebut betul-betul menjadi siksaan tersendiri.

  

Setelah sampai di komplek makam, semua rombongan bersuci diri dan menyiapkan diri sowan pada yang punya wilayah, Sayyid Yusuf Talango. Dahan dan dedaunan dari pohon besar yang ada di sisi makam bergerak-gerak seiring terpaan sejuknya angin pagi dan terkadang memasuki relung-relung lintasan kesadaran kami dalam memanjatkan doa-doa. Sedang sahabat yang penakut sengaja menempatkan dirinya di tengah-tengah kami sambil sesekali menyenggolkan badannya untuk mendeteksi bahwa sekelilingnya bukan makhluk astral.

  

Setelah subuh, rombongan kami beranjak kembali menyeberang selat untuk menuju Asta Tinggi, komplek makam rapa raja dan bangsawan Madura. Setelah menyelesaikan berziarah di komplek makam yang memiliki bangunan bercita rasa seni tinggi ini, kami ngopi di warung sekitar makam sekedar untuk mengganjal perut mengisi energi. Pada waktu yang singkat sekedar menyelesaikan hisapan sebatang rokok, kami saling berbagi tentang pengalaman. Terutama beberapa insiden mistis yang menyapa kami selama perjalanan.


Baca Juga : Peran Perguruan Tinggi Islam di Indonesia dalam Mendobrak Kesenjangan Gender

  

Sinar matahari belum panas menyengat, rombongan kami meluncur menuju desa Dasuk. Melalui ruas-ruas jalan desa yang meliuk-liuk menyusuri perkebunan jagung dan bambu liar, mobil yang kami tumpangi berkali-kali terguncang-guncang tersebab medan jalan yang bergelombang. Zuber, salah seorang sahabat kami, menerima dan menjamu rombongan kami dengan luar biasa. Keramahan luar-dalam yang sangat istimewa, khas orang Madura. 

  

Menjelang sore rombongan kami pamit melanjutkan perjalan menuju tempat lain. Rencananya, malamnya kami akan ikut majlis shalawat dan zikir di salah satu tempat di Sogian, salah satu desa di Ambunten. Linimasa baru saja memasuki waktu ashar saat mobil yang kami tumpangi berbelok kiri mengitari pemakaman keluarga di sekitar sawah dan memasuki pekarangan yang luas. Tampak seorang lelaki tua berambut gondrong menyambut kami. Juga seorang lelaki lain yang lebih muda sekitar berusia 40 tahun, berkulit kuning bersih, berpostur tinggi kurus yang juga berambut gondrong mengikuti lelaku tua itu menyongsong kami. Setelah saling bersalaman, kami dipersilahkan duduk di surau sebelah barat rumah. Tata letak tanian lanjeng yang hanya ditemui di Madura. Tampak beberapa orang hilir-mudik menyiapkan segala hal dengan rapi, tanda bahwa mereka dikomando dengan baik.

  

Insting pengamatan medanku menyatakan bahwa lelaki berbadan tinggi dan kurus itu terus memperhatikan kami, walau kami melihat kepalanya selalu tertunduk dan pandangan matanya selalu menatap tanah. Sikapnya sangat sopan, suaranya pelan, gerakannya kalem, caranya duduk, beranjak, dan berjalan menunjukkan gestur sempurna seorang santri di hadapan kyai. Kami tahu bahwa lelaki kurus tinggi itu perokok berat, minimal dari beberapa bungkus rokok yang berada di kantong baju kokonya, dan juga aroma tembakau dari tubuhnya. Namun, di depan kami ia tak merokok, kecuali sesekali hal itu dilakukannya saat berada agak jauh dari kami.

  

Malam setelah isya’ tampak silih berganti rombongan datang, sungkem pada tuan rumah, dan langsung menempati tempat-tempat yang disediakan. Jam 21.00 kegiatan dimulai. Pembacaan maulid gubahan Sayyid Abdurrahman al-Dibai dilantunkan dan dilanjutkan dengan zikir dengan irama-irama khas yang sanggup memasuki ruas-ruas kesadaran pendengarnya, apalagi pelantunnya. Tampak lelehan air bening keluar berlinang dari mata para peserta majlis keramat itu. Hawa makin dingin menusuk dan remang-remang lampu penerangan yang tak mampu melawan gulitanya malam, menambah keistimewaan ritual pesulukan tersebut. Lelaki tinggi kurus itu tetap tak sedikitpun beranjak meninggalkan pepundennya sebagai tuan rumah. 

  

Sekitar lebih pertengahan malam forum spiritual tersebut berakhir, tapi tidak dengan kami, tuan rumah dan lelaki tinggi kurus tersebut, beserta beberapa tamu yang agaknya para pemuka perkumpulan tersebut. Kami saling berdialog tentang banyak hal, terutama tentang cerita-cerita para shalihin dan kebiasaan hidupnya dalam berbagai versi yang pernah kami terima. Kerap kali terjadi tanya jawab di antara kami. Maka malam itu menjadi semacam penyamaan frekuensi bagi kami semua yang mengikuti majlis tersebut. Di temaram gelap malam sesekali kulihat lelaki kurus tinggi itu mengernyitkan alis dan menangis mengikuti tiap momentum. Tapi itu semua tidak mengurangi ketanggapan dan kecekatannya melakukan pelayanan seperti menyeduhkan kopi yang luar biasa nikmat, dan menyiapkan segala bentuk penghormatan lainnya. Saat sayup-sayup terdengar bacaan ayat-ayat yang diwahyukan pada Rasulullah saw al-Amin, majelis tambahan itu berhenti sebelum masuk waktu subuh. Lelaki kurus gondrong itu pun undur diri.

  

Matahari belum juga menampakkan wajahnya, dan kami masih berada di surau panggung tempat kami semalam mengikuti majlis dan beristirahat, lelaki kurus gondrong itu sudah datang dengan membawa wedang kopi, rokok, dan makanan lainnya. Tak tampak kepayahan dari wajahnya akibat begadang semalaman, kecuali matanya yang memerah. Baju koko dan sarungnya telah berganti. Rambut gondrongnya tampak bawah meskipun digelung dan ditutupi peci putih. Darinya kami tahu bahwa tuan rumah masih asyik dengan rutinan zikir paginya.

  

Kesempatan itu kugunakan untuk mengenalnya lebih dekat, maka kuminta ia duduk sebentar untuk sekedar mengobrol. Kusodorkan rokok untuk dinikmatinya, tapi keengganan terlihat dari sikapnya. Baru setelah agak kupaksa dengan cara mengambilkan sebatang rokok dan menyiapkan pengapian, baru ia berkenan menerima dan menyulutnya. Kami lebih tepatnya saya lalu bertanya tentang banyak hal. Tidak tahu mengapa atau oleh sebab apa, kurasakan orang ini menyimpan satu hal yang sangat istimewa. Tapi sepanjang investigasi dadakan pagi itu, semuanya biasa dan tidak ada yang istimewa. Tentang dirinya, keluarganya, dan kebiasaan hidupnya.

  

“Mohon sudilah Panjenengan menganggap saya sebagai saudara seiman, sebenar-benar saudara.” Hanya itulah kalimat dari lelaki kurus gondrong itu yang bagiku istimewa, selebihnya biasa saja.  Bisa jadi bahkan bagi orang lain kalimat itu juga biasa, tak memiliki keistimewaan dan implikasi sama sekali. Padahal, kalimat itu menuntut banyak hal bahi tiap orang yang saling bersaudara dalam relasi keimanan tersebut. Pertama, tuntutan personal untuk selalu sadar akan tanggung jawab menjaga kalimat tauhid yang di-i’tiqodi di dalam tiap hati, ucapan, dan perilaku. Kedua, tuntutan untuk memandang orang lain dengan ukuran kalimat tauhid tersebut, bukan dengan ukuran yang lain yang nista. Ketiga, kewajiban menjaga hubungan lahir-batin antar penyandang kalimat tauhid tersebut dalama bentuk relasi yang menggaransi seluruh aspek kemanusiaan. Namun, dari raut mukanya, kulihat yang bersangkutan juga tidak sampai berpikir seperti itu. Dugaan dari tamu yang penuh keculasan pada penderek tuan rumah dengan kejujuran yang apa adanya.

  

Obrolan singkat itu berakhir dan saat hari beranjak siang, rombongan kami pamit undur diri untuk kembali ke Surabaya. Pria kurus gondrong tersebut menjabat erat tangan kami dan merangkul kami agak lama seolah-olah kita tidak akan berjumpa lagi. Dengan berjalan di tengah persawahan ia mengantar kami sampai ujung belokan jalan pekuburan dan terus mengamati rombongan kami sampai sosoknya menghilang saat mobil kami berbelok keluar desa. Pertemuan, perkenalan, dan pertautan yang singkat, tapi menimbulkan kesan yang mendalam, walau kesan itu juga masih belum terdefinisikan. 

  

Nyaris tak terdengar kabar dari lelaki kurus gondrong itu, kecuali beberapa kali ia bertitip salam dan menanyakan keadaan kami melalui seorang sahabat berdekatan dengan rumahnya. Sampai pada sebuah malam di pertengahan tahun 2012, terdengar kabar bahwa lelaki kurus gondrong itu dipanggil oleh Sang Penciptanya.

  

Seorang sahabat yang biasa menjadi kurir pertukaran salam antara kami menyatakan bahwa saat meninggal lelaki kurus gondrong itu mendapat perlakuan yang luar biasa dari warga sekitarnya. Ratusan pelayat datang, berebut memulasarakan jenazah dan ikut mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Bahkan tokoh-tokoh agama terkemuka ikut hadir dan mengawal langsung jenazahnya sampai pekuburan. Ia sendiri bukan kyai, bukan gus, bukan lora, bukan bindere, bukan pejabat, bukan konglomerat, dan bukan siapa-siapa. Tapi ada satu hal yang menjadi keistimewaan pria kurus gondrong itu menurut sahabat kurir pertukaran salam kami. “Almarhum selama hidupnya adalah orang baik yang selalu baik pada siapapun, termasuk pada yang menyalahinya.” Begitulah ujarnya.

  

Mendengar ini, saya teringat kalimat almarhum untuk menganggapnya sebagai saudara seiman. Mungkin perilaku hidup seperti itulah yang telah dipraktekkan almarhum. Kehidupan yang lahir dari fragmentasi keimanan dalam bentuk lahir pada sesama. Tapi belum sampai mulut menghadiahinya bacaan al-Fatihah, sahabat kurir pertukaran salam itu memberi informasi yang ini membuatku benar-benar terkesima. “Salah seorang sesepuh di keluarganya menyampaikan bahwa almarhum itu telah puasa Dawud dari 15 tahun yang lalu. Orang kampung dan saya sendiri yang menjadi teman dekat dan tetangga tidak pernah tahu bahwa almarhum menjalani puasa itu.”

  

Inilah kecemerlangan seorang mukmin seperti almarhum. Aspek batinnya teguh menempa kepatuhan dengan beribadah dalam kurun waktu yang istimewa dan dipoles dengan kerahasiaan. Sedangkan dimensi lahirnya teguh membuktikan keimanan yang menyelamatkan pada sesama manusia di sekitarnya. Kombinasi perjuangan lahir-batin yang mengesankan dan mencengangkan. Ditampilkan dalam satu panggung manusia istimewa bernama Rama Hoy.